Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Ayat Tentang Berbakti Kepada Orangtua

يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ ۖ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ ۚ فَإِنْ كُنَّ نِسَاءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ ۖ وَإِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ ۚ وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِنْ كَانَ لَهُ وَلَدٌ ۚ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَلَدٌ وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلِأُمِّهِ الثُّلُثُ ۚ فَإِنْ كَانَ لَهُ إِخْوَةٌ فَلِأُمِّهِ السُّدُسُ ۚ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ ۗ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ لَا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا ۚ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

Arab-Latin: yụṣīkumullāhu fī aulādikum liż-żakari miṡlu ḥaẓẓil-unṡayaīn, fa ing kunna nisā`an fauqaṡnataini fa lahunna ṡuluṡā mā tarak, wa ing kānat wāḥidatan fa lahan-niṣf, wa li`abawaihi likulli wāḥidim min-humas-sudusu mimmā taraka ing kāna lahụ walad, fa il lam yakul lahụ waladuw wa wariṡahū abawāhu fa li`ummihiṡ-ṡuluṡ, fa ing kāna lahū ikhwatun fa li`ummihis-sudusu mim ba'di waṣiyyatiy yụṣī bihā au daīn, ābā`ukum wa abnā`ukum, lā tadrụna ayyuhum aqrabu lakum naf'ā, farīḍatam minallāh, innallāha kāna 'alīman ḥakīmā

Terjemah Arti: Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

Allah mewasiatkan kepada kalian dan memerintahkan kalian terkait kepentingan anak-anak kalian. Bila sesorang dari kalian meninggal dunia dan dia meninggalkan anak-anak, lelaki maupun perempuan, maka harta warisan itu seluruhnya menjadi milik mereka, bagi anak lelaki setara dengan bagian dua anak perempuan, apabila tidak ada ahli waris selain mereka. Maka Jika meninggalkan anak-anak perempuan saja,maka bagi dua anak perempuan atau lebih,dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Apabila anak perempuannya berjumlah seorang anak saja,maka baginya setengah dari harta. Dan bagi ayah-ibu mayit, masing-masing memperoleh seperenam, jika si mayit memiliki anak, lelaki atau perempuan, berjumlah satu orang anak atau lebih. Dan apabila yang meninggal tidak mempunyai anak, sedang ahli warisnya hanya ibu-dan bapaknya, maka bagi ibunya, bagian sepertiga, dan bagi ayahnya bagian yang tersisa. Lalu jika yang meninggal mempunyai saudara, berjumlah dua orang atau lebih, baik lelaki ataupun perempuan, maka ibunya mendapatkan seperenam, ayahnya bagian yang tersisa, sedang saudara-saudara mayit tidak mendapatkan apa-apa. Cara pembagian harta warisan ini hanya dilakukan setelah disisihkannya harta yang di wasiatkan oleh orang yang meninggal dalam batasan sepertiganya atau disisihkannya nominal sebesar tanggungan hutangnya. Bapak-bapak dan anak-anak kalian yang telah di tetapkan menerima bagian harta warisan, kalian tidak mengetahui siapakah diantara mereka yang lebih mendatangkan manfaat dalam kehidupan dunia dan akhirat kalian. Maka janganlah lebih mengutamakan seseorang dari mereaka diatas yang lain. Apa yang telah Aku tetapkan ini merupakan perkara yang diwajibkan kepada kalian dari Allah. Sesungguhnya Allah maha mengetahui makhluk-makhlukNYA, juga maha bijaksana dalam perkara yang di syariatkanNYA bagi mereka. (Tafsir al-Muyassar)

11. يُوصِيكُمُ اللهُ فِىٓ أَوْلٰدِكُمْ (Allah mensyari’atkan bagimu tentang anak-anakmu) Yakni anak-anak orang yang meninggal dari kalian. (wasiat) Syariat tersebut berupa penjelasan harta warisan mereka. Dan apabila diantara anak-anak tersebut terdapat anak laki-laki maka baginya sisa harta warisan setelah pembagian, sebagaimana disebutkan dalam hadist shahih yang berbunyi: (serahkalah bagian-bagian warisan itu kepada ahlinya yang berhak, dan apabila terdapat harta lebih maka itu untuk anak laki-laki yang paling dekat (hubungan keturunan dengan si mayit)). Dan apabila tidak terdapat anak laki-laki diantara mereka maka sisa harta itu diberikan kepada cucu laki-laki si mayit dari jalur anak laki-laki. لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنثَيَيْنِ ۚ (bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan) Yakni apabila terdapat anak laki-laki dan perempuan. فَإِن كُنَّ نِسَآءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ (dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua) Yakni apabila anak-anak dari mayit itu perempuan semua tanpa ada laki-laki. فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ ۖ( maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan) Yakni dari harta yang ditinggalkan si mayit. Dan apabila anak perempuan itu berjumlah dua orang maka mereka juga mendapatkan dua pertiga, diqiyaskan dengan dua saudara perempuan yang disebutkan pada akhir ayat di surat ini. Dan apabila anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separuh harta. وَلِأَبَوَيْهِ(Dan untuk dua orang ibu-bapa) Yakni untuk kedua orangtua mayit apabila masih hidup. لِكُلِّ وٰحِدٍ مِّنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِن كَانَ لَهُۥ وَلَدٌ ۚ( bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak) Baik itu anak laki-laki atau perempuan, satu atau lebih, atau bahkan cucu. فَإِن لَّمْ يَكُن لَّهُۥ وَلَدٌ(jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak) Tidak pula mempunyai cucu. وَوَرِثَهُۥٓ أَبَوَاهُ(dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja)) Yakni tidak ada ahli waris yang lain selain mereka berdua seperti suami atau istri, dan kedua orangtua tersebut memiliki hak waris tanpa ada sebab yang menghalangi pewarisannya. فَلِأُمِّهِ الثُّلُثُ ۚ( maka ibunya mendapat sepertiga) Dan dua pertiga sisanya untuk bapak. Namun apabila salah satu suami-istri turut menjadi ahli waris maka tidak mendapatkan kecuali sepertiga dari sisa pembagian salah satu suami-istri. فَإِن كَانَ لَهُۥٓ إِخْوَةٌ فَلِأُمِّهِ السُّدُسُ ۚ( jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam) Baik itu saudara laki-laki atau perempuan atau keduannya. Dan baik itu dua orang atau lebih; adapun satu orang saudara maka ia tidak menghalangi ibu dari mendapatkan sepertiga menjadi seperenam. مِنۢ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِى بِهَآ أَوْ دَيْنٍ ۗ( (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya) Yakni harta itu tidak dibagikan kepada orang-orang yang telah disebuhkan mendapat dua pertiga, sepertiga, seperenam, atau yang lainnya kecuali setelah ditunaikannya wasiat si mayit yang berkenaan dengan hartanya, dan setelah dilunasi hutangnya. Dan pelunasan hutang didahulukan sebelum penunaian wasiat, kemudian sisa dari harta tersebut dibagikan kepada para ahli waris. Adapun wasiat tidak boleh melebihi sepertiga harta kecuali dengan kerelaan para ahli waris. ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ لَا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا ۚ( orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu) Maka dari itulah Allah membagikan harta warisan sedemikian rupa, dengan membagikan kepada orangtua dan nenek moyang kalian, dan kepada anak keturunan kalian; dan tidak menyerahkan pembagiannya kepada kalian. فَرِيضَةً مِّنَ اللهِ ۗ (Ini adalah ketetapan dari Allah) Yakni hukum-hukum pada ayat ini wajib atas kalian sebagai ketetapan dari Allah. (Zubdatut Tafsir)

رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا ۚ رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ

rabbanā innanā sami'nā munādiyay yunādī lil-īmāni an āminụ birabbikum fa āmannā rabbanā fagfir lanā żunụbanā wa kaffir 'annā sayyi`ātinā wa tawaffanā ma'al-abrār

Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.

Wahai tuhan kami, sesungguhnya kami telah mendengar seorang penyeru, (yaitu nabiMU, Muhammad sholallohu alaihi wasallam), yang menyeru sekalian manusia untuk beriman kepadaMU dan mengakui keesaanMU, serta beramal mengerjakan syariatMU, lalu kami memenuhi seruan dakwahnya dan kami Imani risalahnya, maka ampunilah dosa-dosa kami dan tutupilah aib-aib kami dan kumpulkanlah kami bersama orang-orang shalih. (Tafsir al-Muyassar)

193. سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِى لِلْإِيمٰنِ (kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman) Orang yang menyeru itu adalah Rasulullah. Dan pendapat lain mengatakan itu adalah al-Qur’an. فَـَٔامَنَّا ۚ (maka kamipun beriman) Yakni kami menjawab apa yang diperintahkan orang yang menyeru ini berupa keimanan. رَبَّنَا(Ya Tuhan kami) Pengulangan panggilan ini untuk menunjukkan ketundukan dan ketaatan kepada-Nya. الْأَبْرَارِ (orang-orang yang banyak berbakti) Yakni yang berbakti dan senantiasa sibuk dalam ketaatan kepada Allah. Dan pendapat lain mengatakan mereka adalah para Nabi. (Zubdatut Tafsir)

۞ قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۖ وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ ۖ وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ ۖ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

qul ta'ālau atlu mā ḥarrama rabbukum 'alaikum allā tusyrikụ bihī syai`aw wa bil-wālidaini iḥsānā, wa lā taqtulū aulādakum min imlāq, naḥnu narzuqukum wa iyyāhum, wa lā taqrabul-fawāḥisya mā ẓahara min-hā wa mā baṭan, wa lā taqtulun-nafsallatī ḥarramallāhu illā bil-ḥaqq, żālikum waṣṣākum bihī la'allakum ta'qilụn

Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).

Katakanlah (wahai rasul) kepada mereka, ”kemarilah, akau akan bacakan apa yang diharamkan tuhan kalian kepada kalian, yaitu; janganlah kalian menyekutukan sesuatupun dengan Allah dari makhluk-makhlukNya dalam beribadah kepadaNya, akan tetapi arahkanlah seluruh jenis ibadah kepadaNya semata, seperti khauf (rasa takut), pengharapan, do’ a dan jenis ibadah lainnya, dan hendaknya kalain berbuat baik kepada kedua orangtua kalian dengan berbakti dan doa serta jenis kebaikan lainnya. Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian dikarenakan kefakiran yang kalian alami. Sesungguhnya Allah lah yang memberikan rizki kepada kalian dan kepada mereka. Dan janganlah kalian mendekati dosa-dosa besar yang tampak dan tersembunyi. Dan janganlah kalian membunuh jiwa yang diharamkan Allah untuk di bunuh, kecuali dengan sebab yang dibenarkan seperti dalam kondisi menuntut hukum qishash dari pembunuh, perzinaan yang dilakukan orang yang telah menikah, atau karena murtad dari islam. Hal-hal yang disebutkan termasuk perkara yang Allah melarang kalian darinya dan menuntut janji dari kalian untuk menjauhinya, serta perkara yang Allah memerintahkan dan berpesan kepada kalian dengannya, semoga kalian memahami perintah-perintah dan larangan-laranganNya. (Tafsir al-Muyassar)

151. قُلْ تَعَالَوْا۟ أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمَ (Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu) Yakni aku akan membacakan untuk kalian ayat-ayat yang mengandung apa-apa saja yang diharamkan atas kalian. ألَّا تُشْرِكُوا۟ (janganlah kamu berbuat syirik) Yakni aku mengharuskan dan menghimbau kepada kalian untuk tidak mempersekutukan-Nya. وَبِالْوٰلِدَيْنِ إِحْسٰنًا ۖ (berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa) Yakni dengan berbakti kepada keduanya, dan menjalankan perintah dan larangannya. Dalam potongan ayat ini juga terdapat larangan untuk mendurhakai keduanya. وَلَا تَقْتُلُوٓا۟ أَوْلٰدَكُم مِّنْ إِمْلٰقٍ ۖ (dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan) Makna (الإملاق) yakni kemiskinan. Dahulu orang-orang jahiliyah membunuh anak laki-laki dan perempuan mereka karena takut akan jatuh miskin, dan mereka juga membunuh anak perempuan karena takut aib. وَلَا تَقْرَبُوا۟ الْفَوٰحِشَ (dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji) Yakni perbuatan maksiat, diantaranya zina. مَا ظَهَرَ(baik yang nampak) Yakni yang terang-terangan. وَمَا بَطَنَ ۖ (maupun yang tersembunyi) Yang dilakukan secara rahasia. وَلَا تَقْتُلُوا۟ النَّفْسَ الَّتِى حَرَّمَ اللهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ (dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”) Dan sebab-sebab yang benar seperti membunuhnya untuk menegakkan qishash, atau hukuman bagi pelaku zina yang telah menikah sebelumnya, atau hukuman bagi orang yang murtad; sebab-sebab ini adalah sebab-sebab yang diizinkan oleh syariat. ذٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ (Demikian itu yang diperintahkan kepadamu) Yakni yang Allah perintahkan dan wajibkan atas kalian. (Zubdatut Tafsir)

151 Katakanlah wahai Nabi kepada orang-orang musyrik dan lainnya: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu dengan benar yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia dalam penyembahan, berbuat baiklah terhadap kedua orang tua ibu dan bapak kalian, dengan membaiki mereka dan mentaati mereka. Dan janganlah kamu membunuh anak-anak laki-laki kamu karena takut akan menjadi miskin. Dan takut terhina sehingga kalian mengubur hidup-hidup anak perempuan kalian sebagaimana yang telah dilakukan orang-orang Jahiliyyah, juga jangan kalian melakukan perbuatan keji. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, yaitu dosa-dosa besar dan maksiat besar seperti zina, baik yang nampak maupun yang tersembunyi. Janganlah kamu membunuh jiwa yang Allah haramkan untuk membunuhnya melainkan dengan sesuatu sebab yang benar”. Seperti membunuh sebagai qishash merajam pelaku zina muhson, atau membunuh orang yang murtad. Yang telah disebutkan itu adalah yang telah diperintahkan dan diwajibkan kepadamu supaya kamu memahami perintah dan larangan Allah yang menuntun kepada kebaikan dan menghilangkan keburukan (Tafsir al-Wajiz)

وَبَرًّا بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا

wa barram biwālidaihi wa lam yakun jabbāran 'aṣiyyā

dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka.

Dan dia adalah seorang yang berbakti kepada kedua orangtuanya, taat dan patuh kepada mereka, dan dia bukanlah orang yang angkuh untuk taat kepada tuhannya, juga untuk taat kepada kedua orangtuanya. Dia tidak durhaka kepada tuhannya dan kepada kedua orangtuanya. (Tafsir al-Muyassar)

14. وَبَرًّۢا بِوٰلِدَيْهِ (dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya) Lemah lembut dan berbaik hati kepada keduanya. وَلَمْ يَكُن جَبَّارًا عَصِيًّا(dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka) Yakni tidak menjadi orang yang menyombongkan diri dan tidak mendurhakai kedua orang tua dan Tuhannya. (Zubdatut Tafsir)

14. Dia adalah seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, lemah lembut, dan ihsan kepada keduanya. Dia bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka kepada Tuhannya (Tafsir al-Wajiz)

وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا

wa barram biwālidatī wa lam yaj'alnī jabbāran syaqiyyā

dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.

Dan Dia menjadikanku seorang yang berbakti kepada ibuku dan Dia tidak menjadikanku manusia yang sombong lagi celaka serta melanggar perintah tuhanku. (Tafsir al-Muyassar)

32. وَبَرًّۢا بِوٰلِدَتِى (dan berbakti kepada ibuku) Isa pada saat itu mengetahui bahwa ia tidak memiliki ayah. وَلَمْ يَجْعَلْنِى جَبَّارًا شَقِيًّا (dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka) Makna (الجبار) adalah orang yang menyombongkan diri. Makna (الشقي) adalah orang yang bermaksiat pada Tuhannya; atau menurut pendapat lain orang yang sengsara; atau orang yang durhaka. (Zubdatut Tafsir)

32. Menjadikanku berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka dan durhaka kepada Tuhanku (Tafsir al-Wajiz)

كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْأَبْرَارِ لَفِي عِلِّيِّينَ

kallā inna kitābal-abrāri lafī 'illiyyīn

Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam 'Illiyyin.

18-21. Benar, sesungguhnya perkara yang telah ditetapkan bagi orang orang yang berbakti, (yaitu orang orang yang bertakwa),adalah bahwa mereka berada di derajat yang tinggi di dalam surga. Tahukah kamu (wahai rasul) apa derajat yang tinggi itu? Ketetapan bagi orang-orang baik itu sudah tercatat dan sudah selesai,tidak ditambah dan tidak dikurangi. Para malaikat di setiap langit yang didekatkan (kepada Allah) melihatnya. (Tafsir al-Muyassar)

18. لَفِى عِلِّيِّينَ ((tersimpan) dalam ‘Illiyyin) Yakni mereka telah tertulis sebagai penduduk illiyyin, yaitu surga atau tempat-tempat yang tinggi di surga. Makna (الأبرار) yakni orang-orang yang taat. (Zubdatut Tafsir)

18. Jangan begitu! Sebagai peringatan seperti sebelumnya. Sesungguhnya catatan orang-orang yang beriman dan benar telah tertulis pada susunan yang baik dan dartar orang-orang baik (Tafsir al-Wajiz)

لَٰكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا نُزُلًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۗ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِلْأَبْرَارِ

lākinillażīnattaqau rabbahum lahum jannātun tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā nuzulam min 'indillāh, wa mā 'indallāhi khairul lil-abrār

Akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah) dari sisi Allah. Dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti.

Akan tetapi,orang-orang yang takut kepada tuhan mereka, dan melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNYA, sungguh Allah telah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawah istana-istananya dan pohon-pohonnya sungai-sungai. Itulah tempat tinggal mereka yang abadi,mereka tidak keluar darinya. Dan apa yang ada di sisi Allah itu lebih agung dan lebih utama bagi orang-orang yang taat daripada apa yang kaum kafir bergelimang hidup dengannya dari nikmat dunia. (Tafsir al-Muyassar)

198. لٰكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا۟ رَبَّهُمْ (Akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya) Yakni bagi mereka -ditambah apa yang mereka dapatkan dari manfaat abadi- نُزُلًا (tempat tinggal) Makna (النزل) adalah apa yang disiapkan bagi tamu atau tempat tinggal sebagai tempat berlindung didalamnya. Dan ini sebagai bandingan Jahannam tempat orang kafir. وَمَا عِندَ اللهِ (Dan apa yang di sisi Allah) Berupa apa yang disiapkan Allah bagi orang yang mentaati-Nya. خَيْرٌ لِّلْأَبْرَارِ (lebih baik bagi orang-orang yang berbakti) Daripada apa yang didapatkan orang-orang kafir dari keuntungan yang mereka dapatkan dari perjalanan yang mereka lakukan dalam negeri. (Zubdatut Tafsir)

۞ وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ ۚ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ ۚ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَٰلِكَ ۗ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا ۗ وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا آتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

wal-wālidātu yurḍi'na aulādahunna ḥaulaini kāmilaini liman arāda ay yutimmar-raḍā'ah, wa 'alal-maulụdi lahụ rizquhunna wa kiswatuhunna bil-ma'rụf, lā tukallafu nafsun illā wus'ahā, lā tuḍārra wālidatum biwaladihā wa lā maulụdul lahụ biwaladihī wa 'alal-wāriṡi miṡlu żālik, fa in arādā fiṣālan 'an tarāḍim min-humā wa tasyāwurin fa lā junāḥa 'alaihimā, wa in arattum an tastarḍi'ū aulādakum fa lā junāḥa 'alaikum iżā sallamtum mā ātaitum bil-ma'rụf, wattaqullāha wa'lamū annallāha bimā ta'malụna baṣīr

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Dan menjadi kewajiban pada ibu untuk menyusui anak-anak mereka selama dua tahun penuh bagi ibu yang berniat menyempurnakan proses penyusuan, dan  menjadi kewajiban para ayah untuk menjamin kebutuhan pangan dan sandang wanita-wanita menyusui yang telah dicerai dengan cara-cara yang patut sesuai syariat dan kebiasaan setempat. Sesungguhnya Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya. Dan  kedua orang tua tidak boleh menjadikan anak yang terlahir sebagai jalan untuk saling menyakiti antara mereka berdua, dan menjadi kewajiban ahli waris setelah kematian ayah seperti apa yang menjadi kewajiban sang ayah sebelum kematiannya dalam hal pemenuhan kebutuhan nafkah dan sandang. Maka apabila kedua orang tua berkeinginan menyapih bayi sebelum dua tahun maka tidak ada dosa atas mereka berdua bila mereka telah saling menerima dan bermusyawarah dalam urusan tersebut, agar mereka berdua dapat mencapai hal-hal yang menjadi kemaslahatan si bayi. Dan apabila kedua orang tua sepakat untuk menyusukan bayi yang terlahir kepada wanita lain yang menyusui  selain ibunya, maka tidak ada dosa atas keduanya, apabila ayah telah menyerahkan untuk Ibu apa yang berhak dia dapatkan dan memberikan upah bagi perempuan yang menyusui dengan kadar yang sesuai dengan kebiasaan yang berlaku dikalangan orang-orang. Dan  takutlah kepada Allah dalam seluruh keadaan kalian dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan dan akan memberikan balasan kepada kalian atas perbuatan tersebut (Tafsir al-Muyassar)

233. وَالْوٰلِدٰتُ يُرْضِعْنَ أَوْلٰدَهُنَّ (Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya) Setelah Allah menyebutkan masalah pernikahan dan perceraian kemudian disini menyebutkan masalah persusuan karena sepasang suami istri ketika berpisah bisa jadi keduanya memiliki anak. Pada kata (يرضعن) mempunyai makna perintah. حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ (selama dua tahun penuh) Yakni dua tahun penuh secara pasti dan bukan kira-kira, dan tidak ada persusuan setelah dua tahun. لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ ۚ (yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan) Yakni menyusui selama dua tahun bukanlah keharusan melainkan itu adalah batas sempurna. Dan dibolehkan kurang dari itu apabila kedua orang tua meridhai. وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُۥ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ (Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu) Yakni atas ayah yang telah diberi anak kewajiban untuk memberi makan dan pakaian bagi ibu anaknya yang telah menyusui. Oleh sebab itulah seorang anak dinisbahkan kepada ayaknya dan bukan kepada ibunya, seakan-akan para ibu hanya melahirkan anak para ayah. Dan hukum memberi makan dan pakaian ini jika sang ibu telah dicerai, dan jika bukan ibu yang dicerai maka memberi nafkah dan pakaian ini merupakan kewajiban atas ayah meski sang ibu tidak menyusui anaknya. لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ (Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya) Yakni seorang wanita tidak dibebani untuk bersabar atas nafkah yang sedikit, dan tidak pula seorang ayah dibebani nafkah yang besar yang tidak ia sanggupi, akan tetapi harus memperhatikan keadilan atas keduanya. لَا تُضَآرَّ (Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan) Yakni seorang ibu tidak boleh menyengsaran ayah disebabkan anak dengan meminta kepadanya nafkah makan dan pakaian yang tidak ia sanggupi, dan tidak boleh pula ayah menyengsarakan seorang ibu dengan melalaikan kewajibannya atau mengambil anaknya dari ibu tanpa alasan. وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذٰلِكَ ۗ (dan warispun berkewajiban demikian) Yakni apabila ayah tadi meninggal maka ahli waris atas anak ini berkewajiban untuk memberi upah menyusui kepada sang ibu, sebagaimana yang dilakukan sang ayah sebelum meninggal. Dan pendapat lain mengatakan yang dimaksud dengan ahli waris disini adalah ahli waris ayah, yang berkewajiban untuk memberi nafkah dan pakaian bagi yang menyusui dengan cara yang baik. Dan diharamkan bagi yang memberi nafkah ini untuk memberi kemadharatan kepada sang ibu sebagaimana dulu diharamkan atas sang ayah. فِصَالًا (menyapih) Yakni menghentikan penyusuan. عَن تَرَاضٍ مِّنْهُمَا (dengan kerelaan keduanya) Yakni atas dasar kerelaan dari kedua orangtua. Maka apabila salah seorang dari keduanya ingin menyapih anaknya maka ia harus meminta kerelaan orang satunya dan bermusyawarah dengannya sampai keduanya bersepakat demi kebaikan anak. وَإِنْ أَرَدتُّمْ أَن تَسْتَرْضِعُوٓا۟ أَوْلٰدَكُمْ (Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain) Yakni meminta agar yang menyusui anak adalah wanita lain selain ibu si anak. فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُم مَّآ ءَاتَيْتُم (maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran) Yakni hal itu tidak mengapa jika meminta agar yang menyusui anak adalah wanita lain selain ibu si anak asalkan kalian memberi upah kepada ibu si anak sesuai dengan lamanya waktu menyusui, atau memberi upah kepada yang kamu mintai agar menyusui anakmu. بالمعروف (dengan cara yang ma’ruf) Yakni tanpa menunda-nunda atau mengurangi upah tersebut, karena tidak memberi upah secara baik kepada mereka menunjukkan bahwa sang ayah meremehkan dan lalai dalam urusan si anak. Dan dibolehkannya meminta agar si anak disusui oleh orang lain jika tidak memberikan madharat kepada sang ibu sebagaimana dijelaskan diawal ayat ini. (Zubdatut Tafsir)

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ

jannātu 'adniy yadkhulụnahā wa man ṣalaḥa min ābā`ihim wa azwājihim wa żurriyyātihim wal-malā`ikatu yadkhulụna 'alaihim ming kulli bāb

(yaitu) surga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;

Tempat kesudahan (yang terpuji) itu adalah surga-surga Adn, mereka tinggal disana, tidak berpindah darinya. dan tinggal bersama mereka, orang-orang shalih dari orangtua, istri dan anak keturunan mereka, baik yang lelaki maupun perempuan. Dan malaikat-malaikat datang masuk menemui mereka dari semua pintu, untuk memberi selamat kepada mereka atas keberhasilan memasuki surga. (Tafsir al-Muyassar)

23. جَنّٰتُ عَدْنٍ ((yaitu) surga ‘Adn) Surga sebagai tempat tinggal abadi bagi penghuninya. وَمَن صَلَحَ مِنْ ءَابَآئِهِمْ (bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya) Mencakup bapak dan ibu mereka. وَأَزْوٰجِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ ۖ( isteri-isterinya dan anak cucunya) Agar mereka mendapatkan kesejahteraan yang sempurna dengan bertemu dengan orang-orang tercinta mereka. Allah menyebutkan kata “shalih” dalam ayat ini sebagai dalil bahwa kerabat mereka yang tidak termasuk orang-orang yang shalih tidak dapat masuk surga. Tidak hanya dengan menjadi ibu bapak, pasangan, atau keturunannya saja tanpa menjadi orang yang shalih. وَالْمَلٰٓئِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ(sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu) Dari seluruh pintu tempat tinggal yang mereka diami. (Zubdatut Tafsir)

23 Tempat tinggal yang baik itu adalah surga yang kekal, mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan bapak-bapak mereka, isteri-isteri dan anak cucu mereka. Sekalipun jika ketakwaan dan kesalehan keluarga mereka tidak semisal dengan mereka. Itu sebagai penghormatan dengan memepertemukan mereka dengan orang-orang yang mereka cintai untuk kebahagiaan mereka. Adapun malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu sambil berucap kepada mereka (Tafsir al-Wajiz)

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا

wa lā taqtulū aulādakum khasy-yata imlāq, naḥnu narzuquhum wa iyyākum, inna qatlahum kāna khiṭ`ang kabīrā

Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.

Dan apabila kalian telah mengetahui bahwa rizki itu di tangan Allah , maka janganlah kalain wahai manusia membunuh anak-anak kalian lantaran rasa takut terhadap kemiskinan, karena sesungguhnya Dialah Allah yang maha pemberi rizki bagi hamba-hambaNya, Dia memberi rizki kepada anak-anak sebagiamana memberi rizki kepada orangtua. Sesungguhnya membunuh anak-anak merupakan perbuatan dosa besar. (Tafsir al-Muyassar)

31. خَشْيَةَ إِمْلٰقٍ ۖ (takut kemiskinan) Allah melarang mereka untuk membunuh anak mereka sendiri karena takut miskin. Dan ini merupakan perbuatan yang dahulu mereka lakukan. نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ( Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu) Dan kalian bukanlah orang yang memberi anak-anak itu rezeki sehingga kalian memperlakukan mereka demikian. خِطْـًٔا كَبِيرًا (suatu dosa yang besar) Yakni dosa yang besar. (Zubdatut Tafsir)

31. Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut fakir, sebagaimana yang dilakukan sebagian orang-orang bodoh. Kami memberi rejeki anak-anak kalian juga diri kalian. Dan kalian bukanlah pemberi rejeki. Dan yang berlalu di sini adalah rejeki anak, karena sesungguhnya pembunuhan itu dilakukan karena takut fakir dengan adanya mereka. Dan yang berlalu dalam urusan binatang ternak adalah rejeka bapak karena pembunuhan itu karena kefakiran bapak. Sesungguhnya pembunuhan mereka itu adalah dosa besar (agung) (Tafsir al-Wajiz)

Related: Ayat Penenang Hati Arab-Latin, Ayat Tentang Anak Yang Shalih Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Ayat Sulaiman, Terjemahan Tafsir Ayat Memanggil Ikan, Isi Kandungan Ayat Tentang Muamalah, Makna Ayat Tentang Tolong Menolong

Category: Tafsir Topik

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!