Ayat Tentang Ikhlas

قُلْ أَتُحَآجُّونَنَا فِى ٱللَّهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ وَلَنَآ أَعْمَٰلُنَا وَلَكُمْ أَعْمَٰلُكُمْ وَنَحْنُ لَهُۥ مُخْلِصُونَ

Arab-Latin: qul a tuḥājjụnanā fillāhi wa huwa rabbunā wa rabbukum, wa lanā a'mālunā wa lakum a'mālukum, wa naḥnu lahụ mukhliṣụn

Terjemah Arti: Katakanlah: "Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati,

Tafsir Ayat Tentang Ikhlas

Katakanlah -wahai rasul- kepada ahli kitab, “Apakah kalian akan mendebat kami  tentang tauhidullah dan kewajiban ikhlas kepada Nya, sedangkan Dia adalah tuhan alam semesta semuanya, tidak hanya menguasai suatu kaum saja tanpa berkuasa atas kaum lainnya, bagi kami amal-amal kami dan bagi kalian amal-amal kalian. Dan hanya kepada Allah kami mengiklaskan ibadah dan ketaatan kami tidak  menyekutukan apapun dengan Nya, dan kami tidak menyembah siapapun selainnya?” (Tafsir al-Muyassar)

Katakanlah -wahai Nabi-, “Apakah kalian -wahai ahli kitab- mengatakan kepada kami bahwa kalian lebih dekat dengan Allah dan agama-Nya daripada kami karena agama kalian lebih dahulu dan kitab suci kalian lebih awal? Sesungguhnya hal itu tidak ada gunanya bagi kalian. Karena Allah adalah Rabb kita semua, bukan Rabb kalian saja. Bagi kami amal perbuatan kami yang mana kalian tidak akan ditanya tentangnya, dan bagi kalian amal perbuatan kalian yang mana kami tidak akan ditanya tentangnya. Masing-masing akan diberi balasan yang setimpal dengan amal perbuatannya. Kami ikhlas karena Allah dalam beribadah dan menjalankan ketaatan, kami tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu. (Tafsir al-Mukhtashar)

Wahai Nabi, katakanlah kepada ahli kitab (Yahudi dan Nasrani): “Apakah kalian semua akan mendebat kami tentang hukum Allah, padahal kalian tahu bahwa kami dan kalian sama-sama menyembah Allah. Kalau sudah begitu, kenapa kalian tetap memaksa agar Allah memilih rasul dari golongan kalian? Bukankah kalian juga tahu, bahwa Allah akan membalas segala perbuatan kita semua. Kalian tidak lebih utama di sisi Allah dari pada kami. Kami tetap berserah diri sepenuh hati dalam beribadah kepada Allah, meskipun kalian tetap enggan.” (Tafsir al-Wajiz)

قُلْ أَتُحَاجُّونَنَا فِي اللَّهِ (Katakanlah: “Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah) Yakni apakah kalian memperdebatkan dengan kami tentang Allah padahal kita sama-sama beranggapan bahwa ketuhanan-Nya adalah untuk kita dan peribadatan kita untuk-Nya. Lalu mengapa kalian mengaku lebih utama dari pada kami dan memperdebatkan hal itu?وَلَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ (bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu) Yakni kalian tidak lebih utama untuk Allah daripada kami.وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُونَ(dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati) Yakni kita adalah ahli ikhlas dalam beribadah, sedangkan kalian tidak; dan itu adalah timbangan keutamaan seseorang dan sifat yang menjadikan memiliknya menjadi lebih utama dihadapan Allah daripada yang lain. Lalu mengapa kalian mengaku lebih utama dan lebih berhak dari pada kami, sedangkan diri kalian dipenuhi dengan kesyirikan dan menyandarkan ketuhanan kepada selain-Nya. (Zubdatut Tafsir)