Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Ayat Tentang Ikhlas

قُلْ أَتُحَاجُّونَنَا فِي اللَّهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ وَلَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُونَ

Arab-Latin: qul a tuḥājjụnanā fillāhi wa huwa rabbunā wa rabbukum, wa lanā a'mālunā wa lakum a'mālukum, wa naḥnu lahụ mukhliṣụn

Terjemah Arti: Katakanlah: "Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati,

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

Katakanlah -wahai rasul- kepada ahli kitab, “Apakah kalian akan mendebat kami  tentang tauhidullah dan kewajiban ikhlas kepada Nya, sedangkan Dia adalah tuhan alam semesta semuanya, tidak hanya menguasai suatu kaum saja tanpa berkuasa atas kaum lainnya, bagi kami amal-amal kami dan bagi kalian amal-amal kalian. Dan hanya kepada Allah kami mengiklaskan ibadah dan ketaatan kami tidak  menyekutukan apapun dengan Nya, dan kami tidak menyembah siapapun selainnya?” (Tafsir al-Muyassar)

139. قُلْ أَتُحَاجُّونَنَا فِي اللَّهِ (Katakanlah: “Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah) Yakni apakah kalian memperdebatkan dengan kami tentang Allah padahal kita sama-sama beranggapan bahwa ketuhanan-Nya adalah untuk kita dan peribadatan kita untuk-Nya. Lalu mengapa kalian mengaku lebih utama dari pada kami dan memperdebatkan hal itu? وَلَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ (bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu) Yakni kalian tidak lebih utama untuk Allah daripada kami. وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُونَ(dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati) Yakni kita adalah ahli ikhlas dalam beribadah, sedangkan kalian tidak; dan itu adalah timbangan keutamaan seseorang dan sifat yang menjadikan memiliknya menjadi lebih utama dihadapan Allah daripada yang lain. Lalu mengapa kalian mengaku lebih utama dan lebih berhak dari pada kami, sedangkan diri kalian dipenuhi dengan kesyirikan dan menyandarkan ketuhanan kepada selain-Nya. (Zubdatut Tafsir)

Wahai Nabi, katakanlah kepada ahli kitab (Yahudi dan Nasrani): “Apakah kalian semua akan mendebat kami tentang hukum Allah, padahal kalian tahu bahwa kami dan kalian sama-sama menyembah Allah. Kalau sudah begitu, kenapa kalian tetap memaksa agar Allah memilih rasul dari golongan kalian? Bukankah kalian juga tahu, bahwa Allah akan membalas segala perbuatan kita semua. Kalian tidak lebih utama di sisi Allah dari pada kami. Kami tetap berserah diri sepenuh hati dalam beribadah kepada Allah, meskipun kalian tetap enggan.” (Tafsir al-Wajiz)

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ

mā salakakum fī saqar

"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?"

38-47. Setiap jiwa tergadai dan tergantung dengan apa yang diusahakannya, baik berupa kebaikan atau keburukan, ia tidak bebas sebelum menunaikan kewajiban dan hukuman yang harus dijalaninya, kecuali orang-orang Muslim yang ikhlas dari golongan kanan yang telah membebaskan leher mereka dengan ketaatan, mereka di dalam surga-surga yang sifatnya tidak dijangkau (oleh nalar). Sebagian bertanya kepada sebagian yang lain tentang orang-orang kafir yang berbuat jahat terhadap diri mereka sendiri, “Apa yang membuat kalian masuk ke dalam Neraka Jahanam dan membuat kalian merasakan panasnya?” para penjahat itu menjawab, “Di dunia kami tidak termasuk orang-orang yang mendirikan shalat, kami tidak bersedekah dan berbuat baik kepada fakir miskin, kami berbincang dalam kebatilan bersama orang-orang yang tersesat dan menyimpang, kami mendustakan hari hisab dan balasan, hingga kematian datang kepada kami sementara kami dalam kesesatan dan penyimpangan itu.” (Tafsir al-Muyassar)

42. مَا سَلَكَكُمْ فِى سَقَرَ (“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?”) Yakni mereka bertanya: “apa yang menjadikan kalian masuk neraka?” (Zubdatut Tafsir)

42-43. Apa yang menyebabkan mereka dimasukkan ke dalam Jahannam? Mereka menjawab: Ketika di dunia kami bukan termasuk orang yang menjaga sholat lima waktu karena Allah (Tafsir al-Wajiz)

فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

fad'ullāha mukhliṣīna lahud-dīna walau karihal-kāfirụn

Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).

maka ikhlaskanlah (wahai orang-orang Mukmin) ibadah dan doa hanya kepada Allah semata, selisihilah jalan orang-orang musyrik sekalipun hal itu membuat mereka marah, jangan pedulikan mereka. (Tafsir al-Muyassar)

14. فَادْعُوا۟ اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ (Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya) Yakni mengikhlaskan ibadah bagi-Nya sebagaimana kalian diperintahkan. وَلَوْ كَرِهَ الْكٰفِرُونَ(meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya)) Maka janganlah kalian pedulikan ketidaksukaan mereka, dan biarkan mereka mati dengan ketidaksukaan mereka itu. (Zubdatut Tafsir)

14. Maka, teguh dan ikhlaslah dalam menyembah dan beribadah kepada Allah dengan tidak menyekutukan-Nya. Meskipun orang-orang kafir tidak menyukai itu dan mereka enggan melakukannya (Tafsir al-Wajiz)

وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا

wa man tāba wa 'amila ṣāliḥan fa innahụ yatụbu ilallāhi matābā

Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.

68-71. Dan juga orang-orang yang mengesakan Allah, dan tidak menyeru dan tidak menyembah sesembahan selainNya, dan mereka tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah untuk dibunuh kecuali dengan alasan yang membolehkan jiwa dibunuh, seperti kafir setelah beriman, atau berzina setelah menikah, atau membunuh jiwa secara zhalim. Dan mereka juga tidak berzina, dan bisa menjaga kemaluan mereka kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak perempuan yang mereka miliki. Barangsiapa melakukan sebagian dari dosa-dosa besar ini, niscaya akan menjumpai siksaan di akhirat kelak, siksaan dilipat gandakan baginya di akhirat, dan ia akan kekal di dalamnya dalam keadaan hina lagi rendah. (Ancaman kekal ini adalah bagi orang yang melakukan semuanya, atau bagi orang yang melakukan kesyirikan kepada Allah). Akan tetapi, orang yang bertaubat dari dosa-dosa tersebut dengan taubat nasuha (yang sesungguhnya), beriman dengan keimanan yang teguh lagi disertai dengan amal shalih, maka orang-orang itulah yang Allah akan menghapus kesalahan-kesalahan mereka dan menggantikannya dengan kebaikan-kebaikan, lantaran taubat dan penyesalan mereka. Dan Allah itu Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, Maha Pemurah terhadap hamba-hambaNya, karena Allah menyeru mereka untuk bertaubat setelah menentangnya dengan maksiat yang paling besar. Dan barangsiapa bertaubat dari dosa-dosa yang telah diperbuatnya dan beramal shalih, sesungguhnya dengan itu, ia telah kembali kepada Allah dengan cara yang benar, maka Allah menerima taubatnya dan mengugurkan dosa-dosanya. (Tafsir al-Muyassar)

71. وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صٰلِحًا فَإِنَّهُۥ يَتُوبُ إِلَى اللهِ مَتَابًا (Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya) Yakni barangsiapa yang bertaubat dengan lisannya saja dan tidak menunjukkan bukti taubatnya dengan perbuatan maka taubat itu tidak berguna baginya. Sedangkan orang yang bertaubat dan membuktikan kebenaran taubatnya dengan amalan-amalan shalih maka taubat yang benar itulah yang akan diterima Allah, yaitu taubat yang sebenar-benarnya. (Zubdatut Tafsir)

71. Dan barangsiapa bertaubat dari perbuatan maksiat dan mengerjakan amal shalih yang diperintah dan menjauhi yang dilarang, maka sesungguhnya taubatnya itu diterima di sisi Allah dan akan kembali kepadaNya dengan benar, sempurna dan diridhai olehNya. (Tafsir al-Wajiz)

إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ

inna hāżā lahuwal-balā`ul mubīn

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.

sesungguhnya perintah untuk menyembelih anakmu adalah ujian yang berat yang telah membuktikan kebenaran imanmu. (Tafsir al-Muyassar)

106. إِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰٓؤُا۟ الْمُبِينُ (Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata) Yakni sungguh ini adalah ujian yang menampakkan keberhasilan Ibrahim dalam melewatinya, yang mana Allah telah menguji ketaatannya dengan memerintahkannya untuk menyembelih anaknya. (Zubdatut Tafsir)

106. Sesungguhnya pengorbanan yang diperintahkan kepadanya ini adalah ujian nyata yang berhasil dijalani Ibrahim dan ujian yang membedakan orang ikhlas dengan yang lainnya. (Tafsir al-Wajiz)

وَأَنْ أَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

wa an aqim waj-haka lid-dīni ḥanīfā, wa lā takụnanna minal-musyrikīn

dan (aku telah diperintah): "Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik.

Dan tegakkanlah dirimu (wahai rasul) di atas islam, dengan selalu lurus di atasnya, tidak condong ke ajaran yahudi dan nasrani ataupun penyembahan kepada selainNya. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan dalam peribadahan kepada tuhannya dengan tuhan-tuhan dan tandingan-tandingan, karena akibatnya kamu akan menjadi bagian dari orang-orang yang binasa. (Tafsir al-Muyassar)

105. وَأَنْ أَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ (dan (aku telah diperintah): “Hadapkanlah mukamu kepada agama) Allah memerintahkan beliau untuk beristiqamah dan teguh dalam beragama serta tidak goyah sedikitpun. Allah mengungkapkan dengan kata ‘muka’ karena ia adalah anggota tubuh yang paling mulia. حَنِيفًا(dengan tulus) Yang tidak condong kepada agama apapun kecuali kepada agama Islam. (Zubdatut Tafsir)

105 Aku telah diperintah agar beristiqamah dan teguh agama dengan beribadah dan berdoa dan berpaling dari agama-agama lain lalu menghadap agama Islam serta supaya aku tidak termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah dengan Tuhan lain, sehingga aku dibinasakan. (Tafsir al-Wajiz)

رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ ذُو الْعَرْشِ يُلْقِي الرُّوحَ مِنْ أَمْرِهِ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ لِيُنْذِرَ يَوْمَ التَّلَاقِ

rafī'ud-darajāti żul-'arsy, yulqir-rụḥa min amrihī 'alā may yasyā`u min 'ibādihī liyunżira yaumat-talāq

(Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai 'Arsy, Yang mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat).

Sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahatinggi, yang derajat-derajatNya membubung tinggi sehingga Dia tidaklah sama dengan makhluk-makhlukNya, dan kedudukanNya juga tinggi, dan Dia adalah Pemilik Arasy yang agung. Diantara bentuk rahmatNya kepada hamba-hambaNya adalah bahwa Dia mengutus para Rasul kepada mereka untuk menyampaikan wahyu yang dengannya mereka hidup, sehingga mereka menjalani segala urusan mereka dengan dasar ilmu yang jelas, agar para rasul itu mempertakutkan hamba-hamba, di samping juga memberikan peringatan kepada mereka tentang Hari Kiamat di mana di sana orang-orang terdahulu dan orang-orang terakhir akan bertemu. (Tafsir al-Muyassar)

15. رَفِيعُ الدَّرَجٰتِ ((Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya) Yakni Dialah yang menunjukkan tanda-tanda kekuasaan-Nya dan memiliki sifat yang Maha Tinggi. ذُو الْعَرْشِ(Yang mempunyai ‘Arsy) Yakni penguasa, pencipta, dan pengatur ‘Arsy, Dia bersemayam di atasnya, dan ini menunjukkan ketinggian dan keagungan kekuasaan-Nya. يُلْقِى الرُّوحَ مِنْ أَمْرِهِۦ(Yang mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya) Allah menyebut wahyu dengan sebutan ruh, karena dengannya manusia dapat hidup dari kematian kekafiran, sebagaimana badan yang hidup dengan ruh. Dan makna kata ‘perintah-Nya’ yakni syari’at-syari’at yang diwahyukan kepada nabi-nabi-Nya agar mereka menjalankannya dalam kehidupan mereka. عَلَىٰ مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦ(kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya) Mereka adalah para nabi, Allah memilih mereka dari hamba-hamba-Nya yang lain. لِيُنذِرَ يَوْمَ التَّلَاقِ (supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat)) Yakni agar dia memperingatkan dari azab yang ada pada hari bertemunya penduduk langit dengan penduduk bumi di padang mahsyar, serta bertemunya orang-orang terdahulu dengan para penerusnya. (Zubdatut Tafsir)

15. Dialah Allah Yang memiliki sifat-sifat yang luhur, Yang Maha Suci dari segala persamaan terhadap makhluk. Yang Menciptakan, Memiliki dan Menguasai “Arsy, juga Yang Berhak Melakukan segala sesuatu atasnya. Dia berkehendak menurunkan wahyu kepada hamba-Nya. Wahyu itu disebut sebagai ruh, karena wahyu itu seperti ruh untuk jasad. Dia menyampaikannya melalui kalam-Nya, sebagai peringatan dan ancaman atas datangnya hari dimana makhluk kembali kepada pencipta-Nya untuk dihisab dan diberi balasan atas segala amalnya (Tafsir al-Wajiz)

إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ

illā 'ibādallāhil-mukhlaṣīn

kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa).

127-128 kemudian kaum nabi lyas mendustakan nabi mereka, maka Allah akan mengumpulkan mereka semua pada hari kiamat utuk memperhitungkan amalan mereka dan memberi siksaan, kecuali hamba-hamba Allah yang mengikhlaskan agama mereka kepada Allah, maka sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang selamat dari siksa-Nya. (Tafsir al-Muyassar)

128. إِلَّا عِبَادَ اللهِ الْمُخْلَصِينَ (kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa)) Yakni orang-orang dari kaumnya yang beriman kepada Allah dan hanya menyembah kepada-Nya, merekalah orang-orang yang selamat dari azab. (Zubdatut Tafsir)

128. Kecuali hamba-hamba Allah yang terpilih untuk taat. Maka mereka adalah orang-orang yang selam dari azab (Tafsir al-Wajiz)

إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ

illā 'ibādallāhil-mukhlaṣīn

Tetapi hamba-hamba Allah yang bersihkan (dari dosa tidak akan diazab).

Kecuali hamba-hamba Allah yang Allah selamatkan dan Allah khususkan dengan rahmatNya karena keikhlasan mereka kepadanya. (Tafsir al-Muyassar)

74. إِلَّا عِبَادَ اللهِ الْمُخْلَصِينَ (Tetapi hamba-hamba Allah yang bersihkan (dari dosa tidak akan diazab)) Yakni kecuali orang yang dipilih Allah dengan taufik-Nya untuk beriman dan mengesakan-Nya. (Zubdatut Tafsir)

74. Kecuali orang-orang yang ikhlas dalam beribadah dan menaati Allah. (Tafsir al-Wajiz)

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

wa mā umirū illā liya'budullāha mukhliṣīna lahud-dīna ḥunafā`a wa yuqīmuṣ-ṣalāta wa yu`tuz-zakāta wa żālika dīnul-qayyimah

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.

Mereka tidak diperintahkan dalam seluruh syariat Allah kecuali agar mereka beribadah kepada Allah semata, mengarahkan ibadah mereka hanya kepada wajah NYA,menjauhi syirik dengan condong kepada iman,menegakan shalat dan menunaikan zakat. Itulah agama istiqamah, yaitu agama islam. (Tafsir al-Muyassar)

5. وَمَآ أُمِرُوٓا۟( Padahal mereka tidak disuruh) Dengan perintah yang ada dalam kitab-kitab yang diturunkan dahulu dan dalam al-Qur’an. إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ اللَّـهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ (supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya) Yakni agar mereka senantiasa beribadah kepada Allah, dan ibadah mereka harus bersih dari segala kemusyrikan, dan agar mereka benar-benar ikhlas dalam beragama. حُنَفَآءَ((menjalankan) agama yang lurus) Yakni meninggalkan segala agama menuju agama Islam semata. وَيُقِيمُوا۟ الصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ الزَّكَوٰةَ ۚ (dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat) Yakni mendirikan shalat sesuai tuntunan Allah pada waktunya, dan menunaikan zakat kepada orang yang berhak. وَذٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ (dan yang demikian itulah agama yang lurus) Yakni agama yang demikian adalah agama yang lurus, maka tidak pantas untuk berselisih tentangnya. (Zubdatut Tafsir)

4-5. Para ahli kitab itu tidak menyimpang dan tidak saling berbeda tentang perkara nabi Muhammad SAW kecuali setelah datangnya dalil nyata yang menunjukkan kebenaran itu, sehingga sebagian mereka ada yang beriman dan sisanya ingkar. Para ahli kitab itu tidak diperintah dalam Taurat dan Injil kecuali hanya untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukanNya dengan ikhlas dalam ibadah, tidak syirik, menjauhkan kebatilan dari kebenaran, menjalankan shalat fardhu pada waktunya dan menunaikan zakat kepada yang berhak menerimanya. Itulah agama yang lurus di jalan kebenaran (Tafsir al-Wajiz)

Related: Ayat Tentang Kejujuran Arab-Latin, Ayat Tentang Syukur Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Ayat Surat Pendek, Terjemahan Tafsir Ayat Tentang Pemimpin, Isi Kandungan Ayat Tentang Menutup Aurat, Makna Ayat Tentang Kebersihan

Category: Tafsir Topik

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!

Ayat Arti Ikhlas Ayat Tentang Hati Yang Ikhlas Dalil Ikhlas Bahasa Arab