Ayat Tentang Akhlak

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ ٱلَّذِى ٱسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّآ أَضَآءَتْ مَا حَوْلَهُۥ ذَهَبَ ٱللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِى ظُلُمَٰتٍ لَّا يُبْصِرُونَ

Arab-Latin: maṡaluhum kamaṡalillażistauqada nārā, fa lammā aḍā`at mā ḥaulahụ żahaballāhu binụrihim wa tarakahum fī ẓulumātil lā yubṣirụn

Terjemah Arti: Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.

Tafsir Ayat Tentang Akhlak

Kondisi orang-orang munafik yang beriman secara lahiriyah saja dan tidak secara batiniah terhadap Risalah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, kemudian mereka kafir, maka hal itu menyebabkan mereka berjalan tanpa arah dalam gelapnya kesesatan mereka sedang mereka tidak menyadarinya, dan  tidak ada harapan bagi mereka untuk keluar dari kondisi tersebut, menyerupai kondisi sekelompok orang disaat malam gelap gulita. Kemudian salah seorang dari mereka menyalakan api yang besar untuk penghangat badan dan penerangan, ketika api itu telah memancarkan cahaya dengan terang dan menerangi tempat sekitarnya tiba-tiba Api itu padam dan keadaan menjadi gelap gulita, maka orang-orang itu berada dalam kegelapan tanpa bisa melihat apapun dan tidak memperoleh petunjuk menuju suatu arah maupun jalan keluar. (Tafsir al-Muyassar)

Allah membuat dua perumpamaan untuk orang-orang munafik itu, yaitu perumpamaan api dan perumpamaan air. Perumpamaan api maksudnya ialah mereka itu seperti orang yang menyalakan api untuk menerangi sekelilingnya. Setelah api menyala dan ia mengira akan mendapatkan manfaat dari sinarnya, tiba-tiba api itu padam, cahayanya pun lenyap, dan yang tersisa hanyalah bekas pembakarannya. Sehingga orang-orang yang ada di sekitarnya berada di dalam kegelapan, tidak bisa melihat apa-apa dan tidak mengetahui jalan yang benar. (Tafsir al-Mukhtashar)

Perumpamaan orang-orang munafik tersebut ketika mengumumkan bahwa mereka adalah orang Islam yaitu seperti orang yang menyalakan api yang dia manfaatkan dengan teman-temannya untuk penerangan. Ketika api itu telah menerangi mereka, api itu padam dan menjadikan sekitar mereka gelap. Allah menghilangkan cahaya mereka dan meninggalkan mereka dalam keadaan saling bertenngkar dalam gelapnya keraguan dan kemunafikan. Mereka tidak (mampu) melihat jalan kebenaran dan tidak (bisa) mengetahui kebaikan daripada keburukan (Tafsir al-Wajiz)

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِى اسْتَوْقَدَ نَارًا (Perumpamaan mereka seperti orang-orang yang menyalakan api) Diriwayatkan dari Ibnu abbas dan beberapa sahabat yang lain tentang ayat ini, mereka berkata: “ketika Rasulullah datang berhijrah ke Madinah, sekelompok orang masuk islam akan tetapi kemudian timbul dihati mereka kenifakan. Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang berada di kegelapan kemudian menyalakan api yang lalu menyinari mereka dari hal-hal yang mungkin bisa menyakiti, merekapun dapat melihat dengan jelas sehingga dapat berhati-hati. Namun ketika dalam keadaan itu tiba-tiba api mereka padam sehingga tidak dapat mengetahui bahaya yang harus mereka hindari. Demikian pulalah keadaan pada munafik yang dulunya berada dalam gelapnya kesesatan lalu mereka memeluk islam, merekapun dapat membedakan halal dan haram, yang baik dan buruk. Namun ketika mereka dalam keadaan itu tiba-tiba mereka keluar islam sehingga tidak mengetahui yang halal dan yang haram, yang baik dan yang buruk. (Zubdatut Tafsir)