Ayat Tentang Kematian

أَيْنَمَا تَكُونُوا۟ يُدْرِككُّمُ ٱلْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِى بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ وَإِن تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا۟ هَٰذِهِۦ مِنْ عِندِ ٱللَّهِ ۖ وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا۟ هَٰذِهِۦ مِنْ عِندِكَ ۚ قُلْ كُلٌّ مِّنْ عِندِ ٱللَّهِ ۖ فَمَالِ هَٰٓؤُلَآءِ ٱلْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا

Arab-Latin: aina mā takụnụ yudrikkumul-mautu walau kuntum fī burụjim musyayyadah, wa in tuṣib-hum ḥasanatuy yaqụlụ hāżihī min 'indillāh, wa in tuṣib-hum sayyi`atuy yaqụlụ hāżihī min 'indik, qul kullum min 'indillāh, fa māli hā`ulā`il-qaumi lā yakādụna yafqahụna ḥadīṡā

Terjemah Arti: Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?

Tafsir Ayat Tentang Kematian

Dapatkan pahala berdakwah dan gratis buku Rahasia Rezeki Berlimpah, klik di sini untuk caranya

Ada sekumpulan penjabaran dari para mufassir berkaitan makna ayat tentang kematian, misalnya seperti di bawah ini:

Dimanapun kalian berada,kematian akan menemui kalian ditempat mana saja kalian berada tatkala ajal kalian telah tiba, walaupun kalian berada di dalam benteng-benteng pertahanan yang kokoh lagi jauh dari tempat-tempat pertempuran dan peperangan. Dan apabila mereka mendapatkan hal yang menyenangkan mereka berupa datangnya kesenangan dari kehidupan dunia,mereka menisbatkannya kepada allah .Dan jika terjadi pada mereka sesuatu yang tidak mereka sukai,mereka menisbatkannya kepada Rasul Muhammad sebagai bentuk kebodohan dan anggapan sebagai sumber kesialan. Mereka tidak mengetahui, bahwa semua itu berasal dari sisi allah semata sesuai dengan ketetapan qadha dan takdirNYA.Mengapa mereka tidak mendekati pemahaman yang benar terhadap ungkapan manapun yang kamu katakana kepada mereka? (Tafsir al-Muyassar)

Kapan pun dan di mana pun kalian pasti akan dijemput maut apabila ajal kalian telah tiba, walaupun kalian berada di dalam istana yang kokoh dan jauh dari medan perang. Apabila orang-orang munafik itu mendapatkan sesuatu yang menyenangkan hati mereka, seperti anak dan rezeki yang banyak, mereka berkata, “Ini dari Allah.” Dan apabila mereka ditimpa kesulitan terkait anak atau rezeki, mereka menyalahkan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, dan berkata, “Kesialan ini disebabkan oleh dirimu.” Katakanlah -wahai Rasul- untuk menjawab ucapan mereka itu, “Kesenangan dan kesusahan itu semua terjadi berdasarkan kada dan kadar Allah”. Lalu mengapa orang-orang yang mengeluarkan kata-kata tersebut nyaris tidak memahami apa yang kamu sampaikan kepada mereka? (Tafsir al-Mukhtashar)

Kalian pasti akan mati, dan kematian itu akan menghampiri kalian dimanapun kalian berada, sekalipun di dalam benteng yang sangat kokoh. Jika orang-orang munafik itu mendapatkan kenikmatan berupa keuntungan atau harta rampasan, maka mereka akan menghubungkan nikmat itu kepada Allah SWT ketika Dia memberitahu kebaikan itu kepada mereka. Namun ketika mereka ditimpa kesusahan berupa kekeringan dan penyakit, maka mereka akan menghubungkan hal itu kepada Rasulullah SAW bahwa hal itu diterima karena beliau. Lalu Allah menampik hal itu dengan berfirman: “Katakanlah kepada mereka wahai Nabi: “Setiap kebaikan dan keburukan itu dari sisi Allah, bukan seperti yang kalian anggapkan,” Namun kaum itu hampir tidak memahami firman tersebut dan tidak menyadari bahwa setiap sesuatu itu terjadi dengan adanya keputusan dan kuasa Allah. Ibnu Abbas berkata: “Ketika beberapa orang muslim mati syahid pada hari ahad, orang-orang munafik yang tidak ikut berjihad: “Jika saja saudara-saudara kita yang mati itu bersama kami, niscaya mereka tidak akan terbunuh” Lalu Allah SWT menurunkan ayat ini” (Tafsir al-Wajiz)

أَيْنَمَا تَكُونُوا۟ يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ (Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu) Dalam ayat ini terkandung dorongan bagi orang yang tidak mau pergi berperang karena takut pada kematian, dan juga terdapat penjelasan atas buruknya sifat yang ada pada mereka berupa kepengecutan dan ketakutan, karena kematian adalah sesuatu yang pasti terjadi -siapa yang tidak mati karena tebasan pedang maka ia akan mati karena hal lain- sebab-sebab kematian sangatlah banyak namun kematian tetaplah satu (berlaku bagi semuanya). بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ (benteng yang tinggi lagi kokoh) Yakni benteng yang sangat diperhatikan kualitas bangunannya dan kekuatan pertahanannya tidak akan dapat menolak datangnya kematian jika memang telah datang waktunya. وَإِن تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ(dan jika mereka memperoleh kebaikan) Yakni jika orang-orang munafik mendapatkan kenikmatan maka mereka menisbatkannya kepada Allah, dan jika mereka ditimpa cobaan dan musibah maka mereka menisbatkannya kepada Rasulullah. قُلْ كُلٌّ مِّنْ عِندِ اللهِ (Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”) Yakni tidak sebagaimana yang kalian klaimkan, akan tetapi segala kebaikan atau musibah semuanya dengan takdir Allah. (Zubdatut Tafsir)

نَحْنُ قَدَّرْنَا بَيْنَكُمُ ٱلْمَوْتَ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ

naḥnu qaddarnā bainakumul-mauta wa mā naḥnu bimasbụqīn

Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan,

Kami menetapkan kematian di antara kalian. Kami tidak lemah untuk merubah penciptaan kalian di Hari Kiamat dan menghidupkan kalian dalam keadaan dan sifat yang kalian tidak ketahui. (Tafsir al-Muyassar)

Kami telah mentakdirkan kematian di antara kalian, dan masing-masing dari kalian mempunyai ajal, tidak maju dan tidak pula mundur, dan Kami tidaklah lemah, (Tafsir al-Mukhtashar)

Kami-lah Yang menentukan dan menetapkan kematian atas setiap orang dengan ketentuan, ketetapan dan waktu yang tertentu juga. Kami bukanlah golongan yang lemah (Tafsir al-Wajiz)

نَحْنُ قَدَّرْنَا بَيْنَكُمُ الْمَوْتَ (Kami telah menentukan kematian di antara kamu) Yakni Kami tentukan waktu bagi setiap kalian, sehingga sebagian kalian meninggal ketika telah berusia lanjut dan sebagian lalinnya meninggal ketika masih kecil. Namun seluruh penduduk bumi akan mati semua. وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ(dan Kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan) Namun Kami-lah yang berkuasa. (Zubdatut Tafsir)

وَهُوَ ٱلَّذِى يَتَوَفَّىٰكُم بِٱلَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُم بِٱلنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَىٰٓ أَجَلٌ مُّسَمًّى ۖ ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

wa huwallażī yatawaffākum bil-laili wa ya'lamu mā jaraḥtum bin-nahāri ṡumma yab'aṡukum fīhi liyuqḍā ajalum musammā, ṡumma ilaihi marji'ukum ṡumma yunabbi`ukum bimā kuntum ta'malụn

Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan.

Dia lah Allah yang mencabut ruh-ruh kalian di malam hari dengan cara yang menyerupai terabutnya nyawa-nyawa dalam kematian. Dan Dia mengetahui apa yang kalian usahakan di siang hari dari perkerjaan-pekerjaan, kemudian Dia mengembalikan ruh-ruh kalian ke jasad-jasad kalian ketika terjaga dari tidur di siang harinya dengan kondisi yang menyerupai orang-orang yang hidup setelah kematian, untuk disempurnakan ajal-ajal kalian yang telah ditentukan di dunia. Kemudian kepada Allah lah tempat kembali kalian setelah di bangkitkan dari kubur-kubur kalian dalam keadaan hidup, lalu Dia mengabarkan kepada kalian apa saja yang telah kalian kerjakan dalam kehidupan dunia kalian kemudia Dia akan memberikan balasan kepada kalian karena hal itu. (Tafsir al-Muyassar)

Dan Allah-lah yang menggenggam nyawa kalian untuk sementara waktu ketika kalian sedang tidur. Dan Dia lah yang mengetahui apa yang kalian perbuat di siang hari ketika kalian sedang beraktivitas. Kemudian Dia membangkitkan kalian di siang hari setelah Dia menggenggam nyawa kalian dengan cara menidurkan kalian agar kalian melakukan pekerjaan kalian sampai akhir hayat kalian yang telah ditetapkan batasnya di sisi Allah. Kemudian hanya kepada-Nya kalian semua akan dikembalikan dengan dibangkitkan dari kubur kalian kelak pada hari Kiamat. Lantas Dia akan memberitahu kalian tentang apa yang telah kalian perbuat selama hidup kalian di dunia. Dan Dia akan memberi kalian balasan yang setimpal. (Tafsir al-Mukhtashar)

60 Dan Dialah Allah Yang menidurkan kamu di malam hari, sehingga kalian tidak bisa membedakan atau berbuat sesuatu dengan sadar, semua anggota tubuh istirahat dari segala tugasnya, itulah yang dimaksud dengan kematian. Dia juga mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, baik ataupun buruk, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk dijalankan ketetapan umurmu yang telah ditentukan. Kemudian kepada Allah-lah kamu akan kembali setelah kematian, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan di dunia, kemudian akan memberi balasan dengan kebaikan atau keburukan. (Tafsir al-Wajiz)

وَهُوَ الَّذِى يَتَوَفَّىٰكُم بِالَّيْلِ (Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari) Yakni menidurkan didalamnya, dengan mengambil jiwa kalian yang menjadi pembeda antara yang mati dan yang hidup. وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُم بِالنَّهَارِ (dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari) Yakni yang kalian kerjakan dengan anggota badan kalian baik itu perbuatan baik atau buruk. ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ(kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari) Yakni bangun pada siang hari. لِيُقْضَىٰٓ أَجَلٌ مُّسَمًّى ۖ (untuk disempurnakan ajal(mu) yang telah ditentukan) Yakni ditentukan bagi setiap hamba-Nya kehidupan dan rezeki. (Zubdatut Tafsir)

وَلَا يَتَمَنَّوْنَهُۥٓ أَبَدًۢا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ۚ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِٱلظَّٰلِمِينَ

wa lā yatamannaunahū abadam bimā qaddamat aidīhim, wallāhu 'alīmum biẓ-ẓālimīn

Mereka tiada akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang zalim.

Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zhalim, tidak sedikit pun dari kezhaliman mereka yang samar bagi Allah. (Tafsir al-Muyassar)

Mereka tidak akan mengharapkan kematian selamanya, justru mereka ingin kekal di dunia karena kekafiran, kemaksiatan, kezaliman, pemalsuan dan perubahan Taurat yang telah mereka lakukan, dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim, tidak ada suatu pun dari perbuatan mereka yang luput dari Allah dan Dia akan membalas kalian atas perbuatan tersebut. (Tafsir al-Mukhtashar)

Kemudian harapan mereka tentang kematian itu tidak dilakukan akibat amal buruk mereka berupa kekufuran, kemaksiatan dan penyimpangan. Allah Adalah Dzat yang Maha mengetahui orang-orang yang menzalimi diri mereka sendiri, mereka adalah orang-orang kafir. Mereka dibalas atas amal perbuatan mereka. (Tafsir al-Wajiz)

وَلَا يَتَمَنَّوْنَهُۥٓ أَبَدًۢا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ۚ (Mereka tiada akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri) Yakni akibat kekafiran, kemaksiatan, dan pengubahan kitab Allah yang mereka lakukan. وَاللهُ عَلِيمٌۢ بِالظّٰلِمِينَ(Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang zalim) (Zubdatut Tafsir)

قُلْ إِنَّ ٱلْمَوْتَ ٱلَّذِى تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُۥ مُلَٰقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

qul innal-mautallażī tafirrụna min-hu fa innahụ mulāqīkum ṡumma turaddụna ilā 'ālimil-gaibi wasy-syahādati fa yunabbi`ukum bimā kuntum ta'malụn

Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan".

(Tafsir al-Muyassar)

Katakanlah -wahai Rasul- kepada orang-orang Yahudi itu, “Sesungguhnya kematian yang kalian lari darinya, pasti akan mendatangi kalian, tidak ada keraguan, baik cepat ataupun lambat. Kemudian kalian pada hari Kiamat dikembalikan kepada Allah, Yang mengetahui hal yang gaib dan yang nyata, keduanya tak ada yang luput dari-Nya, lalu Dia memberitahukan kepada kalian apa yang telah kalian lakukan di dunia dan membalas kalian atas perbuatan tersebut. (Tafsir al-Mukhtashar)

Katakanlah kepada mereka wahai Nabi: “Sesungguhnya kematian yang mereka benci itu pasti akan datang kepada mereka, bukan sesuatu yang mustahil. Kemudian kepada Dzat yang Maha Mengetahui sesuatu yang ghaib dan perasaan-perasaan yang tampak, lalu memberitahu kalian tentang amal perbuatan kalian dan membalas kalian atas perbuatan kalian. Ini adalah ancaman dan janji.” (Tafsir al-Wajiz)

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِى تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُۥ مُلٰقِيكُمْ ۖ (Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu) Yakni kematian itu akan mendatangi kalian dari arah yang kalian jauhi, dan kalian akan menghadapinya. ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهٰدَةِ(kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata) Yaitu ketika hari kiamat. فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ(lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”) Yang berupa amalan-amalan buruk, lalu Allah akan membalas kalian. (Zubdatut Tafsir)

قُلْ إِن كَانَتْ لَكُمُ ٱلدَّارُ ٱلْءَاخِرَةُ عِندَ ٱللَّهِ خَالِصَةً مِّن دُونِ ٱلنَّاسِ فَتَمَنَّوُا۟ ٱلْمَوْتَ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ

qul ing kānat lakumud-dārul-ākhiratu 'indallāhi khāliṣatam min dụnin-nāsi fa tamannawul-mauta ing kuntum ṣādiqīn

Katakanlah: "Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian(mu), jika kamu memang benar.

Katakanlah -wahai rasul- kepada kaum Yahudi yang mengaku-ngaku bahwa surga hanya diperuntukkan untuk mereka secara khusus, lantaran persangkaan mereka bahwa mereka adalah orang-orang kekasih Allah tanpa ada orang lain yang menyertai mereka, dan bahwa sesungguhnya mereka adalah anak-anak dari kekasih-kekasih Allah, “apabila faktanya demikian maka mohonlah kematian agar menimpa orang-orang yang mendustakaan, baik dari kalian ataupun pihak lain. Bila kalian adalah orang-orang yang benar dengan  klaim kalian itu. (Tafsir al-Muyassar)

Katakanlah -wahai Nabi-, “Jika kalian wahai orang-orang Yahudi- benar-benar memiliki surga di akhirat yang khusus diperuntukkan bagi kalian dan tidak boleh dimasuki oleh manusia lain, maka berharaplah untuk mati dan mintalah kematian itu agar kalian segera mendapatkan kedudukan tersebut, sehingga kalian bisa bebas dari beban masalah kehidupan dunia, jika pengakuan kalian tersebut memang benar.” (Tafsir al-Mukhtashar)

Katakanlah kepada mereka wahai Nabi bahwa surga diperuntukkan bagimu, khusus kamu, bukan untuk semua manusia seperti yang kamu katakan. Maka, berharap-haraplah/persiapkanlah kematianmu agar engkau termasuk orang yang beruntung mendapatkan surga. Karena barangsiapa yang yakin bahwa dia termasuk penghuni surga, maka mati menjadi hal yang lebih dia cintai dari pada hidup: itu apabila iaman kalian benar-benar teguh. Adapun, sebab turunnya ayat ini seperti yang diriwayatkan oleh Imam Thabbrani dari Abu Aliyah berkata: Kaum Yahudi berkata: “Tidak akan masuk surga, kecuali orang-orang yang beragama Yahudi.” Maka turunlah ayat ini (Tafsir al-Wajiz)

قُلْ إِنْ كَانَتْ لَكُمُ الدَّارُ الْآخِرَةُ (Katakanlah: “Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga)) Yakni mereka mengklaim kalua mereka akan masuk surga. خَالِصَةً (dikhususkan (bagimu)) Dan tidak masuk surga kecuali mereka. فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ (maka inginilah kematian(mu)) Yakni memerintahkan mereka agar mengharapkan kematian. Karena barangsiapa yang yakin bahwa dia termasuk ahli surga maka kematian akan lebih dia sukai daripada kehidupan. Terdapat hadist marfu’ dari Ibnu Abbas yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan lainnya: andaisaja orang-orang Yahudi itu mengharapkan kematian niscaya mereka akan mati dan melihat tempat-tempat duduk mereka di neraka. (Zubdatut Tafsir)

مَآ أَغْنَىٰ عَنِّى مَالِيَهْ ۜ

mā agnā 'annī māliyah

Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku.

Adapun orang yang diberi kitab catatan amalnya dengan tangan kirinya, dia berkata dengan penuh kesedihan dan penyesalan, “Celaka diriku, seandainya aku tidak diberi kitabku,seandainya aku tidak tahu balasanku. Seandainya kematian yang aku alami di dunia adalah akhir segala urusanku dan aku tidak dibangkitkan sesudahnya. Harta yang aku kumpulkan di dunia tidak berguna bagiku, alasanku lenyap menghilang dan aku tidak punya alasan apa pun.” (Tafsir al-Muyassar)

Hartaku sedikitpun tidak bisa menghalangiku dari siksa Allah. (Tafsir al-Mukhtashar)

Hartaku tidak berguna sama sekali untuk menghalangi siksa Allah SWT (Tafsir al-Wajiz)

مَآ أَغْنَىٰ عَنِّى مَالِيَهْ ۜ (Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku) Yakni harta yang aku cari dahulu tidak dapat menjauhkanku dari azab sedikitpun. (Zubdatut Tafsir)

عَلَىٰٓ أَن نُّبَدِّلَ أَمْثَٰلَكُمْ وَنُنشِئَكُمْ فِى مَا لَا تَعْلَمُونَ

'alā an nubaddila amṡālakum wa nunsyi`akum fī mā lā ta'lamụn

untuk menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu (dalam dunia) dan menciptakan kamu kelak (di akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu ketahui.

Kami menetapkan kematian di antara kalian. Kami tidak lemah untuk merubah penciptaan kalian di Hari Kiamat dan menghidupkan kalian dalam keadaan dan sifat yang kalian tidak ketahui. (Tafsir al-Muyassar)

untuk mengganti penciptaan dan bentuk kalian sebagaimana yang telah kalian ketahui, dan menjadikan kalian dalam penciptaan dan bentuk yang tidak kalian ketahui. (Tafsir al-Mukhtashar)

Kami tidak lemah untuk menciptakan makhluk pengganti kalian atau yang serupa dengan kalian atau bahkan Kami mampu mencpitakan makhluk yang lebih baik dari kalian. Kami juga kuasa untuk menjadikan kalian dengan rupa yang buruk, yang bahkan kalian tidak bisa menggambarkan keburukannya. (Tafsir al-Wajiz)

عَلَىٰٓ أَن نُّبَدِّلَ أَمْثٰلَكُمْ (untuk menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu) Yakni Kami datangkan makhluk seperti kalian sebagai pengganti kalian. وَنُنشِئَكُمْ فِى مَا لَا تَعْلَمُونَ(dan menciptakan kamu dalam keadaan yang tidak kamu ketahui) Yakni dalam bentuk dan rupa yang tidak kalian ketahui. Imam Al-Hasan mengatakan: yakni Kami menjadikan kalian kera dan babi sebagaimana yang telah Kami lakukan pada kaum-kaum sebelum kalian. (Zubdatut Tafsir)

وَلَن يَتَمَنَّوْهُ أَبَدًۢا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِٱلظَّٰلِمِينَ

wa lay yatamannauhu abadam bimā qaddamat aidīhim, wallāhu 'alīmum biẓ-ẓālimīn

Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri), dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang aniaya.

Dan mereka tidak akan melakukannya selamanya, karena mereka mengetahui kebenaran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sekaligus kedustaan dan kebohongan mereka sendiri,  serta disebabkan perbuatan yang telah mereka lakukan berupa kekafiran dan kemaksiatan,  yang mengakibatkan mereka diharamkan memasuki surga dan masuk dan mereka akan masuk neraka. Dan Allah Subhanahu Wa Ta'ala Maha Mengetahui orang-orang yang zalim dari hamba-Nya, dan akan membalas mereka berdasarkan perbuatan tersebut. (Tafsir al-Muyassar)

Mereka tidak akan pernah mengharapkan kematian, disebabkan apa yang telah mereka perbuat selama hidup, yaitu ingkar kepada Allah, mendustakan rasul-rasul-Nya dan memanipulasi kitab-kitab suci-Nya. Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim, baik dari kalangan mereka (orang-orang Yahudi) maupun orang lain, dan akan memberikan balasan yang setimpal kepada setiap orang sesuai dengan amal perbuatannya masing-masing. (Tafsir al-Mukhtashar)

Orang-orang Yahudi tidak akan pernah mengharapkan datangnya kematian, karena mereka sadar bahwa mereka melakukan banyak dosa. Diantaranya memalsukan dan mendustakan ayat Allah. Mereka tidak akan pernah selamat dari azab Allah, bahkan mereka tidak sedikitpun mengaharapkan masuk surga. Allah Maha Mengetahui atas orang-orang kafir dan atas balasan yang patut bagi mereka (Tafsir al-Wajiz)

وَلَنْ يَتَمَنَّوْهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ۗ (Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri)) Yakni kerena perbuatan-perbuatan dosa mereka yang mana pelaku-pelaku dosa tidak akan merasa aman dari azab bahkan tidak membayangkan akan dimasukkan surga apalagi membayangkan surga hanya dikhususkan bagi mereka. وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ (dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang aniaya) Yakni Allah menulis mereka sebagai orang-orang yang zalim dan jauh dari kebenaran. (Zubdatut Tafsir)

ٱللَّهُ يَتَوَفَّى ٱلْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَٱلَّتِى لَمْ تَمُتْ فِى مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ ٱلَّتِى قَضَىٰ عَلَيْهَا ٱلْمَوْتَ وَيُرْسِلُ ٱلْأُخْرَىٰٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

allāhu yatawaffal-anfusa ḥīna mautihā wallatī lam tamut fī manāmihā, fa yumsikullatī qaḍā 'alaihal-mauta wa yursilul-ukhrā ilā ajalim musammā, inna fī żālika la`āyātil liqaumiy yatafakkarụn

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.

Allah- lah Yang mencabut nyawa saat ajalnya tiba. Wafat besar ini adalah wafat kematian saat ajal telah habis, dan Allah juga menahan arwah yang belum mati dalam tidurnya, dan ini adalah wafat kecil. Dari kedua arwah tersebut Allah menahan salah satu arwah yang ditetapkan kematiannya, yaitu arwah orang yang mati dan melepaskan yang lain untuk menyempurnakan ajal dan rizkinya dan hal itu dengan mengembalikannya ke jasad pemiliknya. Sesungguhnya dipegangnya arwah orang yang mati dan orang yang tidur, dilepaskannya arwah orang yang tidur dan ditahannya arwah orang yang mati oleh Allah mengandung petunjuk yang sangat jelas atas Kuasa Allah bagi siapa yang merenung dan berpikir. (Tafsir al-Muyassar)

Allah mengambil arwah saat ajalnya tiba dan mengambil arwah yang ajalnya belum tiba saat ia tidur. Lalu Allah menahan arwah orang yang Allah tetapkan kematiannya dan melepaskan arwah yang belum Dia tetapkan kematiannya hingga masa tertentu yang Allah ketahui dalam ilmu-Nya. Sesungguhnya dalam tindakan menahan, melepaskan, mematian dan menghidupkan itu terdapat bukti-bukti bagi kaum yang memikirkan bahwa yang melakukan semua itu kuasa untuk membangkitkan manusia dari alam kubur mereka untuk menghadapi hisab dan menerima pembalasan. (Tafsir al-Mukhtashar)

Allah menggenggam ruh-ruh sesudah ajal mereka, Allah mematikan jiwa-jiwa yang masih hidup ketika mereka tidur. Allah menahan ruh orang-orang yang telah Dia tetapkan kematiannya, Dia tidak mengembalikan ruh itu kepada jasadnya. Allah akan menempatkannya dalam kenikmatan atau siksa. Allah juga meletakkan ruh orang-orang yang tertidur kembali ke jasadnya agar manusia dapat terbangun lagi dan sadar kembali. Jiwa dan ruh adalah satu kesatuan dalam pendapat kebanyakan ulama’ dan berbeda dalam pandangan beberapa ulama. Makna dari kematian ketika tidur adalah pengembalian ruh dari badan secara dhohir saja, sehingga mereka tidak bisa bergerak secara sadar saja. Ketika mereka terbangun mereka akan sadar kembali setelah tertidur dalam beberapa waktu. Umur itu telah ditetapkan dan kematian pasti akan terjadi. Semua kejadian yang telah disebutkan di atas mengenai penahanan, pencabutan, dan pengembalian ruh adalah bukti Kesempurnaan dan Kemahakuasaan Allah dan hikmah-Nya. Itu semua diperuntukkan bagi orang-orang yang mau berfikir mengenai kehidupan dan kematian (Tafsir al-Wajiz)

اللهُ يَتَوَفَّى الْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا (Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya) Yakni Allah menahan ruh seseorang dan mengeluarkannya dari badannya ketika ajalnya telah datang. وَالَّتِى لَمْ تَمُتْ فِى مَنَامِهَا ۖ( dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya) Dan Allah juga menahan ruh orang yang belum datang ajalnya, yaitu ketika dia sedang tidur. فَيُمْسِكُ الَّتِى قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ(maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya) Yakni tidak mengembalikan ruh itu ke badannya. وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى ۚ( dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan) Yakni mengembalikan ruh orang yang tidur. Terdapat perbedaan pendapat tentang perbedaan antara jiwa dan ruh, apakah hakikat keduanya adalah dua hal yang sama atau dua hal yang berbeda. إِنَّ فِى ذٰلِكَ(Sesungguhnya pada yang demikian itu) Yakni pada penahanan dan pengembalian ruh itu. لَاٰيٰتٍ (terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah) Tanda-tanda yang menakjubkan yang menunjukkan kekuasaan Allah yang Maha Besar. لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (bagi kaum yang berfikir) Yakni yang berfikir dan menghayati hal ini serta menggunakannya sebagai petunjuk atas keesaan Allah dan kesempurnaan kuasa-Nya, sebab penahanan dan pengembalian ruh ini adalah pelajaran dan peringatan bagi orang yang mau mengambil pelajaran dan peringatan. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah bersabda: “Jika salah seorang dari kalian hendak beristirahat di atas kasurnya, maka hendaklah ia mengibasnya dengan ujung sarungnya, sebab ia tidak tau apa yang sebelumnya ada di atas Kasur itu. kemudian hendaklah ia berdo’a: “Dengan nama-Mu Wahai Tuhanku aku rebahkan tubuhku, dan dengan nama-Mu aku bangun. Jika Engkau menahan jiwaku maka rahmatilah ia, dan jika engkau mengembalikannya maka jagalah ia sebagaimana Engkau menjaga hamba-hamba-Mu yang shalih”.” (Zubdatut Tafsir)

Dapatkan pahala berdakwah dan gratis buku Rahasia Rezeki Berlimpah, klik di sini untuk detailnya

Demikian kumpulan penjabaran dari kalangan ulama tafsir berkaitan kandungan ayat tentang kematian, semoga bermanfaat bagi kita bersama. Bantu perjuangan kami dengan memberi link menuju halaman ini atau menuju halaman depan TafsirWeb.com.

Terkait: « | »

Kategori: Tafsir Topik

Artikel: Topik, Serial, Doa Dzikir, Lain-lain, Updates