Quran Surat Yusuf Ayat 1-16

الٓر ۚ تِلْكَ ءَايَٰتُ ٱلْكِتَٰبِ ٱلْمُبِينِ

Arab-Latin: alif lām rā, tilka āyātul-kitābil mubīn

Terjemah Arti: Alif, laam, raa. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Quran) yang nyata (dari Allah).

Tafsir Quran Surat Yusuf Ayat 1-16

Alif lam Ro. Keterangan tentang huruf-huruf yang terpotong-potong (diawal surat) telah berlalu di muka pada permulaan surat al-baqarah. Ini adalah ayat-ayat kitab yang nyata lagi jelas dalam makna-maknanya, halal dan haramnya, serta hidayahnya. (Tafsir al-Muyassar)

Alif Lām Rā. Pembahasan tentang huruf-huruf ini dan yang semacam dengannya sudah ada di awal surah Al-Baqarah. Ayat-ayat yang diturunkan dalam surah ini termasuk ayat-ayat Al-Qur`ān yang jelas isi kandungannya. (Tafsir al-Mukhtashar)

Allah menamai surah ini dengan surah yang mengandung sebaik-baik kisah, ayat bagi orang-orang mukmin, pelajaran bagi orang yang memiliki akal, dan pembenar bagi kitab-kitab samawi sebelumnya. Sebab turunnya surah ini yaitu bahwa orang-orang kafir Mekah bertemu dengan orang-orang Yahudi, lalu mereka berbicara tentang Muhammad SAW, lalu orang-orang Yahudi berkata: “Bertanyalah kepadanya, kenapa keluarga Ya’kub tidak pindah dari Syam menuju Mesir, yaitu tentang kisah Yusuf,” lalu turunlah surah ini 1. {Alif Lam Ra’} Alif, Lam Ra’, berfungsi untuk menunukkan kekokohan Al-Qur’an dan menantang bangsa Arab untuk menyainginya meskipun itu terdiri dari huruf-huruf bahasa Arab yang mana mereka pandai menjelaskan dan fasih dalam bahasa itu. Ayat-ayat dalam surah ini termasuk ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Al-Qur’an itu dari sisi Allah. (Tafsir al-Wajiz)

تِلْكَ ءَايٰتُ الْكِتٰبِ الْمُبِينِ(Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Quran) yang nyata (dari Allah)) Yakni inilah ayat-ayat yang diturunkan kepadamu dalam surat ini, ini adalah ayat-ayat al-Qur’an yang jelas, yakni jelas bahwa ia diturunkan dari sisi Allah, jelas bahwa ia merupakan mukjizat, serta jelas dalam hukum-hukum yang dikandungnya. (Zubdatut Tafsir)

إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ قُرْءَٰنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

innā anzalnāhu qur`ānan 'arabiyyal la'allakum ta'qilụn

Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.

Sesungguhnya kami telah menurunkan al-qur’an ini dengan berbahasa arab, agar kalian (wahai bangsa arab), dapat mencerna makna-maknanya dan memahaminya serta mengamalkan petunjuknya. (Tafsir al-Muyassar)

Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur`ān dengan menggunakan bahasa Arab supaya kalian -wahai orang-orang Arab- bisa memahami maknanya. (Tafsir al-Mukhtashar)

Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur’an ini dengan bahasa Arab supaya kalian mengerti makna-maknanya dan memahami isinya guna membangun manusia individu dan sosial (Tafsir al-Wajiz)

إِنَّآ أَنزَلْنٰهُ (Sesungguhnya Kami menurunkannya) Yakni al-Qur’an. قُرْءٰنًا عَرَبِيًّا(berupa Al Quran dengan berbahasa Arab) Yakni dengan berbahasa arab. لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ(agar kamu memahaminya) Yakni agar kalian mengetahui makna-maknanya dan memahami kandungannya. (Zubdatut Tafsir)

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ ٱلْقَصَصِ بِمَآ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانَ وَإِن كُنتَ مِن قَبْلِهِۦ لَمِنَ ٱلْغَٰفِلِينَ

naḥnu naquṣṣu 'alaika aḥsanal-qaṣaṣi bimā auḥainā ilaika hāżal-qur`āna wa ing kunta ming qablihī laminal-gāfilīn

Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.

Kami menceritakan kepadamu (wahai rasul), kisah terbaik dengan mewahyukan al-qur’an ini kepadamu, dan kamu sebelum turunnya al-qur’an itu benar-benar termasuk orang yang tidak mengerti berita-berita tersebut, tidak mengetahuinya sama sekali. (Tafsir al-Muyassar)

Kami menceritakan kepadamu -wahai Rasul- kisah-kisah terbaik karena kebenarannya dan keindahan kata-katanya dengan cara menurunkan Al-Qur`ān ini kepadamu. Padahal sebelum turunnya Al-Qur`ān ini engkau termasuk di antara orang-orang yang tidak mengetahui kisah-kisah itu. (Tafsir al-Mukhtashar)

Wahai Nabi, Kami akan mengisahkan sebaik-baik kisah (berita-berita) tentang umat-umat terdahulu dengan mewahyukan Al-Qur’an yang bisa menentukan hukum ini kepadamu. Dan sesungguhnya sebelum menerima wahyu, kamu belum tahu apapun tentang kisah ini dan kisah lainnya dari kisah-kisah dalam Al-Qur’an. Surah ini dinamakan dengan sebaik-baik kisah, yang mana di dalamnya terdapat pelajaran, kisah-kisah nabi yang shalih, para malaikat, tuan, budak, perdagangan, laki-laki dan perempuan, karena sesungguhnya masing-masing yang disebutkan itu termasuk orang-orang yang berbahagia. Ibnu Abbas berkata: “Mereka berkata: “Waha rasulullah, Maukah kamu bercerita kepada kami?” lalu turunkah ayat {Nahnu Naqushshu ‘alaika ahsanal qashashi} [ayat 3]” (Tafsir al-Wajiz)

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ (Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik) Tentang umat-umat terdahulu dan ketetapan-ketetapan Allah bagi hamba-Nya. Dan ini merupakan perkataan paling baik bagi orang lain. وَإِن كُنتَ مِن قَبْلِهِۦ لَمِنَ الْغٰفِلِينَ (dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui) Terhadap kisah ini dan kisah lainnya yang diwahyukan Allah kepadamu Surat ini mengandung kisah-kisah terbaik karena mengandung ibrah, pelajaran, dan hikmah yang tidak terdapat pada surat lainnya. Surat ini menyebutkan tentang para nabi, orang-orang shalih, para malaikat, kisah para raja, para budak, para saudagar, para lelaki, serta para perempuan, perhiasannya dan tipu dayanya. Dan karena semua yang disebutkan didalamnya memiliki kesudahan yang bahagia. (Zubdatut Tafsir)

إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَٰٓأَبَتِ إِنِّى رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِى سَٰجِدِينَ

iż qāla yụsufu li`abīhi yā abati innī ra`aitu aḥada 'asyara kaukabaw wasy-syamsa wal-qamara ra`aituhum lī sājidīn

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku".

Sebutkanlah (wahai rasul), kepada kaummu perkataan yusuf kepada ayahnya, ”sesungguhnya aku bermimpi melihat dalam tidurku sebelas bintang, matahari dan bulan, aku melihat mereka semua itu bersujud kepadaku.” mimpi ini menjadi pembuka kabar gembira atas martabat yang dicapai oleh yusuf berupa kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat. (Tafsir al-Muyassar)

Kami menceritakan kepadamu -wahai Rasul- tatkala Yusuf berkata kepada ayahnya Ya'qūb, "Wahai Ayahku! Sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang. Dan aku juga melihat matahari dan bulan. Aku melihat semuanya bersujud kepadaku." Mimpi itu adalah kabar gembira yang disegerakan untuk Yusuf -'alaihissalām-. (Tafsir al-Mukhtashar)

Ingatlah ketika Yusuf AS berkata kepada ayahnya, Ya’kub AS: “Wahai ayahku (mengganti ya’ mutakalim dengan ta’ ketika memanggil ayah atau ibu) Sesungguhnya dalam mimpi aku melihat 11 bintang (yaitu saudaranya) matahari, dan bulan (ayah dan ibunya) bersujud kepadaku.” Mereka digambarkan dengan gambaran orang yang berakal, karena sujud yang dilakukan itu adalah sujud penghormatan, bukan sujud ibadah. (Tafsir al-Wajiz)

لِأَبِيهِ (kepada ayahnya) Yakni nabi Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim. إِنِّى رَأَيْتُ (sesungguhnya aku bermimpi) Dalam tidur. أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا(sebelas bintang) Takwilnya adalah para saudaranya.. وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ(matahari dan bulan) Takwilnya adalah bapak dan ibunya. رَأَيْتُهُمْ لِى سٰجِدِينَ(kulihat semuanya sujud kepadaku) Benda-benda ini dihikayatkan seperti benda hidup yang berakal karena untuk mngibaratkan sifat orang berakal, yaitu benda-benda itu melakukan sujud. (Zubdatut Tafsir)

قَالَ يَٰبُنَىَّ لَا تَقْصُصْ رُءْيَاكَ عَلَىٰٓ إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا۟ لَكَ كَيْدًا ۖ إِنَّ ٱلشَّيْطَٰنَ لِلْإِنسَٰنِ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

qāla yā bunayya lā taqṣuṣ ru`yāka 'alā ikhwatika fa yakīdụ laka kaidā, innasy-syaiṭāna lil-insāni 'aduwwum mubīn

Ayahnya berkata: "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia".

Ya’qub berkata kepada putranya, yusuf, ”wahai putraku, janganlah kamu sebutkan mimpi ini kepada saudara-saudara lelakimu, nanti mereka akan dengki kepadamu, lalu memusuhimu dan merencanakan makar untuk membinasakanmu. Sesungguhnya setan bagi manusia adalah musuh yang jelas permusuhannya (Tafsir al-Muyassar)

Ya'qūb berkata kepada putranya, Yusuf, "Wahai Anakku! Jangan engkau ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu! Karena mereka bisa memahaminya kemudian merasa iri hati kepadamu. Lalu mereka akan membuat rencana jahat terhadapmu karena terdorong rasa iri dan dengki. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. (Tafsir al-Mukhtashar)

Ya’kub bin ishaq berkata: “Wahai anakku, janganlah engkau beritahu saudara-saudaramu terkait mimpi itu supaya mereka tidak dengki terhadapmu, lalu membuat rencana rahasia untuk mencelakakanmu. Dan yang terpenting adalah bisa menimbulkan fitnah di antara manusia.” (Tafsir al-Wajiz)

قَالَ يٰبُنَىَّ لَا تَقْصُصْ رُءْيَاكَ عَلَىٰٓ إِخْوَتِكَ (Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu) Nabi Ya’kub melarang nabi Yusuf, anaknya, untuk menceritakan mimpinya kepada para saudaranya karena Nabi Ya’kub telah mengetahui takwil mimpi itu, dan ia khawatir jika ia menceritakannya kepada para saudaranya maka mereka juga akan memahami takwilnya sehingga timbul dalam diri mereka kedengkian kepadanya. فَيَكِيدُوا۟ لَكَ كَيْدًا ۖ(maka mereka membuat makar) Yakni karena aku khawatir mereka akan membuat tipu daya yang tidak kamu pahami, sehingga mereka akan membinasakanmu karena kedengkian mereka. إِنَّ الشَّيْطٰنَ لِلْإِنسٰنِ عَدُوٌّ مُّبِينٌ (Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia) Sehingga menggiring mereka untuk melakukan hal tersebut, sebab dia merupakan musuh bagi manusia yang terang-terangan dalam permusuhannya. (Zubdatut Tafsir)

وَكَذَٰلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِن تَأْوِيلِ ٱلْأَحَادِيثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُۥ عَلَيْكَ وَعَلَىٰٓ ءَالِ يَعْقُوبَ كَمَآ أَتَمَّهَا عَلَىٰٓ أَبَوَيْكَ مِن قَبْلُ إِبْرَٰهِيمَ وَإِسْحَٰقَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

wa każālika yajtabīka rabbuka wa yu'allimuka min ta`wīlil-aḥādīṡi wa yutimmu ni'matahụ 'alaika wa 'alā āli ya'qụba kamā atammahā 'alā abawaika ming qablu ibrāhīma wa is-ḥāq, inna rabbaka 'alīmun ḥakīm

Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta'bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya'qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Sebagiamana tuhanmu telah memperlihatkan mimpi ini kepadamu, demikian pula Dia memilihmu dan mengajarkan kepadamu ta’bir mimpi yang dilihat manusia dalam tidur mereka, yang ditakwil kepada peristiwa nyata yang akan terjadi, dan menyempurnakan kenikmatanNya padamu dan pada keluarga ya’qub dengan karunia kenabian dan risalah, sebagaimana telah disempurnakanNya pada dua bapakmu;Ibrahim dan ishaq, dengan karunia kenabian dan risalah. Sesungguhnya tuhanmu maha mengetahui siapa yang pantas dipilihNya dari hamba-hambaNya juga mahabijaksana dalam pengaturan urusan-urusan makhluk-makhlukNya.” (Tafsir al-Muyassar)

Dan sebagaimana engkau telah melihat mimpi itu, Tuhanmu pun akan memilihmu -wahai Yusuf- dan mengajarkan ilmu tabir mimpi kepadamu. Dan Dia akan menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu dengan kenabian, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada dua leluhurmu sebelum dirimu, Ibrahim dan Isḥāq. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui perihal makhluk-Nya, lagi Maha Bijaksana dalam mengurus makhluk-Nya. (Tafsir al-Mukhtashar)

Seperti pemilihan tersebutlah Tuhanmu memilihmu di antara seluruh hamba untuk mengemban kepentingan yang agung dan mengajarkanmu untuk memaknai mimpi, yaitu berita tentang sesuatu yang hilangnya sesuatu. Dia juga menyempurnakan nikmatNya kepadamu dengan memberi wahyu kenabian dan kerajaan. Dalam hal itu ada kebaikan dunia dan akhirat. Dia menyempurnakan nikmat atas keturunan Ya’kub sebagaimana Dia menyempurnakan nikmat kenabian atas kakekmu, Ibrahim, tatkala Dia menyelamatkannya dari api dan mengangkatnya sebagai Khalil, nabi, dan rasul. Serta Ishaq yang juga dijadikan sebagai nabi dan rasul. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui keluargha yang layak dipilih dan Maha Bijaksana dalam membuat dan mengatur hal tersebut. Dia meletakkan sesuatu pada tempatnya yang tepat. Kata {Aali} tidak digunakan kecuali untuk menyertakan orang yang agung dengan orang-orang agung lainnya. (Tafsir al-Wajiz)

وَكَذٰلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ (Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu) Kemudian menjadikanmu seorang Nabi, Dia memilihmu dari hamba-hamba-Nya yang lain dan menjadikan mereka bagimu seperti matahari, bulan, dan bintang dalam mimpimu yang sujud didepanmu. وَيُعَلِّمُكَ مِن تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ (dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta’bir mimpi-mimpi) Yakni takwil mimpi. وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُۥ عَلَيْكَ(dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu) Sehingga mengumpulkan bagimu kenabian dan kekuasaan sebagaimana yang ditunjukkan oleh mimpi yang diperlihatkan Allah kepadamu; dan yang demikian itu terdapat kebaikan bagimu di dunia dan di akhirat. كَمَآ أَتَمَّهَا عَلَىٰٓ أَبَوَيْكَ مِن قَبْلُ إِبْرٰهِيمَ (sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim) Allah menyelamatkan nabi Ibrahim dari kobaran api, dan menjadikannya sebagai seorang nabi dan kekasih-Nya. وَإِسْحٰقَ ۚ (dan Ishak) Allah menjadikannya seorang Nabi. Kemudian dari Nabi Ibrahim dan Ishaq Allah memberikan mereka keturunan yang shaleh. (Zubdatut Tafsir)

۞ لَّقَدْ كَانَ فِى يُوسُفَ وَإِخْوَتِهِۦٓ ءَايَٰتٌ لِّلسَّآئِلِينَ

laqad kāna fī yụsufa wa ikhwatihī āyātul lis-sā`ilīn

Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya.

Sesungguhnya dalam kisah yusuf dan saudara-saudara lelakinya terdapat pelajaran-pelajaran dan bukti-bukti petunjuk yang menunjukan kekuasaan Allah dan hikmahNya bagi orang yang mau bertanya tentang kisah-kisah mereka dan berkeinginan untuk mengetahuinya. (Tafsir al-Muyassar)

Sungguh kisah Yusuf dan kisah saudara-saudaranya benar-benar mengandung banyak pelajaran dan nasihat bagi orang-orang yang bertanya tentang kisah mereka. (Tafsir al-Mukhtashar)

Sesungguhnya dalam kisah Yusuf dan saudara-saudaranya itu terdapat pelajaran dan nasehat bagi orang-orang muslim, bukti-bukti dan tanda-tanda yang menunjukkan kebenaran kenabian Muhammad bagi orang-orang yang bertanya (orang yang meminta penjelasan) kepadanya, yaitu orang Yahudi tentang kisah Yusuf, sebagaimana penjalasan sebelumnya, serta dalil-dalil tentang kuasa, hikmah dan kelembutah Allah SWT kepada hamba-hambaNya yang dipilih menjadi nabi (Tafsir al-Wajiz)

ءَايٰتٌ لِّلسَّآئِلِينَ (tanda-tanda bagi orang-orang yang bertanya) Tanda-tanda yang menunjukkan kenabian Nabi Muhammad bagi orang-orang Yahudi yang bertanya kepadanya. Diriwayatkan Allah orang-orang Yahudi bertanya kepada Nabi Muhammad ketika beliau masih di Makkah, sedangkan di Makkah ketika itu tidak terdapat orang-orang ahli kitab atau orang-orang yang mengetahui kisah para Nabi, maka Allah menurunkan surat Yusuf satu kali turun sekaligus. (Zubdatut Tafsir)

إِذْ قَالُوا۟ لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَىٰٓ أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

iż qālụ layụsufu wa akhụhu aḥabbu ilā abīnā minnā wa naḥnu 'uṣbah, inna abānā lafī ḍalālim mubīn

(Yaitu) ketika mereka berkata: "Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata.

ketika saudara-saudara yusuf seayah berkata di antara mereka sendiri, ”sesungguhnya yusuf dan saudara kandungnya lebih dicintai ayah kita daripada kita, dia lebih mengutamakan mereka berdua di atas kita, padahal kita kumpulan orang yang berjumlah lebih banyak. sesungguhnya ayah kita benar-benar dalam kekeliruan yang nyata, lantaran lebih mengutamakan mereka berdua daripada kita, tanpa ada alasan benar menurut pandangan kita. (Tafsir al-Muyassar)

Tatkala saudara-saudaranya (seayah) berbicara satu sama lain, "Sungguh Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita. Padahal kita mayoritas. Jadi, bagaimana mungkin ayah kita lebih mengutamakan mereka berdua daripada kita?! Sesungguhnya kita benar-benar melihat ayah kita melakukan kesalahan yang nyata ketika dia lebih mengutamakan keduanya daripada kita tanpa didasari alasan yang jelas bagi kita. (Tafsir al-Mukhtashar)

Sungguh terdapat pelajaran ketika saudara-saudara Yusuf (yang berjumlah 11) berkata kepada ayah mereka: “Sumpah, Yusuf, dan saudara kandungnya, Benyamin yang lahir dari Ibu yang sama itu lebih dicintai ayah daripada kita semua, meskipun kita kuat dan mampu mengabdi kepadanya. Sesungguhnya ayah berada dalam kesalahan dengan lebih mencintai Yusuf dan saudaranya, bukan kita.” (Tafsir al-Wajiz)

إِذْ قَالُوا۟ لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَىٰٓ أَبِينَا مِنَّا ((Yaitu) ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri) Yakni Binyamin. Mereka menyebutnya dengan sebutan saudara padahal mereka semua merupakan saudaranya karena ia merupakan saudara kandung dari nabi Yusuf, adapun saudara yang lainnya merupakan saudara seayah. وَنَحْنُ عُصْبَةٌ(padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat)) Makna (العصبة) yakni berkelompok. Terdapat pendapat mengatakan maknyanya adalah sekelompok orang yang berjumlah antara 10 sampai 40 orang. إِنَّ أَبَانَا لَفِى ضَلٰلٍ مُّبِينٍ(Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata) Dengan lebih condong kepada mereka berdua daripada kepada kami dan lebih mengutamakan mereka. (Zubdatut Tafsir)

ٱقْتُلُوا۟ يُوسُفَ أَوِ ٱطْرَحُوهُ أَرْضًا يَخْلُ لَكُمْ وَجْهُ أَبِيكُمْ وَتَكُونُوا۟ مِنۢ بَعْدِهِۦ قَوْمًا صَٰلِحِينَ

uqtulụ yụsufa awiṭraḥụhu arḍay yakhlu lakum waj-hu abīkum wa takụnụ mim ba'dihī qauman ṣāliḥīn

Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia kesuatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik".

Bunuhlah yusuf atau buanglah dia ke daerah asing lagi jauh dari pemukiman, niscaya cinta ayah kalian dan perhatiannya kepada kalian akan murni menjadi milik kalian, dan dia tidak akan menoleh dari kalian kepada selain kalian, lalu setelah membunuh yusuf atau membuangnya jauh, kalian menjadi orang yang bertaubat kepada Allah, memohon ampunan kepadaNya setelah dosa yang kalian perbuat. (Tafsir al-Muyassar)

Bunuhlah Yusuf! Atau buanglah dia ke tempat yang jauh agar perhatian ayah kalian tercurah kepada kalian, sehingga dia mencintai kalian secara utuh. Dan setelah kalian membunuhnya atau membuangnya kalian bisa menjadi orang-orang yang saleh setelah kalian bertobat dari dosa-dosa kalian." (Tafsir al-Mukhtashar)

Kebanyakan saudara-saudara Yusuf tersebut berkata: “Bunuhlah Yusuf, atau buang dia di tempat yang jauh dari ayah atau tempat yang jauh dari pemukiman, maka perhatian dan cinta ayah akan diberikan kepada kalian. Dan setelah melakukan pembunuhan ini, kalian akan menjadi orang yang shalih dalam urusan agama dan dunia kalian bersama ayah, dengan menjauhkan kegelisahan jiwa, kecemburuan dan kedengkian. Lalu ayah hanya akan memperhatikan kalian.” (Tafsir al-Wajiz)

اقْتُلُوا۟ يُوسُفَ أَوِ اطْرَحُوهُ أَرْضًا (Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia kesuatu daerah) Yakni mereka berkata: “lakukanlah kepadanya dengan salah satu cara baik itu membunuhnya atu membuangnya di suatu tempat”. Atau maksudnya adalah sebagian mereka menyarankan agar ia dibunuh, dan sebagian lainnya menyarankan agar ia dibuang. يَخْلُ لَكُمْ وَجْهُ أَبِيكُمْ(supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja) Yakni agar pikiran ayahmu bersih dan jernih dari Yusuf sehingga perhatiannya tertuju kepada kalian dan mencintai kalian dengan seutuhnya. مِنۢ بَعْدِهِۦ (sesudah itu) Yakni setelah selesai membunuhnya atau membuangnya. Pendapat lain mengatakan yakni setelah dosa yang kalian perbuat terhadap Yusuf. قَوْمًا صٰلِحِينَ (orang-orang yang baik) Dalam urusan agama kalian dan ketaatan kepada ayah kalian. Atau orang-orang yang damai dalam urusan dunia kalian sebab kalian telah terbebas dari kedengkian terhadap Yusuf. (Zubdatut Tafsir)

قَالَ قَآئِلٌ مِّنْهُمْ لَا تَقْتُلُوا۟ يُوسُفَ وَأَلْقُوهُ فِى غَيَٰبَتِ ٱلْجُبِّ يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ ٱلسَّيَّارَةِ إِن كُنتُمْ فَٰعِلِينَ

qāla qā`ilum min-hum lā taqtulụ yụsufa wa alqụhu fī gayābatil-jubbi yaltaqiṭ-hu ba'ḍus-sayyārati ing kuntum fā'ilīn

Seorang diantara mereka berkata: "Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat".

Ada orang yang berkata dari saudara-saudara yusuf, ”janganlah kalian membunuh yusuf, akan tetapi lemparkanlah dia ke dalam dasar sumur agar sebagian orang yang melintas dari orang-orang musafir akan memungutnya, sehingga kalian akan bebas darinya, dan tidak ada perlunya membunuh dia, jika kalian memang bertekad untuk melakukan apa yang kalian katakan. (Tafsir al-Muyassar)

Salah satu dari mereka berkata, "Jangan bunuh Yusuf! Tetapi buanglah dia ke dalam sumur agar dipungut oleh para musafir yang menemukannya. Ini lebih kecil resikonya daripada membunuhnya, jika kalian benar-benar mantap untuk menjalankan apa yang kalian rencanakan tentang Yusuf." (Tafsir al-Mukhtashar)

Salah satu saudara Yusuf, yaitu Yahudza berkata: “Janganlah kalian membunuh Yusuf, lemparkan saja dia ke dalam lubang sumur yang jarang diperhatikan, jika tujuan kalian adalah menjauhkannya dari ayah.” Dan mereka itu bukanlah nabi. (Tafsir al-Wajiz)

قَالَ قَآئِلٌ مِّنْهُمْ (Seorang diantara mereka berkata) Terdapat pendapat mengatakan, ia adalah Yahudza. فِى غَيٰبَتِ الْجُبِّ (ke dasar sumur) Dasar sumur yang tidak tampak oleh penglihatan. يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ السَّيَّارَةِ (supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir) Sehingga mereka membawanya ke tempat yang jauh, yang tidak terjangkau dan diketahui oleh ayahnya. إِن كُنتُمْ فٰعِلِينَ (jika kamu hendak berbuat) Berbuat sesuai dengan saranku kepada kalian. Hal ini menunjukkan bahwa saudara-saudara Yusuf bukanlah para nabi. (Zubdatut Tafsir)

قَالُوا۟ يَٰٓأَبَانَا مَا لَكَ لَا تَأْمَ۫نَّا عَلَىٰ يُوسُفَ وَإِنَّا لَهُۥ لَنَٰصِحُونَ

qālụ yā abānā mā laka lā ta`mannā 'alā yụsufa wa innā lahụ lanāṣiḥụn

Mereka berkata: "Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingini kebaikan baginya.

(Tafsir al-Muyassar)

Setelah sepakat untuk membuang Yusuf mereka berkata kepada ayah mereka, Ya'qūb , "Wahai Ayah kami! Mengapa engkau tidak mempercayakan Yusuf kepada kami? Sesungguhnya kami benar-benar menyayanginya. Kami siap menjaganya dari setiap bahaya yang mengancamnya. Kami siap menjaga dan melindunginya sampai dia kembali kepadamu dengan selamat. Jadi, mengapa engkau tidak mau melepasnya untuk pergi bersama kami?! (Tafsir al-Mukhtashar)

Setelah sepakat untuk menjauhkan Yusuf, saudara-saudaranya tersebut berkata: “Wahai ayah, kenapa engkau tidak mempercayai kami dan mengkhawatirkan apa yang kami perbuat atas Yusuf, padahal kami adalah orang yang akan bersimpati dan menginginkan kebaikan baginya” (Tafsir al-Wajiz)

قَالُوا۟ يٰٓأَبَانَا مَا لَكَ لَا تَأْمَ۫نَّا عَلَىٰ يُوسُفَ (Mereka berkata: “Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yusuf) Ketika itu nabi Ya’kub tidak rela untuk membiarkan nabi Yusuf pergi bersama mereka karena besarnya cinta kepadanya, dan hal ini karena ia mengkhawatirkan nabi Yusuf dari makar mereka, dan kemungkinan mereka telah meminta nabi Ya’kub agar dapat membawa pergi Yusuf bersama mereka namun ia menolak. وَإِنَّا لَهُۥ لَنٰصِحُونَ (padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingini kebaikan baginya) Dengan menjaga dan melindunginya sehingga kami dapat mengembalikannya kepadamu. (Zubdatut Tafsir)

أَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ

arsil-hu ma'anā gaday yarta' wa yal'ab wa innā lahụ laḥāfiẓụn

Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main, dan sesungguhnya kami pasti menjaganya".

biarkanlah dia pergi bersama kami besok, ketika kami pergi keluar menuju padang rumput, tempat kami menggembala, agar dia dapat berlari, beraktifitas, bergembira, dan dapat bermain berloma-lomba dan lainnya dari berbagai macam permainan yang boleh. Dan sesungguhnya kami benar-benar akan menjaganya dari segala yang engkau khawatirkan padanya.” (Tafsir al-Muyassar)

Izinkanlah kami mengajaknya pergi esok hari untuk bersenang-senang dan bermain. Sesungguhnya kami benar-benar siap menjaganya dari segala hal yang bisa membahayakan keselamatannya." (Tafsir al-Mukhtashar)

Utuslah dia bersama kami ketika kami ke luar di padang rumput, dia bisa makan buah-buahan dan tanam-tanaman, dia akan bermain panahan dan permainan yang diperbolehkan. Sesungguhnya kami akan menjaga agar tidak ditimpa keburukan dan akan menjauhkannya dari mara bahaya (Tafsir al-Wajiz)

يَرْتَعْ (agar dia (dapat) bersenang-senang) Bersenang-senang. Makna (اللعب) yakni melakukan permainan yang mubah untuk sekedar menghilangkan penat. (Zubdatut Tafsir)

قَالَ إِنِّى لَيَحْزُنُنِىٓ أَن تَذْهَبُوا۟ بِهِۦ وَأَخَافُ أَن يَأْكُلَهُ ٱلذِّئْبُ وَأَنتُمْ عَنْهُ غَٰفِلُونَ

qāla innī layaḥzununī an taż-habụ bihī wa akhāfu ay ya`kulahuż-żi`bu wa antum 'an-hu gāfilụn

Berkata Ya'qub: "Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkanku dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala, sedang kamu lengah dari padanya".

Ya’qub berkata, ”sesungguhnya amat menyedihkan diriku perpisahan dengannya, bila kalian pergi bersamanya kepadang rumput, dan aku takut serigala akan memangsanya, saat kalian lalai terhadapnya dan sibuk dengan urusan kalian sendiri. (Tafsir al-Muyassar)

Ya'qūb -'alaihissalām- berkata kepada anak-anaknya, "Sesungguhnya kepergian kalian bersamanya benar-benar membuatku sedih. Karena aku tak sanggup berpisah dengannya. Aku khawatir dia akan diterkam serigala sementara kalian lalai menjaganya karena terlalu asyik bersenang-senang dan bermain." (Tafsir al-Mukhtashar)

Ya’kub berkata kepada mereka; “Sesunggunya aku akan bersedih karena kehilangan dan berpisah dari Yusuf ketika dia pergi bersama kalian. Aku khawatir Aku khawatir dia akan diterkam serigala buas, sedangkan kalian mengabaikannya karena terlalu asik dan sibuk dengan permainan atau semacamnya” (Tafsir al-Wajiz)

إِنِّى لَيَحْزُنُنِىٓ أَن تَذْهَبُوا۟ بِهِۦ (Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkanku) Nabi Ya’qub memberitahu mereka bahwa ia sedih jika membiarkan Yusuf pergi karena kecintaan dan kekhawatirannya kepada Yusuf yang sangat besar. وَأَخَافُ أَن يَأْكُلَهُ الذِّئْبُ(dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala) Terdapat pendapat mengatakan bahwa nabi Ya’qub mengatakan ini karena khawatir terhadap nabi Yusuf dari makar saudara-saudaranya, maka ia mengibaratkan mereka dengan serigala. وَأَنتُمْ عَنْهُ غٰفِلُونَ(sedang kamu lengah dari padanya) Karena kesibukan kalian dengan kesenangan dan permainan. Atau kerena mereka tidak siaga dalam menjaga Yusuf. (Zubdatut Tafsir)

قَالُوا۟ لَئِنْ أَكَلَهُ ٱلذِّئْبُ وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّآ إِذًا لَّخَٰسِرُونَ

qālụ la`in akalahuż-żi`bu wa naḥnu 'uṣbatun innā iżal lakhāsirụn

Mereka berkata: "Jika ia benar-benar dimakan serigala, sedang kami golongan (yang kuat), sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi".

Sauadara-saudara yusuf berkata kepada ayah mereka, ”bila dia dimangsa serigala, padahal kami kumpulan orang yang kuat, maka sesungguhnya jika demikian, kami adalah orang-orang yang rugi, tidak ada kebaikan pada diri kami lagi dan tidak ada manfaat dari kami yang dapat diharap-harapkan. (Tafsir al-Muyassar)

Mereka berkata kepada ayah mereka, "Sungguh, jikalau Yusuf diterkam serigala sedangkan kami adalah satu kelompok, maka dalam hal ini kami tidak punya kebaikan sama sekali. Dan kami benar-benar merugi jika kami tidak melindunginya dari serigala." (Tafsir al-Mukhtashar)

Mereka berkata kepada ayah mereka: “Demi Allah jika dia dimakan serigala, sedangkan kami semua kuat, niscaya kami adalah orang lemah dan merugi.” (Tafsir al-Wajiz)

إِنَّآ إِذًا لَّخٰسِرُونَ (sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi) Yakni orang-orang yang binasa karena kelemahannya sebab tidak mampu melakukan sesuatu yang sangat remeh. (Zubdatut Tafsir)

فَلَمَّا ذَهَبُوا۟ بِهِۦ وَأَجْمَعُوٓا۟ أَن يَجْعَلُوهُ فِى غَيَٰبَتِ ٱلْجُبِّ ۚ وَأَوْحَيْنَآ إِلَيْهِ لَتُنَبِّئَنَّهُم بِأَمْرِهِمْ هَٰذَا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

fa lammā żahabụ bihī wa ajma'ū ay yaj'alụhu fī gayābatil-jubb, wa auḥainā ilaihi latunabbi`annahum bi`amrihim hāżā wa hum lā yasy'urụn

Maka tatkala mereka membawanya dan sepakat memasukkannya ke dasar sumur (lalu mereka masukkan dia), dan (di waktu dia sudah dalam sumur) Kami wahyukan kepada Yusuf: "Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tiada ingat lagi".

Maka ya’qub melepasnya pergi bersama mereka. Lalu ketika mereka berhasil membawanya pergi bersama mereka dan telah bersepakat untuk melemparkannya ke dasar sumur, kami wahyukan kepada yusuf bahwa ”sesunggguhnya kamu nantinya benar-benar akan memberitahukan kepada saudara-saudaramu pada waktu yang akan datang tentang tindakan mereka yang mereka perbuat kepadamu, sedang mereka tidak merasa dan menyadari hal tersebuat. (Tafsir al-Muyassar)

Akhirnya Ya'qūb melepas Yusuf untuk pergi bersama saudara-saudaranya. Setelah mereka membawa Yusuf pergi ke tempat yang jauh dan berniat membuangnya ke dalam sumur, Kami wahyukan kepada Yusuf dalam keadaan seperti itu, "Sungguh engkau benar-benar akan menceritakan kepada mereka perihal perbuatan mereka ini, sedang mereka tidak menyadari siapa dirimu ketika engkau menceritakan hal itu kepada mereka." (Tafsir al-Mukhtashar)

Ketika saudara-saudara Yusuf pergi bersamanya, mereka memutuskan untuk melemparkannya ke dalam lubang sumur, lalu mengabaikannya setelah melemparnya ke dalam sumur dalam keadaan masih remaja, yaitu 17 tahun dan menjadikannya budak. Sungguh kamu akan memberitahu saudara-saudaramu tentang apa yang mereka lakukan terhadapmu atau perbuatan mereka ini. Dan mereka itu tidak merasa bahwa kamu Yusuf, sebagaimana yang akan dijelaskan di ayat [89] (Tafsir al-Wajiz)

فَلَمَّا ذَهَبُوا۟ بِهِۦ (Maka tatkala mereka membawanya) Dari sisi Ya’qub. وَأَجْمَعُوٓا۟ (dan sepakat) Yakni bersepakat dalam keputusan mereka. أَن يَجْعَلُوهُ فِى غَيٰبَتِ الْجُبِّ ۚ (memasukkannya ke dasar sumur) Tafsir dari kata (الغيابة) telah disebutkan pada ayat ke 10. وَأَوْحَيْنَآ إِلَيْهِ (dan Kami wahyukan kepada Yusuf) Sebagai penenang dari ketakutannya, padahal ketika itu ia masih kecil. Saudara-saudaranya yang berjumlah sepuluh orang sepakat untuk menjerumuskan kedalam bahaya dengan penuh kekerasan hati yang telah dicabut darinya rasa kasih sayang. لَتُنَبِّئَنَّهُم بِأَمْرِهِمْ هٰذَا (Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini) Yakni kamu akan memberitahukan kepada saudara-saudaramu apa yang mereka perbuat terhadapmu setelah kamu terbebas dari makar yang mereka rencanakan untukmu. Pemberitahuannya ini akan disebutkan pada ayat 89 ketika mereka bertamu kepadanya setelah ia menjadi bendahara negeri Mesir. (Zubdatut Tafsir)

وَجَآءُوٓ أَبَاهُمْ عِشَآءً يَبْكُونَ

wa jā`ū abāhum 'isyā`ay yabkụn

Kemudian mereka datang kepada ayah mereka di sore hari sambil menangis.

Dan datanglah keluarga-keluarga Yusuf kepada ayah mereka pada waktu isya di permulaan malam dalam keadaan menangis dan memperlihatkan perasaan sesal lagi gelisah. (Tafsir al-Muyassar)

Saudara-saudara Yusuf datang kepada ayah mereka di waktu Isya sambil berpura-pura menangis agar tipu daya mereka berhasil. (Tafsir al-Mukhtashar)

Mereka kembali kepada ayah mereka di waktu sore dengan pura-pura menangis untuk menutupi perbuatan dan kebohongan mereka. Mereka membuat ayah mereka percaya bahwa mereka itu jujur. (Tafsir al-Wajiz)

وَجَآءُوٓ أَبَاهُمْ عِشَآءً يَبْكُونَ (Kemudian mereka datang kepada ayah mereka di sore hari sambil menangis) Mereka pura-pura menangis untuk menghiasi kedustaan mereka dan menyembunyikan makar mereka. (Zubdatut Tafsir)

Terkait: « | »

Kategori: Tafsir Serial

Trending: Surat Yasin, Surat Al-Waqiah, Surat Al-Mulk, Surat Al-Kahfi, Ayat Kursi