Quran Surat Maryam Ayat 1-11

كٓهيعٓصٓ

Arab-Latin: kāf hā yā 'aīn ṣād

Terjemah Arti: Kaaf Haa Yaa 'Ain Shaad.

Tafsir Quran Surat Maryam Ayat 1-11

(kaf ha ya ain shad) keterangan tentang huruf-huruf yang terpisah-pisah (diawal surat seperti ini ) telah berlalu di muka pada permulaan surat al-baqarah. (Tafsir al-Muyassar)

Kāf Hā Yā 'Aīn Ṣād. Pembahasan tentang huruf-huruf seperti ini telah disebutkan di permulaan surah Al-Baqarah. (Tafsir al-Mukhtashar)

Keutamaan: Ibnu Mas’ud mengatakan dalam kisah hijrah yang pertama ke Habasyah dari Makkah: Bahwa Ja’far bin Abi Thalib radliyallahu ‘anhu membaca surat ini di hadapan Najasi dan para sahabatnya.1. Kaaf Haa Yaa ´Ain Shaad: huruf peringatan. Orang Arab bersatu untuk membuat tandingan Alquran yang tersusun dari huruf Arab semisal ini. Huruf-huruf penyusun pidato, makalah, syi’ir karena ini adalah bahasa mereka (Tafsir al-Wajiz)

كٓهيعٓصٓ (Kaaf Haa Yaa ‘Ain Shaad) Penjelasan huruf-huruf yang ada pada pembuka surat seperti ini telah disebutkan dengan jelas pada surat al-Baqarah. (Zubdatut Tafsir)

ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهُۥ زَكَرِيَّآ

żikru raḥmati rabbika 'abdahụ zakariyyā

(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria,

Ini merupakan penjelasan rahmat tuhanmu kepada hambaNya, Zakaria. Kami akan menceritakannya kepadamu. Sesungguhnya pada kisahnya terdapat pelajaran yang baik bagi orang-orang yang mau memetik pelajaran. (Tafsir al-Muyassar)

Ini adalah penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakarya -'alaihissalām-, Kami akan mengisahkannya padamu untuk jadi pelajaran. (Tafsir al-Mukhtashar)

Rahmat sebagai tambahan bahwa fa’il/ subjeknya adalah Allah dan hamba Allah sebagai maf’ul/objek. Adapaun Zakaria sebagai hamba (Tafsir al-Wajiz)

ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ ((Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu) Yakni ini merupakan penyebutan tentang rahmat Tuhanmu.عَبْدَهُۥ زَكَرِيَّآ (kepada hamba-Nya, Zakaria) Nabi Zakaria termasuk nabi dari Bani Israil, istrinya adalah bibi dari Nabi Isa. (Zubdatut Tafsir)

إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ نِدَآءً خَفِيًّا

iż nādā rabbahụ nidā`an khafiyyā

yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.

Yaitu, ketika dia berdoa memohon kepada tuhannya dengan suara lirih, agar menjadi lebih sempurna keikhlasannya kepada Allah dan lebih mendatangkan harapan besar di kabulkannya doa tersebut. (Tafsir al-Muyassar)

Yaitu ketika ia berdoa kepada Tuhannya -Subḥānahu- dengan suara yang lembut agar lebih dikabulkan. (Tafsir al-Mukhtashar)

Sebab doa seperti itu adalah doa yang cepat diijabah, dan jauh dari perbuatan riya’. (Tafsir al-Wajiz)

إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ نِدَآءً خَفِيًّا (tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut) Nabi Zakariya melembutkan suara doa yang ia panjatkan kepada Allah karena itu lebih menjauhkan diri dari perbuatan riya. Pendapat lain mengatakan beliau melakukan hal itu karena telah lemah dan tua sehingga tidak mampu mengeraskan suaranya. (Zubdatut Tafsir)

قَالَ رَبِّ إِنِّى وَهَنَ ٱلْعَظْمُ مِنِّى وَٱشْتَعَلَ ٱلرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنۢ بِدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيًّا

qāla rabbi innī wahanal-'aẓmu minnī wasyta'alar-ra`su syaibaw wa lam akum bidu'ā`ika rabbi syaqiyyā

Ia berkata "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku.

Dia (zakaria) berkata ”wahai tuhanku, sesungguhnya aku telah berusia lanjut, dan tulangg-tulangku telah melemah, serta uban putih telah menyebar di seluruh rambut kepalaku, sedang aku sebelumnya belum pernah terhalangi dari doa yang terkabul. (Tafsir al-Muyassar)

Ia berkata, "Wahai Tuhanku! Sungguh tulangku telah rapuh, dan kepalaku telah dipenuhi uban, namun aku tidak akan pernah kecewa dan putus asa dalam berdoa kepada-Mu, sebab setiap kali aku berdoa pada-Mu, engkau selalu mengabulkannya. (Tafsir al-Mukhtashar)

Maka dari itu aku mohon Engkau mengijabahi doaku ya Tuhanku.” (Tafsir al-Wajiz)

قَالَ رَبِّ إِنِّى وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّى (Ia berkata “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah) Yang dia maksud adalah tulangnya telah melemah sehingga kekuatannya juga melemah.وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا(dan kepalaku telah ditumbuhi uban) Yakni ubannya telah banyak sekali; dan ini merupakan kalimat untuk mengungkapkan usia yang telah lanjut.وَلَمْ أَكُنۢ بِدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيًّا(dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku) Yakni aku tidak pernah merasa kecewa, sebab setiap kali aku berdoa pasti Engkau mengabulkannya. (Zubdatut Tafsir)

وَإِنِّى خِفْتُ ٱلْمَوَٰلِىَ مِن وَرَآءِى وَكَانَتِ ٱمْرَأَتِى عَاقِرًا فَهَبْ لِى مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا

wa innī khiftul-mawāliya miw warā`ī wa kānatimra`atī 'āqiran fa hab lī mil ladungka waliyyā

Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera,

Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap kerabatku dan orang-orang dari keluarga besarku setelah kematianku kelak mereka tidak menjalankan ajaran agamaMu dengan sebaik-baiknya, dan tidak menyeru hamba-hambaMu kepadaMU sedang istriku adalah seorang wanita yang mandul, tidak bisa melahirkan, maka anugerahilah aku dari sisiMu seorang anak yang menjadi pewaris lagi penolong. (Tafsir al-Muyassar)

Dan sungguh aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, bila mereka tidak menegakkan agama ini lantaran kesibukan mereka dengan urusan dunia, padahal istriku seorang wanita mandul yang tidak bisa melahirkan anak, maka anugerahkanlah kepadaku dari sisi-Mu seorang anak yang akan membantuku. (Tafsir al-Mukhtashar)

Sebab mereka dulu acuh terhadap urusan agama, sedang isteriku adalah seorang yang mandul: tidak bisa melahirkan. Maka anugerahilah aku seorang putera dari sisi-Mu (Tafsir al-Wajiz)

وَإِنِّى خِفْتُ الْمَوٰلِىَ مِن وَرَآءِى (Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku) Makna (الموالي) yakni para kerabat dan sanak yang lain yang berasal dari anak keturunan paman dan yang lainnya. Yakni sanak kerabat Nabi Zakariya adalah orang-orang yang lalai dalam urusan agama. Mereka lemah sekali dalam membawa risalah agamanya, atau sibuk dengan dunia sehingga melalaikan urusan agama bani Israil. Oleh sebab itu Nabi Zakariya takut agama ini akan lenyap dengan kematiannya, sehingga dia meminta seorang pengganti yang menempati posisinya setelah kematiannya yang peduli terhadap agama.وَكَانَتِ امْرَأَتِى عَاقِرًا(sedang isteriku adalah seorang yang mandul) Makna (العاقر) adalah perempuan yang tidak dapat melahirkan lagi karena telah lanjut usia.فَهَبْ لِى مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا (maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang pengganti) Nabi Zakariya tidak secara langsung meminta seorang anak, sebab ia mengetahui bahwa dia dan istrinya telah masuk dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mendapatkan seorang anak. Pendapat lain mengatakan bahwa dalam doanya itu Nabi Zakariya mengharapkan seorang anak. (Zubdatut Tafsir)

يَرِثُنِى وَيَرِثُ مِنْ ءَالِ يَعْقُوبَ ۖ وَٱجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا

yariṡunī wa yariṡu min āli ya'qụba waj'al-hu rabbi raḍiyyā

yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai".

Yang akan mewarisi kenabianku dan kenabian keluarga ya’qub, dan jadikanlah anak itu sebagai orang yang diridhai olehMu dari para hambaMu. ” (Tafsir al-Muyassar)

Yang akan mewarisi kenabian dariku, dan dari keluarga Ya'qūb -'alaihissalām-, dan jadikanlah ia -wahai Tuhanku- seorang yang diridai agama, akhlak dan ilmunya." (Tafsir al-Mukhtashar)

Ya’qub adalah nabi Bani Israil. Istri nabi Zakaria adalah saudari Maryam binti Imran, putera dari Sualiman bin Dawud bin Ishaq bin Ibrahim ‘alaihimus salam. Maksud dari pewaris di sini bukanlah mewarisi harta, sebab para nabi tidak menerima warisan harta. Jadikanlah ia ya Tuhanku, seorang yang diridhai, baik dalam akhlak dan perbuatannya" (Tafsir al-Wajiz)

يَرِثُنِى وَيَرِثُ مِنْ ءَالِ يَعْقُوبَ ۖ (yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub) Yang dimaksud warisan di sini adalah warisan ilmu dan kenabian menurut pendapat yang lebih kuat, dan bukan warisan harta, dengan dalil sabda Rasulullah: “Kami golongan para Nabi tidak mewarisi.” Yakni mereka hanya mewarisi ilmu dan tugas menjaga urusan agama.وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا (dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai) Yakni diridhai dalam akhlak dan perbuatannya agar menjadi orang yang layak untuk mengusung ilmu agama serta mengajarkan dan menyampaikannya kepada orang lain serta menegakkan syi’ar’syi’ar agama mereka. (Zubdatut Tafsir)

يَٰزَكَرِيَّآ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَٰمٍ ٱسْمُهُۥ يَحْيَىٰ لَمْ نَجْعَل لَّهُۥ مِن قَبْلُ سَمِيًّا

yā zakariyyā innā nubasysyiruka bigulāminismuhụ yaḥyā lam naj'al lahụ ming qablu samiyyā

Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.

Wahai zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan mengabulkan permohonanmu. Dan sungguh Kami anugerahkan kepadamu seorang anak lelaki bernama yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah memberikan nama bagi seorang pun dengan nama tersebut. (Tafsir al-Muyassar)

Maka Allah pun mengabulkan doanya, dan memanggilnya, "Wahai Zakariya! Kami memberimu kabar yang menggembirakan, Kami telah mengabulkan doamu dan akan menganugerahkan padamu seorang anak laki-laki bernama Yahya. Kami belum pernah memberikan nama itu kepada selainnya sebelum ini." (Tafsir al-Mukhtashar)

(Tafsir al-Wajiz)

يٰزَكَرِيَّآ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلٰمٍ اسْمُهُۥ يَحْيَىٰ (Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya) Allah mengabulkan doanya, sehingga Allah mengarahkan seruan ini kepadanya melalui perantara malaikat.لَمْ نَجْعَل لَّهُۥ مِن قَبْلُ سَمِيًّا(yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia) Yakni Kami belum pernah memberi nama seseorang sebelumnya dengan nama Yahya. Imam Mujahid berpendapat maknanya adalah Allah tidak menjadikan orang lain yang menandinginya. (Zubdatut Tafsir)

قَالَ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِى غُلَٰمٌ وَكَانَتِ ٱمْرَأَتِى عَاقِرًا وَقَدْ بَلَغْتُ مِنَ ٱلْكِبَرِ عِتِيًّا

qāla rabbi annā yakụnu lī gulāmuw wa kānatimra`atī 'āqiraw wa qad balagtu minal-kibari 'itiyyā

Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua".

(Tafsir al-Muyassar)

Dengan penuh takjub akan kekuasaan Allah, Zakariya berkata, "Bagaimana bisa aku memiliki seorang anak sedangkan istriku mandul tak bisa melahirkan, dan aku sendiri telah mencapai usia yang sangat tua dan tulang-tulangku telah rapuh?" (Tafsir al-Mukhtashar)

Pertanyaan ini atas dasar keadaan yang ada, bukan atas dasar menyepelekan kekuasaan Allah (Tafsir al-Wajiz)

قَالَ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِى غُلٰمٌ (Zakaria berkata: “Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku) Ini merupakan rasa takjub dari kuasa Allah dan keajaiban ciptaan-Nya, yang menciptakan seorang anak dari istri yang mandul dan suami yang telah lanjut usia.وَقَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا (dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua) Yakni yang telah mencapai umur yang lanjut. (Zubdatut Tafsir)

قَالَ كَذَٰلِكَ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَىَّ هَيِّنٌ وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِن قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْـًٔا

qāla każālik, qāla rabbuka huwa 'alayya hayyinuw wa qad khalaqtuka ming qablu wa lam taku syai`ā

Tuhan berfirman: "Demikianlah". Tuhan berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesunguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali".

Malaikat menjawab Zakaria terhadap apa yang diherankannya, ”demikianlah keadaannya, sebagaimana yang engkau katakan, bahwa istrimu mandul dan engkau telah mencapai usia lanjut, akan tetapi tuhanmu telah berkata, bahwa penciptaan yahya dalam keadaan demikian ini merupakan perkara mudah lagi ringan bagi Ku. Kemudian Allah menyebutkan kepada zakaria perkara yang jauh lebih aneh daripada apa yang dipertanyakannya itu. Allah berfirman, ’Dan sesungguhnya aku telah menciptakanmu sebelum yahya, sedang kamu bukanlah sesuatu yang pernah disebut-sebut dan belum ada wujudnya sama sekali. ’ (Tafsir al-Muyassar)

Malaikat berkata, "Benarlah yang engkau katakan bahwa istrimu mandul tak bisa melahirkan, dan engkau sendiri telah mencapai usia yang sangat tua dan tulang-tulangmu telah melemah, akan tetapi Tuhanmu berfirman, Penciptaan Tuhanmu terhadap Yahya dari seorang ibu yang mandul, dan seorang ayah di penghujung umurnya sungguh amat mudah, dan Aku telah ciptakan engkau -wahai Zakariya- sebelum itu padahal saat itu engkau belum disebut-sebut sebab engkau belum berwujud sama sekali.” (Tafsir al-Mukhtashar)

Tuhanmu berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku; layaknya Aku menciptakanmu pertama kali. Sesunguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu di waktu itu belum ada sama sekali. Adapun memberikanmu putera adalah perkara yang lebih mudah daripada itu" (Tafsir al-Wajiz)

وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِن قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْـًٔا (dan sesunguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali) Yakni Allah telah menciptakannya pertama kali yang sebelumnya tidak ada, maka menciptakan seorang anak lewat perkawinan layaknya yang terjadi adalah sesuatu yang lebih mudah. (Zubdatut Tafsir)

قَالَ رَبِّ ٱجْعَل لِّىٓ ءَايَةً ۚ قَالَ ءَايَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ ٱلنَّاسَ ثَلَٰثَ لَيَالٍ سَوِيًّا

qāla rabbij'al lī āyah, qāla āyatuka allā tukalliman-nāsa ṡalāṡa layālin sawiyyā

Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda". Tuhan berfirman: "Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat".

Zakaria berkata untuk menambah keyakinannya, ”wahai tuhanku, buatkanlah untukku tanda atas terwujudnya kabar gembira yang telah disampaikan malaikat kepadaku,” Allah berfirman ”tandamu, bahwa engkau tidak bisa berbicara kepada manusia selama tiga hari tiga malam, padahal engaku sehat-sehat saja dan bebas dari penyakit. (Tafsir al-Muyassar)

Zakariya -'alaihissalām- berkata, "Wahai Tuhanku, berikanlah aku suatu tanda yang membuatku tenang, yang menunjukkan akan terwujudnya kabar gembira yang disampaikan oleh para Malaikat kepadaku." Dia berfirman, "Tanda akan terwujudnya kabar gembira yang disampaikan padamu adalah engkau tidak akan bisa berbicara dengan manusia lainnya selama tiga malam tanpa ada sebab sakit apapun, bahkan engkau saat itu sehat-sehat saja." (Tafsir al-Mukhtashar)

Allah berfirman: "Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat, dan tidak ada penyakit yang menyebabkanmu tidak bisa bicara." (Tafsir al-Wajiz)

قَالَ رَبِّ اجْعَل لِّىٓ ءَايَةً ۚ (Zakaria berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda”) Yakni tanda yang menunjukkan terkabulnya doa dan kebenaran kabar gembira kehamilan istrinya yang mengandung anaknya, Yahya.قَالَ ءَايَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلٰثَ لَيَالٍ سَوِيًّا (Tuhan berfirman: “Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat”) Yakni kamu tidak dapat berbicara padahal kamu dalam keadaan sehat, tidak ada penyakit yang menghalangimu untuk berbicara. (Zubdatut Tafsir)

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِۦ مِنَ ٱلْمِحْرَابِ فَأَوْحَىٰٓ إِلَيْهِمْ أَن سَبِّحُوا۟ بُكْرَةً وَعَشِيًّا

fa kharaja 'alā qaumihī minal-miḥrābi fa auḥā ilaihim an sabbiḥụ bukrataw wa 'asyiyyā

Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang.

Lalu Zakaria keluar dari tempat ibadahnya menemui kaumnya, yaitu dari tempat disampaikannya kabar gembira kepadanya untuk meemperoleh anak. Dia memberikan isyarat kepada mereka, ”hendaklah kalian bertasbih menyucikan Allah pada pagi dan sore sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Allah . ” (Tafsir al-Muyassar)

Maka Zakariya keluar dari tempat ibadahnya menuju kaumnya lalu memberikan isyarat tanpa bisa mengucapkan satu kata pun, "Bertasbihlah kalian kepada Allah di pagi dan sore." (Tafsir al-Mukhtashar)

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِۦ مِنَ الْمِحْرَابِ (Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya) Yakni dari tempatnya beribadah.فَأَوْحَىٰٓ إِلَيْهِمْ(lalu ia memberi isyarat kepada mereka) Yakni memberinya isyarat tanpa berbicara kepada mereka. (Zubdatut Tafsir)

Terkait: « | »

Kategori: Tafsir Serial