Quran Surat Ar-Rahman Ayat 76

مُتَّكِـِٔينَ عَلَىٰ رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَعَبْقَرِىٍّ حِسَانٍ

Arab-Latin: Muttaki`īna 'alā rafrafin khuḍriw wa 'abqariyyin ḥisān

Terjemah Arti: Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah.

Tafsir Quran Surat Ar-Rahman Ayat 76

76. Mereka bersandar di atas bantal-bantal yang bersarung hijau, permadani-permadani yang indah dan mempesona.

📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

76. Mereka bertelekan di atas banta-bantal yang dibungkus dengan bungkus hijau dan permadani-permadani yang indah.

📚 Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)

76. مُتَّكِـِٔينَ عَلَىٰ رَفْرَفٍ خُضْرٍ (Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau)
Makna (الرفرف) yakni karpet. Atau menurut pendapat lain adalah sejenis pakaian yang berwarna hijau.

وَعَبْقَرِىٍّ حِسَانٍ (dan permadani-permadani yang indah)
Makna (العبقري) yakni permadani yang ditenun. Bagi orang Arab kata (العبقري) digunakan pada setiap orang atau sesuatu yang memiliki kelebihan dan kemewahan dari yang lainnya. Sedangkan (العبقر) adalah sebuah tempat yand menurut orang Arab adalah negeri jin; kemudian mereka menggunakan kata ini untuk setiap hal yang membuat mereka takjub.

📚 Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

76-77. Mereka bersandar di atas bantal-bantal yang tebal dan permadani-permadani yang diukir dengan hiasan warna-warni yang indah dan menarik. Maka nikmat Tuhan mana yang kalian dustakan?! Al-‘Abqariy yaitu setiap hal yang memiliki kualitas mengagumkan, kata yang digunakan untuk satu hal atau lebih, seperti kata Thifl dan Falak.

📚 Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

Penguni-penghuni surga ini bertelekan bantal-bantal hijau dan permadani yang baik dan mewah.

📚 An-Nafahat Al-Makkiyah / Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi

76-77. “Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau,” maksudnya, mereka para penghuni dua surga itu duduk bertelekan di atas bantal-bantal yang berwarna hijau, yaitu bantal (alas) yang berada di bawah tempat duduk yang tinggi, yang menambah (ketinggian) tempat duduk mereka, sehingga terlihat bertumpuk rapi dari arah belakang tempat duduk mereka, karena bertambahnya keelokan dan keindahan pemandangan. “Dan permadani yang indah.” ‘al-‘abqoriyyu’ adalah penisbatan segala sesuatu yang ditenun dengan tenunan indah dan mewah, oleh karena itu Allah menyifatinya dengan keindahan yang menyeluruh disebabkan karena ia memiliki sifat yang indah, elok dipandang dan halus disentuh.
Dua surga tersebut berbeda dengan dua surga yang disebutkan di awal tadi, sebagaimana hal itu disebutkan oleh Allah dalam FirmanNya, “Dan selain dari sua surga itu ada dua surga lagi.” Dan sebagaimana juga Allah telah menyifati (menggambarkan) dua surga yang pertama dengan berbagai sifat yang berbeda dengan sifat dua surga lainnya, Dia berfirman tentang dua surga pertama, “Di dalam kedua surga itu ada dua buah mata air yang memancar,” dan tentunya telah diketahui adanya perbedaan antara mengalir dan memancar. Kemudian Allah berfirman tentang kedua surga yang pertama, “Kedua surga itu mempunyai pohon-pohonan dan buah-buahan” dan Dia tidak menyebutkan hal itu dalam dua surga lainnya, sebagaimana Dia juga berfirman tentang dua surga yang pertama, “Di dalam kedua surga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasang-pasangan” sedangkan tentang dua surga lainnya Dia berfirman, “Di dalam keduanya ada (macam-macam) buah-buahan dan kurma serta delima,” dan telah diketahui pula adanya perbedaan yang jauh antara dua penyifatan di atas. Allah berfirman tentang dua surga yang pertama, “Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutra, dan buah-buahan surga itu dapat (dipetik) dari dekat” dan tidak menyatakan hal itu dalam menyifati dua surga lainnya, akan tetapi Dia berfirman, “Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani yang indah.” Dia berfirman tentang dua surga pertama, “Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin” sedangkan tentang dua surga lainnya Dia berfirman, “(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih dippingit dalam rumah,” dan pada kedua penyifatan tersebut terdapat perbedaan sebagaimana telah diketahui.
Tentang dua surga yang pertama Dia juga berfirman “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” Ayat ini menunjukkan bahwa dua surga yang pertama tersebut adalah sebagai balasan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan (al-Muhsinin), dan Allah tidak menyatakan akan hal itu dalam menyifati dua surga terakhir. Dengan menyebutkan dua surga pertama itu terlebih dahulu menunjukkan akan keutamaan kedua surga tersebut.
Dengan beberapa aspek yang telah disebutkan di atas, dapat diketahui bahwa dua surga pertama adalah lebih utama daripada dua surga yang disebutkan selanjutnya. Kedua surga tersebut telah dipersiapkan bagi orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-Muqarrabin) dari kalangan para nabi, para shiddiqin, dan orang-orang pilihan dari hamba-hamba Allah yang shalih. Sedangkan kedua surga lainnya dipersiapkan bagi orang-orang yang beriman secara umum. Dan di setiap dari surga-surga tersebut (terdapat berbagai macam kenikmatan) yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terbesit dalam benak manusia, di dalamnya terdapat segala sesuatu yang diinginkan oleh jiwa-jiwa dan nikmat dipandang, para penghuninya berada pada puncak kenikmatan, keridhaan, ketenangan dan tempat tinggal yang membahagiakan, hingga setiap dari mereka tidak melihat ada orang lain yang keadaannya lebih baik darinya dan tidak melihat ada orang lain yang mendapatkan kenikmatan lebih melimpah daripada yang sedang  rasakan.

📚 Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

Orang-orang yang mendapatkan kedua surga yang kedua ini tempat sandaran mereka adalah rafraf (permadani) hijau, yaitu permadani yang berada di atas majlis-majlis (tempat duduk) yang tinggi yang menjadi tambahan terhadap majlis (tempat duduk) mereka. Dengan demikian, majlis tersebut memiliki rafrafah (permadani) di atas majlis mereka sehingga semakin indah dan bagus. Adapun ‘abqariy sebagai nisbat kepada setiap yang ditenun dengan tenunan yang indah dan mewah, oleh karenanya, disifati dengan keindahan yang menyeluruh karena bagus buatannya, indah dilihat serta halus disentuh. Kedua surga ini bukanlah surga yang sebelumnya sebagaimana disebutkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla, “Dan selain dari dua surga itu ada dua surga lagi.” Selain itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menyifatkan dua surga yang pertama dengan beberapa sifat yang tidak disifatkan kepada dua surga yang setelahnya. Pada dua surga yang pertama Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Di dalam kedua surga itu ada dua buah mata air yang memancar,” sedangkan pada kedua surga setelahnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Di dalam keduanya (syurga itu) ada dua buah mata air yang memancar.” Sudah menjadi maklum, bahwa keduanya berbeda, yang satu mengalir, sedangkan yang satu lagi memancar. Pada kedua surga yang pertama, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Kedua surga itu mempunyai aneka pepohonan dan buah-buahan.” Dan Dia tidak berfirman demikian pada surga yang kedua. Pada kedua surga yang pertama, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Di dalam kedua surga itu terdapat aneka buah-buahan yang berpasang-pasangan.” Sedangkan pada kedua surga yang setelahnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Di dalam kedua surga itu ada buah-buahan, kurma dan delima.” Pada kedua surga yang pertama, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Mereka bersandar di atas permadani yang bagian dalamnya dari sutera tebal. Dan buah-buahan di kedua surga itu dapat (dipetik) dari dekat.” Sedangkan pada dua surga yang kedua (setelahnya), Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Mereka bersandar pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah.” Pada kedua surga yang pertama, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang membatasi pandangan, yang tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya.” Sedangkan pada kedua surga yang setelahnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Bidadari-bidadari yang dipelihara di dalam kemah-kemah.” Sudah menjadi maklum adanya perbedaan di antara keduanya.

Pada kedua surga yang pertama, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).” Dan Dia tidak berfirman demikian, pada dua surga setelahnya, maka hal ini menunjukkan bahwa hal itu sebagai balasan bagi orang-orang yang berbuat ihsan.

Di samping itu, didahulukan kedua surga yang pertama daripada yang kedua menunjukkan keutamaan yang pertama.

Berdasarkan sisi-sisi di atas dapat diketahui kelebihan dua surga yang pertama daripada dua surga yang kedua, dan bahwa kedua surga yang pertama itu dipetuntukkan kepada orang-orang yang didekatkan dari kalangan para nabi, para shiddiqin dan hamba-hamba pilihan Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang saleh, sedangkan pada kedua surga yang kedua disiapkan untuk kaum mukmin pada umumnya. Di semua surga itu terdapat sesuatu yang belum pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga dan terlintas di hati manusia, di dalamnya terdapat apa yang diinginkan jiwa dan indah dipandang mata, penduduknya benar-benar santai, ridha, tenang, dan mendapatkan tempat tinggal yang terbaik, bahkan masing-masing dari mereka tidak melihat bahwa orang lain lebih bagus darinya dan lebih tinggi kenikmatannya darinya.

📚 Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

76-77. Mereka, para bidadari, bersandar pada bantal-bantal empuk yang berwarna hijau dan permadani-permadani yang indah. Maka, wahai manusia dan jin, nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan'76-77

📚 Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI

Terkait: « | »

Kategori: 055. Ar-Rahman