Surat Az-Zariyat Ayat 37

Text Bahasa Arab dan Latin

وَتَرَكْنَا فِيهَا آيَةً لِلَّذِينَ يَخَافُونَ الْعَذَابَ الْأَلِيمَ

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut kepada siksa yang pedih.

Tafsir Hidayatul Insan

Setelah membinasakan orang-orang kafir.

Tanda di sini ialah batu yang bertumpuk-tumpuk yang dipergunakan untuk membinasakan kaum Luth. Ada pula yang mengatakan sebuah telaga yang airnya hitam dan busuk baunya. Tanda tersebut adalah tanda yang menunjukkan kebinasaan mereka.

Sehingga mereka tidak melakukan seperti yang dilakukan mereka (Kaum Luth), dan mereka dapat mengambil pelajaran darinya serta mengetahui bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala sangat keras siksa-Nya dan bahwa para rasul-Nya adalah benar.

Di antara sebagian hikmah dan hukum yang dapat diambil dari kisah ini adalah:

- Termasuk hikmah, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menceritakan kepada hamba-hamba-Nya berita orang-orang yang baik dan orang-orang yang buruk agar mereka dapat mengambil pelajaran dari keadaan mereka.

- Keutamaan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, dimana Allah Subhaanahu wa Ta'aala memulai dengan kisahnya yang menunjukkan untuk diperhatikan.

- Disyariatkan menjamu tamu dan bahwa hal itu termasuk sunnah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, dimana Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan umatnya mengikuti ajaran Nabi Ibrahim. Dan lagi, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan kisah Nabi Ibrahim menjamu tamu dengan cara memujinya dan menyanjungnya.

- Tamu hendaknya dimuliakan dengan berbagai bentuk pemuliaan baik dengan ucapan maupun perbuatan. Hal itu, karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyifati para tamu Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bahwa mereka dimuliakan, yakni Nabi Ibrahim memuliakan mereka baik dengan ucapan maupun perbuatan, dan mereka juga dimuliakan di sisi Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

- Disyariatkan mengenali orang yang datang kepadanya, karena di sana terdapat banyak faedah. Pepatah mengatakan, “Tidak kenal maka tidak sayang.”

- Beradabnya Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan lembutnya Beliau dalam berbicara.

- Bersegera menjamu tamu, karena sebaik-baik kebaikan adalah yang dilakukan segera.

- Makanan yang baru disiapkan untuk tamu yang sebelumnya tidak ada termasuk memuliakan tamu.

- Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang langsung menjamu tamunya.

- Nabi Ibrahim ‘alaihis salam membawakan makanan itu ke hadapan tamu, tidak meletakkan makanan ke tempat yang lain dan menyuruh tamu mendatanginya.

- Hendaknya seseorang menggunakan kata-kata yang baik dan sesuai dengan kondisi ketika itu, sebagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mengatakan kepada para tamunya, “Mengapa tidak kamu makan?".

- Orang yang membuat orang lain takut, hendaknya menghilangkan rasa takut itu serta menyebutkan sesuatu yang dapat menenangkan rasa takut saudaranya dan menenangkan jiwanya.

Tafsir Kemenag

Kami turunkan azab sebagai peringatan bagi mereka yang ingkar, dan kami telah tinggalkan pula padanya, yaitu negeri nabi lut, suatu tanda yang sangat jelas tentang kebesaran dan kekuasaan kami. Kami menjadikannya pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab yang pedih. 38. Usai menceritakan azab yang Allah timpakan kepada kaum nabi lut yang ingkar, pada ayat-ayat berikut Allah menyebut kisah umat masa lalu yang mengingkari nabinya. Kisah-kisah itu menunjukkan betapa Allah mahakuasa, dan pada kisah nabi musa juga terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah. Bukti-bukti itu antara lain terlihat ketika kami mengutusnya kepada fira'un, yaitu penguasa mesir kuno, dengan membawa tanda kekuasaan kami, yaitu mukjizat yang nyata dan tidak terbantahkan.

Referensi Tafsir

  • IN PROGRESS
  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • COMPLETED
  • Hidayatul Insan / Marwan Hadidi, M.Pd.I, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018