Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat Az-Zariyat Ayat 37

وَتَرَكْنَا فِيهَا آيَةً لِلَّذِينَ يَخَافُونَ الْعَذَابَ الْأَلِيمَ

Arab-Latin: Wa taraknā fīhā āyatal lillażīna yakhāfụnal-'ażābal-alīm

Terjemah Arti: Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut kepada siksa yang pedih.

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

kami meninggalkan pada perkampungan tersebut bekas azab sebagai bukti atas Kuasa Allah dan pembalasanNya terhadap orang-orang kafir. Itu merupakan pelajaran bagi siapa yang takut kepada azab Allah yang pedih dan menyakitkan.

Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

37. Dan Kami tinggalkan di kampung kaum Nabi Lūṭ bekas-bekas terjadinya siksa yang menunjukkan pernah turun siksa atas mereka agar orang-orang yang takut dengan siksa menyakitkan yang menimpa mereka mengambil pelajaran dengannya, dan tidak melakukan perbuatan sebagaimana perbuatan mereka sehingga selamat dari siksa.

Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh di bawah asuhan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)

37. Kami tinggalkan dalam negeri itu tanda-tanda dan dalil-dalil tentang kehancuran bagi orang-orang yang takut dengan azab yang pedih

Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili

Setelah Allah membinasakan kaum Luth, Allah mengabarkan bahwa Dia meninggalkan tanda-tanda yang jelas pada negerinya akan kebinasaan kaumnya. Agar menjadi pelajaran dan nasihat bagi mereka yang takut dengan adzab yang pedih dan menyakitkan di akhirat. Pada adzab ini terdapat bukti akan kuasa Allah dan balasan bagi orang-orang yang kafir yang mengingkari, yang mereka juga berbuat sesuatu yang menjijikkan dan munkar, serta tidak beriman kepada Allah dan ayat-ayat-Nya.

An-Nafahat Al-Makkiyah / Muhammad bin Shalih asy-Syawi

Setelah membinasakan orang-orang kafir.

Tanda di sini ialah batu yang bertumpuk-tumpuk yang dipergunakan untuk membinasakan kaum Luth. Ada pula yang mengatakan sebuah telaga yang airnya hitam dan busuk baunya. Tanda tersebut adalah tanda yang menunjukkan kebinasaan mereka.

Sehingga mereka tidak melakukan seperti yang dilakukan mereka (Kaum Luth), dan mereka dapat mengambil pelajaran darinya serta mengetahui bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala sangat keras siksa-Nya dan bahwa para rasul-Nya adalah benar.

Di antara sebagian hikmah dan hukum yang dapat diambil dari kisah ini adalah:

- Termasuk hikmah, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menceritakan kepada hamba-hamba-Nya berita orang-orang yang baik dan orang-orang yang buruk agar mereka dapat mengambil pelajaran dari keadaan mereka.

- Keutamaan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, dimana Allah Subhaanahu wa Ta'aala memulai dengan kisahnya yang menunjukkan untuk diperhatikan.

- Disyariatkan menjamu tamu dan bahwa hal itu termasuk sunnah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, dimana Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan umatnya mengikuti ajaran Nabi Ibrahim. Dan lagi, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan kisah Nabi Ibrahim menjamu tamu dengan cara memujinya dan menyanjungnya.

- Tamu hendaknya dimuliakan dengan berbagai bentuk pemuliaan baik dengan ucapan maupun perbuatan. Hal itu, karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyifati para tamu Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bahwa mereka dimuliakan, yakni Nabi Ibrahim memuliakan mereka baik dengan ucapan maupun perbuatan, dan mereka juga dimuliakan di sisi Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

- Disyariatkan mengenali orang yang datang kepadanya, karena di sana terdapat banyak faedah. Pepatah mengatakan, “Tidak kenal maka tidak sayang.”

- Beradabnya Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan lembutnya Beliau dalam berbicara.

- Bersegera menjamu tamu, karena sebaik-baik kebaikan adalah yang dilakukan segera.

- Makanan yang baru disiapkan untuk tamu yang sebelumnya tidak ada termasuk memuliakan tamu.

- Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang langsung menjamu tamunya.

- Nabi Ibrahim ‘alaihis salam membawakan makanan itu ke hadapan tamu, tidak meletakkan makanan ke tempat yang lain dan menyuruh tamu mendatanginya.

- Hendaknya seseorang menggunakan kata-kata yang baik dan sesuai dengan kondisi ketika itu, sebagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mengatakan kepada para tamunya, “Mengapa tidak kamu makan?".

- Orang yang membuat orang lain takut, hendaknya menghilangkan rasa takut itu serta menyebutkan sesuatu yang dapat menenangkan rasa takut saudaranya dan menenangkan jiwanya.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I


Kami turunkan azab sebagai peringatan bagi mereka yang ingkar, dan kami telah tinggalkan pula padanya, yaitu negeri nabi lut, suatu tanda yang sangat jelas tentang kebesaran dan kekuasaan kami. Kami menjadikannya pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab yang pedih. 38. Usai menceritakan azab yang Allah timpakan kepada kaum nabi lut yang ingkar, pada ayat-ayat berikut Allah menyebut kisah umat masa lalu yang mengingkari nabinya. Kisah-kisah itu menunjukkan betapa Allah mahakuasa, dan pada kisah nabi musa juga terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah. Bukti-bukti itu antara lain terlihat ketika kami mengutusnya kepada fira'un, yaitu penguasa mesir kuno, dengan membawa tanda kekuasaan kami, yaitu mukjizat yang nyata dan tidak terbantahkan.

Tafsir Ringkas Kemenag RI


Related: Surat Az-Zariyat Ayat 38 Arab-Latin, Surat Az-Zariyat Ayat 39 Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat Az-Zariyat Ayat 40, Terjemahan Tafsir Surat Az-Zariyat Ayat 41, Isi Kandungan Surat Az-Zariyat Ayat 42, Makna Surat Az-Zariyat Ayat 43

Category: Surat Az-Zariyat

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!