Ayat Tentang Wabah

Dapatkan Amal Jariyah

وَمَآ أَرْسَلْنَا فِى قَرْيَةٍ مِّن نَّبِىٍّ إِلَّآ أَخَذْنَآ أَهْلَهَا بِٱلْبَأْسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَ

Arab-Latin: wa mā arsalnā fī qaryatim min nabiyyin illā akhażnā ahlahā bil-ba`sā`i waḍ-ḍarrā`i la’allahum yaḍḍarra’ụn

Terjemah Arti: Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri.

Tafsir Ayat Tentang Wabah

Dan kami tidaklah mengutus seorang nabi ketengah satu negeri yang akan mengajak mereka untuk beribadah kepada Allah dan melarang mereka dari adat istiadat yang mereka perbuat yang mengandung syirik, lalu kaumnya mendustakan nabi itu, kecuali kami akan menimpakan cobaan kesulitan dan kesengsaraan hidup. Kami timpakan kepada tubuh-tubuh mereka penyakit-penyakit dan wabah-wabah, pada harta benda mereka kemiskinan dan kekurangan, dengan harapan agar mereka tunduk dan taubat kembali kepada Allah dan kembali ke jalan kebenaran. (Tafsir al-Muyassar)

Dan tidaklah Kami mengutus seorang nabi kepada suatu negeri kemudian penduduknya mendustakannya dan ingkar kepadanya melainkan Kami akan menghukum mereka dengan kesulitan, kemiskinan, dan penyakit, agar mereka tunduk kepada Allah dan meninggalkan kekafiran serta kesombongan mereka. Ini adalah peringatan bagi orang-orang Quraisy dan semua orang yang ingkar dan mendustakan (para nabi). dengan menyebutkan kebiasaan (sunah) yang Allah berlakukan kepada umat-umat yang ingkar. (Tafsir al-Mukhtashar)

Dan tidaklah Kami mengutus seorang nabi pada salah satu negeri lalu didustakan penduduknya kecuali Kami memberi mereka kesengsaraan, kefakiran, musibah, dan penyakit supaya mereka tunduk, lalu beriman dan bertaubat (Tafsir al-Wajiz)

وَمَآ أَرْسَلْنَا فِى قَرْيَةٍ مِّن نَّبِىٍّ (Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri) Kemudian penduduknya mendustakan nabi tersebut, niscaya Kami akan menghukum mereka. بِالْبَأْسَآءِ (kesempitan) Kesempitan dan kemiskinan. وَالضَّرَّآءِ(dan penderitaan) Malapetaka dan penyakit. لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَ (supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri) Yakni agar mereka tunduk dan patuh kepada Allah, sehingga mereka meninggalkan keangkuhan mereka dan pendustaan mereka kepada para nabi. (Zubdatut Tafsir)

۞ أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ خَرَجُوا۟ مِن دِيَٰرِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ ٱلْمَوْتِ فَقَالَ لَهُمُ ٱللَّهُ مُوتُوا۟ ثُمَّ أَحْيَٰهُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى ٱلنَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ

a lam tara ilallażīna kharajụ min diyārihim wa hum ulụfun ḥażaral-mauti fa qāla lahumullāhu mụtụ, ṡumma aḥyāhum, innallāha lażụ faḍlin ‘alan-nāsi wa lākinna akṡaran-nāsi lā yasykurụn

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang ke luar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah berfirman kepada mereka: “Matilah kamu”, kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.

apakah kamu tidak tahu (wahai Rasul) kisah orang-orang yang lari meninggalkan tanah kelahiran dan tempat tinggal mereka, sedang jumlah mereka itu beribu-ribu orang banyaknya, lantaran takut kematian akibat wabah tha’un atau peperangan. Maka Allah berfirman kepada mereka: “Matilah kalian”. Maka mereka mati semua sekaligus dalam sekejap saja sebagai hukuman atas lari mereka dari takdir Allah. Tak lama kemudian Allah ta’ala menghidupkan mereka, supaya mereka menyempurnakan ajal mereka yang telah ditentukan sebelumnya, agar mereka mengambil pelajaran dan mau bertobat?. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia agung bagi sekalian manusia dan curahan nikmat-nikmat Nya yang melimpah, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri karunia Allah kepada mereka. (Tafsir al-Muyassar)

Apakah engkau belum tahu -wahai Nabi- kabar tentang orang-orang yang keluar dari rumah mereka, dan jumlah mereka sangat banyak, karena takut mati akibat wabah penyakit atau lainnya, yaitu satu kelompok orang dari Bani Israil? Lalu Allah berfirman kepada mereka, “Matilah kalian!” Maka mereka semua mati. Kemudian Allah menghidupkan mereka kembali untuk menjelaskan kepada mereka bahwa segala sesuatu itu berada di tangan Allah -Subḥānahu-, dan mereka tidak mampu mendatangkan manfaat bagi diri mereka sendiri dan tidak kuasa menolak mudarat. Sesungguhnya Allah benar-benar Pemurah dan Pemberi karunia kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya. (Tafsir al-Mukhtashar)

Apakah kabar tentang kaum itu belum sampai kepadamu, wahai Nabi. Mereka adalah ribuan pengecut. Mereka lari dari musuh meskipun jumlah mereka banyak, karena takut mati, Lalu Allah mematikan mereka, kemudian menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah itu pemilik keutamaan agung atas seluruh manusia dengan membimbing mereka menuju jalan kemuliaan dan penuh pertolongan, namun kebanyakan manusia, yaitu orang-orang kafir itu tidak mau bersyukur kepada Allah atas nikmatNya. Al-Hadfu adalah pemberian motivasi terhadap orang-orang muslim untuk berjihad. Ibnu Abbas berkata: “Mereka itu berjumlah 4000, mereka melarikan diri dari wabah penyakit, dan berkata: “Kami akan menghampiri tanah yang tidak ada kematian di dalamnya” sampai ketika mereka tiba di suatu tempat Allah berfirman kepada mereka: “Matilah kalian semua” lalu mereka mati. Lalu seorang nabi melewati mereka dan berdoa kepada Tuhan untuk menghidupkan mereka sehingga mereka bisa menyembahNya, lalu Allah menghidupkan mereka”. Sebagian orang modern meriwayatkan bahwa ketika gunung itu mematikan para pengecut itu, tampaklah seorang kekasih Allah di antara mereka, lalu gunung itu meletus dan menghancurkan musuhnya (Tafsir al-Wajiz)

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ خَرَجُوا۟ مِن دِيٰرِهِمْ (Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang ke luar dari kampung halaman mereka) Dari Ibnu Abbas ia berkata: mereka jumlahnya 14.000 orang yang keluar dari kampung mereka karena lari dari penyakit tha’un. Mereka berkata: kita akan menuju tempat yang tidak terdapat kematian didalamnya hingga mereka sampai di tempat ini dan ini maka Allah berkata kepada mereka: “Matilah kalian!” dan merekapun mati semuanya. Kemudian salah seorang Nabi melewati mereka dan berdoa kepada Rabbnya agar menghidupkan mereka agar mereka menyembah-Nya; maka Allah menghidupkan mereka. وَهُمْ أُلُوفٌ (sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) ) Yakni sangat banyak. حَذَرَ الْمَوْتِ (karena takut mati) Yakni takut pada Tha’un. فَقَالَ لَهُمُ اللَّـهُ مُوتُوا۟ (maka Allah berfirman kepada mereka: “Matilah kamu” ) Ini merupakan perintah kauniy. Maka mereka pun mati. ثُمَّ أَحْيٰهُمْ ۚ إِنَّ اللَّـهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ (kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia) Yakni menghidupkan mereka semua. Adapun mereka yang keluar dari kampung mereka adalah agar mereka mengambil pelajaran karena Allah telah menghidupkan mereka. Adapun orang yang diajak bicara oleh ayat ini Allah telah memberi petunjuk kepada mereka agar mengambil ibrah dari kisah ini, agar mengetahui bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu. Da Dan tujuan diceritakannya kisah ini adalah sebagai penyemangat kaum muslimin untuk berjihad; karena takut dari kematian dan meninggalkan jihad karena hal tersebut tidak akan menyelamatkan mereka dari kematian apabila Allah sudah berkehendak. (Zubdatut Tafsir)

إِنَّا بَلَوْنَٰهُمْ كَمَا بَلَوْنَآ أَصْحَٰبَ ٱلْجَنَّةِ إِذْ أَقْسَمُوا۟ لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ

innā balaunāhum kamā balaunā aṣ-ḥābal-jannah, iż aqsamụ layaṣrimunnahā muṣbiḥīn

Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akanmemetik (hasil)nya di pagi hari,

Sesungguhnya Kami menguji orang-orang Makkah dengan kekeringan dan kelaparan, sebagaimana Kami menguji para pemilik kebun saat mereka bersumpah di antara mereka bahwa mereka akan memanen hasil kebun mereka di pagi buta agar orang-orang miskin dan yang seperti mereka tidak datang meminta, dan mereka tidak berkata, “Insya Allah.” (Tafsir al-Muyassar)

Sesungguhnya Kami memberikan cobaan kepada orang-orang musyrik dengan kekeringan dan kelaparan sebagaimana Kami telah memberi cobaan kepada para pemilik kebun ketika mereka bersumpah bahwa mereka pasti memetik hasil kebunnya pada pagi hari dengan segera sehingga orang miskin tidak memakan hasilnya. (Tafsir al-Mukhtashar)

Sesungguhnya kami menguji penduduk Mekah dengan kegersangan, kelaparan dan musibah lainnya yang merupakan bala’ dan wabah penyakit. Sebagaimana kami menguji orang-orang yang hidupnya di sekitar taman saat bersumpah akan memanen buah-buahan dari taman mereka saat pagi agar tidak dapat dinikmati oleh orang-orang miskin. Mereka tidak memberi orang-orang miskin apapun, sebagaimana yang dilakukan telah dilakukan oleh leluhur mereka. (Tafsir al-Wajiz)

إِنَّا بَلَوْنٰهُمْ (Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka) Yakni orang-orang kafir Makkah. Allah menguji mereka dengan kelaparan dan kekeringan akibat doa Rasulullah atas mereka. كَمَا بَلَوْنَآ أَصْحٰبَ الْجَنَّةِ(sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun) Kisah mereka sangat dikenal oleh kaum Quraisy. Terdapat pendapat mengatakan bahwa kebun itu terletak di negeri Yaman sejauh dua farsakh dari Sana’a. kebun itu milik seorang lelaki yang mau menunaikan zakat dari kebun itu; setelah ia meninggal, anak-anaknya mewarisi kebun itu; namun mereka enggan menyedekahkan hasil dari kebun itu untuk orang-orang dan tidak mau menunaikan zakatnya. Mereka berkata: “Harta ini hanya sedikit, sedangkan keluarga yang kita tanggung banyak, sehingga kita tidak dapat melakukan apa yang dahulu dilakukan oleh ayak kita.” Mereka bertekat untuk tidak memberi orang-orang miskin sebagian hasil kebun itu. Maka akibat perbuatan mereka itu sebagaimana yang Allah kisahkan dalam surat ini. إِذْ أَقْسَمُوا۟ لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ (ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari) Yakni mereka bertekat untuk memanen buah dari kebun itu saat pagi hari. (Zubdatut Tafsir)

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ

mā aṣāba mim muṣībatin fil-arḍi wa lā fī anfusikum illā fī kitābim ming qabli an nabra`ahā, inna żālika ‘alallāhi yasīr

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

Tidakkah menimpa kalian (wahai manusia) berupa musibah di bumi dan musibah pada diri kalian berupa penyakit, kelaparan, dan rasa sakit, kecuali ia tertulis di Lauhul Mahfuz sebelum makhluk diciptakan. Sesungguhnya hal itu adalah mudah bagi Allah. (Tafsir al-Muyassar)

Tiada bencana yang menimpa manusia di bumi seperti kekeringan dan lainnya, dan tidak ada bencana yang menimpa pada diri mereka melainkan hal itu telah ditetapkan di dalam Lauḥul Maḥfuẓ sebelum Kami menciptakan makhluk, sesungguhnya hal itu mudah bagi Allah. (Tafsir al-Mukhtashar)

Tidaklah yang menimpa kalian wahai manusia berupa musibah di bumi seperti kegersangan, kurangnya buah-buahan, wabah penyakit tanaman, mahalnya harga dan lainlain serta mushibah yang menimpa diri kalian seperti sakit, kefakiran dan kehilangan anak itu kecuali telah ditulis di Lauhil Mahfudz sebelum kami menciptakan apapun. Bagi Allah SWT, menetapkan hal itu dalam kitabNya merupakan perkara yang mudah dan gampang. (Tafsir al-Wajiz)

سَابِقُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ (Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu) Yakni saling bergegaslah beramal shalih yang dapat mengundang ampunan dari Tuhan kalian. Di antaranya adalah dengan bergegas menuju ke masjid agar dapat bertakbir bersama imam pada takbir yang pertama, dan juga berusaha mendapatkan shaf pertama dalam shalat, serta membaikkan segala amalan yang dikerjakan. وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَآءِ وَالْأَرْضِ(dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi) Dan jika luasnya demikian maka bagaimana dengan panjangnya. أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِاللهِ وَرُسُلِهِۦ ۚ( yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya) Yakni tidak ada yang layak mendapatkannya kecuali orang yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. (Zubdatut Tafsir)

يَدْعُونَ فِيهَا بِكُلِّ فَٰكِهَةٍ ءَامِنِينَ

yad’ụna fīhā bikulli fākihatin āminīn

Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari segala kekhawatiran),

Di surga orang-orang yang bertakwa itu meminta buah-buahan apa pun yang mereka inginkan, mereka aman tanpa kematian dan apa yang mereka dapatkan tiada berakhir dan berhenti. (Tafsir al-Muyassar)

Mereka memanggil pelayan-pelayan mereka agar membawakan semua buah-buahan yang mereka inginkan, dan mereka merasa aman dari habisnya buah-buahan itu maupun dari bahayanya. (Tafsir al-Mukhtashar)

Di dalam surga mereka bebas melakukan apa yang mereka inginkan meminta segala macam buah-buahan dan yang lainnya dengan rasa aman tanpa kekhawatiran dan ketakutan. (Tafsir al-Wajiz)

يَدْعُونَ فِيهَا بِكُلِّ فٰكِهَةٍ ءَامِنِينَ (Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman) Yakni mereka terbebas dari kekenyangan, wabah penyakit, rasa sakit, kematian, kelelahan, godaan setan, dan kenikmatan yang terputus. (Zubdatut Tafsir)

وَلَنُذِيقَنَّهُم مِّنَ ٱلْعَذَابِ ٱلْأَدْنَىٰ دُونَ ٱلْعَذَابِ ٱلْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

wa lanużīqannahum minal-‘ażābil-adnā dụnal-‘ażābil-akbari la’allahum yarji’ụn

Dan Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).

Dan Kami pastikan akan menimpakan kepada orang-orang fasik yang mendustakan itu siksa-siksa dunia berupa ujian, cobaan dan musibah sebelum siksa besar di Hari Kiamat nanti, di mana di sana mereka akan disiksa di Neraka Jahanam, dengan harapan mereka akan kembali dan bertaubat dari dosa-dosa mereka. (Tafsir al-Muyassar)

Dan sungguh kami akan merasakan kepada orang-orang yang mendustakan dan keluar dari ketaatan terhadap Rabb mereka sebagian dari cobaan dan musibah di dunia sebelum mereka merasakan siksa besar yang telah disiapkan bagi mereka di Akhirat apabila mereka tidak bertobat, mudah-mudahan dengan cobaan-cobaan itu mereka bertobat kepada Allah. (Tafsir al-Mukhtashar)

Dan kami benar-benar menurunkan adzab kepada mereka, minimal adzab berupa: siksaan di dunia berupa kegelisahan, ketakutan, kehinaan, bala’, sakit, bencana dan lain sebagainya. Sebelum adzab di akhirat, agar mereka kembali pada jalan ketaatan dan keimanan, dan bertaubat dari syirik dan maksiat (Tafsir al-Wajiz)

وَلَنُذِيقَنَّهُم مِّنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَىٰ (Dan Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia)) Azab dunia berupa musibah-musibah dan wabah penyakit yang ada di dunia. Pendapat lain mengatakan yang dimaksud dengan azab dunia di sini adalah terbunuhnya mereka dengan pedang pada perang Badar. دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ(sebelum azab yang lebih besar (di akhirat)) Yakni sebelum azab di akhirat. لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ(mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar)) Yakni agar mereka kembali dan bertaubat dari kesyirikan dan kemaksiatan yang mereka lakukan berkat azab yang menimpa mereka, menuju keimanan dan ketaatan. (Zubdatut Tafsir)

ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

ẓaharal-fasādu fil-barri wal-baḥri bimā kasabat aidin-nāsi liyużīqahum ba’ḍallażī ‘amilụ la’allahum yarji’ụn

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Telah terlihat kerusakan di daratan dan di lautan seperti kekeringan, minimnya hujan, banyaknya penyakit dan wabah, yang semua itu disebabkan kemaksiatan-kemaksiaan yang dilakukan oleh manusia, agar mereka mendapatkan hukuman dari sebagian perbuatan mereka di dunia, supaya mereka bertaubat kepada Allah dan kembali kepadaNya dengan meninggalkan kemaksiatan, selanjutnya keadaan mereka akan membaik dan urusan mereka menjadi lurus. (Tafsir al-Muyassar)

Telah nampak kerusakan di daratan maupun di lautan dalam kehidupan manusia dengan berkurangnya penghasilan dan di dalam diri mereka dengan timbulnya berbagai penyakit dan wabah, disebabkan karena kemaksiatan yang mereka lakukan. Hal itu timbul agar Allah merasakan kepada mereka balasan dari perbuatan buruk mereka di kehidupan dunia dengan harapan agar mereka kembali kepada-Nya dengan bertobat. (Tafsir al-Mukhtashar)

Telah tampak kerusakan di berbagai hal seperti kegersangan, kekeringan, kebakaran, banjir, penyakit, kegelisahan dan ditawan oleh musuh akibat kemaksiatan dan dosa manusia. Supaya Allah membuat mereka merasakan balasan dari sebagian perbuatan mereka di dunia sebelum dihukum di akhirat dan supaya mereka bisa kembali dari kemaksiatan mereka dan bertaubat atas dosa-dosa (mereka). (Tafsir al-Wajiz)

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ (Telah nampak kerusakan di darat dan di laut) Yakni dimaksud dengan (البحر) adalah perkotaan dan pedesaan yang berada di atas laut atau sungai. Sedangkan (البر) adalah perkotaan dan pedesaan yang tidak berada di atas laut atau sungai. بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى النَّاسِ(disebabkan karena perbuatan tangan manusia) Allah menjelaskan bahwa kemusyrikan dan kemaksiatan adalah sebab timbulnya kerusakan di alam semesta. Kerusakan ini dapat berupa kekeringan, paceklik, ketakutan yang merajalela, barang-barang yang tidak laku, sulitnya mencari penghidupan, maraknya perampokan dan kezaliman, dan lain sebagainya. لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِى عَمِلُوا۟( supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka) Yakni agar mereka merasakan akibat dari sebagian perbuatan mereka. لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ(agar mereka kembali (ke jalan yang benar)) Yakni menjauhi kemaksiatan mereka dan bertaubat kepada Allah. (Zubdatut Tafsir)

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوْا۟ مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ ٱلْبَأْسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلْزِلُوا۟ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصْرُ ٱللَّهِ ۗ أَلَآ إِنَّ نَصْرَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ

am ḥasibtum an tadkhulul-jannata wa lammā ya`tikum maṡalullażīna khalau ming qablikum, massat-humul-ba`sā`u waḍ-ḍarrā`u wa zulzilụ ḥattā yaqụlar-rasụlu wallażīna āmanụ ma’ahụ matā naṣrullāh, alā inna naṣrallāhi qarīb

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

Apakah kalian mengira (wahai kaum Mukminin) akan memasuki surga, sedang belum datang kepada kalian cobaan yang serupa dengan ujian yang telah menimpa kaum Mukminin yang telah berlalu sebelum kalian seperti cobaan kemiskinan, menderita berbagai penyakit, dilanda rasa takut dan cekaman kegelisahan, dan digoncang dengan berbagai macam rasa takut, hingga Rasul mereka dan kaum mukminin yang bersamanya mengatakan, lantaran menginginkan pertolongan yang segera dari Allah,” Kapan Pertolongan Allah ( tiba )? ” Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat dengan kaum Mukminin. (Tafsir al-Muyassar)

Apakah kalian -wahai orang-orang mukmin- menyangka akan masuk surga sedangkan kalian belum menerima ujian seperti yang diterima oleh orang-orang sebelum kalian. Mereka dahulu ditimpa kemiskinan dan penyakit yang berat, serta diguncang oleh beragam ketakutan. Bahkan ujian yang mereka terima memaksa mereka untuk meminta segera diberikan pertolongan dari Allah. Sehingga Rasul dan orang-orang mukmin yang menyertainya berkata, “Kapan pertolongan Allah akan datang?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat dengan orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada-Nya. (Tafsir al-Mukhtashar)

Ataukah kalian mengira bahwa kalian akan dimasukkan surga hanya karena keimanan kalian saja dan tidak ditimpa sesuatu layaknya orang-orang sebelum kalian seperti penderitan, cobaan, ketakutan, kefakiran, sakit, lapar, dan diri mereka harus menerima ketakutan dan teror, serta dan mereka terus ditimpa musibah sampai pada keadaan dimana nabi dan orang-orang mukmin berkata ketika ditimpa musibah “Kapankah pertolongan Allah yang dijanjikan untuk kita datang?” Dan pertolongan Allah itu sangat dekat dengan orang-orang mukmin. Ayat ini turun pada hari peperangan khandaq, ketika orang-orang mukmin ditimpa kesusahan, penderitaan, panas, dingin, kehidupan yang sukar, an berbagai macam kesulitan, sebagaimana firman Allah SWT: {Hunaalikabtalal mu’minuuna wazulziluu zilzaalan syadiidaa} Al-Ahzab 33/11 (Tafsir al-Wajiz)

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا۟ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا۟ مِن قَبْلِكُم ۖ (Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? ) مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَآءُ (Mereka ditimpa oleh malapetaka) Yakni kemiskinan dan kefakiran. وَالضَّرَّآءُ (dan kesengsaraan) Yakni wabah penyakit dan luka-luka di jalan Allah. وَزُلْزِلُوا۟ (serta digoncangkan) Yakni ditakut-takuti dan diganggu dengan gangguan yang sangat. حَتَّىٰ يَقُولَ (sehingga berkatalah Rasul) Yakni keadaan ini terus berlangsung sampai pada titik dimana Rasul dan orang-orang yang bersamanya mengatakan perkataan ini. مَتَىٰ نَصْرُ اللَّـهِ ۗ ( “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” ) Mereka mengatakan perkataan ini sebagai bentuk permohonan pertolongan dan merasakan lambatnya kedatangannya dan lamanya keterlambatannya. Maka Allah memberi mereka kabar gembira dengan firman-Nya: أَلَآ إِنَّ نَصْرَ اللَّـهِ قَرِيبٌ (Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat) (Zubdatut Tafsir)

۞ وَإِذَا مَسَّ ٱلْإِنسَٰنَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُۥ مُنِيبًا إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا خَوَّلَهُۥ نِعْمَةً مِّنْهُ نَسِىَ مَا كَانَ يَدْعُوٓا۟ إِلَيْهِ مِن قَبْلُ وَجَعَلَ لِلَّهِ أَندَادًا لِّيُضِلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلًا ۖ إِنَّكَ مِنْ أَصْحَٰبِ ٱلنَّارِ

wa iżā massal-insāna ḍurrun da’ā rabbahụ munīban ilaihi ṡumma iżā khawwalahụ ni’matam min-hu nasiya mā kāna yad’ū ilaihi ming qablu wa ja’ala lillāhi andādal liyuḍilla ‘an sabīlih, qul tamatta’ bikufrika qalīlan innaka min aṣ-ḥābin-nār

Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka”.

dan apabila manusia ditimpa oleh sebuah ujian, kesulitan dan wabah penyakit, maka dia mengingat Robbnya, kemudian dia memohon dan berdo’a kepada-Nya. Kemudian apabila Allah telah mengabulkan permintaanya dan mengangkat kesulitannya serta menggantinya dengan kenikmatan-Nya, maka dia lupa terhadap do’a-do’anya kepada Allah saat dia memerlukan-Nya, dan diapun menyekutukan-Nya dengan sesuatu untuk menyesatkan orang lain sehingga tidak beriman dan tidak taat kepada Allah. Katakanlah kepadanya (wahai rosul) seraya mengancam mereka “silahkan nikmati kekufuran kalian sebentar saja sampai kematian datang kepadamu dan ajalmu habis, sesungguhnya kamu termasuk penduduk neraka yang akan kekal di dalamnya” (Tafsir al-Muyassar)

Jika orang kafir ditimpa kemalangan berupa penyakit, kehilangan harta atau takut tenggelam, maka dia berdoa kepada Rabbnyaagar Rabbnya -Subḥānahu- untuk mengangkat kemalangan yang menimpanya, dia kembali kepada Rabb semata. Kemudian bila Rabbnya memberinya nikmat dengan mengangkat kemalangan yang menimpanya, dia meninggalkan Allah yang sebelumnya dia berdoa kepada-Nya, dan mengangkat sekutu-sekutu yang dia sembah selain-Nya. Katakanlah -wahai Rasul- kepada orang yang hidupnya seperti itu, “Silakan kamu menikmati kekufuranmu selama sisa umurmu yang tidak lama, sesungguhnya kamu termasuk penghuni api Neraka yang tinggal di dalamnya pada hari Kiamat, kamu terus bersama Neraka seperti seorang teman selalu bersama temannya.” (Tafsir al-Mukhtashar)

Ketika mereka manusia kafir ditimpakan suatu musibah, seperti sakit parah, faqir atau rasa sakit, hendaklah mereka berdoa kepada Allah dan merendahkan diri di hadapan Allah, meminta pertolongan kepada Allah, untuk menolak bala’ yang menimpanya, kemudian ketika Allah memberikan nikmat padanya, maka tertutuplah bahaya atas dirinya, dia lupa akan bahaya yang Allah turunkan padanya sebab doanya kepada Allah sebelumnya. Allah menjadikan contoh para orang-orang yang syirik seperti menyembah berhala-berhala, dan yang lainnya, untuk menyesatkan manusia dari jalan kebenaran: yaitu Islam dan dan menyembah hanya kepada Allah, maka katakanlah hai Muhammad kepada para kafir ini: tetaplah kalian atas kekufuran kalian dan di sisa umur kalian, sesunggunya kalian di akhirat berada di golongan orang yang masuk di neraka, yang demikian itu adalah ancaman yang sangat, keputusasaan orang kafir akan nikmat akhirat, dan pembenaran atas kekufuran mereka. (Tafsir al-Wajiz)

وَإِذَا مَسَّ الْإِنسٰنَ ضُرٌّ (Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan) Kemudharatan apapun itu, baik itu berupa penyakit, kemiskinan, atau rasa takut. دَعَا رَبَّهُۥ مُنِيبًا إِلَيْهِ(dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya) Yakni kembali kepada-Nya untuk memohon pertolongan agar musibah yang menimpanya dapat dijauhkan, dan dia berpaling dari apa yang dia sembah sebelumnya baik itu orang mati atau hidup, patung, dan lain sebagainya. ثُمَّ إِذَا خَوَّلَهُۥ نِعْمَةً مِّنْهُ(kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya) Yakni ketika Allah menghilangkan kemudharatan yang menimpanya dan memberinya kenikmatan. نَسِىَ مَا كَانَ يَدْعُوٓا۟ إِلَيْهِ مِن قَبْلُ(lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu) Ia kemudian melupakan kemudharatan yang ia mohonkan kepada Allah untuk diangkat darinya. Pendapat lain mengatakan bahwa ia kemudian melupakan Tuhan yang ia mohonkan pertolongan. وَجَعَلَ لِلّٰهِ أَندَادًا(dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah) Yakni dia menjadikan sekutu-sekutu sama dengan Allah, baik itu berhala-berhala maupun yang lainnya, dia menganggap hal itu sehingga dia menyembah berhala-berhala tersebut. لِّيُضِلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ( untuk (menghilangkannya) sebelum itu) Yakni untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah, yaitu Islam dan tauhid. قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلًا ۖ( Katakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu) Yakni dengan sedikit kesenangan, atau dengan kesenangan yang sebentar, sebab kenikmatan dunia hanya sedikit dan sebentar. إنك من أصحاب النار (sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka) Yakni sebentar lagi tempat kembalimu adalah neraka. (Zubdatut Tafsir)

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

wa lanabluwannakum bisyai`im minal-khaufi wal-jụ’i wa naqṣim minal-amwāli wal-anfusi waṡ-ṡamarāt, wa basysyiriṣ-ṣābirīn

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

Dan kami akan benar-benar menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan dan kekurangannya harta karena kesulitan dalam mendapatkannya atau hilang sama sekali. Dan dari jiwa dengan terjadinya kematian atau mati syahid dijalan Allah, dan dengan berkurangnya buah-buahan kurma, anggur, dan biji-bijian karena sedikitnya hasil panen atau rusak. Dan berilah kabar gembira -wahai nabi- kepada orang-orang yang bersabar dalam menghadapi persoalan ini dan persoalan-persoalan yang serupa dengan apa-apa yang membahagiakan mereka dan menyenangkan mereka berupa kesudahan yang baik di dunia dan akhirat. (Tafsir al-Muyassar)

Sungguh Kami benar-benar akan menguji kalian dengan aneka musibah. Yakni dengan sedikit rasa takut kepada musuh, rasa lapar karena kekurangan makanan, kekurangan harta benda karena hilang atau sulit mendapatkannya, berkurangnya jiwa akibat bencana yang menelan korban jiwa atau gugur di medan jihad fi sabilillah, dan berkurangnya buah-buahan yang tumbuh di muka bumi. Dan berikanlah -wahai Nabi- kabar gembira kepada orang-orang yang sabar menghadapi musibah tersebut, bahwa mereka akan mendapatkan sesuatu yang menyenangkan hati mereka di dunia dan di akhirat. (Tafsir al-Mukhtashar)

Dan supaya Kami bisa membuat kalian berinteraksi dengan ujian untuk mengetahui orang yang kuat dan lemah imannya dengan diselimuti oleh ketakutan (yaitu bahaya dari musuh atau hal lain) kelaparan (kelaparan dan kehausan) atau kekurangan harta yang kalian miliki seperti binatang ternak dan kehilangan nyawa karena mati terbunuh dalam jihad, sakit, serta kekurangan buah karena wabah penyakit. Wahai rasulullah berilah kabar gembira untuk orang-orang yang bersabar dengan kemenangan atas surga, ampunan dan rahmat (Tafsir al-Wajiz)

وَلَنَبْلُوَنَّكُم (Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu) Yakni Kami akan menguji kalian. الْخَوْفِ (ketakutan) Yakni apa yang kalian takutkan dari bahaya musuh dan yang lainnya. وَالْجُوعِ (kelaparan) Yakni kelaparan dan kekeringan. وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوٰل (kekurangan harta) Yakni berkurangnya harta ketika kalian mengeluarkan zakat dan lainnya. وَالْأَنفُسِ (jiwa) Yakni kematian dan pembunuhan yang terjadi di medan jihad. وَالثَّمَرٰتِ (dan buah-buahan) Yakni yang disebabkan oleh penyakit. Pendapat lain mengatakan maknanya adalah kematian anak keturunan. (Zubdatut Tafsir)

Terkait: « | »

Kategori: Tafsir Topik

Trending: Surat Yasin, Surat Al-Waqiah, Surat Al-Mulk, Surat Al-Kahfi, Ayat Kursi