Ayat Tentang Kejujuran

إِذْ يُرِيكَهُمُ ٱللَّهُ فِى مَنَامِكَ قَلِيلًا ۖ وَلَوْ أَرَىٰكَهُمْ كَثِيرًا لَّفَشِلْتُمْ وَلَتَنَٰزَعْتُمْ فِى ٱلْأَمْرِ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ سَلَّمَ ۗ إِنَّهُۥ عَلِيمٌۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ

Arab-Latin: iż yurīkahumullāhu fī manāmika qalīlā, walau arākahum kaṡīral lafasyiltum wa latanāza'tum fil-amri wa lākinnallāha sallam, innahụ 'alīmum biżātiṣ-ṣudụr

Terjemah Arti: (yaitu) ketika Allah menampakkan mereka kepadamu di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepada kamu (berjumlah) banyak tentu saja kamu menjadi gentar dan tentu saja kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, akan tetapi Allah telah menyelamatkan kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.

Tafsir Ayat Tentang Kejujuran

Dan ingatlah wahai nabi, ketika Allah memperlihatkan sedikitnya jumlah musuhmu dalam mimpimu, dan kemudian kamu memberitahukan itu kepada kaum mukminin, sehingga hati mereka menjadi teguh dan mereka berani menyongsong peperangan menghadapi musuh mereka. Dan seandainya tuhanmu memperlihatkan kepadamu banyaknya jumlah mereka, tentulah sahabat-sahabatmu akan maju mundur dalam menghadapi mereka, kalian menjadi takut serta bersilang pendapat dalam perkara memerangi mereka. Akan tetapi, Allah menyelamatkan kalian dari kegagalan dan menjauhkan kalian dari dampak buruknya. Sesungguhnya Dia maha mengetahui rahasia-rahasia yang tersembunyi di dalam hati dan tabiat-tabiat jiwa-jiwa manusia. (Tafsir al-Muyassar)

Dan ingatlah -wahai Rasul- nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepadamu dan kepada orang-orang mukmin ketika Allah memperlihatkan kepadamu di dalam mimpimu bahwa jumlah orang-orang musyrik sangat sedikit. Kemudian kamu menceritakan mimpi itu kepada orang-orang mukmin sehingga mereka merasa gembira dan tekad mereka untuk menghadapi dan memerangi musuh-musuh mereka itu semakin kuat. Sekiranya Allah -Subḥānahu- memperlihatkan kepadamu di dalam mimpimu bahwa jumlah orang-orang musyrik sangat banyak, tentu semangat juang sahabat-sahabatmu akan runtuh dan mereka akan takut berperang. Tetapi Allah telah menyelamatkan mereka dari kondisi semacam itu dan melindungi mereka dari kegagalan. Maka Allah membuat jumlah mereka tampak sedikit di mata rasul-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan di dalam hati dan apa yang tersembunyi di dalam jiwa. (Tafsir al-Mukhtashar)

43 Ingatlah wahai Nabi ketika sebelum peperangan Allah menampakkan kepadamu di dalam mimpimu bahwa orang-orang musyrik itu berjumlah sedikit. Kemudian engkau kabarkan kepada para sahabatmu, kemudian mereka menjadi bersemangat dan percaya diri. Andaikata Kami memperlihatkan bahwa jumlah mereka banyak maka pasti kalian akan gusar dan berbeda pendapat untuk memerangi mereka atau tidak wahai orang-orang mukmin, Jumlah sebenarnya tentara Qurasy adalah lebih dari seribu, adapun jumlah tentara muslim hanya 314, akan tetapi Allah telah menyelamatkan kalian dari kekalahan dan perdebatan. Sehingga Allah memperlihatkan jumlah mereka hanya sedikit kepada Nabi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati. (Tafsir al-Wajiz)

إِذْ يُرِيكَهُمُ اللهُ فِى مَنَامِكَ قَلِيلًا ۖ (ketika Allah menampakkan mereka kepadamu di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit) Yakni Rasulullah melihat dalam mimpinya bahwa pasukan orang-orang musyrik berjumlah sedikit, maka Rasulullah menceritakan hal ini kepada para sahabatnya sehingga ini menjadi sebab keteguhan mereka. Andai saja Rasulullah melihat dalam mimpinya bahwa jumlah pasukan orang-orang musyrik banyak niscaya mereka akan merasa lemah dan takut memerangi mereka serta saling berselisih apakah akan menghadapi mereka atau tidak.وَلٰكِنَّ اللهَ سَلَّمَ ۗ (akan tetapi Allah telah menyelamatkan kamu) Dan melindungi mereka dari kekalahan, sehingga Allah menjadikan orang-orang musyrik berjumlah sedikit dalam penglihatan Rasulullah. (Zubdatut Tafsir)

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا۟ وَجَٰهَدُوا۟ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّٰدِقُونَ

innamal-mu`minụnallażīna āmanụ billāhi wa rasụlihī ṡumma lam yartābụ wa jāhadụ bi`amwālihim wa anfusihim fī sabīlillāh, ulā`ika humuṣ-ṣādiqụn

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.

Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu adalah yang membenarkan Allah dan RasulNya dan melaksanakan syariatNya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dalam iman mereka, mengorbankan harta dan jiwa mereka dalam jihad di jalan Allah, ketaatan dan (usaha meraih) keridhaanNYa. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya. (Tafsir al-Muyassar)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian tidak mencampuri keimanannya dengan keraguan dan berjuang dengan hartanya dan jiwanya di jalan Allah serta tidak kikir dengan sesuatupun darinya. Orang-orang yang mempunyai sifat-sifat demikian ini adalah orang-orang yang jujur dalam keimanan mereka. (Tafsir al-Mukhtashar)

Sesungguhnya orang-orang mukmin sesungguhnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan rasulNya, lelu mereka tidak mengeluhkan sedikitpun tentang iman dan berjihadn untuk menaati Allah dan mencari ridhaNya dengan harta benda dan diri mereka. Mereka itu adalah orang-orang yang benar keimanannya, bukan orang yang berkata: “Kami beriman, namun hati kami tidak” Tidak ditemukan apapun dalam diri mereka kecuali Islam yang secara zhahir saja (Tafsir al-Wajiz)

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِاللهِ وَرَسُولِهِۦ (Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya) Yakni yang beriman dengan keimanan yang benar dan tulus, yang hatinya sesuai dengan lisannya.ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا۟( kemudian mereka tidak ragu-ragu) Yakni tidak ada keraguan yang masuk ke dalam hati mereka.وَجٰهَدُوا۟ بِأَمْوٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِى سَبِيلِ اللهِ ۚ( dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah) Yakni pada ketaatan-Nya dan mengharap keridhaan-Nya.أُو۟لٰٓئِكَ(Mereka itulah) Yakni orang-orang yang ada dalam dirinya hal-hal tersebut.هُمُ الصّٰدِقُونَ(orang-orang yang benar) Yakni benar dalam pengakuannya sebagai orang yang beriman. (Zubdatut Tafsir)

أَمْ لَمْ يَعْرِفُوا۟ رَسُولَهُمْ فَهُمْ لَهُۥ مُنكِرُونَ

am lam ya'rifụ rasụlahum fa hum lahụ mungkirụn

Ataukah mereka tidak mengenal rasul mereka, karena itu mereka memungkirinya?

(Tafsir al-Muyassar)

Atau apakah mereka tidak mengenal Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang diutus oleh Allah kepada mereka, sehingga mereka mengingkarinya? Sesungguhnya mereka telah mengenalnya dan mengetahui sikap jujur dan amanahnya. (Tafsir al-Mukhtashar)

Ataukah mereka tidak mengenal rasul mereka yang mempunyai sifa amanah, jujur, dan baik akhlaknya, sehingga mereka mengingkari dan mendustakannya? (Tafsir al-Wajiz)

أَمْ لَمْ يَعْرِفُوا۟ رَسُولَهُمْ فَهُمْ لَهُۥ مُنكِرُونَ (Ataukah mereka tidak mengenal rasul mereka, karena itu mereka memungkirinya?) Dan sudah diketahui bahwa mereka telah mengenal rasulullah sebagai orang yang jujur, dan mereka tidak pernah mendapatinya berbohong sedikitpun. (Zubdatut Tafsir)

۞ لَّقَدْ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنِ ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ ٱلشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِى قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَٰبَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

laqad raḍiyallāhu 'anil-mu`minīna iż yubāyi'ụnaka taḥtasy-syajarati fa 'alima mā fī qulụbihim fa anzalas-sakīnata 'alaihim wa aṡābahum fat-ḥang qarībā

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).

Sungguh Allah telah meridhai orang-orang beriman saat mereka membai’atmu (wahai Nabi) dibawah pohon itu. Bai’at ini adalah bai’at ar-Ridhwan di Hudaibiyah. Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati orang-orang beriman tersebut, yaitu iman, kejujuran, dan kesetiaan. Maka Allah menurunkan ketenangan kepada mereka, meneguhkan hati mereka dan menjanjikan mengganti apa yang tidak terwujud dengan perjanjian Hudaibiyah dengan sebuah kemenangan yang dekat, yaitu kemenangan pada Perang Khaibar dan harta rampasan perang yang besar yang mereka raih dari harta orang-orang Yahudi Khaibar. Allah MahaPerkasa dalam membalas musuh-musuhNya, Mahabijaksana dalam mengatur urusan makhlukNya. (Tafsir al-Muyassar)

Allah telah meridai orang-orang beriman yang mengucapkan janji setia kepadamu di Hudaibiyah dalam Bai’atur Riḍwān di bawah pohon, dan Allah mengetahui keimanan, keikhlasan dan kejujuran yang ada di dalam hati mereka, lalu Allah menurunkan ketenangan ke dalam hati mereka dan menganugerahi kemenangan yang dekat karena hal itu, yaitu kemenangan dalam perang Khaibar, sebagai ganti atas kegagalan mereka untuk memasuki Makkah. (Tafsir al-Mukhtashar)

Allah sungguh meridhai orang-orang mukmin dari sahabat-sahabat yang berjanji untuk setia kepadamu dengan penuh kerelaan di bawah pohon saat perjanjian Hudaibiyah. Mereka tetap mau berperang melawan kafir Quraisy. Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka yang berupa keimanan, kesetiaan dan keikhlasan dalam melakukan perjanjian, sehingga Allah memberi ketenangan dan keamanan mereka, menenangkan jiwa mereka, dan membalas mereka dengan penaklukan Khaibar dan penyebaran Islam seketika sesudah perdamaian Hudaibiyah. (Tafsir al-Wajiz)

لَّقَدْ رَضِىَ اللهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ (Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon) Yakni Allah meridhai mereka saat terjadi baiat tersebut, yaitu baiat ridwan yang terjadi di Hudaibiyah. Baiat itu berisi bahwa mereka harus memerangi kaum kafir Quraisy dan tidak kabur dari mereka, dan diriwayatkan pula bahwa Rasulullah membaiat mereka untuk siap kehilangan nyawa. Adapun kisah secara lengkap disebutkan dalam kitab-kitab hadits dan sejarah Islam.فَعَلِمَ مَا فِى قُلُوبِهِمْ(maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka) Berupa kejujuran dan penepatan janji.فَأَنزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ(lalu menurunkan ketenangan atas mereka) Yakni ketenangan dan ketentraman jiwa, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.وَأَثٰبَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا(dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat) Yaitu penakhlukan kota Khaibar setelah mereka pergi dari Hudaibiyah. Pendapat lain mengatakan yang dimaksud adalah penakhlukan kota Makkah. (Zubdatut Tafsir)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَكُونُوا۟ مَعَ ٱلصَّٰدِقِينَ

yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha wa kụnụ ma'aṣ-ṣādiqīn

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.

Wahai orang-orang yang briman kepada Allah dan rasulNya serta melaksanakan syariatNya, laksanakanlah perintah-perintah Allah dan jauhilah larangan-laranganNYa dalam segala yang kalian kerjakan dan kalian tinggalkan.Dan jadilah kalian bersama orang-orang yang benar dalam sumpah-sumpah mereka, janji-janji mereka dan dalam setiap urusan penting dari urusan-urusan mereka. (Tafsir al-Muyassar)

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah, mengikuti rasul-Nya, dan menjalankan syariat-Nya, takutlah kepada Allah dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Dan bergabunglah bersama orang-orang yang jujur dalam keimanan, ucapan, dan perbuatannya. Karena tidak ada keselamatan bagi kalian kecuali di dalam kejujuran. (Tafsir al-Mukhtashar)

Wahai orang-orang mukmin, takutlah kepada Allah dengan melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya serta teruslah beriman dengan benar baik dalam perkataan maupun perbuatan (Tafsir al-Wajiz)

وَكُونُوا۟ مَعَ الصّٰدِقِينَ (dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar) Terdapat isyarat bahwa tiga orang ini telah meraih penerimaan taubat dari Allah dengan kejujuran mereka. (Zubdatut Tafsir)

وَمَغَانِمَ كَثِيرَةً يَأْخُذُونَهَا ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

wa magānima kaṡīratay ya`khużụnahā, wa kānallāhu 'azīzan ḥakīmā

Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Sungguh Allah telah meridhai orang-orang beriman saat mereka membai’atmu (wahai Nabi) dibawah pohon itu. Bai’at ini adalah bai’at ar-Ridhwan di Hudaibiyah. Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati orang-orang beriman tersebut, yaitu iman, kejujuran, dan kesetiaan. Maka Allah menurunkan ketenangan kepada mereka, meneguhkan hati mereka dan menjanjikan mengganti apa yang tidak terwujud dengan perjanjian Hudaibiyah dengan sebuah kemenangan yang dekat, yaitu kemenangan pada Perang Khaibar dan harta rampasan perang yang besar yang mereka raih dari harta orang-orang Yahudi Khaibar. Allah MahaPerkasa dalam membalas musuh-musuhNya, Mahabijaksana dalam mengatur urusan makhlukNya. (Tafsir al-Muyassar)

Dan Allah memberikan kepada mereka harta rampasan yang banyak yang mereka ambil dari penduduk Khaibar, dan Allah Maha Perkasa, tidak ada seorangpun yang bisa mengalahkan-Nya, Maha Bijaksana dalam penciptaan-Nya, takdir-Nya dan pengaturan-Nya. (Tafsir al-Mukhtashar)

Allah memberi imbalan kepada mereka juga berupa rampasan perang yang sangat banyak. Mereka mengambilnya (rampasan perang Khaibar) setelah menaklukannya pada tahun ke-7 Hijriyah dan melakukan perdamaian dengan musuh dengan memberi separuh dari hasil buminya yang berupa buah-buahan dan tanama. Allah adalah Dzat yang Maha Kuat, tidak ada yang mampu mengungguliNya dan Maha Bijaksana dalam mengatur urusan-urusan ciptaanNya (Tafsir al-Wajiz)

وَمَغَانِمَ كَثِيرَةً يَأْخُذُونَهَا ۗ( Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil) Yakni dan Allah membalas kalian dengan harta ghanimah yang banyak, yaitu harta ghanimah dari kota Khaibar.وَكَانَ اللهُ عَزِيزًا حَكِيمًا(Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana) Yakni Maha Perkasa yang perbuatan dan firman-Nya penuh dengan hikmah dan kebijaksanaan. (Zubdatut Tafsir)

مَّا عَلَى ٱلرَّسُولِ إِلَّا ٱلْبَلَٰغُ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ

mā 'alar-rasụli illal-balāg, wallāhu ya'lamu mā tubdụna wa mā taktumụn

Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan.

Allah menerangkan bahwa misi penting rasulNya ialah mengarahkan petunjuk dan menyampaikan (risalahNya), dan ditangan Allah sematalah adanya hidayah taufik. Dan apa saja yang mengisi hati-hati manusia, baik yang mereka rahasiakan dan mereka perlihatkan terang-terangan dari bentuk hidayah dan kesesatan, Allah telah mengetahuinya. (Tafsir al-Muyassar)

Tugas seorang rasul hanyalah menyampaikan apa yang Allah perintahkan untuk disampaikannya. Dia tidak berkewajiban menyadarkan manusia ke jalan yang benar. Karena hal itu adalah wewenang Allah sendiri. Allah mengetahui hidayah dan kesesatan yang kalian tunjukkan dan yang kalian sembunyikan. Dan Dia akan memberimu balasan yang setimpal atas hal itu. (Tafsir al-Mukhtashar)

Tidaklah kewajiban rasul itu memberi petunjuk kepada manusia, melainkan hanya menyampaikan wahyu Tuhan kepada mereka. Dan Jika mereka tidak menerima dakwahnya, maka mereka itu tidak memberi kerugian kecuali untuk diri mereka sendiri. Dan Allah itu mengetahui ucapan dan tindakan yang kalian tampakkan, serta niat dan maksud yang kalian sembunyikan. (Tafsir al-Wajiz)

إِلَّا الْبَلٰغُ ۗ( tidak lain hanyalah menyampaikan) Yakni menyampaikan kepada mereka, apabila mereka tidak mentaati maka hal itu tidaklah memberi madharat kecuali kepada diri mereka sendiri, dan mereka tidak berbuat jahat kecuali kepada diri mereka sendiri. Adapun Rasulullah, maka ia telah menjalankan apa yang diwajibkan kepadanya dan menunaikan apa yang diperintahkan kepadanya. (Zubdatut Tafsir)

يَوْمَ يَقُومُ ٱلرُّوحُ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ صَفًّا ۖ لَّا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ ٱلرَّحْمَٰنُ وَقَالَ صَوَابًا

yauma yaqụmur-rụḥu wal-malā`ikatu ṣaffal lā yatakallamụna illā man ażina lahur-raḥmānu wa qāla ṣawābā

Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar.

Mereka mendapatkan semua itu sebagai balasan dan karunia dari Allah,serta sebagai pemberian yang besar dan mencukupi mereka, Tuhan langit dan bumi serta apa yang ada diantara keduanya, Tuhan yang maha pengasih di dunia dan akhirat,mereka tidak punya kewenangan untuk bertanya kepada NYA kecuali dalam apa yang DIA izinkan. Hari itu jibril dan para malaikat berdiri berbaris, mereka tidak memberi syafaat kecuali bagi siapa yang Allah yang maha pengasih izinkan untuknya dan dia hanya mengatakan yang benar dan lurus. Itu adalah haq yang tidak ada keraguan bahwa ia pasti terjadi. Maka barangsiapa ingin selamat dari ketakutan ketakutannya,hendaknya dia mengambil jalan untuk menuju kepada tuhannya dengan melakukan amal shalih. (Tafsir al-Muyassar)

Pada suatu Hari ketika Jibril dan para Malaikat berdiri berbaris, tidak ada di antara mereka yang berbicara tentang syafaat untuk seseorang kecuali bagi yang telah diizinkan oleh Allah untuk memberi syafaat, dan dia berkata lurus seperti kata tauhid. (Tafsir al-Mukhtashar)

Hari itu, hari dimana Jibril dan para malaikat lainnya berdiri dalam barisan-barisan. Mereka tidak berbicara sedikitpun atau menambah ataupun mengurangi pahala/pertolongan kecuali hanya bagi mereka yang diberi izin oleh Allah. Mereka hanya berkata tentang kebenaran dan kejujuran. Dan adapun yang mendapat syafaat atau pertolongan haruslah mengesakan Allah (Tafsir al-Wajiz)

يَوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلٰٓئِكَةُ صَفًّا ۖ (Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf) Yakni berbaris-beris. Makna (الروح) disini adalah salah seorang malaikat, terdapat pendapat mengatakan bahwa itu adalah Jibril. Namun menurut pendapat lain ia adalah salah satu tentara Allah yang bukan dari golongan malaikat.إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمٰنُ(kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah) Untuk memberi syafaat. Atau mereka tidak berbicara kecuali bagi orang yang telah diizinkan Allah.وَقَالَ(dan ia mengucapkan) Dan orang yang mendapat izin itu adalah orang yang ketika didunia berkataصَوَابًا (dengan perkataan yang benar) Yakni yang bersaksi akan keesaan Allah. (Zubdatut Tafsir)

فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ

fa aina taż-habụn

maka ke manakah kamu akan pergi?

Dimana akal kalian saat kalian mendustakan al-qur’an setelah argument-argument yang kuat ini? Al-qur’an adalah nasihat bagi seluruh manusia, Yaitu bagi siapa yang berkenan dari kalian untuk berjalan lurus diatas kebenaran dan iman. Kalian tidak sanggup beristiqamah dan tidak menghendakinya kecuali dengan kehendak Allah tuhan seluruh makhluk. (Tafsir al-Muyassar)

Maka alasan apalagi yang kalian gunakan untuk mengingkari bahwa Al-Qur`ān ini dari Allah setelah hujah-hujah ini? (Tafsir al-Mukhtashar)

Maka kemana lagi kamu akan pergi setelah kalian mengingkari Al-quran? (Tafsir al-Wajiz)

فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ (maka ke manakah kamu akan pergi?) Yakni jalan mana yang dapat kalian tempuh yang paling jelas daripada jalan yang telah aku jelaskan bagi kalian. (Zubdatut Tafsir)

قَالَ هِىَ رَٰوَدَتْنِى عَن نَّفْسِى ۚ وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِّنْ أَهْلِهَآ إِن كَانَ قَمِيصُهُۥ قُدَّ مِن قُبُلٍ فَصَدَقَتْ وَهُوَ مِنَ ٱلْكَٰذِبِينَ

qāla hiya rāwadatnī 'an nafsī wa syahida syāhidum min ahlihā, ing kāna qamīṣuhụ qudda ming qubulin fa ṣadaqat wa huwa minal-kāżibīn

Yusuf berkata: "Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)", dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: "Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta.

Yusuf berkata, ”Dialah yang mengajaku kepada perbuatan tersebut.” dan seorang anak kecil dari keluarganya masih dalam ayunan bayi bersaksi dengan berkata, ”Apabila pakaiannya robek dari arah depan, maka wanita itu benar dalam tuduhannya terhadap yusuf, dan yusuf termasuk orang-orang yang dusta.” (Tafsir al-Muyassar)

Yusuf -'alaihissalām- berkata, "Dialah yang merayuku untuk berbuat mesum dengannya, dan aku tidak mau melakukannya." Tiba-tiba Allah membuat seorang bayi dari keluarga wanita itu berbicara. Lalu bayi itu bersaksi dengan mengatakan, "Jika baju Yusuf terkoyak di bagian depan itu menandakan bahwa wanita itulah yang benar, karena dia tengah mempertahankan dirinya, dan Yusuf lah yang berdusta. (Tafsir al-Mukhtashar)

Untuk membela diri, Yusuf berkata: “Dia yang menginginkan hal itu dariku, dan aku tidak menghendaki keburukan padanya. Dan itu disaksikan bayi di tempat tidurnya yang berada di dekatnya.” Allah membuatnya bisa berbicara, sebagaimana yang ada dalam hadits shahih dari Nabi SAW yang menyebutkan tentang bayi yang berbicara di tempat tidurnya. Di antara keluarganya ada yang menjadi saksi bagi Yusuf dan berkata: “Jika bajunya robek atau terpotong pada bagian depan, maka ucapan Zulaikha benar, dan Yusuf termasuk orang-orang yang berdusta.” Menurut kebanyakan kelompok penafsir bahwa saksi itu bukanlah bayi melainkan laki-laki dewasa, yaitu anak dari paman Zulaikha. (Tafsir al-Wajiz)

قَالَ هِىَ رٰوَدَتْنِى عَن نَّفْسِى ۚ (Yusuf berkata: “Dia menggodaku untuk menundukkan diriku) Yakni Zulaikha yang memintaku melakukan itu, namun aku sama sekali tidak menginginkan keburukan baginya.وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِّنْ أَهْلِهَآ(dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya) Terdapat pendapat mengatakan saksi ini adalah seorang bayi yang masih dalam buaian yang dapat berbicara. Dan ini adalah pendapat yang benar, sesuai dengan hadits yang membahas tentang itu, yaitu hadits nabi tentang penyebutan bayi-bayi yang dapat berbicara dalam buaian, dan Rasulullah menyebutkan diantaranya adalah saksi bagi Nabi Yusuf. Kesaksian saksi ini adalah dengan ucapannya: “Jika baju gamisnya terkoyak di arah depan maka wanita itu benar, yakni berarti Yusuflah yang menginginkan kekejian terhadapnya.وَهُوَ مِنَ الْكٰذِبِينَ (dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta) Yakni berdusta dalam ucapannya bahwa Zulaikha yang menggoda dirinya. (Zubdatut Tafsir)

Terkait: « | »

Kategori: Tafsir Topik