Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat Al-Balad Ayat 4

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ

Arab-Latin: Laqad khalaqnal-insāna fī kabad

Terjemah Arti: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.

Terjemahan Makna Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

1-4. Allah bersumpah dengan negeri al-haram (yaitu Makkah). Dan kamu (wahai nabi) halal di negeri al-haram, kamu boleh melakukan apa yang kamu kehendaki padanya,dan tidak dihalalkan bagi nabi kecuali sesaat dari siang hari. Ayat ini merupakan kabar gembira bagi nabi sholallohu alaihi wasallam bahwa Allah akan menaklukan kota Makkah melalui beliau dan menghalalkan perang bagi beliau. Allah juga bersumpah dengan bapak manusia(adam) dan anak keturunannya, Sungguh kami menciptakan manusia dalam kelelahan dan kesulitan dalam menjani dunia.

Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

4. Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam kepayahan dan kesusahan karena cobaan yang mereka hadapi di dunia.

Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram

4. لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسٰنَ فِى كَبَدٍ (Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah)
Yakni manusia akan tetap pada kesulitan dan kesengsaraan di dunia hingga mereka mati, kemudian setelah mati ia akan menghadapi kesulitan di alam kubur, dan setelahnya terdapat kesulitan di akhirat.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

4. Sungguh kami telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang dipenuhi dengan kesengsaraan yang sangat berat, kesusah payahan dan penderitaan sampai dia meninggal.

Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili

Kemudian datang jawaban atas sumpah (pada ayat sebelumnya) yang menjelaskan bahwasanya Allah menciptakan manusia dan menjadikannya penuh ujian dan kesulitan. Dan tidaklah hilang penderitaan (macam-macam ujian) sejak tumbuh kembang di perut ibunya sampai menjadi seorang laki-laki.

An-Nafahat Al-Makkiyah / Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi

4-7. Yang menjadi obyek sumpah adalah Firman Allah, “Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” Kemungkinan yang dimaksudkan adalah segala kesusahan yang menderanya ketika berada di dunia, di alam barzakh dan pada hari berlakunya kesaksian. Seharusnya manusia mengerjakan perbuatan yang bisa membuatnya terbebas dari berbagai kesusahan itu dan mengharuskannya berbahagia selama-lamanya. Bila ia tidak mengerjakannya, berarti ia senantiasa didera siksaan berat selama-lamanya.
Kemungkinan lain, makna ayat ini adalah Allah menciptakan manusia dalam bentuk dan wujud yang paling sempurna yang membuatnya mampu berbuat apa saja serta mengerjakan perbuatan-perbuatan berat. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau bersyukur kepada Allah atas nikmat yang agung itu. Bahkan ia merasa sombong karena diberi kesehatan serta bersikap angkuh terhadap Penciptanya. Dengan kebodohan dan kezhalimannya, ia mengira kondisi itu akan bertahan lama baginya dan dikira kekuasaannya untuk bertindak tidak akan hilang darinya. Karena itulah Allah berfirman, “Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya,” hingga ia pun bertindak melampaui batas dan merasa bangga atas harta yang dibelanjakan untuk keinginan-keinginan dirinya, “lalu berkata, Aku telah menghabiskan harta yang banyak,” yakni yang amat banyak, sebagian mereka diatas sebagian yang lain. Allah menyebut membelanjakan harta untuk keinginan syahwat dan maksiat dengan kata membinasakan, karena orang yang membelanjakan tersebut tidak mendapatkan guna dari harta yang dibelanjakan. Hanya ada penyesalan, kerugian, kelelahan, dan kekurangan yang didapatkan. Tidak sama seperti orang yang membelanjakan hartanya dalam keridhaan Allah dan untuk kebajikan. Karena orang tersebut pada hakikatnya melakukan perdagangan dengan Allah dan mendapatkan keuntungan berlipat-lipat dari harta yang dibelanjakannya. Allah berfirman seraya memberi ancaman kepada orang yang membelajakan hartanya untuk memenuhi keinginan syahwatnya didasari sifat kesombongan “apakah dia mengira tidak akan ada yang melihatnya seorangpun?”, maksudnya, apakah dia menyangka dalam perbuatannya ini bahwa sanya Allah tidak melihatnya dan menghitungnya baik kecil maupun besar? Bahkan Allah sungguh telah melihatnya, dan menjaga nya dengan memeperhatiakan perbuatanya, dan mewaakilkan hal itu kepada dua malaikat yang mulia yang masing-masing memperhatikan amalan yang baik dan yang buruk.

Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di

Kemudian Allah meyebutkan jawaban daripada sumpah itu, { لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ } Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia { فِي كَبَدٍ } dengan susah payah , manusia diciptakan untuk menghadapi kesusahan didunia, jika ia berjalan diatas kebenaran maka akan baik kehidupannya didunia maupun di akhirat, sedangkan jika ia berjalan diatas kekafiran maka kehidupannya akan penuh dengan kesusahan baik didunia maupundi akhirat.

{ فِي كَبَدٍ } Pendapat lain mengatakan : yakni dengan sempurna, dan ini adalah suatu keajaiban dari ciptaan Allah, manusia adalah ciptaan Allah yang paling menakjubkan, baik itu dari segi bentuk tubuhnya yang nampak maupun apa tersembunyi didalamnya, yaitu akal dan pikirannya.

Tafsir Juz 'Amma / Syaikh Prof. Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ

Tafsir Juz 'Amma / Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin

Yakni penuh dengan penderitaan dan merasakan berbagai musibah di dunia, di alam barzakh dan pada hari Kiamat. Oleh karena itu, sepatunya ia berusaha melakukan perbuatan yang dapat menghilangkan penderitaan itu dan mendatangkan kegembiraan serta kesenangan selama-lamanya. Jika ia tidak melakukannya, maka ia akan senantiasa dalam penderitaan. Bisa juga maksudnya, bahwa Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya; dia ditakdirkan untuk dapat bertindak dan melakukan pekerjaan yang berat, namun sayang dia tidak bersyukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala terhadap nikmat yang besar itu, bahkan bersikap angkuh dan sombong dengan keadaannya kepada Penciptanya. Cukuplah sebagai bukti kebodohan dan kezalimannya ketika ia menyangka bahwa keadaan itu akan tetap langgeng padanya dan bahwa kemampuannya akan terus dimilikinya. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Apakah dia (manusia) itu mengira bahwa tidak ada sesuatu pun yang berkuasa atasnya?”

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I


Sungguh, kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. Siapa pun, termasuk nabi, dalam masa hidupnya pasti menemui kepayahan, sejak dalam kandungan sampai masa dewasa. Manusia mesti bersusah payah mencari nafkah, mengalami sakit, dan mati. Dalam alam kubur menuju alam mahsyar pun manusia menghadapi kepayahan. Manusia harus mengisi kehidupannya di dunia dengan amal saleh agar tidak menemukan kepayahan lagi di akhirat. 5. Apakah dia yang kami ciptakan dalam kepayahan itu mengira bahwa dirinya kuat dan berkuasa sehingga tidak ada sesuatu pun yang berkuasa atasnya' apakah ia mengingkari kuasa Allah, pencipta alam semesta, yang mampu menundukkan siapa pun, betapapun kuatnya'.

Tafsir Ringkas Kemenag RI


Related: Surat Al-Balad Ayat 5 Arab-Latin, Surat Al-Balad Ayat 6 Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat Al-Balad Ayat 7, Terjemahan Tafsir Surat Al-Balad Ayat 8, Isi Kandungan Surat Al-Balad Ayat 9, Makna Surat Al-Balad Ayat 10

Category: Surat Al-Balad

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!