Surat ‘Abasa Ayat 19

Text Bahasa Arab dan Latin

مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya.

Tafsir Al-Muyassar

Allah menciptakannya dari air yang sedikit (yaitu sperma),lalu allah menciptakannya dalam beberapa tahapan,

Tafsir Juz Amma (Al-Fauzan)

Dari tetesan mani ! , yaitu air yang hina dan lemah , itulah asal mereka Allah menciptakan mereka dari air mani kemudian Dia menentukan anggota badannya, dan urat-urat syarafnya, dan tulang-tulangnya, dan akalnya, dan Allah juga menentukan ajal mereka, Dia juga menentukan amalan mereka, bahkan Allah pun menetukan nasib seseorang kebahagiaan atau kesengsaraan yang akan ia hadapi, semua telah Allah tentukan sebelum manusia dilahirkan kebumi, Allah telah memperhatikan dan mementingkan penciptaan manusia, berbeda dengan penciptaan binatang dan makhluk-makhluk lainnya yang diciptakan untuk kepentingan sesaat dan selesai, adapun penciptaan manusia akan ada tanggung jawab dari masing-masing indifidu, oleh karena itu Allah menjadikan makhluk-makhluk itu tunduk kepada manusia, hanya untuk kemaslahatan manusia, , Allah telah melimpahkan kepada manusia begitu banyak rezeki, dan mengutus kepada mereka Rasul-Nya, dan diturunkan kepada mereka kitab-Nya, sungguh Allah benar-benar memperhatikan keberadaan manusia dimuka bumi, akan tetapi mereka kufur akan semua nikmat yang Allah berikan.

Maka bukanlah manusia itu sendiri yang menciptakan dirinya, dan tiada pencipta selain Allah, lalu kemudian mereka mengingkari dan berbuat kufur terhadap semua nikmat itu, mereka membangkang kepada Allah yang menciptakannya dan berlaku sombong, terhadap-Nya, oleh karenanya Hasan Al-Bashri mengatakan : "Bagaimana mungkin manusia itu berlaku sombong sedangkan dia dilahirkan kemuka bumi melalui saluran air seni laki-laki dan perempuan ?! karena bahwasanya penciptaan manusia dari mani seorang laki-laki dan mani seorang perempuam, bagaimana mungkin dia menyombongkan diri ?!

Tafsir Hidayatul Insan

Yang dimaksud dengan menentukannya ialah menentukan fase-fase kejadiannya (dari mani menjadi segumpal darah lalu menjadi segumpal daging dst.), umurnya, rezekinya, dan nasibnya.

Tafsir Kemenag

Manusia hanyalah makhluk yang sangat lemah. Allah menciptakannya dari sesuatu yang hina, yaitu setetes mani. Dia menciptakannya melalui berbagai tahapan, dari tahap alaqah yang menempel di dinding rahim, lalu berubah menjadi mudgah, kemudian tahap pembentukan tulang, kemudian tahap dibungkusnya tulang itu dengan daging, lalu Allah menentukannya dan mewujudkannya dalam bentuk yang sempurna, dilengkapi dengan panca indera, akal, dan sebagainya. 20. Setelah mewujudkan manusia dalam bentuk yang sempurna, dengan kasih sayang-Nya kemudian jalannya dia mudahkan dengan cara mengeluarkannya dari perut ibunya. Dia juga memberinya kemudahan untuk membedakan kebaikan dan keburukan agar dia memilih jalan hidupnya sendiri.

Referensi Tafsir

  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • Hidayatul Insan / Marwan bin Musa, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018