Surat An-Nazi’at Ayat 20

فَأَرَاهُ الْآيَةَ الْكُبْرَىٰ

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar.

Tafsir Al-Muyassar

Musa memperlihatkan mukjizat besar kepada fir’aun,yaitu tongkat dan tangan (yang bercahaya).

Tafsir Juz Amma (Al-Fauzan)

Musa kemudian memperlihatkan mukjizat Allah yang ada pada dirinya kepada Fir'aun yang ia tidak akan bisa mengingkarinya, Musa melemparkan tongkat yang biasa ia pakai untuk bersandar, dia melemarkanya ke hadapan Fir'aun dan tongkat itu tiba-tiba berubah wujud menjadi seekor Ular besar yang merayap dengan cepatnya, perhatikanlah bagaimana tongkat itu yang tadinya adalah benda padat seketika menjadi hewan yang lentur, Allah berkata tentang kejadian ini : { فَأَلْقَىٰ عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعْبَانٌ مُبِينٌ } ( Maka Musa menjatuhkan tongkat-nya, lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya. ) [ Al-A'raf : 108 ] itulah mukjizat yang pertama, kemudian { وَنَزَعَ يَدَهُ فَإِذَا هِيَ بَيْضَاءُ لِلنَّاظِرِينَ } ( Dan ia ( Musa ) mengeluarkan tangannya, maka ketika itu juga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya. ) [ Al-A'raf : 108 ]. Yakni ketika Musa memasukkan tangannya dan kemudian mengeluarkannya kembali, seketika muncullah cahaya dari tangan Nabi Musa yang terangnya bagaikan cahaya matahari yang menyinari bumi ,

Tafsir Juz Amma (Al-Utsaimin)

Di sinilah Allah berfirman: فَأَرَاهُ الْآيَةَ الْكُبْرَى “Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar.” Yakni Musa memperlihatkan tanda yang besar kepada Fir’aun. Tanda apakah ini? Tanda tersebut adalah sebuah tongkat dari sebatang kayu dari pohon sebagaimana sudah ma’ruf, yang apabila Musa letakkan di tanah maka kayu itu akan menjadi seekor ular yang berjalan, kemudian jika diambil maka wujudnya akan kembali menjadi kayu. Ini adalah diantara tanda-tanda kekuasaan Allah bahwa suatu benda mati yang diletakkan di tanah maka ia menjadi ular yang berjalan kemudia apabila diambil dari tanah maka akan kembali ke wujudnya semula, seperti layaknya tongkat biasa. Allah utus Musa dengan tanda kuasa-Nya tersebut, juga beliau diberi tanda kekuasaan-Nya dengan tangan bila dimasukkan ke dalam sakunya lalu dikeluarkan maka akan keluar dengan cahaya putih tanpa nampak kecacatan sedikitpun, putih bersih bukan karena penyakit namun itu adalah putih tanda kekuasaan Allah. Allah ‘Azza Wa Jalla utus beliau dengan membawa tongkat dan tangan yang putih, karena beliau berada di masa yang mana ilmu sihir sedang menyebar luas, maka Allah utus dengan sesuatu yang dapat mengalahkan para ahli sihir yang berusa menentang Musa ‘alaihissholaatu wassalaam.
Para ulama mengatakan: Pada masa Nabi Isa shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkembang pesat ilmu kedokteran, maka Isa datang dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh para dokter, yaitu tidaklah ia mengusap orang yang cacat pasti dia akan sembuh, jika didatangkan orang yang cacat permanen lalu diusaplah dengan tangannya maka orang itu akan sembuh seketika dengan izin Allah, dia dapat menyembuhkan buta dan berpenyakit kusta padahal kusta tidak ada obatnya namun ia bisa menyembuhkannya dengan izin dari Allah ‘Azza Wa Jalla. Dia menyembuhkan seorang buta yang dilahirkan tanpa mata, lebih hebat dari itu beliau dapat membangkitkan orang-orang mati dari kubur. Itu semua tidak mungkin dilampaui oleh seorang dokter pun. Oleh kerenanya tanda kuasa Allah pada masa nabi Isa sangat cocok dengan keadaan orang-orang masa itu.
Para ulama mengatakan: Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau telah datang di tengah bangsa Arab mereka berbangga bangga dengan kafasihan bahasa arab, mereka memandang bahwa kefasihan itu adalah kedudukan tertinggi seseorang. Maka datanglah Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam denga AL-Quran ini yang tidak dapat ditandingi oleh para pakar sastra bahasa arab (pujangga arab). Mereka tidak mampu mendatangkan yang serupa dengannya. Allah Ta’ala berfirman: قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا “Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”(QS. Al-Isra: 88) maknanya: andaikata setiap mereka saling membantu maka mereka tetap tidak akan mampu mendatangkan yang semisal dengan al-Quran.

Maka kita katakan: Sesungguhnya Musa ‘alaihishalaatu wa salaam, menunjukkan kepada Fir’aun tanda yang besar, namun itu semua tidak bermanfaat: وَمَا تُغْنِي الْآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ “Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”(QS. Yunus: 101) , إِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ “Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihat-Nya. ”(QS. Yasin: 11) Orang-orang yang tidak memiliki kesiapan untuk menerima hidayah maka mereka tidak akan mendapatkan hidayah meskipun didatangkan semua tanda kuasa Allah wal’iyaadzu billaah.

Tafsir Hidayatul Insan

Yaitu tangan yang bercahaya atau tongkat yang berubah menjadi ular.

Tafsir Kemenag

Fir'aun marah mendengar ajakan nabi musa dan memintanya memperlihatkan bukti kerasulannya. Nabi musa lalu memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar, yaitu tongkat yang berubah menjadi ular dan tangan yang bercahaya. 21. Fir'aun semakin marah karena merasa terhina dan harga dirinya terusik oleh kedatangan nabi musa. Bukan beriman, tetapi dia justru mendustakan nabi musa dan mendurhakai-Nya dan menuduh beliau sebagai pesihir ulung.

Referensi Tafsir

  • IN PROGRESS
  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • COMPLETED
  • Hidayatul Insan / Marwan Hadidi, M.Pd.I, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018