Surat An-Nazi’at Ayat 2

وَالنَّاشِطَاتِ نَشْطًا

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

Dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut,

Tafsir Al-Muyassar

Para malaikat yang mencabut nyawa orang orang beriman dengan semangat dan lembut,

Tafsir Juz Amma (Al-Fauzan)

Yaitu para malaikat yang mencabut nyawa orang beriman dengan lembut dan cepat sebagaimana onta yang hilang dari talinya, maka { وَالنَّاشِطَاتِ } adalah malaikat yang mencabut nyawa orang-orang mukminin, { نَشْطًا } berarti : malaikat mencabut nyawa mereka dengan mudah, tiada kesukaran yang mereka dapati.

Tafsir Juz Amma (Al-Utsaimin)

وَالنَّاشِطَاتِ نَشْطًا “dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut” Maknanya: Para malaikat yang ditugaskan mencabut nyawa orang-orang beriman, mencabut dengan lembut, maksudnya melepasnya dengan kelembutan seperti melepas simpul. Orang-orang kita (arab) menyebutnya dengan simpul pita atau istilah-istilah lainnya, yakni simpul yang bila ditarik salah satu dari ujung talinya maka ia akan terlepas. Simpul ini akan cepat terlepas. Mereka, Para Malaikat yang ditugaskan untuk mencabut nyawa orang-orang beriman melepaskannya dengan lemah lembut.
Penyebab itu adalah kerena malaikat-malaikat yang ditugaskan untuk mencabut nyawa orang-orang kafir, jika mereka memanggil nyawanya untuk keluar, mereka akan memanggil dengan panggilan-panggilan terburuk. Malaikat akan mengatakan kepada nyawa orang kafir: Keluarlah wahai jiwa yang buruk yang berada di dalam tubuh yang buruk. Keluarlah menuju amarah Allah. Maka ruh itu akan kabur, tidak ingin keluar ke sana, ia akan terpecah di dalam tubuh sehingga malaikat mencabutnya dengan kasar, malaikat mencabutnya dengan cara yang hampir mencabik-cabik tubuh karena kerasnya cara itu.
Ada pun nyawa orang-orang beriman –semoga Allah menjadikanku dan anda termasuk mereka- jika malaikat turun untuk mencabutnya, ia akan memberi kabar gembira: Keluarlah wahai jiwa yang baik yang berada di tubuh yang baik.keluarlah menuju keridhaan Allah. Maka kondisi ini akan ringan baginya untuk meninggalkan tubuhnya yang menyelimutinya, ia keluar dengan mudah.
Oleh karena itu, ketika Nabi ‘alaihisshalaatu wassalaam bersabda:
مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ كَرِهَ اللهُ لِقَاءَه. قَالَتْ عَائِشَةُ:يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّا لَنَكْرَهُ الْمَوْتَ، فَقَالَ: لَيْسَ ذلِكَ، وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا حَضَرَهُ الْمَوْتُ بُشِّرَ بِرِضْوَانِ اللهِ وَكَرَامَتِهِ فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَه، فَأَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ وَأَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ
“Barang siapa yang cinta bertemu Allah maka Allah akan cinta untuk bertemu dengannya, dan siapa saja yang membenci bertemu Allah maka Allah akan membenci bertemu dengannya” Aisyah bertanya: Ya Rasulullaah, sesungguhnya kita benci kematian, maka beliau menjawab: “ Bukan itu yang dimaksud, akan tetapi maksudnya adalah seorang mukmin apabila kematian menghadirinya, ia akan diberi kabar gembira dengan keridhaan dan kedermaan Allah, maka tidak ada sesuatu yang lebih ia cintai selain yang ada dihadapannya itu, maka ia cinta bertemu dengan Allah, dan Allah cinta bertemu dengannya ”(1) Karena seorang mukmin saat itu melihat dirinya akan berpindah ke rumah yang lebih baik dari rumah yang akan ia tinggalkan. Maka ia akan bergembira seperti jika salah seorang dari kita bergembira saat dikatakan kepadanya, pindahlah dari rumah yang terbuat dari tanah liat kerumah yang dijaga, megah, kokoh lagi bagus, maka ia gembira dan cinta akan bertemu Allah.
Sedangkan orang kafir –wal’iyadzu billah- sebaliknya. Jika diberi kabar kemarahan Allah dan siksa, maka ia akan membenci kematian, ia akan membenci bertemu Allah, maka Allah benci bertemu dengannya.

(1) Dikeluarkan Bukhari (6507) dari hadits Ubadah Bin Shamit radhiyallaahu 'anhu.

Tafsir Hidayatul Insan

Yaitu ketika mencabut nyawa orang-orang mukmin.

Tafsir Kemenag

1-5. Allah memulai surah ini dengan sumpah demi malaikat yang diberinya tugas berat. Di antara tujuannya adalah agar manusia menghayati peran-peran tersebut dalam kehidupan. Demi malaikat yang mencabut nyawa kaum kafir dengan keras dan kasar sebagai tanda kegeraman para malaikat itu terhadap mereka. Demi malaikat yang mencabut nyawa orang mukmin dengan halus dan lemah lembut sebagai tanda simpati para malaikat itu kepada mereka. Malaikat mencabut nyawa mereka sambil berkata, 'wahai jiwa yang tenang, kembalilah ke tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. ' demi malaikat yang turun dari langit dengan cepat untuk melaksanakan tugas dari Allah sembari selalu bertasbih menyucikan Allah dan mengagungkannya sepanjang waktu, dan demi malaikat yang mendahului yang lain dengan kencang, cepat, dan cekatan untuk melakukan tugas-tugasnya tanpa mengulur waktu, dan demi malaikat yang mengatur urusan dunia, seperti pengisaran angin, turunnya hujan, dan sebagainya sesuai perintah Allah

Referensi Tafsir

  • IN PROGRESS
  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • COMPLETED
  • Hidayatul Insan / Marwan Hadidi, M.Pd.I, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018