Surat An-Naba Ayat 30

Text Bahasa Arab dan Latin

فَذُوقُوا فَلَنْ نَزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

Karena itu rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab.

Tafsir Al-Muyassar

Maka rasakanlah (wahai orang orang kafir) balasan dari amal-amal kalian, kami tidak menambah untuk kalian kecuali azab di atas azab.

Tafsir Juz Amma (Al-Fauzan)

Dan setelah itu Allah mengatakan kepada mereka : maka rasakanlah (wahai orang-orang kafir) azab neraka jahannam yang pedih ini.

Dan sungguh kami tidak akan menambahkan kepada kalian selain azab, maka ketika itu mereka langsung merasa pesimis, mereka berputus asa dari memohon rahmat Allah semua harapan terputus. Dan azab neraka tidak ada keringanan bagi mereka, bahkan terus bertambah dan semakin pedih, itulah tempat kembali orang-rang kafir diakhirat nanti.

Tafsir Juz Amma (Al-Utsaimin)


فَذُوقُوا فَلَنْ نَزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا “Karena itu rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kalian selain daripada azab.” Perintah ini untuk menghinakan dan mencela, yakni dikatakan kepada penghuni neraka: Rasakanlah siksaan ini dengan hina dan cela, kami tidak akan pernah mengangkatnya dari kalian, tidak akan pula kami ringankan, kami pun tidak akan membiarkan kalian dalam keadaan yang sedang kalian alami ini, kami tidak akan menambah kecuali siksa yang lebih kuat, panjang dan macamnya. Dalam ayat yang lain diberitakan bahwa mereka akan berkata kepada para penjaga neraka jahannam: ادْعُوا رَبَّكُمْ يُخَفِّفْ عَنَّا يَوْمًا مِنَ الْعَذَابِ “Mohonkanlah kepada Tuhanmu supaya Dia meringankan azab dari kami barang sehari ” (QS. Ghafir: 49)
Cermatilah kalimat itu dari beberapa segi:
Pertama: Mereka tidak meminta kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala, mereka hanya meminta kepada para penjaga neraka jahannam agar didoakan untuk mereka, karena Allah telah berkata kepada mereka: اخْسَئُوا فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.”(QS. Al-Muminun: 108) maka mereka pun melihat bahwa mereka tidak layak untuk meminta dan memohon kepada Allah untuk diri mereka. Namun mereka memohon kepada Allah dengan perantara.
Kedua: Mereka mengatakan “mohonkanlah kepada Rabb kalian” mereka tidak mengatakan: Mohonkanlah kepada tuhan kami, karena wajah-wajah dan hati-hati mereka tidak kuasa untuk mengungkapkan atau berbicara dengan menyandingkan rububiyah (sifat ketuhanan) Allah bagi mereka, maksudnya adalah tidak bisa mengatakan Rabb kami. Mereka merasakan kecelaan dan kehinaan sehingga mereka merasa tidak pantas untuk menyandarkan rububiyah Allah kepada mereka. Mereka hanya berkata: “Rabb kalian”
Ketiga: Mereka tidak mengatakan “angkatlah siksaan ini dari kami” tapi mereka mengatakan: “ringankanlah” karena mereka –Na’udzubillaah- sudah berputus asa dari diangkatnya siksa dari mereka.
Keempat: Mereka tidak mengatakan ”Ringankanlah siksaan ini selalu” namun mereka mengatakan: “ sehari saja dari siksaan ” sehari saja, dengan demikian jelaslah bagaimana siksaan yang menimpa, kehinaan dan cela pada mereka: وَتَرَاهُمْ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا خَاشِعِينَ مِنَ الذُّلِّ يَنْظُرُونَ مِنْ طَرْفٍ خَفِي “Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan tunduk karena (merasa) hina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu.”(QS. Asy-Syura: 45) semoga Allah melindungi kita dari siksa itu.

Tafsir Hidayatul Insan

Azab yang pedih dan kehinaan yang kekal wahai orang-orang yang mendustakan.

Ayat ini merupakan ayat yang paling keras menerangkan tentang dahsyatnya azab neraka, semoga Allah melindungi kita darinya. Allahumma aamiin.

Tafsir Kemenag

Setelah Allah menjelaskan tentang keburukan perbuatan mereka, Allah mengatakan kepada mereka, 'maka karena semua perbuatan buruk yang kamu kerjakan itu rasakanlah siksa api neraka ini! maka tidak ada yang akan kami tambahkan kepadamu selain azab. Mereka ditimpa azab demi azab yang sangat pedih, menyakitkan jiwa dan raga, tidak ada jeda sedikit pun antara satu azab dan azab berikutnya. Mereka merasakannya dalam rentang waktu yang sangat lama. Inilah siksaan bagi mereka yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya. 31. Usai menjelaskan nasib para pendurhaka, Allah beralih menguraikan nasib orang bertakwa. Sungguh, orang-orang yang bertakwa dan selalu berbuat baik serta menghindari perbuatan buruk akan mendapat kemenangan dan kebahagiaan di akhirat.

Referensi Tafsir

  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • Hidayatul Insan / Marwan bin Musa, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018