Surat An-Naba Ayat 31

Text Bahasa Arab dan Latin

إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan,

Tafsir Al-Muyassar

Sesungguhnya orang orang yang takut kepada tuhan mereka dan beramal shalih mendapatkan keberuntungan dengan masuk surga.

Tafsir Juz Amma (Al-Fauzan)

Setelah Allah menyebutkan keadaan orang-orang kafir diakhirat nanti, kemudian pada ayat-ayat selanjutnya Allah menjelaskan bagaimana keadaan orang-orang mukmin setelah mereka bangkit dari kematian , bagaimana tempat kembali mereka yang telah beriman kepada Allah, mereka yang telah beriman kepada hari akhir, dan mereka telah mempersiapkan semua itu dengan mendirikan amal-amal kebaikan, menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangannya, mereka meyakini dengan keimanan bahwa akan ada azab dari Allah bagi mereka yang tidak beriman dan bertaqwa kepada-Nya.

Allah mengatakan : ( إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا ) sesungguhnya akan ada kemenangan bagi orang-orang yang bertaqwa, yaitu perlindungan dari azab pedih, bagi mereka jalan keluar dari azab neraka jahannam, yaitu ketika mereka melewati Shirot, mereka selamat, merema mampu melewatinya, dan akhirnya mereka selamat dari azab dengan kemenangan ini.

Dan bersama kemenangan ini Allah akan memberikan kepada mereka berbagai kemuliaan.

Tafsir Juz Amma (Al-Utsaimin)

Allah ‘Azza Wa Jalla menyebutkan balasan berupa kenikmatan-kenikmatan bagi orang yang bertakwa setelah Dia berfirman: إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًا لِلطَّاغِينَ مَآبًا ” Sesungguhnya neraka Jahanam itu (padanya) ada tempat pengintai, lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas” Karena al-Quran adalah al-Matsani (pembanding) jika disebutkan di dalamnya hukuman maka akan disebutkan juga pahala, jika disebutkan pahala maka akan disebutkan juga hukuman, jika disebutkan orang-orang baik maka disebutkan juga orang-orang jahat, jika disebutkan kebenaran maka akan disebutkan juga kebatilan, pembanding sehingga perjalanan manusia kepada Rabbnya seimbang antara takut dan berharap, karena jika rasa berharap lebih mendominasi dirinya ia akan merasa aman dari makar Allah dan jika rasa takut yang lebih dominan maka ia akan terjatuh pada keputus asaan dari rahmat Allah, kedua sifat ini (merasa aman dari makar Allah dan putus asa dari rahmat-Nya) termasuk dosa-dosa besar, keduanya adalah keburukan.
Imam Ahmad Bin Hanbal rahimahullah mengatakan: “ Selayaknya ibadah seorang insan kepada Rabb nya berputar antara takut dan berharap, jika salah satunya lebih dominan maka ia akan binasa ”
Oleh karenanya, Al-Quran al-Karim datang dengan kedua kondisi itu, agar jiwa-jiwa ini tidak merasa bosan dengan hanya disebutkan satu kondisi saja, dan rinciannya tanpa menyebutkan perkara yang bertolak belakang dengannya, dan begitulah al-Quran. Agar setiap insan yang membaca Al-Quran dengan harapan dan kekhawatiran. Ini adalah di antara bentuk tingginya bahasa Al-Quran al-Karim.
إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan,” Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang takut hukuman Allah, yang diwujudkan dengan melakukan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, terkadang Allah memerintahkan agar takut kepada-Nya, terkadang memerintahkan agar takut kepada hari perhitungan, terkadang memerintahkan agar takut kepada neraka. Allah Ta’ala berfirman: وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (130) وَاتَّقُوا النَّارَ “dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Dan peliharalah dirimu dari api neraka,”(QS. Ali Imran: 130-131) Allah mengumpulkan antara perintah agar takut kepada-Nya dan takut kepada api neraka. Allah Ta’ala juga berfirman: وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ “Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah.”(QS. Al-Baqoroh: 281) Allah memerintahkan agar takut kepada hari perhitungan. Semua itu berporos pada satu makna yaitu: Seorang insan takut kepada perkara-perkara yang diharamkan Rabb-nya, seihingga ia melakukan ketaatan kepada-Nya dan berhenti dari kemaksiatan kepada-Nya. Orang yang bertakwa adalah mereka yang melaksanakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan Allah, mereka akan meperoleh مَفَازًا [Mafaaza]“Kemenangan” dan al-Mafaaz adalah tempat dan waktu menang, mereka menang di tempat-tempat mereka dan mereka menang di hari-hari mereka.

Tafsir Hidayatul Insan

Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan keadaan orang-orang yang berdosa, maka Dia menyebutkan keadaan orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang menjaga diri mereka dari kemurkaan Tuhannya dengan menaati-Nya dan menahan diri dari apa yang dimurkai-Nya. Untuk mereka mafaaz, yaitu tempat kemenangan yang tidak lain adalah surga, dimana di dalamnya mereka memperoleh kebun-kebun, buah anggur, dan lain-lain seperti yang disebutkan dalam ayat selanjutnya.

Yaitu mendapatkan surga.

Tafsir Kemenag

Usai menjelaskan nasib para pendurhaka, Allah beralih menguraikan nasib orang bertakwa. Sungguh, orang-orang yang bertakwa dan selalu berbuat baik serta menghindari perbuatan buruk akan mendapat kemenangan dan kebahagiaan di akhirat. 32. Kemenangan dan kebahagiaan yang akan mereka dapatkan di antaranya berupa kebun-kebun yang rindang, indah, damai, dan sejuk; dan buah anggur yang kelezatan rasanya sangat berbeda dari anggur dunia meski memiliki sebutan yang sama. Inilah bentuk kenikmatan lingkungan dan makanan di surga.

Referensi Tafsir

  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • Hidayatul Insan / Marwan bin Musa, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018