Surat An-Naba Ayat 2

Text Bahasa Arab dan Latin

عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

Tentang berita yang besar,

Tafsir Al-Muyassar

Mereka saling bertanya tentang sebuah berita besar,yaitu al-quran yang agung yang mengabarkan tentang kebangkitan yang di ragukan

Tafsir Juz Amma (Al-Fauzan)

Yaitu tentang kebangkitan setelah kematian, bangkitnya manusia dari kubur mereka untk menghadap Tuhan semesta alam, untuk dihitung amalan mereka dan mereka akan mendapat balasan.

Ketika orang-orang kafir mendengarkan kabar ini mereka pun mengingkarinya dengan seburuk-buruknya pengingkaran, lalu mereka saling bertanya tentang berita yang menakjubkan ini yang sangat jarang mereka dengarkan, karena telah datang kepada mereka perkara yang tidak pernah masuk ke otak dan pikiran mereka, ketika seorang Nabi memberitakan bahwa mereka akan dibangkitkan kembali setelah kematian, kemudian mereka akan berpindah ke alam lain, selain dari alam dunia; mereka takjub akan bangkitnya orang-orang mati setelah mereka berganti wujud menjadi abu dan tulang belulang dan akhirnya musnah didalam tanah, mereka takjub akan hal ini. Allah berfirman dalam surah al-Waqi'ah : 47-48 ( (أَئِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ  (47) أَوَآبَاؤُنَا الْأَوَّلُونَ(48 )  apakah bila kami mati dan menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami akan benar-benar dibangkitkan kembali ?; apakah bapak-bapak kami yang terdahulu (juga) ?. Dan mereka mengatakan : ini tidak mungkin terjadi, dan tidak masuk akal, ini mustahil; itu dikarenakan ketidaktahuan mereka akan kekuasaan  Allah yang mampu melakukan hal itu dan tidak ada satupun yang bisa melemahkan-Nya, mereka (orang-orang kafir) tidak berpikir bahwasanya mereka diciptakan dari sesuatu yang tidak ada; maka yang menciptakan mereka pertama kali mampu menciptakan  mereka kembali dari kematiaan bahkan itu hal yang lebih mudah, akan tetapi orang-orang kafir tidak pernah memikirkan akan hal ini dikarenakan akal mereka yang pendek, mereka sekali kali tidak beriman kepada yang ghaib, juga tidak mengetahui kekuasaan Allah yang tidak satupun akan mampu melemahkannya.

Dan keparahan pegingkaran mereka terhadap peringatan yang datang, mereka saling bertanya-tanya dan membahas hal itu di majlis-majlis mereka : perkataan apa yang dibawa oleh laki-laki (Nabi) ini ?! Allah berfirman  dalam surah al-Mu'minun : 35-36  ( (أَيَعِدُكُمْ أَنَّكُمْ إِذَا مِتُّمْ وَكُنتُمْ تُرَابًا وَعِظَامًا أَنَّكُم مُّخْرَجُونَ  (35) هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ لِمَا تُوعَدُونَ (36)  Apakah ia menjanjikan kepada kamu sekalian, bahwa bila kamu telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang, kamu sesungguhnya akan dikeluarkan (dari kuburmu)? ; jauh, jauh sekali (dari kebenaran) apa yang diancamkan kepada kamu, sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Hud, dan juga kaum-kaum sebelum mereka, mereka mengikuti orang-orang kafir yang pernah ada.

Oleh karena itu Allah berfirman ( عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ ) tentang apakah mereka saling bertanya-tanya ?, mereka saling bertanya-tanya tentang hal yang  tidak berwujud, dan tidak ada, ini adalah pertanyaan pengingkaran atas mereka; bagaimana mungkin mereka bertanya-tanya akan hal ini, sungguh mereka tidak membayangkan akan kekuasaan Allah, dan apakah Allah menciptakan alam semesta tanpa ada hikmah dari penciptaan itu !  menciptakan mereka hanya untuk hidup didunia ini, mereka makan dan minum, mereka tumbuh dewasa, dan mereka durhaka, menciptakan  mereka kemudian Dia meninggalkan mereka begitu saja ?!

Sudah seharusnya dari setiap penciptaan ada hikmah dan hasil yang diinginkan, yaitu : kebangkitan dan balasan terhadap apa yang mereka kerjakan ketika didunia, karena sesunguhnya amalan-amalan yang mereka kerjakan tidak akan sia-sia, dan mereka (orang-orang kafir) menyangka bahwa  Allah menciptakan mereka secara main-main, Allah berfirman dalam surah al-Mu'minun : 115 (أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ ) maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? adalah suatu kesia-siaan jika Allah menciptakan alam semesta yang luas, dan manusia lega akan hal itu, bahagia, minum, makan, berbuat dusta, melakukan kekufuran, berbuat syirik, dan juga kezhaliman, kemudian Allah meninggalkan mereka begitu saja.

Atau Allah menyia-nyiakan orang-orang beriman yang mengorbankan jiwa raga mereka untuk beramal shalih, mereka meghabiskan masa-masa hidup mereka dengan segala kebaikan, kemudian Allah meninggalkan mereka tanpa adanya balasan dan ganjaran, sungguh Allah tidak mungkin berbuat demikian.

Orang-orang kafir saling bertanya-tanya tentang berita yang besar yaitu : berita yang menakjubkan yang dibawakan oleh Rasulullah Muhammad, dan juga para Rasul-rasul sebelumnya kepada ummat mereka, yaitu tentang kebangkitan setelah kematian.

Dan sesungguhnya Rasulullah Muhammad tidaklah membawa hal baru dalam dakwahnya, akan tetapi dia menyampaikan apa yang para Rasul sebelumnya pernah kabarkan kepada ummatnya, tujuan dari itu semua ialah kasih sayang para Rasul kepada ummatnya, agar mereka bersiap menghadapi kenyataan dari berita ini, agar mereka mempersiapkan diri mereka, dan tidak hanya sekedar makan dan minum serta besenang-senang di dunia, menjauhi segala hayalan tentang kesenangan lain yang akan diperbuat, demi memakmurkan hidup mereka di dunia, saling berlomba-lomba dalam merebut segala kehinaan dunia, menciptakan dan membuat hal baru, dan menyangka bahwa tidak ada penghabisan setelah kehidupan dunia, mereka menyangka bahwa tidak akan ada kiamat serta hari kebangkitan setelah kehidupan dunia.

Dan bentuk kasih sayang Allah kepada hambanya bahwa Dia tidak meninggalkan mereka begitu saja tenggelam dalam kefanaan dunia, akan tetapi Dia (Allah) mengingatkan mereka akan adanya kebangkitan setelah kematian dan juga balasan atas apa yang mereka lakukan di dunia, memerintahkan  hamba-Nya agar mempersiapkan diri dengan melakukan segala amalan kebaikan, agar mereka bertaubat dari dosa dan kesalahan yang mereka lakukan, semua itu adalah kasih sayang Allah kepada hambanya, dan kebaikan ALlah kepada hambanya ialah dengan mengutus para Rasul serta menurunkan kitab suci sebagai pedoman dan pembimbing bagi mereka kepada  jalan kebahagiaan, agar mereka mempersiapkan diri untuk menghadapi segala apa yang akan terjadi dihadapan mereka, akan tetapi mereka tidak menghiraukan akan hal itu dan menyia-nyiakannya, mereka hanya menyibukkan diri dengan kesenangan dunia yang hina,  mereka berlomba-lomba memperebutkan kekayaan dunia, mereka mengikuti dan mejadi hamba atas diri dan nafsu mereka,  akal dan fikiran mereka hanya fokus pada tawaran-tawaran dunia, dan mereka sama sekali tidak memikirkan apa yang akan mereka hadapi setelah kematian.

Dan pada hakikatnya setiap manusia leluasa menentukan pilihannya untuk mengambil kenikmatan dunia bagi dirinya, dan merupakan sebuah pemanfaatan yang tepat jikalau kenikmatan itu iya gunakan untuk mempermudah baginya dalam melakukan amal shalih, dan bukanlah menjadi tujuan ketika ia berjuang untuk menggapai nikmat dunia akan tetapi ia melupakan kehidupan akhirat begitupun sebaliknya ketika ia menyibukkan diri untuk akhiratnya mempersiapkan dirinya untuk itu akan tetapi ia lupa bahwa ada tanggung jawab yang harus ia lakukan didunia ini, maka seharusnya ia menggambil dari kenikmatan dunia sesuai apa yang dapat memudahkannya dalam beramal shalih.

Inilah akal yang baik, dan inilah yang para Rasul ajarkan kepada ummatnya.

Tafsir Juz Amma (Al-Utsaimin)

Kemudian Allah ‘Azza Wa Jalla menjawab pertanyaan ini, dengan firman-Nya:
{ عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ (2) الَّذِي هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَ }
”Tentang berita yang besar, yang mereka perselisihkan tentang ini” (QS. An-Naba:2-3)

Berita ini maksudnya adalah berita yang datang dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berupa penjelasan-penjelasan dan petunjuk terutama kabar berita yang berkaitan tentang hari akhir, kebangkitan dan pembalasan. Orang-orang berselisih tentang berita ini yang telah datang dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dari mereka ada yang beriman dan membenarkannya, dan dari mereka ada yang kufur dan mendustakannya, di antara mereka juga ada yang ragu-ragu tentangnya. Maka Allah di sini menjelaskan bahwa mereka yang mendustakan akan mengetahui tentang berita yang mereka dustakan dengan sangat yakin, itu terjadi saat hari kiamat tiba:
هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا تَأْوِيلَهُ يَوْمَ يَأْتِي تَأْوِيلُهُ يَقُولُ الَّذِينَ نَسُوهُ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ
“Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al Qur'an itu (tentang hari kiamat), berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu: "Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa yang hak”(QS. Al-A’raf: 53)

Tafsir Hidayatul Insan

Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan tentang sesuatu yang mereka pertanyakan itu.

Yakni tentang apa yang dibawa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berupa Al Qur’an yang menyebutkan tentang kebangkitan, pembalasan dan lain-lain yang merupakan kebenaran tanpa keraguan lagi. Akan tetapi, orang-orang yang mendustakan pertemuan Tuhan mereka tetap saja tidak beriman, meskipun didatangkan setiap ayat sampai mereka melihat azab yang pedih.

Referensi Tafsir

  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • Hidayatul Insan / Marwan bin Musa, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018