Surat Shad Ayat 1

ص ۚ وَالْقُرْآنِ ذِي الذِّكْرِ

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

Shaad, demi Al Quran yang mempunyai keagungan.

Tafsir Al-Muyassar

1-2 (shad) pembicaraan tentang huruf-huruf yang terpisah-pisah (diawal surat seperi ini) telah hadir di awal surat al-baqarah.
Allah swt bersumpah dengan al-qur’an yang berisi tentang peringatan manusia dari apa-apa yang mereka lalaikan. tetapi orang-orang kafir itu justru menyombongkan diri di depan kebenaran dan menyimpang darinya.

Tafsir Hidayatul Insan

Ayat ini menerangkan tentang keadaan Al Qur'an, keadaan orang-orang yang mendustakannya dan keadaan orang yang datang membawanya.

Yakni memiliki kedudukan yang agung, mulia dan mengingatkan segala yang dibutuhkan manusia, seperti pengetahuan tentang nama-nama Allah, sifat-Nya dan perbuatan-Nya. Demikian pula pengetahuan tentang hukum-hukum syar’i dan pengetahuan tentang hukum-hukum jaza’i (pembalasan) di akhirat. Ia mengingatkan kepada mereka ushul (dasar-dasar) agama mereka dan furu’(cabang-cabang)nya. Di ayat ini tidak perlu menyebutkan hal yang disumpahi, karena hakikatnya yakni yang dipakai bersumpah dan hal yang disumpahi sama, yaitu Al Qur’anul Karim yang disifati dengan sifat yang agung ini. Jika demikian keadaan Al Qur’an, maka dapat diketahui secara pasti bahwa manusia butuh sekali kepadanya, bahkan di atas semua kebutuhan. Oleh karena itu, mereka wajib mengimani dan membenarkannya serta mendatanginya. Maka Allah menunjuki orang yang Dia beri petunjuk kepada Al Qur’an ini, akan tetapi orang-orang kafir malah bersikap sombong dari beriman kepadanya dan memusuhi orang yang membawanya (Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam) serta berusaha membantahnya.

Tafsir Kemenag

Pada ayat terakhir surah a'-''ff't Allah menjelaskan perjuangan rasulullah dan sahabat dalam menegakkan ajaran tauhid. Meski mendapat tantangan besar, tetapi dengan kesabaran dan kegigihan me-reka akhirnya memperoleh kemenangan. Tema itu dilanjutkan dengan pembicaraan pada awal surah ini yang menegaskan bahwa upaya orang kafir menghalangi tersebarnya ajaran tauhid pasti berakhir dengan kehancuran. 2. Sekalipun mengetahui kedudukan Al-Qur'an, tetapi orang-orang yang kafir tetap dalam kesombongan mereka dengan mengingkari wahyu dan menampakkan permusuhan terhadap rasulullah dan ajaran yang di-sampaikannya. Mereka berbuat demikian salah satunya karena mere-ka menialai ajaran nabi mengancam eksistensi agama nenek moyang mereka dan patung sesembahan mereka.

Referensi Tafsir

  • IN PROGRESS
  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • COMPLETED
  • Hidayatul Insan / Marwan Hadidi, M.Pd.I, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018