Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Ayat Tentang Persahabatan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ ۗ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Arab-Latin: yā ayyuhallażīna āmanū anfiqụ mimmā razaqnākum ming qabli ay ya`tiya yaumul lā bai'un fīhi wa lā khullatuw wa lā syafā'ah, wal-kāfirụna humuẓ-ẓālimụn

Terjemah Arti: Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa'at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarakan rasulNya, serta mengamalkan petunjuk ajaranNya, keluarkanlah zakat yang wajib dan bersedekahlah kalian dengan apa yang Allah berikan kepada kalian sebelum datangnya Hari Kiamat, yaitu ketika tidak ada lagi jual beli yang mendatangkan keuntungan, dan tidak ada harta yang dapat kalian gunakan untuk menebus diri kalian dari siksaan Allah dan tidak ada hubungan persahabatan dengan kawan karib yang akan menolong kalian, dan tidak ada pemberi syafaat yang memberi hak untuk meringankan siksaan dari kalian. Dan orang-orang kafir itu adalah orang-orang yang berbuat kedzhaliman lagi melampaui batas-batas Allah. (Tafsir al-Muyassar)

wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarakan rasulNya, serta mengamalkan petunjuk ajaranNya, keluarkanlah zakat yang wajib dan bersedekahlah kalian dengan apa yang Allah berikan kepada kalian sebelum datangnya Hari Kiamat, yaitu ketika tidak ada lagi jual beli yang mendatangkan keuntungan, dan tidak ada harta yang dapat kalian gunakan untuk menebus diri kalian dari siksaan Allah dan tidak ada hubungan persahabatan dengan kawan karib yang akan menolong kalian, dan tidak ada pemberi syafaat yang memberi hak untuk meringankan siksaan dari kalian. Dan orang-orang kafir itu adalah orang-orang yang berbuat kedzhaliman lagi melampaui batas-batas Allah. (Zubdatut Tafsir)

قُلْ لِعِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا يُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خِلَالٌ

qul li'ibādiyallażīna āmanụ yuqīmuṣ-ṣalāta wa yunfiqụ mimmā razaqnāhum sirraw wa 'alāniyatam ming qabli ay ya`tiya yaumul lā bai'un fīhi wa lā khilāl

Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: "Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada bari itu tidak ada jual beli dan persahabatan.

Katakanlah wahai rasul, kepada hamba-hambaKu yang beriman, agar mereka menjalankan shalat dengan aturan-aturannya dan mengeluarkan sebagian yang Kami berikan kepada mereka dalam pos-pos kebajikan yang wajib maupun yang Sunnah, baik dengan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, sebelum hari kiamat datang pada hari itu tidak akan bermanfaat tebusan maupun hubungan pertemanan. (Tafsir al-Muyassar)

Katakanlah wahai rasul, kepada hamba-hambaKu yang beriman, agar mereka menjalankan shalat dengan aturan-aturannya dan mengeluarkan sebagian yang Kami berikan kepada mereka dalam pos-pos kebajikan yang wajib maupun yang Sunnah, baik dengan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, sebelum hari kiamat datang pada hari itu tidak akan bermanfaat tebusan maupun hubungan pertemanan. (Zubdatut Tafsir)

31. Wahai Nabi, katakanlah kepada mereka, yaitu hamba-hambaKu yang beriman kepada Allah dan hari akhir: “Dirikanlah shalat fardhu dengan sempurna, bersedekah dan berzakatlah kalian di saat rahasia dan terang-terangan sebelum datangnya hari kiamat yang sudah tidak ada harapan dan persahabatan yang bermanfaat di dalamnya.” (Tafsir al-Wajiz)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ ۙ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي ۚ تُسِرُّونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنْتُمْ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ

yā ayyuhallażīna āmanụ lā tattakhiżụ 'aduwwī wa 'aduwwakum auliyā`a tulqụna ilaihim bil-mawaddati wa qad kafarụ bimā jā`akum minal-ḥaqq, yukhrijụnar-rasụla wa iyyākum an tu`minụ billāhi rabbikum, ing kuntum kharajtum jihādan fī sabīlī wabtigā`a marḍātī tusirrụna ilaihim bil-mawaddati wa ana a'lamu bimā akhfaitum wa mā a'lantum, wa may yaf'al-hu mingkum fa qad ḍalla sawā`as-sabīl

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.

1. Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan rasulNya serta melaksanakan syariatNya, jangan mengangkat musuhKu dan musuh kalian sebagai orang-orang terdekat dan terkasih kalian, yang mana kalian memberikan kasih sayang kepada mereka, kalian mengabari mereka tentang berita-berita Rasulullah dan rahasia-rahasia kaum Muslimin, padahal mereka telah kafir kepada kebenaran yang telah datang kepada kalian, yaitu iman kepada Allah dan rasulNya dan al-Quran yang turun kepada Rasulullah, dan mereka juga mengusir Rasulullah dan mengusir kalian (wahai orang-orang beriman) dari Makkah, karena kalian membenarkan Allah, Tuhan kalian dan mentauhidkanNya. Bila kalian (wahai orang-orang Mukmin) berhijrah dalam rangka berjihad di jalanNya, mencari ridhaKu kepada kalian, maka jangan memberikan loyalitas kepada musuh-musuhKu dan musuh-musuh kalian, yang kepada mereka kalian memberikan kasih sayang secara rahasia sedangkan Aku lebih mengetahui apa yang kalian rahasiakan dan yang kalian perlihatkan. Barangsiapa melakukannya di antara kalian, maka dia telah keliru dari jalan yang haq dan kebenaran serta tersesat dari jalan yang lurus. (Tafsir al-Muyassar)

1. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian jadikan musuh-Ku dan sebernarnya musuh kalian juga, yaitu golongan kafir atau musyrik dan tidak beriman kepada Allah dan kitab-Nya sebagai sahabat dan penolong. Kata al aduwwu menunjukkan makna tunggal dan jamak. Kalian justru menyampaikan kabar tentang Muhammad dan orang mukmin kepada mereka dengan rasa persahabatan kepada mereka. Kalian menyampaikan rahasia kaum mukmin atas dasar rasa saling mencintai antara kalian dan orang-orang kafir. Padahal mereka telah mengingkari kebenaran yang Aku turunklan kepada kalian. Yaitu agama Islam dan kitab suci Alquran. Mereka juga telah mengusir kalian dan rasul dari kota Makkah. Maka jika kalian memang benar-benar berniat untuk jihad di jalan-Ku dan hanya mencari keridhoan-Ku, maka jangan jadikan musuh-Ku sebagai sahabat dan penolong bagi kalian. Kalian telah menyampaikan rahasia orang mukmin kepada mereka atas dasar rasa cinta kepada orang kafir. Sesungguhnya Allah Maha Tahu atas semua yang kalian sembunyikan dalam hati ataupun yang kalian tampakkan. Ini adalah ungkapan untuk menakuti mereka, bahwa Allah Maha Tahu atas segala apapun. Barang siapa menjadikan orang kafir sebagai sahabat atau penolong, maka sungguh dia telah menyimpang dari jalan kebenaran yang lurus. Ayat ini turun untuk Hatib bin Abi Baltaah ketika dia menyampaikan rahasia / informasi tentang Nabi mengenai penyerangan/perang alfath tahun 8 Hijriah (Tafsir al-Wajiz)

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا

wa yauma ya'aḍḍuẓ-ẓālimu 'alā yadaihi yaqụlu yā laitanittakhażtu ma'ar-rasụli sabīlā

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul".

27-29. Dan ingatlah (wahai Rasul) pada hari orang yang berbuat kezhaliman terhadap dirinya akan menggigit dua tangannya lantaran penyesalan dan kekecewaan, sembari berkata, “Celaka aku, seandainya aku dulu mau mendampingi Rasulullah Muhammad dan mengikutinya untuk menjadikan Islam sebagai jalan menuju surga.”. Dan ia merasakan penyesalan mendalam seraya berkata,”Sekiranya aku dulu tidak menjadikan orang kafir si Fulan itu sebagai teman dekat yang aku ikuti dan aku cintai. Sesungguhnya teman akrab itu telah menyimpangkan diriku dari al-Qur’an setelah datang kepadaku. Dan setan yang terlaknat itu adalah makhluk yang selalu tidak mau menolong manusia.” Dalam ayat-ayat ini terkandung satu peringatan dari menjalin persahabatan dengan teman yang buruk, karena sesungguhnya dia bisa menjadi penyebab teman dekatnya masuk neraka. (Zubdatut Tafsir)

27. Hari dimana setiap orang zalim menggigit tangannya karena menyesal dan meratap itu adalah hari kiamat. Termasuk di dalamnya adalah Uqbah bin Abi Mu’ayth yang masuk Islam kemudian murtadh lagi untuk menyenangkan Ubay bin Khalaf. Dia berkata: “Andai saja aku mengambil jalan menuju hidayah dan kemenangan bersama Muhammad”. Ayat ini diturunkan saat Uqbah bin Mu’ayth mengucapkan dua kalimat syahadat, lalu dia diperingatkan oleh sahabatnya Ubay bin Khalaf dan berkata: ”Apakah kamu keluar dari kepercayaanmu (menyembah berhala)?”, Lalu Uqbah menjawab: “Tidak” (Tafsir al-Wajiz)

يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا

yā wailatā laitanī lam attakhiż fulānan khalīlā

Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku).

27-29. Dan ingatlah (wahai Rasul) pada hari orang yang berbuat kezhaliman terhadap dirinya akan menggigit dua tangannya lantaran penyesalan dan kekecewaan, sembari berkata, “Celaka aku, seandainya aku dulu mau mendampingi Rasulullah Muhammad dan mengikutinya untuk menjadikan Islam sebagai jalan menuju surga.”. Dan ia merasakan penyesalan mendalam seraya berkata,”Sekiranya aku dulu tidak menjadikan orang kafir si Fulan itu sebagai teman dekat yang aku ikuti dan aku cintai. Sesungguhnya teman akrab itu telah menyimpangkan diriku dari al-Qur’an setelah datang kepadaku. Dan setan yang terlaknat itu adalah makhluk yang selalu tidak mau menolong manusia.” Dalam ayat-ayat ini terkandung satu peringatan dari menjalin persahabatan dengan teman yang buruk, karena sesungguhnya dia bisa menjadi penyebab teman dekatnya masuk neraka. (Zubdatut Tafsir)

28. Kecelakaanlah aku, hancurlah aku (dimaksudkan sebagai penyesalan karena mengikuti keburukan). Andai saja aku tidak menjadikan fulan sebagai sahabat dan teman. (Tafsir al-Wajiz)

لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا

laqad aḍallanī 'aniż-żikri ba'da iż jā`anī, wa kānasy-syaiṭānu lil-insāni khażụlā

Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.

27-29. Dan ingatlah (wahai Rasul) pada hari orang yang berbuat kezhaliman terhadap dirinya akan menggigit dua tangannya lantaran penyesalan dan kekecewaan, sembari berkata, “Celaka aku, seandainya aku dulu mau mendampingi Rasulullah Muhammad dan mengikutinya untuk menjadikan Islam sebagai jalan menuju surga.”. Dan ia merasakan penyesalan mendalam seraya berkata,”Sekiranya aku dulu tidak menjadikan orang kafir si Fulan itu sebagai teman dekat yang aku ikuti dan aku cintai. Sesungguhnya teman akrab itu telah menyimpangkan diriku dari al-Qur’an setelah datang kepadaku. Dan setan yang terlaknat itu adalah makhluk yang selalu tidak mau menolong manusia.” Dalam ayat-ayat ini terkandung satu peringatan dari menjalin persahabatan dengan teman yang buruk, karena sesungguhnya dia bisa menjadi penyebab teman dekatnya masuk neraka. (Tafsir al-Muyassar)

27-29. Dan ingatlah (wahai Rasul) pada hari orang yang berbuat kezhaliman terhadap dirinya akan menggigit dua tangannya lantaran penyesalan dan kekecewaan, sembari berkata, “Celaka aku, seandainya aku dulu mau mendampingi Rasulullah Muhammad dan mengikutinya untuk menjadikan Islam sebagai jalan menuju surga.”. Dan ia merasakan penyesalan mendalam seraya berkata,”Sekiranya aku dulu tidak menjadikan orang kafir si Fulan itu sebagai teman dekat yang aku ikuti dan aku cintai. Sesungguhnya teman akrab itu telah menyimpangkan diriku dari al-Qur’an setelah datang kepadaku. Dan setan yang terlaknat itu adalah makhluk yang selalu tidak mau menolong manusia.” Dalam ayat-ayat ini terkandung satu peringatan dari menjalin persahabatan dengan teman yang buruk, karena sesungguhnya dia bisa menjadi penyebab teman dekatnya masuk neraka. (Zubdatut Tafsir)

29. Sungguh sahabat ini menjauhkanku untuk beriman kepada Allah, dan mengingat Allah dan Al-Qur’an, setelah datangnya orang yang menunjukkanku kepada hal itu. Dan setan itu banyak membiarkan orang yang menaatinya dan menelantarkan setiap orang yang mengikutinya sampai menuju kehancuran. (Tafsir al-Wajiz)

وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَىٰ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ ۖ يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ

wa iżā sami'ụ mā unzila ilar-rasụli tarā a'yunahum tafīḍu minad-dam'i mimmā 'arafụ minal-ḥaqq, yaqụlụna rabbanā āmannā faktubnā ma'asy-syāhidīn

Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s. a. w.).

Dan diantara hal yang menunjukan kedekatan persahabatan mereka dengan kaum muslimin adalah bahwa sesungguhnya segolongan dari mereka (Yaitu utusan orang-orang habsyah ketika menyimak al-qur’an), mata mereka bercucuran air mata, mereka meyakini bahwa sesunggunya itu adalah kebenaran yang diturunkan dari sisi Allah  dan mereka beriman kepada Allah dan mengikuti RasulNya, serta tunduk memohon kepada Allah agar berkenan memuliakan mereka dengan kemuliaan bersaksi bersama umat Muhammad  atas umat-umat terdahulu pada hari kamat. (Tafsir al-Muyassar)

Dan diantara hal yang menunjukan kedekatan persahabatan mereka dengan kaum muslimin adalah bahwa sesungguhnya segolongan dari mereka (Yaitu utusan orang-orang habsyah ketika menyimak al-qur’an), mata mereka bercucuran air mata, mereka meyakini bahwa sesunggunya itu adalah kebenaran yang diturunkan dari sisi Allah  dan mereka beriman kepada Allah dan mengikuti RasulNya, serta tunduk memohon kepada Allah agar berkenan memuliakan mereka dengan kemuliaan bersaksi bersama umat Muhammad  atas umat-umat terdahulu pada hari kamat. (Zubdatut Tafsir)

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا ۚ وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُولَٰئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ ۖ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

wa lā tangkiḥul-musyrikāti ḥattā yu`minn, wa la`amatum mu`minatun khairum mim musyrikatiw walau a'jabatkum, wa lā tungkiḥul-musyrikīna ḥattā yu`minụ, wa la'abdum mu`minun khairum mim musyrikiw walau a'jabakum, ulā`ika yad'ụna ilan-nāri wallāhu yad'ū ilal-jannati wal-magfirati bi`iżnih, wa yubayyinu āyātihī lin-nāsi la'allahum yatażakkarụn

Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.

Dan janganlah kalian (wahai kaum muslimin), menikahi wanita-wanita musyrik, wanita-wanita para penyembah berhala, sampai mereka mau masuk ke dalam Islam. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya wanita budak sahaya, yang tidak memiliki harta dan kedudukan tinggi, yang beriman kepada Allah, lebih baik daripada wanita musyrik, walaupun (pesona) wanita musyrik yang merdeka itu mengundang decak kagum kalian. Dan janganlah kalian menikahkan wanita-wanita muslimah (baik merdeka ataupun hamba sahaya) dengan lelaki-lelaki musyrikin, sehingga mereka mau beriman kepada Allah dan rasul Nya. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya seorang budak lelaki beriman, meskipun dia miskin dia tetap lebih baik daripada lelaki musyrik, meskipun lelaki musyrik itu membuat kalian terkagum-kagum kepadanya. Orang-orang yang memiliki keyakinan syirik, lelaki maupun perempuan, menyeru orang yang mempergauli mereka kepada sesuatu yang menyeret kepada neraka, Sedangkan Allah subhanahu wata’ala menyeru hamba-hamba Nya kepada agama Nya yang Haq yang mendorong mereka masuk surga dan ampunan bagi dosa-dosa mereka, dan Dia menerangkan ayat-ayat dan hukum-hukum pada sekalian manusia, agar mereka mengingat dan dapat mengambil pelajaran. (Tafsir al-Muyassar)

Dan janganlah kalian (wahai kaum muslimin), menikahi wanita-wanita musyrik, wanita-wanita para penyembah berhala, sampai mereka mau masuk ke dalam Islam. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya wanita budak sahaya, yang tidak memiliki harta dan kedudukan tinggi, yang beriman kepada Allah, lebih baik daripada wanita musyrik, walaupun (pesona) wanita musyrik yang merdeka itu mengundang decak kagum kalian. Dan janganlah kalian menikahkan wanita-wanita muslimah (baik merdeka ataupun hamba sahaya) dengan lelaki-lelaki musyrikin, sehingga mereka mau beriman kepada Allah dan rasul Nya. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya seorang budak lelaki beriman, meskipun dia miskin dia tetap lebih baik daripada lelaki musyrik, meskipun lelaki musyrik itu membuat kalian terkagum-kagum kepadanya. Orang-orang yang memiliki keyakinan syirik, lelaki maupun perempuan, menyeru orang yang mempergauli mereka kepada sesuatu yang menyeret kepada neraka, Sedangkan Allah subhanahu wata’ala menyeru hamba-hamba Nya kepada agama Nya yang Haq yang mendorong mereka masuk surga dan ampunan bagi dosa-dosa mereka, dan Dia menerangkan ayat-ayat dan hukum-hukum pada sekalian manusia, agar mereka mengingat dan dapat mengambil pelajaran. (Zubdatut Tafsir)

Related: Sampaikanlah Walau Satu Ayat Arab-Latin, Ayat Tentang Bayi Baru Lahir Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Ayat Tentang Ibadah, Terjemahan Tafsir Ayat Tentang Poligami

Category: Tafsir Topik

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!