Ayat Tentang Anak Yang Shalih

فَلَمَّآ ءَاتَىٰهُمَا صَٰلِحًا جَعَلَا لَهُۥ شُرَكَآءَ فِيمَآ ءَاتَىٰهُمَا ۚ فَتَعَٰلَى ٱللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Arab-Latin: fa lammā ātāhumā ṣāliḥan ja'alā lahụ syurakā`a fīmā ātāhumā, fa ta'ālallāhu 'ammā yusyrikụn

Terjemah Arti: Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maka Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Tafsir Ayat Tentang Anak Yang Shalih

Sesudah Allah memberikan rizki kepada pasangan suami istri tersebut berupa anak shalih, mereka berdua justru mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah terhadap anak yang hanya Allah sendiri yang menciptakannya. Mereka menjadikan peribadahannya kepada selain Allah. Maka Maha tinggi Allah dan Maha suci dari segala sekutu. (Tafsir al-Muyassar)

Maka tatkala Allah mengabulkan doa mereka berdua dan memberi mereka seorang anak yang baik sebagaimana doa yang mereka panjatkan, tiba-tiba keduanya menyekutukan Allah dengan sembahan-sembahan lain-Nya terkait apa yang Allah berikan kepada mereka berdua. Mereka menjadikan anak mereka sebagai hamba bagi selain Allah. Mereka memberi nama anak mereka 'Abdul Ḥāriṡ (Hamba Petani). Mahatinggi Allah dan Mahasuci Dia dari segala sesuatu yang dijadikan sekutu bagi-Nya. Karena Dia lah satu-satu-Nya pemilik sifat rubūbiyyah dan ulūhiyyah. (Tafsir al-Mukhtashar)

190 Tatkala Allah memberi kepada suami istri (bukan Adam dan Hawa: keturunan Bani Adam) seorang anak yang sempurna, saleh dan sehat, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maka Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan dengan anak dan sekutu. (Tafsir al-Wajiz)

فَلَمَّآ ءَاتَىٰهُمَا صٰلِحًا (Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna) Yakni anak yang shalih. Pendapat lain mengatakan yakni anak yang sehat sempurna, tidak seperti yang mereka berdua takutkan yaitu terlahir cacat. Dan Allah mengabulkan doa mereka berdua.جَعَلَا لَهُۥ شُرَكَآءَ فِيمَآ ءَاتَىٰهُمَا ۚ (maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya) Sebagian ahli tasfir mengatakan: sesungguhnya yang menjadikan anak mereka sebagai sekutu Allah adalah para keturunan Nabi Adam seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrik, dan bukan Nabi Adam dan Hawa yang melakukannya. Pendapat lain mengatakan yang dimaksud adalah Nabi Adam yang menamai anaknya dengan Abdul Harist (seorang hamba singa) dan ini merupakan bentuk kesyirikan dalam penamaan dan bukan dalam peribadatan. (Zubdatut Tafsir)