Ayat Tentang Penciptaan Manusia

هَلْ أَتَىٰ عَلَى ٱلْإِنسَٰنِ حِينٌ مِّنَ ٱلدَّهْرِ لَمْ يَكُن شَيْـًٔا مَّذْكُورًا

Arab-Latin: hal atā 'alal-insāni ḥīnum minad-dahri lam yakun syai`am mażkụrā

Terjemah Arti: Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?

Tafsir Ayat Tentang Penciptaan Manusia

(Tafsir al-Muyassar)

Telah berlalu pada diri manusia masa yang panjang, sebelumnya ia tidak ada, tidak pernah disebut. (Tafsir al-Mukhtashar)

Dimana berawal dari setetes mani, kemudian menjadi segumpal darah, kemudian menjadi gumpalan daging, sehingga ditiupkan ruh, sampai bisa menjadi manusia yang sempurna. Fungsi hal yang bermakna apakah di sini adalah bermaksud mengungkapkan makna qad yang bermakna menegaskan kebenaran apa yang terjadi setelah itu (Tafsir al-Wajiz)

هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنسٰنِ (Bukankah telah datang atas manusia) Yakni telah datang kepada manusia saat masih dalam diri bapak mereka, Adam.حِينٌ مِّنَ الدَّهْرِ(satu waktu dari masa) Terdapat pendapat mengatakan: yakni empat puluh tahun sebelum ditiupkan ruh kepadanya, ia diciptakan dari tanah liat, kemudian dari tanah yang membatu dan kemudian dari tanah yang kering.لَمْ يَكُن شَيْـًٔا مَّذْكُورًا (sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?) Yakni sebelum ditiupkan nyawa kepadanya. Pendapat lain mengatakan: yakni telah berlalu masa yang panjang sedangkan Adam sama sekali belum diciptakan dan belum disebut oleh makhluk manapun. (Zubdatut Tafsir)

إِنَّا خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَٰهُ سَمِيعًۢا بَصِيرًا

innā khalaqnal-insāna min nuṭfatin amsyājin nabtalīhi fa ja'alnāhu samī'an baṣīrā

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.

Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dari setetes air yang merupakan gabungan antara sperma laki-laki dan sperma perempaun. Kami mengujinya dengan beban-beban syariat sesudah itu, karena itu Kami membuatnya mendengar dan melihat agar dia mendengar ayat-ayat dan melihat bukti-bukti. Sesungguhnya Kami menjelaskan dan mengenalkan kepadanya jalan hidayah dan kesesatan, kebaikan dan keburukan, agar dia menjadi Mukmin yang bersyukur atau kafir yang pengingkar. (Tafsir al-Muyassar)

Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dari air mani yang bercampur dari air lelaki dan air wanita, Kami mengujinya dengan beban taklif yang kami wajibkan atasnya, lalu Kami jadikan ia bisa mendengar dan melihat agar dia menjalankan syariat yang kami bebankan kepadanya. (Tafsir al-Mukhtashar)

Mani laki-laki dan mani perempuan bercampur jadi satu. Kami akan menguji mereka dengan perintah dan larangan. Artinya, Kami menciptakan mereka untuk diuji dengan tanggung jawab tentang kebaikan dan keburukan, sehingga Kami jadikan mereka dapat melihat dan mendengar. Kelak, pada hari kiamat akan Kami mintai pertanggungjawaban atas bukti dan ayat-ayat yang telah mereka dengar dan saksikan (Tafsir al-Wajiz)

أَمْشَاجٍ (yang bercampur) Yakni campuran antara mani laki-laki dan mani perempuan. Pendapat lain mengatakan: yakni dari berbagai campuran, sebab ia berasal dari berbagai unsur yang menjadi bahan penciptaan manusia dengan tabiat yang berbeda-beda.نَّبْتَلِيهِ (yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan)) Yakni Kami menciptakannya karena Kami ingin mengujinya dengan kebaikan dan keburukan serta dengan beban syariat.فَجَعَلْنٰهُ سَمِيعًۢا بَصِيرًا (karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat) Yakni Kami menciptakan baginya panca indra agar memudahkannya untuk memahami, sehingga memungkinkan untuk diberi ujian dan cobaan. (Zubdatut Tafsir)

فِىٓ أَىِّ صُورَةٍ مَّا شَآءَ رَكَّبَكَ

fī ayyi ṣụratim mā syā`a rakkabak

dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.

Wahai manusia yang mengingkari kebangkitan,apa yang membuatmu tertipu terhadap tuhan yang maha pemurah,pemilik kebaikan melimpah,yang berhak ditaati dan disyukuri? Bukankah Dia yang telah menciptakanmu dan membaguskan penciptaanmu lalu dia menyempurnakannya. Dan menyusun tubuhmu untuk menunaikan tugas tugasmu? Dia maha kuasa untuk menciptakan kalian dalam bentuk apa pun yang dia kehendaki. (Tafsir al-Muyassar)

Dalam bentuk apa saja yang Allah kehendaki untuk menciptakanmu, Allah telah menciptakanmu. Dia telah memberikan kenikmatan kepadamu ketika Dia tidak menciptakanmu dalam bentuk keledai, kera, anjing maupun bentuk lainnya. (Tafsir al-Mukhtashar)

Dialah yang telah membentuk dan menyusunmu sekehendak-Nya dengan bentuk yang paling menakjubkan dan seimbang tanpa memilah-milah bentuk untukmu (Tafsir al-Wajiz)

فِىٓ أَىِّ صُورَةٍ مَّا شَآءَ رَكَّبَكَ (dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu) Yakni Allah menyusunmu dengan rupa yang Allah kehendaki dari segala rupa yang ada, dan kamu tidak perlu memilih rupa bagi dirimu. (Zubdatut Tafsir)

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

wa iż qāla rabbuka lil-malā`ikati innī jā'ilun fil-arḍi khalīfah, qālū a taj'alu fīhā may yufsidu fīhā wa yasfikud-dimā`, wa naḥnu nusabbiḥu biḥamdika wa nuqaddisu lak, qāla innī a'lamu mā lā ta'lamụn

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".

Sebutkan -wahai Rasul- kepada manusia  ketika Allah ta'ala berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menjadikan di muka bumi sekumpulan makhluk yang sebagian mereka akan menggantikan sebagian lainnya untuk memakmurkannya.”Para malaikat berkata: “wahai Tuhan kami beritahukanlah kepada kami dan Tunjukilah kami apa hikmah dibalik penciptaan mereka itu, sedangkan karakter mereka itu melakukan kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah secara dzolim dan sewenang-wenang, sementara Kami selalu taat terhadap perintah-Mu, kami menyucikan-Mu dengan penyucian yang sesuai dengan sifat-sifat-Mu yang terpuji dan kebesaran-Mu, dan kami  mengagungkan-Mu dengan seluruh sifat kesempurnaan dan keagungan?”.Allah menjawab  mereka dengan firman-Nya: “Sesungguhnya aku lebih mengetahui hal-hal yang tidak kalian ketahui dari apa  yang mengandung kemaslahatan besar pada penciptaan mereka.” (Tafsir al-Muyassar)

Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- memberitahukan bahwa Dia telah berfirman kepada para Malaikat, bahwasanya Dia akan menciptakan manusia untuk ditempatkan di muka bumi secara silih berganti. Tugas utama mereka adalah memakmurkan bumi atas dasar ketaatan kepada Allah. Lalu para Malaikat bertanya kepada Tuhan mereka -dengan maksud meminta bimbingan dan penjelasan- tentang hikmah di balik penempatan anak cucu Adam -'alaihissalām- sebagai khalifah di muka bumi, sedangkan mereka akan membuat kerusakan di sana dan menumpahkan darah secara semena-mena. Para malaikat itu mengatakan, “Sementara kami ini senantiasa patuh kepada-Mu, mensucikan dan memuji-Mu, serta menghormati keagungan dan kesempurnaan-Mu. Kami tidak pernah letih dalam melakukan hal itu.” Allah menjawab pertanyaan mereka dengan firman-Nya, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui tentang adanya hikmah-hikmah besar di balik penciptaan mereka dan tujuan-tujuan besar di balik penetapan mereka sebagai khalifah di muka bumi.” (Tafsir al-Mukhtashar)

Dan ingatkanlah kaummu wahai Muhammad ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi, yaitu Adam. Aku mewakilkan kepadanya urusan pemakmuran bumi dan pelaksanaan hukum-hukumKu”. Lalu para malaikat berkata dalam diri mereka sendiri: “Bukankah Engkau akan menciptakan di dalamnya seseorang yang kelak akan melakukan kerusakan dengan berbuat kemusyrikan dan kemaksiatan?”. Sungguh mereka telah mengetahui hal itu karena telah diajarkan oleh Allah dengan suatu cara tertentu. Maksud ucapan mereka adalah “Apakah Engkau hendak menciptakan di dalamnya orang yang mengalirkan darah yang haram dengan saling membunuh, menyakiti dan bertikai, sedangkan kami adalah ciptaan-ciptaan yang selalu bersyukur, memujiMu dan mensucikanMu dari hal-hal yang tidak sesuai denganMu?”. Kemudian Allah berfirman: “Aku lebih mengetahui tentang sesuatu yang tidak kalian ketahui, yaitu akan ada di antara para khalifah itu, para nabi dan orang-orang shalih (Tafsir al-Wajiz)

إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً (Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”). Makna dari (الخليفة) adalah penerus bagi para pendahulu (malaikat); dan yang dimaksud dengan khalifah dalam ayat ini adalah Nabi Adam. Kalimat ini ditujukan oleh Allah kepada pada malaikat bukan bertujuan untuk bermusyawarah atau meminta pendapat akan tetapi untuk mengeluarkan apa yang ada dalam diri mereka.أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا (“Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya) Yakni dengan melakukan kesyirikan dan kemaksiatan. Para ulama berpendapat bahwa perkataan ini berasal dari ilmu yang diajarkan oleh Allah kepada malaikat. Karena mereka pada dasarnya tidak mengetahui hal yang ghaib.وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ(dan menumpahkan darah) Yakni dengan menyakiti dan membunuh.وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ (padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”) Yakni kami senantiasa memuji Engkau dan mensucikan Engkau dari apa yang tidak layak untuk dinisbahkan kepada-Mu.قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ(Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”) Qatadah berpendapat dalam tafsir ayat ini bahwa : Allah mengetahui bahwa akan ada diantara khalifah ini yang akan menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul, orang-orang sholeh, dan penghuni surga. (Zubdatut Tafsir)

مِن نُّطْفَةٍ خَلَقَهُۥ فَقَدَّرَهُۥ

min nuṭfah, khalaqahụ fa qaddarah

Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya.

Manusia kafir dilaknat dan diazab, betapa besar kekafirannya kepada tuhannya. Tidakkah dia melihat dari apa Allah menciptakannya pertama kali? Allah menciptakannya dari air yang sedikit (yaitu sperma),lalu allah menciptakannya dalam beberapa tahapan, Kemudian Allah menjelaskan baginya jalan kebaikan dan jalan keburukan, Kemudian Allah mematikannya dan menjadikan baginya satu tempat yang ia dikubur di dalamnya. Kemudian jika Allah berkehendak Dia akan menghidupkan kembali dan membangkitkannya untuk menghadapi perhitungan amal dan balasan. Perkaranya tidak sebagaimana yang diucapkan dan dilakukan oleh orang kafir ini,dia tidak menunaikan perintah Allah,yaitu beriman kepada NYA dan mentaati NYA. (Tafsir al-Muyassar)

Dari air yang sedikit Allah menciptakannya lalu Allah mentakdirkan penciptaannya fase demi fase. (Tafsir al-Mukhtashar)

Allah menciptakan mereka dari air mani yang hina dan sepele. Allah lalu menumbuhkan dari mani itu wujud raganya dalam beberapa proses yang berbeda. Allah juga menjadikan berbagai anggota tubuh untuk keperluaan hidupnya (Tafsir al-Wajiz)

مِن نُّطْفَةٍ خَلَقَهُۥ (Dari setetes mani, Allah menciptakannya) Yakni dari air yang hina. Lalu mengapa makhluk yang keluar dari saluran kencing dua kali dapat bersikap sombong?فَقَدَّرَهُۥ(lalu menentukannya) Yakni kemudian Allah menyempurnakan dan melengkapinya dengan anggota badan untuk kebaikannya, Allah menciptakan baginya dua tangan, dua kaki, dua mata, dan anggota tubuh dan panca indra lainnya. (Zubdatut Tafsir)

لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

laqad khalaqnal-insāna fī aḥsani taqwīm

sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Allah bersumpah dengan tin dan zaitun,keduanya termasuk buah buahan yang masyhur, Allah bersumpah Juga dengan gunung thursina(Sinai)yang disana Allah berbicara kepada Musa alaihi salam secara langsung, Allah bersumpah Juga dengan negeri yang aman dari segala ketakutan (yaitu Makkah) tempat turunnya wahyu. Sungguh kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik, kemudian Kami mengembalikannya ke neraka bila dia tidak patuh kepada Allah dan tidak mengikuti para rasul. Akan tetapi orang-orang yang beriman dan beramal shalih, mereka mendapatkan pahala besar yang tidak terputus dan tidak dikurangi. (Tafsir al-Muyassar)

Sungguh Kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik ciptaan dan seindah-indahnya rupa. (Tafsir al-Mukhtashar)

Sungguh kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik susunan karena wujud dan bentuknya (yang baik). Kemudian kami kembalikan beberapa manusia, yaitu orang kafir, dan kami menjadikannya masuk ke dalam neraka. Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas berkata: “Ayat ini turun pada kelompok yang memiliki umur pendek” (Tafsir al-Wajiz)

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya) Allah menciptakannya dengan tubuh yang tegak, sehingga dapat memakan makanannnya dengan tangan; dan Allah menciptakannya dengan kemampuan memahami, berbicara, mengatur, dan berbuat bijak, sehingga memungkinkannya menjadi khalifah di muka bumi sebagaimana yang Allah kehendaki. (Zubdatut Tafsir)

ٱلَّذِىٓ أَحْسَنَ كُلَّ شَىْءٍ خَلَقَهُۥ ۖ وَبَدَأَ خَلْقَ ٱلْإِنسَٰنِ مِن طِينٍ

allażī aḥsana kulla syai`in khalaqahụ wa bada`a khalqal-insāni min ṭīn

Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah.

Dia-lah Allah yang menciptakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya dan Dia mengawali penciptaan manusia, yaitu Adam, dari tanah. (Tafsir al-Muyassar)

Yang menyempurnakan penciptaan segala sesuatu, dan memulai penciptaan manusia dari tanah tanpa ada contoh sebelumnya. (Tafsir al-Mukhtashar)

Yang Memperindah dan Menyempurnakan serta Menciptakan segala makhluk-Nya. Yang telah menciptakan Adam sebagai bapak manusia dari tanah, atau debu (Tafsir al-Wajiz)

الَّذِىٓ أَحْسَنَ كُلَّ شَىْءٍ خَلَقَهُۥ ۖ (Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya) Yakni Allah mencipatakan makhluk-makhluk-Nya dengan penuh ketelitian dan kesempurnaan, meski sebagian makhluk bentuk dan rupanya tidak begitu bagus, namun ia tercipta dengan penuh ketelitian dan kesempurnaan.وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنسٰنِ مِن طِينٍ (dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah) Yakni Allah menciptakan Adam dari tanah dengan bentuk yang baik dan indah. (Zubdatut Tafsir)

خُلِقَ مِن مَّآءٍ دَافِقٍ

khuliqa mim mā`in dāfiq

Dia diciptakan dari air yang dipancarkan,

Hendaknya orang yang mengingkari kebangkitan kembali itu memperhatikan dari apa dia diciptakan, agar dia mengetahui bahwa pengembalian penciptaan manusia tidaklah lebih sulit daripada penciptaannya pertama kali. Manusia diciptakan dari sperma yang memancar dengan cepat ke Rahim, Yang keluar dari tulang sulbi laki-laki dan dada wanita. Sesungguhnya Allah yang menciptakan manusia dari air ini, benar-benar kuasa untuk menghidupkannya kembali sesudah kematian. (Tafsir al-Muyassar)

Allah menciptakannya dari air yang dipancarkan ke rahim. (Tafsir al-Mukhtashar)

Manusia diciptakan dari air mani yang kemudian dibentuk di dalam rahim. Dafiq: bermakna yang dipancarkan. Alhafirah bermakna: yang dibentuk (Tafsir al-Wajiz)

خُلِقَ مِن مَّآءٍ دَافِقٍ (Dia diciptakan dari air yang dipancarkan) Yakni dipancarkan ke dalam rahim. Dan itu adalah campuran antara air mani laki-laki dan air mani perempuan, karena perempuan tercipta dari kedua air itu, namun Allah menyembutnya sebagai air yang satu karena telah bercampur. (Zubdatut Tafsir)

ٱلَّذِى خَلَقَ فَسَوَّىٰ

allażī khalaqa fa sawwā

yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya),

Sucikanlah nama tuhanmu yang maha tinggi dari sekutu dan kekurangan dengan penyucian yang layak dengan keagungan NYA, Yang menciptakan makhluk-makhluk dan membaguskan serta menguatkan penciptaannya. Yang menetapkan takdir segala sesuatu, lalu membimbing makhluk kepada apa yang cocok baginya, Yang menumbuhkan padang gembala hijau, Lalu sesudahnya menjadikannya mengering dan berubah menjadi hitam setelah ia berwarna hijau. (Tafsir al-Muyassar)

Dia lah yang menciptakan manusia dengan sempurna dan menyeimbangkan bentuknya. (Tafsir al-Mukhtashar)

Allah yang menciptakan manusia dan semua makhluk. Allah menjadikan manusia sebagai ciptaan yang proporsional yang lebih dari makhluk lainnya (Tafsir al-Wajiz)

الَّذِى خَلَقَ فَسَوَّىٰ (yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya)) Yakni Allah menciptakan manusia dengan sempurna, menyesuaikan bentuknya dan menyempurnakan pemahamannya serta menyiapkannya untuk menanggung beban syariat. (Zubdatut Tafsir)

قُلْ سِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَٱنظُرُوا۟ كَيْفَ بَدَأَ ٱلْخَلْقَ ۚ ثُمَّ ٱللَّهُ يُنشِئُ ٱلنَّشْأَةَ ٱلْءَاخِرَةَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

qul sīrụ fil-arḍi fanẓurụ kaifa bada`al-khalqa ṡummallāhu yunsyi`un-nasy`atal-ākhirah, innallāha 'alā kulli syai`ing qadīr

Katakanlah: "Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Katakanlah (wahai Rasul) kepada orang-orang yang mengingkari Hari Kebangkitan setelah kematian, “Berjalanlah di muka bumi, lalu perhatikanlah bagaimana Allah mengadakan mahkluk-makhlukNya, tidak sulit bagiNya untuk mengadakan itu pertama kali. Demikian pula, bukan perkara sulit bagiNya untuk mengulang penciptaan itu kembali sekali lagi. Sesungguhnya Allah MahaKuasa atas segala sesuatu; tidak ada sesuatu yang diinginkanNya yang melemahkanNya.” (Tafsir al-Muyassar)

Katakanlah -wahai Rasul- kepada orang-orang yang mendustakan hari Kebangkitan tersebut, “Berjalanlah di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana Allah memulai penciptaan makhluk, kemudian Allah menghidupkan manusia setelah kematiannya dengan kehidupan kedua untuk kebangkitan dan perhitungan. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, tidak ada sesuatu pun yang mampu melemahkan-Nya, maka tidak berat bagi-Nya untuk membangkitkan manusia sebagaimana tidak berat bagi-Nya untuk menciptakan mereka dari awal. (Tafsir al-Mukhtashar)

Katakanlah wahai nabi kepada para pendusta risalahmu itu: “Berjalanlah kalian di permukaan bumi lalu lihatlah bagaimana awal mula penciptaan makhluk sebelum kalian dengan bentuk yang berbeda-beda dan perangai yang berubah-ubah, supaya kalian mengerti kesempurnaan kuasa Allah. Jejak peninggalan mereka menunjukkan keberadaan mereka. Kemudian Allah menghidupkan lagi makhlukNya usai kebangkitan pertama yang disebut awal penciptaan. Sesungguhnya awal penciptaan dan proses penghidupan ulang itu adalah dua kebangkitan. Sesunggunya Allah berkuasa atas setiap sesuatu dan tidak ada sesuatu yang tidak mampu dilakukanNya seperti awal penciptaan awal dan penghidupan kembali. Kata Bada’a dan Abda’a itu bermakna satu yaitu awal penciptaan, yaitu menciptakan sesuatu yang belum ada. Dan kebangkitan akhirat adalah proses menghidupkan makhluk pada hari kiamat (Tafsir al-Wajiz)

قُلْ سِيرُوا۟ فِى الْأَرْضِ فَانظُرُوا۟ كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ ۚ (Katakanlah: “Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya) Meski dengan jumlah yang banyak, bermacam-macam warna, tabiat, dan bahasa mereka.ثُمَّ اللهُ يُنشِئُ النَّشْأَةَ الْاٰخِرَةَ ۚ( kemudian Allah menjadikannya sekali lagi) Yakni menciptakannya kembali dengan penciptaan yang kedua pada hari kebangkitan. (Zubdatut Tafsir)

Terkait: « | »

Kategori: Tafsir Topik