Surat ‘Abasa Ayat 12

فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُ

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

Maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya,

Tafsir Al-Muyassar

Barangsiapa berkehendak,dia mengingat Allah dan mengikuti wahyu NYA,

Tafsir Juz Amma (Al-Fauzan)

Barangsiapa yang memiliki keinginan untuk kebaikan dan mengehendaki kebaikan maka kebalilah kepada Al-Qur'an , dan ayat ini merupakan dalil bahwa setiap hamba memiliki keinginan dan baginya pilihan , dan dia percaya bahwa dengan pilihan dan keinginannya itu , dan boleh saja dia mendustakan pilihan dan keinginannya , dan tiada paksaan dalam menentukan keinginan untuk memeluk agama islam , maka setiap indifidu menentukan pilihannya masing-masing , jika dia memilih untuk dirinya kebaikan dan keselamatan , maka seharusnya dia merujuk kepada Al-Qur'an , dan apabila dia hanya menginginkan untuk dirinya keburukan dan kesengsaraan maka tiada plihan baginya kecuali menetap didalam kekufurannya , Allah berfirman : { وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ } ( Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. ) ini adalah ancaman { إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا ۚ } ( Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. ) dan inilah balasannya , hanya kepada Allah lah kita meminta pertolongan { وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ ۚ } ( Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka ) begitu dahsyat dan mengrikannya siksaan dineraka { بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا } ( Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. ) dan begitu buruknya neraka sebagai tempat kembali [ Al-KAhfi : 29 ] .

Kemudian Allah menyebutkan keadaan orang-orang beriman : { إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا , أُولَٰئِكَ لَهُمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَيَلْبَسُونَ ثِيَابًا خُضْرًا مِنْ سُنْدُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِ ۚ نِعْمَ الثَّوَابُ وَحَسُنَتْ مُرْتَفَقًا } ( Sesunggunya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik. , Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga ‘Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang mas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah; ) [ Al-Kahfi : 30 -31 ]

Itulah balasan bagi dua golongan manusia .

Sebagian orang-orang bodoh atau mereka yang berfahamkan atheis megatakan : sesungguhnya manusia itu tergantung kepada nafsu dan keinginannya , muslim kah dia ataupun kafir , dialah yang menentukan pilihannya , dia boleh saja pada kekufurannya sesuai keinginannya , itulah yang mereka katakan , dan mereka merujuk pada ayat diatas bahwa manusia itu boleh memlih antara islam atau kafir .

Ini adalah perkataan yang bathil dan hakikatnya manusia itu tidak diberi pilihan antara islam atau kafir , melainkan maksud dari ayat diatas adalah merupakan ancaman dan teguran keras , oleh karena itu didalam ayat disebutkan balasan bagi masing-masing golongan muslim ataupun kafir ; dan itu pasti akan terwujud , dan bukanlah kepuasan yang menjadi kepentingan , melainkan suatu kewajiban bagi setiap insan untuk beriman jika ingin menyelamatkan dirinya .

Sedangkan mereka yang tidak berkeinginan untuk berjalan pada ketentuan yang telah ditetapkan oleh syari'ah islam , bukanlah menjadi tanggung jawab kita untuk memaksakan agar mereka menerima hidayah itu , Allah berfirman : { إِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتَىٰ وَلَا تُسْمِعُ الصُّمَّ الدُّعَاءَ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِينَ , وَمَا أَنْتَ بِهَادِي الْعُمْيِ عَنْ ضَلَالَتِهِمْ ۖ إِنْ تُسْمِعُ إِلَّا مَنْ يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا فَهُمْ مُسْلِمُونَ } ( Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang. , Dan kamu sekali-kali tidak dapat memimpin (memalingkan) orang-orang buta dari kesesatan mereka. Kamu tidak dapat menjadikan (seorangpun) mendengar, kecuali orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, lalu mereka berserah diri. ) [ An-Naml : 80-81 ] .

Tafsir Juz Amma (Al-Utsaimin)

فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُ “maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya,” Maknanya: Siapa yang berkehendak menyebut apa-apa yang diturunkan berupa pesan nasihat, sehingga ia mengambil pelajaran, dan siapa pun yang berkehendak, tidak mengambil pelajaran. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ “Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir” (QS. Al-Kahfi: 29)
Allah memberikan setiap insan kesempatan untuk memilih antara beriman dan kufur, sedangkan secara syar’I, Allah tidak ridha kekufuran bagi Hamba-hamba-Nya. Secara syari’at, seorang insan tidak boleh memilih antara kufur dan iman, namun ia diperintahkan dan diharus untuk beriman, adapun secara ketentuan takdir ia diberi pilihan. Tidak seperti yang disangka oleh sebagian orang, bahwa setiap insan berjalan tanpa pilihan dalam beramal (tanpa ada kehendak tau pilihannya sedikitpun) ini adalah pendapat ihli bid’ah, yang dibuat-buat oleh jabriyah dari kalangan jahmiyah (pengikut pemikiran Jahm Bin Sofwan) dan yang lainnya. Setiap insan sebenarnya diberi pilihan. Oleh karena itu, jika terjadi perkara tanpa ada maksud darinya seperti dipaksa, tertidur, lupa atau sebagainya maka hukum tidak berlaku baginya antara dia dan Allah Ta’ala.

فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُ “maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya,” Maknanya: Siapa yang berkehendak memperhatikan apa-apa yang diturunkan berupa wahyu, sehingga ia mengambil pelajaran, dan siapa pun yang berkehendak, tidak mengambil pelajaran. Orang yang mendapatkan taufik adalah yang Allah ‘Azza Wa Jalla beri taufiq kepadanya.

Tafsir Hidayatul Insan

Dan mengamalkannya.

Tafsir Kemenag

Perigatan-peringatan Allah sudah sangat jelas, maka barang siapa menghendaki untuk mempelajari dengan sungguh-sungguh, tentulah dia akan memperhatikannya, menghayatinya, lalu mengamalkannya. Tidak ada yang menghalangi seseorang memperoleh peringatan itu selain hati yang penuh kesombongan dan keingkaran. 13. Peringatan-peringatan dalam ayat Al-Qur'an itu terdapat di dalam kitab-kitab yang dimuliakan karena berada di sisi Allah dan memuat kalam serta dan pesan-Nya yang sangat berharga.

Referensi Tafsir

  • IN PROGRESS
  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • COMPLETED
  • Hidayatul Insan / Marwan Hadidi, M.Pd.I, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018