Surat An-Nazi’at Ayat 40

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya,

Tafsir Al-Muyassar

Sedangkan orang yang takut akan saat dia berdiri menghadap Allah untuk perhitungan amal, dan menahan dirinya dari hawa nafsu yang rusak,

Tafsir Juz Amma (Al-Fauzan)

Dan barangsiapa yang takut akan berdirinya dihadapan Tuhannya pada hari kiamat, takut kepada Tuhannya ketika didunia dan mempesiapkan diri untuk bertemu Tuhannya pada hari pembalasan, dan menahan dirinya dari gejolak hawa nafsunya yang rusak, ia menahan diri untuk tidak memberikan dirinya apa yang selalu diinginkannya, melainkan ia menahannya demi ketaatan kepada Allah tuhannya.

Dan hal yang paling sulit bagi manusia untuk menahannya setelah godaan syaithon adalah hawa nafsunya sendiri, Allah berfirman : { أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا } ( Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?, ) [ Al-Furqan : 43 ] yaitu orang yang selalu menuruti keinginan hawa nafsunya, walaupun itu adalah haram.

Tafsir Juz Amma (Al-Utsaimin)

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ " Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya" Maknanya: Takut berdiri di hadapan-Nya, karena setiap manusia di hari kiamat Allah akan tetapkan dosa-dosanya saat ia berdua dengan-Nya, Allah akan bertanya: Kamu telah berbuat (dosa) demikian? Kamu telah berbuat demikian? Kamu telah berbuat demikian? Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih, jika ia mengakuinya maka Allah akan berkata kepada-Nya: قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِيْ الدُّنْيَا وَأَنَا أَغْفِرُ لَكَ الْيَوْمَ “ Aku telah menutupinya untuk mu di dunia, dan aku ampuni itu semua hari ini ”(1) inilah orang yang takut keadaan itu.
وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى "dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya," Dari hawa nafsunya yang menyelisihi perintah Allah dan rasul-Nya, dan jiwa ini memerintakan kepada keburukan, tidak memerintahkan kecuali kepada kejelekan, namun ada jiwa yang bertolak belakan dengan ini, yaitu jiwa yang muthmainnah (tentram)
Manusia memiliki 3 jiwa: Muthmainnah (tentram), Ammarah (memeritahkan kepada keburukan) dan lawwamah (mencela diri -menyesal-)
Jiwa Muthmainnah terdapat pada Firman Allah Ta’ala:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (27) ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (28) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (29) وَادْخُلِي جَنَّتِي
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”(al-Fajr: 27-30)
Ada pun yang memerintahkan kepada keburukan dterdapat pada Firman-Nya:
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي
“Dan aku tidak membebaskan jiwaku (dari kesalahan), karena sesungguhnya jiwa itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali jiwa yang diberi rahmat oleh Rabbku.”(QS. Yusuf: 53)
Ada pun lawwamah terdapat pada Firman-Nya: “Aku bersumpah dengan hari kiamat, dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).”(QS.Al-Qiyamah: 1-2)
Seorang insan akan merasakan tiga jiwa ini, terkadang dalam jiwanya terdapat dorongan untuk berbuat kebaikan, ia cinta lalu melakukan kebaikan. Ini adalah jiwa yang muthmainnah. Terkadang dalam jiwanya terdapat dorongan melakukan keburukan. Ini adalah jiwa yang memerintahkan kepada keburukan. Kemudian setelah itu datang jiwa yang lawwamah, mencela lalu menyesali apa-apa yang telah ia perbuat berupa kemaksiatan. Atau lawwamah dengan bentuk lain, ia mencela apa-apa yang ia perbuat berupa kebaikan. Ada sebagian orang yang mencela dirinya karena sudah melakukan kebaikan, dan karena berteman dengan orang-orang baik, ia mengatakan: Bagaimana mungkin saya berteman dengan orang-orang yang menghalangiku dari hidupku, syahwatku, kesenanganku dan hal serupa lainnya.
Jiwa lawwamah adalah jiwa yang mencela jiwa yang memerintahkan kepada keburukan, bisa juga mencela jiwa yang muthmainnah, jawa ini sebenarnya berada di antara dua jiwa. Mencela jiwa yang sedang memerintahkan kepada keburukan jika telah melakukan keburukan dan mendatangkan penyesalan, dan terkadang mencela jiwa yang tenang jika telah melakukan kebaikan.

(1)Dikeluarkan Bukhari (2441) dan Muslim (2768) hadits dari Ibnu Umar radhiyallaahu 'anhu.

Tafsir Hidayatul Insan

Ia takut ketika berdiri di hadapan Tuhannya, dimana rasa takut ini berpengaruh dalam hatinya sehingga ia tahan dirinya dari keinginan hawa nafsunya, dan hawa nafsunya menjadi lebih mengikuti apa yang dibawa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam serta ia lawan hawa nafsunya yang menghalanginya dari kebaikan.

Tafsir Kemenag

40-41. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran tuhannya dengan melakukan amal saleh dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya dengan menaati ajaran agama, maka sungguh, surgalah tempat tinggal-Nya untuk selama-lamanya dengan segala kenikmatan di dalamnya. Itulah anugerah agung tuhan yang maha pemurah

Referensi Tafsir

  • IN PROGRESS
  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • COMPLETED
  • Hidayatul Insan / Marwan Hadidi, M.Pd.I, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018