Surat An-Naba Ayat 27

Text Bahasa Arab dan Latin

إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَابًا

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut) kepada hisab,

Tafsir Al-Muyassar

Sesungguhnya mereka tidak takut pada hari perhitungan amal sehingga mereka tidak beramal untuknya,

Tafsir Juz Amma (Al-Fauzan)

Begitulah keadaan yang akan mereka hadapi di neraka jahannam, lalu apakah yang menyebabkan itu semua ?

Yang menjadi penyebab akan adanya balasan yang akan mereka hadapi adalah :

( إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَابًا ), dan inilah penyebab pertama, bahwasanya mereka ketika didunia tidak meyakini adanya hari kabangkitan dan pembalasan, mereka tidak mengimani akan tibanya masa yang dimana seluruh manusia akan bertemu Tuhan yang menciptakannya, akan tetapi mereka mendustakan itu semua.

Tafsir Juz Amma (Al-Utsaimin)

 Kemudian Allah menjelaskan sisi kesesuaian siksaan itu dengan perbuatan mereka, Allah berfirman:
(28) إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَابًا (27) وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا “Sesungguhnya mereka tidak berharap adanya hisab, dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya” Allah menyebutkan penyimpangan mereka baik dalam akidah mau pun ucapan: إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَابًا “Sesungguhnya mereka tidak berharap adanya hisab” Maknanya: Mereka tidak peduli bahwa mereka akan dihisab, bahkan mereka mengingkari hisab, mereka mengingkari hari kebangkitan, mereka mengatakan: مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”(QS. Al-Jatsiyah: 24) mereka tidak mengharapkan hisab sehingga mereka dihisab karena mereka mengingkarinya, inilah keyakinan akidah dalam hati-hati mereka, mulut-mulut mereka pun mendustakannya. Mereka mengatakan hisab adalah dusta, sihir, gila dan celaan lainnya, sebagaimana disebutkan dalam al-Quran contoh hinaan-hinaan mereka kepada para utusan Allah, sebagaimana Allah ’Azza Wa Jalla berfirman: كَذَلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ
 “Demikianlah tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: "Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila”(QS. Adz-Dzariyat: 52) Allah menceritakan tentang orang-orang yang mendustakan Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam: وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta”(QS. Shad: 4) mereka mengatakan bahwa Muhammad pujangga (penyair) : أَمْ يَقُولُونَ شَاعِرٌ نَتَرَبَّصُ بِهِ رَيْبَ الْمَنُونِ “Bahkan mereka mengatakan: "Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya" ”(QS. Ath-Thur: 30) , وَقَالُوا يَا أَيُّهَا الَّذِي نُزِّلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ إِنَّكَ لَمَجْنُونٌ (6) لَوْ مَا تَأْتِينَا بِالْمَلَائِكَةِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ (7) ” Mereka berkata: "Hai orang yang diturunkan Al Qur'an kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila. Mengapa kamu tidak mendatangkan malaikat kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar?" ”(QS.Al-hijr: 6-7)
Andai saja Allah telah meneguhkan kaki-kaki para Rasul dan memberkan mereka kesabaran atas perbuatan kaumnya, pasti rasul-rasul itu tidak kuasa bersabar atas itu semua, bukan hanya mencela saja bahkan mereka mengganggu dan menyakiti rasul-rasul, sebagaimana yang menimpa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berupa gangguan yang keras. Bahkan mereka berani mengangkat senjata. Siapa saja yang melakukan hal ini maka balasannya adalah neraka jahannam, sesuai dengan perbuatannya, sebagaimana dalam ayat yang mulia:
(28) جَزَاءً وِفَاقًا (26) إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَابًا (27) وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا “sebagai pembalasan yang setimpal. Sesungguhnya mereka tidak takut kepada hisab, dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya,”

Tafsir Hidayatul Insan

Mereka mengingkari kebangkitan dan pembalasan terhadap amal, sehingga mereka tidak beramal untuk akhirat.

Tafsir Kemenag

Mereka pantas menerima siksa jahanam karena sesungguhnya dahulu mereka tidak pernah mengharapkan perhitungan amal di akhirat, bahkan mereka mendustakan dan menertawakan hari perhitungan itu. Jika mereka meyakini hari perhitungan, pasti mereka akan berbuat kebajikan. 28. Dan di samping itu, mereka benar-benar mendustakan ayat-ayat kami tentang tauhid, kenabian, dan hari kebangkitan. Mereka mengatakan bahwa Al-Qur'an adalah cerita usang yang penuh kebohongan.

Referensi Tafsir

  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • Hidayatul Insan / Marwan bin Musa, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018