Surat An-Naba Ayat 9

Text Bahasa Arab dan Latin

وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat,

Tafsir Al-Muyassar

Kami menjadikan tidur kalian sebagai saat istirahat bagi badan kalian,padanya kalian merasa tenang dan diam?

Tafsir Juz Amma (Al-Fauzan)

Tidur kalian dimalam hari agar kalian beristirahat dengan tenang dan nyaman, ( سُبَاتَا )istirahat yang dimana semua gerakan terhenti, semua makhluk menjadi tenang, dan suara-suara juga ikut tenang, dan asal kata dari ( سُبَتا ) adalah ( السَبْت ) : yaitu terputus, maka makna yang sebenarnya dari kata ( سُبَاتَ ) adalah terputusnya atau terhentiya semua kesibukan dan gerakan-gerakan; agar kalian bisa tenang dalam tidur kalian, dan sungguh ini merupakan nikmat dari Allah subhanahu wata'ala.

Tafsir Juz Amma (Al-Utsaimin)

وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا
“dan Kami jadikan tidur kalian sebagai peristirahatan ”
Maknanya: Sebagai pemutus rasa lelah. Tidur dapat memutus rasa lelah yang dirasakan sebelumnya, sehingga manusia akan kembali bersemangat untuk melakukan kegiatan setelahnya. Oleh kerenanya, anda akan dapati seseorang yang kelelahan kemudian ia tidur akan terasa lega dan kembali bersemangat, ini adalah di antara kenikmatan dan ini juga di antara tanda-tanda kekuasaan Allah Ta’ala: وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. ” (QS. Ar-Rum: 23)

Tafsir Hidayatul Insan

Bagi badanmu yang jika tidak diistirahatkan tentu akan memadharratkan badanmu. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menjadikan malam dan tidur meliputi manusia untuk menghentikan gerakan mereka dan agar tercapai istirahat yang bermanfaat.

Tafsir Kemenag

Dan bukankah kami telah pula menjadikan tidurmu untuk istirahat dari kepenatan bekerja di siang hari sehingga kamu bisa kembali bekerja esok hari dengan tenaga baru' tidur laksana kematian sesaat. Bangun tidur merupakan permisalan kecil hari kebangkitan. Mengapa orang musyrik masih saja mengingkari hari kebangkitan'10. Dan bukankah kami telah menjadikan malam yang gelap gulita menutupi suatu wilayah di bumi sebagai-mana pakaian menutupi jasad manusia'

Referensi Tafsir

  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • Hidayatul Insan / Marwan bin Musa, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018