Surat An-Naba Ayat 6

Text Bahasa Arab dan Latin

أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?,

Tafsir Al-Muyassar

Bukankah kami telah menjadikan bumi ini terhampar seperti kasur?

Tafsir Juz Amma (Al-Fauzan)

( أَلَمْ نَجْعَلْ ) Bukankah kami telah menjadikan, dalam kaidah bahasa Arab Konteks seperti ini disebut sebagai pertanyaan yang mentapkan, yang berarti kami telah menjadikan ( الأَرْضَ ) bumi yang mereka berpijak diatasya ( مِهاداً ) sebagai hamparan bagi mereka, yang mereka berjalan diatasnya, dan mereka mendirikan bangunan, mereka tinggal dan juga tidur diatasnya.

Siapakah yang menciptakan bumi yang luas ini, kemudian Ia menjadikannya hamparan bagi siapapun yang ada diatasnya ? Bukankan Dia Allah yang kuasa melakukannya, yang telah menciptakan bumi ini sedemikian rupanya, apakah Dia tidak mampu menghidupkan kembali orang yang telah mati ?!

Tafsir Juz Amma (Al-Utsaimin)

Kemudian Allah memberitakan kepada mereka tentang nikmat-nikmat-Nya agar itu semua diakui dan harus disyukuri, Allah Ta’ala berfirman: أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا
“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?” Maknanya: Allah telah menjadikan bumi sebagai hamparan yang terhampar bagi manusia, yang tidak keras sehingga mereka tidak dapat bercocok tanam dan berjalan di atasnya dengan kesulitan, tidak juga lembek yang tidak dapat dimanfaatkan dan ditempati. Tetapi bumi tercipta dengan terhampar sesuai dengan kemaslahatan-kemaslahatan dan manfaat-manfaat untuk mereka.

Tafsir Hidayatul Insan

Menurut penyusun tafsir Al Jalaalain, bahwa pada ayat ini dan setelahnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengisyaratkan mampunya Dia membangkitkan manusia yang telah mati. Menurut Syaikh As Sa’diy, bahwa pada ayat ini dan setelahnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan nikmat-nikmat-Nya dan dalil-dalil yang menunjukkan benarnya apa yang diberitakan para rasul.

Yakni bukankah Kami anugerahkan kepada kamu nikmat yang banyak; Kami jadikan untuk kamu bumi sebagai hamparan sehingga siap ditempati, digarap dan dibuat jalan.

Tafsir Kemenag

Allah menjawab kesangsian mereka tentang hari kiamat dengan memperlihatkan sembilan tanda kebesaran-Nya. Bukankah kami telah menjadikan bumi dengan segala isinya sebagai hamparan yang memungkinkan manusia hidup di atasnya dan memanfaatkan fasilitas yang ada'7. Dan bukankah kami telah pancangkan gunung-gunung sebagai pasak supaya bumi tidak bergoncang sehingga manusia dapat hidup tenang di atasnya'.

Referensi Tafsir

  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • Hidayatul Insan / Marwan bin Musa, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018