Surat Al-Muddatstsir Ayat 32

Text Bahasa Arab dan Latin

كَلَّا وَالْقَمَرِ

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

Sekali-kali tidak, demi bulan,

Tafsir Hidayatul Insan

Maksud ‘tidak’ adalah bantahan terhadap ucapan orang-orang musyrik yang mengingkari hal-hal tersebut di atas. Ada pula yang mengatakan, bahwa kata “Kallaa” di ayat ini artinya “Alaa” (Ingatlah!).

Allah Subhaanahu wa Ta'aala bersumpah dengan bulan, dengan malam ketika berlalu dan dengan Subuh ketka semakin terang karena semuanya (bulan, malam dan Subuh) mengandung ayat-ayat Allah yang agung yang menunjukkan kesempurnaan Allah dan kebijaksanaan-Nya, luasnya keperkasaan-Nya, meratanya rahmat-Nya dan meliputnya ilmu-Nya. Yang disumpahi adalah neraka yang merupakan salah satu bencana yang sangat besar. Apabila Dia telah memberitahukan tentangnya dan kamu pun sudah mengetahuinya dengan jelas, maka barang siapa yang ingin maju dengan mengerjakan amal yang mendekatkan kepada Tuhannya, meraih keridhaan-Nya dan mendapatkan surganya, maka dipersilahkan, dan barang siapa yang ingin mundur dari itu sehingga ia mengerjakan maksiat dan mendekatkan dirinya ke neraka, maka dipersilahkan. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan katakanlah, "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barang siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” (Terj. Al Kahfi: 29)

Tafsir Kemenag

32-37. Untuk menafikan dugaan orang-orang kafir tentang kemampuan mereka menghadapi penjaga-penjaga neraka, atau untuk mengancam dan menghardik mereka yang memperolok-olokkan bilangan itu, maka Allah berfirman, sekali-kali tidak! aku bersumpah demi bulan, dan demi malam ketika telah berlalu, dan demi subuh apabila mulai terang, sesungguhnya saqar itu adalah salah satu bencana yang sangat besar, sebagai ancaman yang mengerikan dan sekaligus sebagai peringatan bagi manusia, yaitu bagi siapa di antara kamu yang ingin maju meraih kebajikan atau mundur sehingga enggan untuk meraihnya

Referensi Tafsir

  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • Hidayatul Insan / Marwan bin Musa, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018