Surat Shad Ayat 33

رُدُّوهَا عَلَىَّ ۖ فَطَفِقَ مَسْحًۢا بِٱلسُّوقِ وَٱلْأَعْنَاقِ

Arab-Latin: Ruddụhā 'alayy, fa ṭafiqa mas-ḥam bis-sụqi wal-a'nāq

Artinya: "Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku". Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu.

« Shad 32Shad 34 »

Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

Kandungan Berharga Berkaitan Surat Shad Ayat 33

Paragraf di atas merupakan Surat Shad Ayat 33 dengan text arab, latin dan terjemah artinya. Ada kumpulan kandungan berharga dari ayat ini. Tersedia kumpulan penafsiran dari beragam ahli ilmu terkait kandungan surat Shad ayat 33, di antaranya sebagaimana berikut:

📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

32-33 Lalu dia berkata ’sesungguhnya aku telah lebih mementingkan kecintaan kepada kuda-kuda itu daripada mengingat tuhanku sampai matahari terbenam dari kedua amtaku. Kembalikan kepadaku kuda-kuda yang telah aku lihat tadi. maka kuda-kuda itu dikembalikan kepadanya, lalu dia mulai menebas kaki-kaki dan leher-lehernya dengan pedang untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena kuda-kuda itu menjadi sebab dirinya melalikan shalat. Dan mendekatkan (diri kepada Allah) dengan menyembelih kuda disyariatkan dalam syariat sulaiman.


📚 Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Univ Islam Madinah

33. Datangkanlah kuda yang telah dipertunjukkan itu kepadaku. Maka kuda itu didatangkan kepadanya, kemudian dia mulai mengusap kaki dan leher kuda itu seraya menegurnya dengan lembut, karena kuda itu telah melalaikannya dari mengingat Allah.


📚 Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram

33. Kembalikanlah kuda-kuda itu ke sini.” Maka mereka mengembalikannya. Maka dia mulai membabat kaki-kaki dan leher-lehernya dengan pedang.


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

📚 Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

33. فَطَفِقَ مَسْحًۢا بِالسُّوقِ وَالْأَعْنَاقِ (Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu)
Sulaiman kemudian menyembelih kuda-kuda itu dengan pedangnya, lalu memotong kaki dan leher kuda-kuda itu sebagai bentuk kemarahan karena Allah, sebab kuda-kuda itulah yang menyebabkannya melewatkan shalat.
Pendapat lain megatakan bahwa Sulaiman hanya mengelus kepala kuda-kuda itu dengan tangannya.


📚 Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakultas syari'ah Universitas Qashim - Saudi Arabia

Ketika kuda-kuda itu mengalihkan perhatian Sulaiman bin Dawud dari shalatnya, dia memanggil kuda-kuda itu dan mulai membunuh mereka dan memenggal kepala mereka serta memotong kaki mereka. Sebagai balas dendam pada dirinya sendiri, dia membalas dendam pada dirinya sendiri, yang terganggu oleh kuda-kuda itu dari mengingat Allah ta'ala. Maka jika kamu melihat hartamu menghalangimu untuk mengingat Allah, jauhi harta itu sebisa mungkin, sebelum ia menjauhkanmu dari Allah ta'ala.


📚 Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

33. Kembalikanlah kuda-kuda itu, lalu dia menebas kaki dan leher kuda-kuda itu, sebagai penebusan/qurban untuk hal yang telah ditinggalkannya


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

📚 Tafsir Ash-Shaghir / Fayiz bin Sayyaf As-Sariih, dimuraja’ah oleh Syaikh Prof. Dr. Abdullah bin Abdul Aziz al-‘Awaji, professor tafsir Univ Islam Madinah

{Bawalah semua kuda itu kembali kepadaku”} bewa kembali kuda itu kepadaku {Lalu dia mulai} mulai {memotong kaki dan lehernya} memotong kaki dan lehernya menggunakan pedang


📚 Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

31-33. Maka dari itu, tatkala diperlihatkan kepadanya kuda-kuda yang gagah lagi sangat kencang larinya. “yang tenang,” maksudnya, yang salah satu cirinya adalah ash-shufun, yaitu salah satu kakinya terangkat tinggi saat berdiri, dan itu merupakan pemandangan yang sangat indah dan kegagahan yang sangat menakjubkan, terutama bagi orang yang membutuhkannya, seperti para raja. Kuda-kuda itu pun terus diperlihatkan kepadanya hingga matahari hilang dari penglihatan. Dengan demikian kuda-kuda itu telah membuatnya lupa melakukan shalat di waktu sore dan berdzikir.
Lalu ia berkata dengan penuh penyesalan atas apa yang telah terjadi dari dirinya dan sebagai taqarrubnya kepada Allah disebabkan apa yang telah membuatnya lupa mengingatNya, dan demi mengutamakan cinta Allah atas cinta kepada yang lain, “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik ini.” Kata aku menyukai mengandung makna (aku lebih mengutamakan). Artinya, aku lebih mengutamakan suka kepada barang baik ini, yaitu harta pada umumnya, dan yang dimaksud di sini adalah kuda. “Sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.” Maka mereka pun mengembalikannya. “Lalu ia” pada kuda-kuda itu “mengusap-usap kaki dan lehernya.” Maksudnya, beliaupun lalu memotongnya dengan pedangnya pada bagian leher dan kakinya.


📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas) / Fathul Karim Mukhtashar Tafsir al-Qur'an al-'Adzhim, karya Syaikh Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin, professor fakultas al-Qur'an Univ Islam Madinah

Ayat 30-33
Allah SWT berfirman seraya memberitahukan bahwa Dia telah menganugerahkan anak kepada nabi Dawud, yaitu nabi Sulaiman, yaitu yang menjadi seorang nabi, sebagaimana Allah SWT berfirman: (Dan Sulaiman telah mewarisi Dawud) (Surah An-Naml: 16) yaitu dalam hal kenabian, karena sesungguhnya saat itu Dawud mempunyai anak yang banyak selain nabi Sulaiman. Sesungguhnya saat itu nabi Dawud mempunyai seratus orang istri yang semuanya dari wanita merdeka.
Firman Allah SWT: (dia adalah sebaik-baiknya hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)) pujian kepada nabi Sulaiman, bahwa dia adalah seorang yang sangat taat, banyak beribadah dan suka bertaubat kepada Allah SWT
Firman Allah SWT: ((Ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore (31)) yaitu pada saat ditampilkan di hadapan nabi Sulaiman keadaan kerajaannya, dan kuda-kuda yang tenang di atas singgasana kerajaannya
Mujahid berkata bahwa itu adalah kuda yang yang berdiri di atas ketiga kakinya, sedangkan kaki yang keempatnya menginjakkan ujung kakinya. Ini adalah ciri kuda yang kencang. Demikian juga dikatakan banyak ulama salaf.
Firman Allah SWT: (Ia berkata.”Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan” (32)) Ulama salaf dan mufasir yang memberitahukan bahwa nabi Sulaiman disibukkan penampilan kuda-kuda itu hingga shalat Ashar terlewat darinya. Tetapi yang pasti bahwa nabi Sulaiman tidak meninggalkannya dengan sengaja, melainkan lupa, sebagaimana kesibukan yang pernah dialami Nabi SAW pada hari penggalian parit sehingga shalat Ashar terlewatkan olehnya dan baru mengerjakannya setelah matahari tenggelam. Disebutkan dalam hadits shahih Bukhari Muslim dari banyak jalur, salah satunya dari Jabir, dia berkata,”Umar datang di hari penggalian parit setelah matahari tenggelam, maka dia mencaci maki orang-orang kafir Quraisy dan berkata, "Wahai Rasulullah, aku belum mengerjakan shalat Ashar, dan matahari telah tenggelam" Rasulullah SAW bersabda, "Demi Allah, aku belum mengerjakannya" Maka kami berangkat menuju Buthan dan Nabi SAW berwudhu untuk shalatnya, lalu kami berwudhu. Maka beliau mengerjakan shalat Ashar setelah matahari tenggelam, kemudian beliau langsung mengerjakan shalat Magrib setelahnya.
Barangkali menurut syariat nabi Sulaiman diperbolehkan mengakhirkan shalat karena alasan perang; dan kuda di masanya dimaksudkan untuk berperang. Segolongan ulama menyatakan bahwa pada mulanya hal itu diisyaratkan, kemudian dinasakh dengan shalat khauf. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa hal itu diperbolehkan di saat keadaan beradu senjata dan sulit sehingga tidak mungkin melaksanakan shalat, rukuk, dan sujud. Sebagaimana yang dilakukan para sahabat kenika mereka menaklukkan Tustar. Riwayat ini dinukil dari Makhul, Al-Auza'i dan selain keduanya.
Pendapat yang pertama yang lebih mendekati kebenaran, karena setelahnya Allah berfirman: ((Ia Berkata), "Bawalah semua kuda itu kembali kepadaku!" Lalu ia menebas kaki dan leher kuda itu (33))
Hasan Al-Bahsri berkata, "Tidak" nabi Sulaiman berkata, "Demi Allah, janganlah menyibukkanku dari menyembah Tuhanku”Kemudian dia memerintahkan agar kuda-kuda disembelih. Demikian juga dikatakan Qatadah.
Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa nabi Sulaiman mengusap-usap leher dan kaki kuda itu.


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

📚 An-Nafahat Al-Makkiyah / Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi

Surat Shad ayat 33: (Ia berkata, "Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku") yaitu kuda-kuda yang ditampilkan tadi kemudian mereka membawanya kepada Nabi Sulaiman (lalu ia membabat kuda-kuda itu) dengan pedangnya (pada kaki-kakinya) lafal As-Suuq ini adalah bentuk jamak dari lafal Saaqun (dan pada lehernya) artinya Nabi Sulaiman menyembelih semua kuda-kuda itu kemudian memotong kakinya sebagai kurban untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Karena kuda-kuda itu ternyata membuatnya lalai dari salat; kemudian ia menyedekahkan daging-dagingnya. Akhirnya Allah menggantikan kudanya dengan kendaraan yang jauh lebih baik dan lebih cepat larinya, yaitu kendaraan angin; angin dapat diperintah untuk bertiup dengan membawanya ke mana saja yang ia kehendaki.


📚 Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Menurut Al Hasan Al Bashri: Sulaiman berkata, “Tidak, demi Allah (kuda-kuda) ini tidak boleh membuatku lalai dari beribadah kepada Tuhanku. (Ini) adalah yang terakhir untukmu.” Maka Ia memerintahkan untuk disembelih.” Ini pula yang dikatakan Qatadah. As Suddiy berkata, “Ia potong leher dan kakinya dengan pedang.” Namun Ali bin Thalhah berkata: Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma ia berkata, “Beliau mengusap bagian atas kuda dan kakinya karena cinta kepadanya.” Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir, menurutnya, karena ia tidak mungkin menyiksa hewan dengan memotong kakinya dan membinasakan harta di antara hartanya tanpa sebab selain hanya karena sibuk melihatnya sampai lalai dari shalatnya, padahal kuda itu tidak bersalah.” Menurut Ibnu Katsir, bahwa apa yang dirajihkan Ibnu Jarir perlu ditinjau kembali, karena bisa saja dalam syariat mereka hal itu diperbolehkan, apalagi Beliau lakukan sebagai sikap marah karena Allah disebabkan Beliau sibuk dengan kuda-kuda itu sampai lewat waktu shalat. Oleh karena itu, ketika ia telah meninggalkan hal itu, Allah ‘Azza wa Jalla menggantinya dengan yang lebih baik darinya, yaitu angin yang berhembus dengan baik sesuai perintahnya, di mana perjalanannya di pagi hari sama seperti perjalanannya sebulan dan perjalanannya di sore hari sama seperti perjalanannya sebulan. Hal ini jelas lebih cepat dan lebih baik dari kuda.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Qatadah dan Abuddahma’, di mana keduanya adalah orang yang sering bepergian menuju Baitullah. Keduanya berkata, “Kami mendatangi salah seorang penduduk Badui, lalu orang itu berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah memegang tanganku dan mengajarkanku sebagian di antara ilmu yang Allah ajarkan kepadanya, dan Beliau bersabda,

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَعْطَاكَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ

“Sesungguhnya engkau tidaklah meninggalkan sesuatu karena takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, kecuali Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik darinya.” (HR. Ahmad)


📚 Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI / Surat Shad Ayat 33

Lalu nabi sulaiman berkata kepada pelatih kuda, 'bawalah semua kuda itu kembali kepadaku. ' lalu dia pun mengusap-usap kaki dan leher kuda itu sebagai wujud syukurnya kepada Allah. 34. Dan kami tidak hanya mencurahkan karunia kepada nabi sulaiman. Sungguh, kami pun telah menguji nabi sulaiman dengan penyakit yang menyebabkan hilangnya kekuatan yang dimilikinya, dan karena itu kami jadikan dia hanya mampu tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh yang lemah tak berdaya, kemudian dia pun menyadari kelalaiannya dan bertobat kepada Allah.


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

Itulah kumpulan penjelasan dari berbagai ulama mengenai makna dan arti surat Shad ayat 33 (arab-latin dan artinya), moga-moga memberi kebaikan bagi kita. Sokonglah usaha kami dengan memberi link menuju halaman ini atau menuju halaman depan TafsirWeb.com.

Halaman Paling Banyak Dilihat

Kami memiliki ratusan topik yang paling banyak dilihat, seperti surat/ayat: Luqman, Yunus 40, Al-Hujurat 6, Al-‘Ankabut 57, Al-Bayyinah 5, Al-A’raf 26. Termasuk Al-Isra 27, Yunus, Bersyukur, Ali ‘Imran 31, Ad-Dhuha 3, Ali ‘Imran 14.

  1. Luqman
  2. Yunus 40
  3. Al-Hujurat 6
  4. Al-‘Ankabut 57
  5. Al-Bayyinah 5
  6. Al-A’raf 26
  7. Al-Isra 27
  8. Yunus
  9. Bersyukur
  10. Ali ‘Imran 31
  11. Ad-Dhuha 3
  12. Ali ‘Imran 14

Pencarian: alquran surat ali imran, albaqarah 18, surat wal ashri dan artinya, jika kamu bersyukur maka aku akan tambah, surat latin al falaq

Surat dan Ayat Rezeki

Dapatkan pahala jariyah dan buku digital "Jalan Rezeki Berlimpah" dengan sharing informasi tentang TafsirWeb!

Cara Sharing Manual:

Copy-paste text di bawah, kirim ke lima (5) group WhatsApp yang Anda ikuti:

Nikmati kemudahan dari Allah untuk memahami al-Qur’an dengan tafsirnya. Tinggal klik nama suratnya, klik nomor ayat, maka akan keluar penjelasan lengkap untuk ayat tersebut:
 
✅ Klik *tafsirweb.com/start* untuk menikmati tafsir al-Qur'an
 
✅ Klik *tafsirweb.com/pahala* lalu kirim informasi ini ke 5 group lainnya untuk dapat pahala jariyah

Cara Sharing Otomatis:

Klik Di Sini 👉 pilih lima (5) group WhatsApp yang Anda ikuti 👉 klik tombol kirim

Bonus Setelah Sharing:

Setelah Anda melakukan sharing, klik tombol di bawah: