Surat An-Nur Ayat 34

وَلَقَدْ أَنزَلْنَآ إِلَيْكُمْ ءَايَٰتٍ مُّبَيِّنَٰتٍ وَمَثَلًا مِّنَ ٱلَّذِينَ خَلَوْا۟ مِن قَبْلِكُمْ وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِينَ

Arab-Latin: Wa laqad anzalnā ilaikum āyātim mubayyinātiw wa maṡalam minallażīna khalau ming qablikum wa mau'iẓatal lil-muttaqīn

Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.

« An-Nur 33An-Nur 35 »

Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

Hikmah Menarik Terkait Dengan Surat An-Nur Ayat 34

Paragraf di atas merupakan Surat An-Nur Ayat 34 dengan text arab, latin dan terjemah artinya. Ada variasi hikmah menarik dari ayat ini. Tersedia variasi penafsiran dari berbagai ulama tafsir terkait isi surat An-Nur ayat 34, di antaranya sebagaimana di bawah ini:

📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kalian (wahai sekalian manusia) ayat-ayat al-Qur’an sebagai petunju-petunjuk nyata terhadap kebenaran dan perumpamaan umat-umat terdahulu baik yang beriman maupun yang kafir dan segala kebaikan ataupun keburukan yang menimpa mereka merupakan perumpamaan dan pelajaran bagi kalian, dan nasihat yang akan bermanfaat bagi orang yang bertakwa kepada Allah dan takut akan siksaNya.


📚 Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Univ Islam Madinah

34. Sungguh Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas hukum-hukumnya, dan Kami telah membuat banyak contoh bagi kalian dengan umat-umat sebelum kalian, dan Kami juga telah menurunkan kepadamu pelajaran dan ibrah yang dapat melembutkan hati orang-orang yang bertakwa.


📚 Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram

34. Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kalian -wahai manusia- ayat-ayat yang memberi penerangan, yang tidak ada keraguan di dalamnya, dan juga menurunkan kepada kalian contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kalian baik orang-orang mukmin maupun kafir, serta Kami menurunkan pelajaran yang hanya bisa dipetik oleh orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan mereka dengan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

📚 Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

34. وَلَقَدْ أَنزَلْنَآ إِلَيْكُمْ ءَايٰتٍ مُّبَيِّنٰتٍ (Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan)
Yakni penerangan yang jelas.

وَمَثَلًا مِّنَ الَّذِينَ خَلَوْا۟ مِن قَبْلِكُمْ(dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu)
Yakni seperti perumpamaan-perumpamaan dari kisah-kisah menakjubkan yang diceritakan bagi mereka dalam kitab-kitab terdahulu.

وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِينَ(dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa)
Yakni hanya orang-orang yang bertakwa saja yang dapat mengambil manfaat darinya.


📚 Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

34. Wahai orang-orang mukmin, sungguh Kami telah menurunkan untuk kalian ayat-ayat pemisah dalam Al-Qur’an yang menjelaskan hukum, batasan, adab, dan kisah menakjubkan yang menyerupai kisah lainnya. Kisah ini yaitu kisah Sayyidah ‘Aisyah yang menyerupai kisah Maryam dan Yusuf yang dibebaskan oleh Allah SWT. Kisah atau perumpamaan itu seperti perumpamaan-perumpamaan orang-orang terdahulu sebelum kalian di kitab-kitab terdahulu dan merupakan pelajaran bagi orang-orang yang takut dengan azab Allah dan suka berdzikir karena mereka mengambil manfaat dari pelajaran itu.


📚 Tafsir Ash-Shaghir / Fayiz bin Sayyaf As-Sariih, dimuraja’ah oleh Syaikh Prof. Dr. Abdullah bin Abdul Aziz al-‘Awaji, professor tafsir Univ Islam Madinah

Sungguh Kami telah menurunkan kepada kalian ayat-ayat yang jelas} jelas {contoh-contoh} kabar-kabar {dari orang-orang yang terdahulu} terdahulu {sebelum kalian dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

📚 Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

34 ini merupakan bentuk pengagungan dan pemuliaan terhadap ayat-ayat yang telah dibacakan kepada para hambaNya, supaya mereka mengetahui kedudukannya dan menjalankan haknya. Allah berfirman,” dan sungguh kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan,” yaitu petunjuk yang jelas terhadap setiap perkara yang kalian butuhkan, baik perkara yang ushul ataupun yang furu’, sehingga tidak tersisa satu masalah rancu dan syubhat pun didalmnya. “dan” kami turunkan kepada kalian juga “contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu,” berupa kisah orang-orang terdahulu, baik yang shalih ataupun yang durhaka, sifat-sifat amal perbuatan mereka, peristiwa yang baik yang terjadi pada mereka atau malapetaka yang menimpa mereka. Kalian merenungkannya sebagai bahan permisalan dan sumber pelajaran abgi orang yang melakukan hal serupa dengan amal mereka sehingga akan dibaalas dengan apa yang telah mereka terima. “dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa,” maksudnya kami telah menurunkan buat kalian nasihat bagi oranmg-orang yang bertakwa, berupa janji (baik), ancaman, anjuran dan peringatan, sebagai nasihat bagi orang yang bertakwa, sehingga mereka akan menahan diri dari sesuatu yang Allah benci kepada sesuatu yang Allah cintai.


📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas) / Fathul Karim Mukhtashar Tafsir al-Qur'an al-'Adzhim, karya Syaikh Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin, professor fakultas al-Qur'an Univ Islam Madinah

Ayat 32-34
Ayat-ayat yang mulia mengandung penjelasan tentang sejumlah hukum yang muhkamat dan perintah-perintah yang pasti. Firman Allah: (Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kalian….), sampai akhir ayat. Hal ini merupakan perintah untuk kawin
Segolongan ulama berpendapat terkait kewajiban untuk kawin bagi setiap orang yang mampu melakukanya. Mereka berhujjah dengan sabda Nabi SAW,”Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian mampu menanggung biaya perkawinan, maka hendaklah dia kawin. Karena sesungguhnya kawin itu lebih menundukkan pandangan mata dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaknya dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu peredam baginya”
Kata “Al-Ayama” adalah bentuk jamak dari “ayyimun”. Kata ini dikatakan kepada wanita yang belum memiliki suami, dan dikatakan kepada laki-laki yang belum memiliki istri, sama juga jika sudah menikah kemudian bercerai atau salah satu dari keduanya belum menikah. Pendapat ini diriwayatkan oleh Al-Jauhari dari ahli bahasa. Dikatakan “rajulun ayyimun” (laki-laki yang tidak beristri)) dan “imra’atun ayyimun” (wanita yang tidak bersuami”
Firman Allah: (Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya ….) hingga akhir ayat. Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna mengandung anjuran kepada mereka untuk menikah. Allah memerintahkan orang-orang yang merdeka dan budak-budak untuk menikah, dan Dia menjanjikan kecukupan kepada mereka. Maka Allah SWT berfirman: (Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:”Tiga macam orang yang berhak memperoleh pertolongan dari Allah, yaitu orang yang menikah karena menghendaki kesucian, budak mukatab yang bertekad melunasinya, dan orang yang berperang di jalan Allah”
Firman Allah: (Dan orang-orang yang tidak mampu kawin, hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karuniaNya) Ini adalah perintah Allah SWT kepada lelaki yang tidak mampu kawin; untuk mereka memelihara diri dari hal yang diharamkan, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda,”Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk kawin, maka hendaknya dia kawin, karena sesungguhnya kawin itu lebih menundukkan pandangan mata dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah dia berpuasa; karena sesungguhnya puasa itu peredam baginya” Ayat ini mengandung makna mutlak, dan ayat yang ada di surah An-Nisa lebih khusus, yaitu firmanNya: (Dan barang siapa di antara kalian (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini wanita merdeka) sampai firmanNya (dan kesabaran itu lebih baik bagi kalian) (Surah An-Nisa’: 25) yaitu, kesabaran kalian untuk tidak mengawini budak perempuan lebih baik bagi kalian, karena anaknya kelak akan menjadi budak juga (Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang)
Firman Allah SWT: (Dan budak-budak yang kalian miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kalian buat perjanjian dengan mereka, jika kalian mengetahui ada kebaikan pada mereka) Ini adalah perintah dari Allah kepada para tuan, jika para budak mereka menginginkan kitabah, yaitu hendaknya mereka memenuhi permintaan mereka dengan mengikat perjanjian, bahwa budak itu dipersilakan untuk berusaha dan dari hasil usahanya itu dia harus melunasi sejumlah harta yang telah disyaratkan oleh orang yang memberikan syarat untuk dipenuhi. Mayoritas ulama berpendapat bahwa perintah dalam ayat ini merupakan perintah arahan dan anjuran, bukan perintah harus atau wajib, bahkan tuan diperbolehkan memilih, jika budaknya menginginkan kitabah darinya, maka dia bisa menyetujuinya jika mau dan tidak. jika tidak mau.
Ulama’ lain berpendapat bahwa itu wajib dilakukan oleh tuannya jika budaknya menginginkan hal itu, dimana dia wajib menyetujui apa yang diinginkan oleh budaknya, berdasarkan makna yang tampak pada perkara ini
Imam Bukhari berkata,”Rauh telah meriwayatkan dari Ibnu Juraij,” Aku bertanya kepada ‘Atha’,"Apakah wajib atas diriku memenuhi permintaan budakku yang mengajukan transaksi kitabah dengan sejumlah harta?" ‘Atha’ menjawab,"Aku melihat bahwa tiada lain bagimu kecuali wajib memenuhinya"
Amr bin Dinar berkata,”Aku bertanya kepada ‘Atha’,"Apakah kamu lebih mementingkan orang lain daripada dia?" ‘Atha’ menjawab,"Tidak" Kemudian dia menceritakan kepadaku, bahwa Musa bin Anas menceritakan kepadanya bahwa Sirin pernah mengajukan kitabah kepada Anas, sedangkan Sirin mempunyai harta yang banyak, lalu Anas menolak. Maka Sirin melaporkannya kepada Umar. Lalu Umar berkata,"Penuhilah kitabahnya!" Lalu Anas menolak. Lalu Umar memukulnya dengan cambuk, dan membacakan kepadanya firman Allah: (hendaklah kalian buat perjanjian dengan mereka, jika kalian mengetahui ada kebaikan pada mereka) lalu Anas mau membuat kitabah dengan Sirin. Demikian juga disebutkan oleh Imam Bukhari secara ta'liq.
Diriwayatkan dari Qatadah, dari Anas ibnu Malik, bahwa Sirin bermaksud membuat kitabah kepadanya, lalu Anas menolak. Maka Umar berkata kepadanya, "Penuhilah kitabahnya".
Ibnu Abbas berkata bahwa Allah SWT memerintahkan orang-orang mukmin untuk memerdekakan budak. Telah disebutkan sebelumnya dalam hadits dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda,”Tiga macam orang yang berhak memperoleh pertolongan dari Allah…” dia menyebutkan bahwa di antara mereka ada budak yang ingin memenuhi kitabahnya. Pendapat yang pertama adalah yang lebih terkenal
Firman Allah: (dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakanNya kepada kalian) Para mufasir berbeda pendapat tentang hal ini. Sebagian dari mereka ada yang berkata bahwa maknanya adalah,”Bebaskanlah dari mereka sebagian utang kitabah mereka” Ulama lainnya berkata bahkan yang dimaksud dari firmanNya: (dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan kepada kalian) yaitu bagian yang telah ditetapkan Allah bagi mereka dari zakat. Ini adalah pendapat Al-Hasan, Abdurrahman ibnu Zaid bin Aslam dan ayahnya serta Muqatil bin Hayyan, dan pendapat ini dipilih Ibnu Jarir.
Firman Allah SWT: (Dan janganlah kamu paksa hamba sahaya perempuanmu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri menginginkan kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan kehidupan dunia). Pada masa Jahiliyah jika seseorang dari mereka mempunyai budak perempuan, maka dia mengirimnya untuk berbuat zina dan menetapkan atas dirinya pajak yang dia pungut di setiap waktu. Setelah Islam datang, Allah melarang orang-orang mukmin melakukan hal itu.
Firman Allah: (sedangkan mereka sendiri menginginkan kesucian) ini menggambarkan tentang pengecualian dari mayoritas, maka tidak mengandung arti yang berhubungan dengan sebelumnya.
Firman Allah: (karena kalian hendak mencari keuntungan dunia) yaitu dari pajak, hasil mahar, dan anak-anak yang dilahirkan dari mereka. Rasulullah SAW telah melarang hasil usaha dari berbekam, mahar pelacur, dan upah dukun.
Firman Allah SWT: (Dan barang siapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa (itu)) bagi mereka
Ibnu Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa apabila kalian melakukan demikian, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, sedangkan dosa mereka ditimpakan atas orang­ orang yang memaksa mereka. Demikian juga dikatakan oleh Mujahid, ‘Atha’ Al-Khurasani, Al-A'masy, dan Qatadah.
Diriwayatkan dari Al-Hasan tentang ayat berikut: (maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa (itu)) yaitu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada mereka.
Diriwayatkan dari Az-Zuhri, dia berkata bahwa Allah Maha Pengampun kepada mereka sesudah mereka dipaksa berbuat itu.
Diriwayatkan dari Zaid bin Aslam, dia berkata bahwa (Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang) kepada wanita-wanita yang dipaksa.
Setelah menjelaskan hukum-hukum ini dengan keterangan yang rinci, Allah SWT berfirman: (Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kalian ayat-ayat yang memberi keterangan) yaitu Al-Qur'an yang di dalamnya terdapat ayat-ayat yang jelas dan diterangkan (dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kalian) yaitu berita tentang umat-umat terdahulu dan azab yang menimpa mereka karena menentang perintah-perintah Allah SWT, sebagaimana Allah SWT berfirman: (dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian) (Surah Az-Zukhruf: 56). (dan pelajaran) yaitu pelajaran bagi orang yang melakukan perbuatan dosa dan hal-hal yang diharamkan (bagi orang-orang yang bertakwa) yaitu bagi orang yang bertakwa dan takut kepada Allah.


📚 Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Surat An-Nur ayat 34: Ayat ini merupakan pengagungan terhadap ayat-ayat Al Qur’an ini yang diturunkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya agar mereka mengetahui kedudukannya dan melaksanakan haknya.

Terhadap semua yang kamu butuhkan, baik perkara ushul (dasar) maupun furu’ (cabang) sehingga tidak ada lagi kemusykilan dan syubhat (kesamaran).

Baik yang saleh maupun yang tidak dan menerangkan sifat amal mereka serta apa yang menimpa mereka agar kamu menjadikannya pelajaran, bahwa orang yang melakukan hal yang sama akan mendapatkan balasan yang serupa.

Seperti nasehat-Nya agar rasa belas kasihan tidak menghalanginya dari menegakkan hukum Allah, dan nasehat agar tidak berburuk sangka kepada orang yang baik, dsb. Di samping itu, di dalamnya pun terdapat janji dan ancaman, targhib dan tarhib.

Dikhususkan kepada orang-orang yang bertakwa, karena merekalah yang dapat mengambil manfaat daripadanya.


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

📚 Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI / Surat An-Nur Ayat 34

Ayat ini menutup uraian kelompok ayat-ayat tentang kabar bohong yang menimpa keluarga nabi serta petunjuk-petunjuk yang berkaitan dengan isu tersebut. Dan sungguh, kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penjelasan, tuntunan hidup, dan contoh-contoh yang serupa dengan apa yang kamu alami dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu, seperti maryam dan yusuf yang dituduh berzina dan menerima pembebasan dari tuduhan itu; dan sebagai pelajaran bagi mereka yang mau membuka pikiran dan hatinya, yaitu orang-orang yang bertakwa. 35. Allah adalah pemberi cahaya, karenanya dia menurunkan Al-Qur'an untuk menjadi cahaya bagi kehidupan manusia. Allah adalah pemberi cahaya pada langit dan bumi, baik cahaya material yang kasat mata maupun cahaya immaterial seperti keimanan, pengetahuan, dan lainnya. Perumpamaan kecerlangan cahaya-Nya yang menerangi hati orang-orang mukmin seperti sebuah lubang yang tidak tembus sehingga tidak diterpa angin yang dapat memadamkan cahaya, dan membantu mengumpulkan cahaya lalu memantulkannya; yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca dan tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, yaitu pohon zaitun, yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, sehingga pohon itu selalu mendapat sinar matahari sepanjang hari. Kejernihan minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya, berlapis-lapis; pelita adalah cahaya, demikian pula kaca dan minyak yang begitu jernih, sehingga sempurnalah sinarnya. Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang dia kehendaki, yaitu siapa saja yang mengikuti petunjuk Al-Qur'an, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia agar mereka mudah memahami kandungannya dan mengambil pela-jaran darinya hingga akhirnya mau beriman. Dan Allah maha mengetahui segala sesuatu; tidak ada sedikit pun yang tersembunyi dari-Nya.


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

Demikian sekumpulan penjelasan dari kalangan pakar tafsir berkaitan kandungan dan arti surat An-Nur ayat 34 (arab-latin dan artinya), semoga membawa faidah bagi kita bersama. Sokong dakwah kami dengan memberikan tautan ke halaman ini atau ke halaman depan TafsirWeb.com.

Yang Sering Dilihat

Tersedia ratusan materi yang sering dilihat, seperti surat/ayat: An-Nahl 125, Al-Baqarah 155, At-Taubah 128-129, Al-Baqarah 1-5, Al-Hujurat, As-Sajdah. Serta Al-Baqarah 275, Ath-Thariq, Al-Waqi’ah 35-38, Ar-Ra’d 28, Al-Furqan 63, At-Tahrim 6.

  1. An-Nahl 125
  2. Al-Baqarah 155
  3. At-Taubah 128-129
  4. Al-Baqarah 1-5
  5. Al-Hujurat
  6. As-Sajdah
  7. Al-Baqarah 275
  8. Ath-Thariq
  9. Al-Waqi’ah 35-38
  10. Ar-Ra’d 28
  11. Al-Furqan 63
  12. At-Tahrim 6

Pencarian: surat al imran ayat 10, surah an nahl dan terjemahannya, doa setelah adzan arab dan latin, al maidah ayat 6 menjelaskan tentang, terjemahan al qariah

Surat dan Ayat Rezeki

Dapatkan pahala jariyah dan buku digital "Jalan Rezeki Berlimpah" dengan sharing informasi tentang TafsirWeb!

Cara Sharing Manual:

Copy-paste text di bawah, kirim ke lima (5) group WhatsApp yang Anda ikuti:

Nikmati kemudahan dari Allah untuk memahami al-Qur’an dengan tafsirnya. Tinggal klik nama suratnya, klik nomor ayat, maka akan keluar penjelasan lengkap untuk ayat tersebut:
 
✅ Klik *tafsirweb.com/start* untuk menikmati tafsir al-Qur'an
 
✅ Klik *tafsirweb.com/pahala* lalu kirim informasi ini ke 5 group lainnya untuk dapat pahala jariyah

Cara Sharing Otomatis:

Klik Di Sini 👉 pilih lima (5) group WhatsApp yang Anda ikuti 👉 klik tombol kirim

Bonus Setelah Sharing:

Setelah Anda melakukan sharing, klik tombol di bawah: