Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Ayat Tentang Ilmu Pengetahuan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Arab-Latin: yā ayyuhallażīna āmanū iżā qīla lakum tafassaḥụ fil-majālisi fafsaḥụ yafsaḥillāhu lakum, wa iżā qīlansyuzụ fansyuzụ yarfa'illāhullażīna āmanụ mingkum wallażīna ụtul-'ilma darajāt, wallāhu bimā ta'malụna khabīr

Terjemah Arti: Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan rasulNya serta melaksanakan syariatNya, bila kalian diminta agar sebagian dari kalian melapangkan majelis untuk sebagian yang lain, maka lakukanlah, niscaya Allah akan melapangkan kalian di dunia dan akhirat. Bila kalian (wahai orang-orang yang beriman) diminta agar bangkit dari majelis kalian untuk suatu hajat yang mengandung kebaiukan bagi kalian, maka bangkitlah. Allah akan meninggikan kedudukan orang-orang beriman yang ikhlas di antara kalian. Allah meninggikan derajat ahli ilmu dengan derajat-derajat yang banyak dalam pahala dan derajat meraih keridhaan. Allah Mahateliti terhadap amal-amal kalian, tidak ada sesuatu yang samar bagiNya, dan Dia akan membalas kalian atasnya. Ayat ini menyanjung kedudukan para ulama dan keutamaan mereka, serta ketinggian derajat mereka. (Tafsir al-Muyassar)

11. يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى الْمَجٰلِسِ (Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”) Allah memerintahkan mereka untuk saling menjaga adab, dengan melapangkan tempat duduk bagi yang lain dalam sebuah majelis. Qatadah dan Mujahid mengatakan: dahulu mereka saling berlomba-lomba untuk dapat mengikuti majelis Rasulullah, maka mereka diperintahkan untuk saling melapangkan tempat bagi orang lain. فَافْسَحُوا۟ يَفْسَحِ اللهُ لَكُمْ ۖ( maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu) Yakni maka lapangkanlah tempat bagi orang lain niscaya Allah akan melapangkan surga kalian. Hal ini berlaku pada setiap majelis tempat berkumpul kaum muslimin yang mengandung kebaikan dan pahala, baik itu dalam membicarakan urusan perang, zikir, atau pada saat khutbah jum’at. Setiap orang lebih berhak terhadap tempat yang lebih dahulu dia tempati, namun dia dianjurkan untuk melapangkan tempat bagi saudaranya yang lain. Rasulullah bersabda: “Dilarang seseorang menyuruh orang lain untuk berpindah dari tempat duduknya kemudian dia duduk di tempatnya. Namun hendaklah saling melapangkan tempat duduk bagi yang lain.” وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا۟ فَانشُزُوا۟( Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”) Yakni jika sebagian orang yang duduk di majelis itu diminta untuk berdiri dari tempat duduknya agar orang yang dimuliakan dalam agama dan orang yang berilmu dapat duduk di tempat itu maka hendaklah mereka berdiri. يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا۟ الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ ۚ( Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat) Yakni Allah mengangkat derajat orang yang berilmu diantara kalian dengan kemuliaan di dunia dan pahala di akhirat. Maka barangsiapa yang beriman dan memiliki ilmu maka Allah akan mengangkat derajatnya dengan keimanannya itu dan mengangkat derajatnya dengan ilmunya pula; dan salah satu dari itu adalah Allah mengangkat derajat mereka dalam majelis-majelis. (Zubdatut Tafsir)

11. Wahai orang yang beriman, jika dikatakan kepada kalian: berikan keluasan/kelapangan di dalam tempat duduk (majelis) untuk para pendahulu kalian. Maka Allah akan meluaskan rahmat-Nya berupa keluasan tempat, jiwa, rizki, surga dan sebagainya kepada kalian. Apabila dikatakan kepada kalian: Berdirilah untuk memberi kelapangan kepada para pendahulu kalian dengan cekatan. Maka Allah akan meluaskan tempat kalian di dunia dan di surga. Allah mengangkat derajat para ulama beberapa derajat dalam kemuliaan dan posisi yang tinggi di dunia dan akhirat sebab berpadunya ilmu dan amal mereka. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala amal kalian. Ini adalah ancaman bagi mereka yang tidak menjalankan perintah-Nya. Qatadah berkata: Pernah ketika ada kelompok orang yang ikut perang Badar baru datang dalam majelis mereka dan kemudian diperintahkan untuk berdiri melapangkan tempat, mereka menunjukkan roman tidak suka kepada perintah rasul SAW. Maka turunlah ayat ini (Tafsir al-Wajiz)

بَلِ ادَّارَكَ عِلْمُهُمْ فِي الْآخِرَةِ ۚ بَلْ هُمْ فِي شَكٍّ مِنْهَا ۖ بَلْ هُمْ مِنْهَا عَمُونَ

baliddāraka 'ilmuhum fil-ākhirah, bal hum fī syakkim min-hā, bal hum min-hā 'amụn

Sebenarnya pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai (kesana) malahan mereka ragu-ragu tentang akhirat itu, lebih-lebih lagi mereka buta daripadanya.

65-66. Katakanlah (wahai Rasul) kepada mereka, bahwa tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara-perkara ghaib yang hanya khusus diketahui oleh Allah semata. Dan mereka tidak tahu kapan akan dibangkitkan dari kubur-kubur mereka ketika Hari Kiamat datang. Bahkan ilmu mereka hanya akan menjadi sempurna di alam akhirat, lalu mereka meyakini kampung akhirat dan segala sesuatu yang terjadi disana berupa kengerian-kengerian ketika mereka menyaksikannya secara langsung, sedangkan di dunia mereka dalam keraguan terhadapnya, bahkan mata hati mereka telah buta terhadapnya. (Tafsir al-Muyassar)

66. بَلِ ادّٰرَكَ عِلْمُهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ ۚ (Sebenarnya pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai (kesana) malahan mereka ragu-ragu tentang akhirat itu) Yakni mereka akan benar-benar mengetahui ketika mereka telah di akhirat, sebab mereka telah melihat sendiri segala apa yang diancamkan kepada mereka; namun ketika itu pengetahuan mereka sudah tidak bermanfaat lagi karena mereka adalah orang-orang yang mendustakannya di dunia. بل هم في شك منها (malahan mereka ragu-ragu tentang akhirat itu) Yakni tetapi mereka di dunia berada dalam keraguan tentang akhirat. Kemudian Allah berpindah menyebutkan hal yang lebih parah dari hal ini dengan firman-Nya: بَلْ هُم مِّنْهَا عَمُونَ بَلْ هُم مِّنْهَا عَمُونَ (lebih-lebih lagi mereka buta daripadanya) Sehingga mereka tidak memahami sama sekali bukti-buktinya karena masalah pada penglihatan mereka yang merupakan sumber pemahaman. (Zubdatut Tafsir)

66. Sebenarnya pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai (kesana) malahan mereka ragu-ragu tentang akhirat itu, lebih-lebih lagi hati mereka buta atas urusan akhirat. Mereka tidak bisa mengambil pelajaran dari berbagai bukti akhirat yang ada sebab tidak normalnya penglihatan mereka yang mereka gunakan untuk memahami sesuatu. Bal adalah huruf yang berfungsi untuk berpindah dari satu keadaan menuju keadaan lain. Maksudnya adalah ilmu, bukti dan hujjah mereka tidak cukup/tidak sampai untuk memahami bahwa akhirat itu ada tanpa suatu keraguan. (Tafsir al-Wajiz)

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ ۗ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَىٰ إِلَيْكَ وَحْيُهُ ۖ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

fa ta'ālallāhul-malikul-ḥaqq, wa lā ta'jal bil-qur`āni ming qabli ay yuqḍā ilaika waḥyuhụ wa qur rabbi zidnī 'ilmā

Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan".

Allah maha bersih, tinggi dan suci dari semua kekurangan, Dia Raja Yang kekuasaaNya mengalahkan semua penguasa dan tirani, Yang mengendalikan segala sesuatu, Yang Mahabenar, janjiNya benar, ancamanNya benar, dan tiap-tiap sesuatu dariNya adalah kebenaran. Dan janganlah kamu teegesa-gesa (wahai Rasul) untuk mendahului Jibril dalam menerima al-Qur’an sebelim dia tuntas darinya. Dan katakanlah, “Wahai Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu disamping ilmu yang telah Engkau ajarkan kepadaku.” (Tafsir al-Muyassar)

114. فَتَعٰلَى اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ ۗ (Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya) Maha Tinggi Allah dari keingkaran orang yang mengingkari-Nya dan dari ucapan orang-orang musyrik tentang sifat-Nya. Dia-lah Raja yang sebenarnya, di tangan-Nya lah pahala dan siksaan. وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْءَانِ مِن قَبْلِ أَن يُقْضَىٰٓ إِلَيْكَ وَحْيُهُۥ ۖ( dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu) Ketika itu Rasulullah mendahului Jibril, yakni beliau mulai membaca sebelum Jibril selesai membacakan wahyu karena beliau sangat perhatian kepada wahyu yang diturunkan, maka Allah melarang hal ini. وَقُل رَّبِّ زِدْنِى عِلْمًا (dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”) Yakni mintalah Tuhanmu agar menambah ilmumu. (Zubdatut Tafsir)

114. Maha Agung Allah Dzat yang Maha Merajai, lagi Maha Benar Dzat dan SifatNya dari bentuk karakter para makhluk dan dari apa yang dikatakan orang-orang musyrik. Dan janganlah tergesa-gesa wahai Nabi dalam membaca Al-Qur’an ketika diturunkan sampai sempurna wahyu (yang diturunkan) itu, dan sampai Jibril telah selesai menyampaikannya kepadamu. Dan katakanlah: “Wahai Tuhanku, tambahkanlah ilmu sampai aku mendapatkan banyak ilmu sebagai ganti ketergesa-gesaanku.” As-Sadi berkata: “Suatu ketika Nabi SAW saat menerima Al-Qur’an dari Jibril, beliau kesulitan menghafalnya, sehingga itu menyulitkan dirinya, dan beliau takut Jibril segera naik (pergi), sedangkan beliau belum menghafalnya. Kemudian turunlah ayat ini” (Tafsir al-Wajiz)

فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ ۚ وَكُلًّا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ ۚ وَكُنَّا فَاعِلِينَ

fa fahhamnāhā sulaimān, wa kullan ātainā ḥukmaw wa 'ilmaw wa sakhkharnā ma'a dāwụdal-jibāla yusabbiḥna waṭ-ṭaīr, wa kunnā fā'ilīn

maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan kamilah yang melakukannya.

Maka Kami memberikan pemahaman kepada Sulaiman untuk menimbang-nimbang kemaslahatan kedua belah pihak dengan putusan yang adil. Dia menetapkan putusan terhadap pemilik kambing untuk memperbaiki tanaman yang rusak dalam jangka waktu yang dia butuhkan, seiring pemilik tanaman mendapatkan manfaat-manfaat dari kambing itu berupa susu, bulu, dan manfaat lainnya dalam masa itu. Kemudian kambing itu kembali ke pemiliknya; demikian juga tanaman itu kembali kepada pemiliknya; dikarenakan setaranya nominal harga tanaman yang rusak dengan manfaat kambing yang didapat. Dan masing-masing dari mereka berdua, Dawud dan Sulaiman, Kami berikan kepada mereka keahlian dalam hokum dan ilmu, dan Kami anugerahkan kepada Dawud dengan ditundukannya gunung-gunung yang bertasbih bersamanya, jika Dawud bertasbih. Begitu pula burung-burung pun bertasbih. Dan Kami-lah yang melakukannya. (Tafsir al-Muyassar)

79. فَفَهَّمْنٰهَا سُلَيْمٰنَ ۚ (maka Kami telah memberikan pemahaman kepada Sulaiman) Para ahli tafsir menyebutkan: pemillik tanaman dan pemilik kambing mendatangi nabi Dawud; kemudian pemilik tanaman berkata: “kambing orang ini lepas di malam hari, lalu memakan tanamanku sampai habis.” Maka Nabi Dawud berkata: “maka kambing itu jadi milikmu.” Namun Nabi Sulaiman menyanggah: “atau dengan keputusan yang lain; pemilik tanaman boleh membawa kambing dan mengambil susu dan manfaat lainnya dari kambing, dan pemilik kambing harus mengurus tanaman sampai tanaman itu tumbuh seperti saat kambing itu lepas pada malam tersebut, kemudian pemilik tanaman mengembalikan kambingnya dan pemilik kambing mengembalikan urusan tanamannya.” Maka Nabi Dawud berkata: “keputusannya adalah sebagaimana keputusanmu.” Dan akhirnya dia memutuskan dengan keputusan Nabi Sulaiman. Adapun ketentuan dalam syari’at kita, telah disebutkan dalam hadits dari al-Barra’ bahwa Rasulullah mensyariatkan bagi umatnya bahwa pemilik hewan ternak harus menjaga ternaknya pada malam hari dan pemilik kebun harus menjaga kebunnya pada siang hari. Apabila hewan ternak merusak kebun pada malam hari maka pemilik ternak harus membayar ganti ruginya sesuai dengan tanaman yang rusak atau sesuai harganya. وَكُلًّا ءَاتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا (dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu) Yakni keduanya telah Kami berikan hikmah dan ilmu yang banyak, dan bukan hanya kepada Nabi Sulaiman saja. Hal ini agar tidak ada yang mengira rendahnya ilmu Nabi Dawud. وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُۥدَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ(dan telah Kami tundukkan gunung-gunung, semua bertasbih bersama Daud) Dahulu jika Nabi Daud bertasbih maka gunung-gunung juga bertasbih bersamanya. وَالطَّيْرَ ۚ (serta burung-burung) Burung-burung yang terbang juga bertasbih bersamanya. وَكُنَّا فٰعِلِينَ (Dan kamilah yang melakukannya) Yakni Kami yang memberi mereka pemahaman dan hikmah dan Kami yang menundukkan bagi mereka. (Zubdatut Tafsir)

79. Lalu Kami beri Sulaiman pemahaman tentang hukum untuk menjadi wakil Dawud. Dan Kami anugerahkan Sulaiman wahyu kenabian dan ilmu yang bermanfaat dalam urusan-urusan agama. Dan Kami tundukkan (rendahkan) gunung-gunung dan burung-burung bersama Dawud, supaya mereka bisa bertasbih dengannya, sehingga ketika dia bertasbih, semuanya ikut bertasbih bersamanya sesuai perintahnya. Dan Kamilah yang melakukan semua itu, yaitu pemberian pemahaman tentang hukum dan penundukkan gunung dan burung agar bertasbih bersamanya. Dan tidak ada yang bisa melakukannya selain Kami (Tafsir al-Wajiz)

۞ وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

wa 'indahụ mafātiḥul-gaibi lā ya'lamuhā illā huw, wa ya'lamu mā fil-barri wal-baḥr, wa mā tasquṭu miw waraqatin illā ya'lamuhā wa lā ḥabbatin fī ẓulumātil-arḍi wa lā raṭbiw wa lā yābisin illā fī kitābim mubīn

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)"

Dan disisi Allah lah kunci-kunci perkara ghaib, yaitu perbendaharaan perkara-perkara ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia saja. Diantaranya adalah pengetahuan tentang hari kiamat, (waktu) turunnya hujan,janin yang ada didalam Rahim, rizki di masa depan serta tempat kematian sesorang. Dia mengetahui semua yang ada di darat dan di laut. Dan tidaklah ada dedaunan yang gugur dari satu tanaman, kecuali Dia mengetahuinya. Dan setiap biji yang ada ditempat tersembunyi di dalam tanah,setiap Sesuatu yang basah dan kering , (semuanya) tertulis rapi dalam buku yang nyata, tidak ada kesamaran sama sekali di dalamnya,yaitu lauhil mahfuzh. (Tafsir al-Muyassar)

59. وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ (Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib) Yakni tempat-tempat disimpannya hal-hal ghaib. Pendapat lain mengatakan maknanya adalah kunci-kunci perbendaharaan hal-hal ghaib. لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَ ۚ (tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri) Tidak ada satupun makhluk-Nya yang mengetahui hal-hal ghaib yang Dia jadikan hanya untuk-Nya. Dan ini adalah bantahan atas kebohongan-kebohongan para dukun, peramal bintang, dan lainnya yang mengaku hal-hal yang tidak mereka miliki. Diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: “kunci-kunci hal ghaib ada lima, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah: tidak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi besok kecuali Allah, tidak ada yang mengetahui apa yang ada didalam rahim kecuali Allah, tidak ada yang mengetahui kapan turun hujan kecuali Allah, dan jiwa seseorang tidak mengetahui dimana dia akan mati, dan tidak seorangpun yang tau kapan terjadi kiamat”. وَيَعْلَمُ مَا فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ (dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan) Baik itu hewan-hewan maupun benda mati, dengan ilmu yang detail. وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ (dan tiada sehelai daun pun yang gugur) Dari pohonnya. إِلَّا يَعْلَمُهَا (melainkan Dia mengetahuinya) Yakni mengetahui waktu dan tempat jatuhnya. وَلَا حَبَّةٍ(dan tidak sebutir biji-pun) Yang ada. فِى ظُلُمٰتِ الْأَرْضِ (dalam kegelapan bumi) Yakni di tempat-tempat yang gelap dalam perut bumi. وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ (dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering) Meliputi segala hal yang ada. إِلَّا فِى كِتٰبٍ مُّبِينٍ(melainkan tertulis dalam kitab yang nyata) Yakni dalam lauhul mahfudz. (Zubdatut Tafsir)

59 Pada sisi Allah-lah kunci-kunci segala yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah sendiri. Dengan itu berarti telah terpatahkan dugaan para pendeta dan peramal dan lainnya. Dia Mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya pula. Tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi kecuali Dia Mengetahuinya, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering dari berbagai benda atau makhluk kecuali Dia Mengetahuinya. Itu semua telah tertulis dalam kitab yang nyata Lauh Mahfudz, dalam pengawasan dan ilmu Allah.” (Tafsir al-Wajiz)

فَلَمَّا جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَرِحُوا بِمَا عِنْدَهُمْ مِنَ الْعِلْمِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

fa lammā jā`at-hum rusuluhum bil-bayyināti fariḥụ bimā 'indahum minal-'ilmi wa ḥāqa bihim mā kānụ bihī yastahzi`ụn

Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa ketarangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu.

Manakala umat-umat yang mendustakan itu didatangi para rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berbahagia dengan ilmu yang mereka miliki yang bertentangan dengan apa yang dibawa oleh utusan-utusan mereka, karena kebodohan mereka. Azab pun menimpa mereka, padahal sebelumnya mereka menghina dan mengejek para utusan untuk segera mendatangkan azab tersebut. Ayat ini mengandung dalil bahwa setiap ilmu yang bertentangan dengan Islam atau mencederai Islam atau meragukan kebenaran Islam, ilmu tersebut adalah ilmu yang tercela dan dibenci, serta orang yang meyakininya bukan termasuk diantara para pengikut Muhammad. (Tafsir al-Muyassar)

83. فَلَمَّا جَآءَتْهُمْ رُسُلُهُم بِالْبَيِّنٰتِ (Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa ketarangan-keterangan) Yakni dengan hujjah-hujjah yang jelas dan mukjizat-mukjizat yang terang. فَرِحُوا۟ بِمَا عِندَهُم مِّنَ الْعِلْمِ(mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka) Yakni mereka menampakkan kesenangan atas apa yang mereka miliki yang mereka sebut dengan ilmu, padahal sebenarnya itu hanyalah syubhat dan pengakuan palsu mereka. Pendapat lain mengatakan yang dimaksud adalah mereka merasa senang dengan ilmu tentang dunia yang mereka miliki, dan bukan ilmu tentang agama, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah: يعلمون ظاهرا من الحياة الدنيا “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia.” (ar-Rum: 7) وَحَاقَ بِهِم مَّا كَانُوا۟ بِهِۦ يَسْتَهْزِءُونَ(dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu) Yakni mereka dikepung oleh balasan olokan mereka. (Zubdatut Tafsir)

83. Ketika para rasul datang kepada mereka dengan mukjizat dan dalil untuk mengesakan Allah, mereka lebih memilih akidah menyimpang dan menolak para rasul itu. Lalu turunlah azab yang sering mereka ejek itu kepada mereka. Mereka juga dipertontonkan kepada balasan atas olok-olokan mereka (Tafsir al-Wajiz)

وَاتَّبِعْ مَا يُوحَىٰ إِلَيْكَ وَاصْبِرْ حَتَّىٰ يَحْكُمَ اللَّهُ ۚ وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ

wattabi' mā yụḥā ilaika waṣbir ḥattā yaḥkumallāh, wa huwa khairul-ḥākimīn

Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.

Dan ikutilah (wahai rasul), wahyu Allah yang Dia wahyukan kepadamu, lalu laksanakanlah ia dan bersabarlah dalam ketaatan kepada Allah dan meniggalkan maksiat. Dan menghadapi penentangan orang-orang yang menentangmu dari manusia sampai Allah menentukan keputusanNYa terhadap mereka dan terhadapmu. Dan Dia adalah sebaik-baik penetap keputusan, karena sesungguhnya keputusanNya mencakup keadilan yang sempurna. (Tafsir al-Muyassar)

109. وَاتَّبِعْ مَا يُوحَىٰٓ إِلَيْكَ (Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu) Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar mengikuti apa yang diwahyukan Allah kepadanya baik itu segala perintah atau larangan yang disyariatkan baginya dan bagi umatnya. Kemudian Allah memerintahkan untuk bersabar atas permusuhan orang-orang kafir dan atas kesulitan yang beliau temui, serta atas perbuatan orang-orang kafir dan kesombongan mereka. وَاصْبِرْ حَتَّىٰ يَحْكُمَ اللهُ ۚ وَهُوَ خَيْرُ الْحٰكِمِينَ(dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya) Yakni Allah memutuskan urusan antara Rasulullah dengan orang-orang kafir di dunia dengan memberi kemenangan kepada beliau atas mereka, dan dengan azab yang ditimpakan kepada mereka di akhirat. Maka tidak patut bagimu terburu-buru karena hal itu pasti akan terjadi. (Zubdatut Tafsir)

109 Wahai Nabi, ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu dengan menjalankan dan menyampaikannya, dan bersabarlah untuk berdakwah kepada mereka dan atas fitnah mereka hingga Allah memberi keputusan bagi mereka di dunia berupa pertolongan atau kehancuran, dan di akhirat berupa azab. Dia adalah sebaik-baik Hakim sehingga tidak mungkin salah dalam menentukan keputusan. (Tafsir al-Wajiz)

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَىٰ ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَىٰ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ۖ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

a lam tara annallāha ya'lamu mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, mā yakụnu min najwā ṡalāṡatin illā huwa rābi'uhum wa lā khamsatin illā huwa sādisuhum wa lā adnā min żālika wa lā akṡara illā huwa ma'ahum aina mā kānụ, ṡumma yunabbi`uhum bimā 'amilụ yaumal-qiyāmah, innallāha bikulli syai`in 'alīm

Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Allah mengetahui segala sesuatu di langit dan di bumi? Tidak ada tiga orang dari makhluk Allah yang berbisik-bisik di antara mereka tentang sebuah rahasia kecuali Allah bersama mereka dengan ilmu dan pengetahuanNYa, tidak juga lima orang kecuali Allah yang keenam, tidak lebih sedikit, tidak lebih banyak dari angka-angka tersebut kecuali Allah bersama mereka dengan ilmuNya, di tempat manapun mereka berada, tidak ada sesuatu pun dari urusan mereka yang samar bagiNya. Kemudian Allah mengabari mereka pada Hari Kiamat tentang apa yang mereka lakukan berupa kebaikan atau keburukan dan membalas mereka atasnya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, tidak ada sesuatu pun yang samar bagiNya. (Tafsir al-Muyassar)

7. أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْأَرْضِ ۖ (Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi?) Yakni ilmu-Nya meliputi apa yang ada di langit dan bumi. Tidak ada sedikitpun yang tersembunyi dari-Nya. مَا يَكُونُ مِن نَّجْوَىٰ ثَلٰثَةٍ(Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang) Yakni tidak ada tiga orang yang saling berbisik. إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ(melainkan Dialah keempatnya) Yakni Dia ikut mendengar bisikan itu. وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ (Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah keenamnya) Sebab Allah menyertai siapapun dengan jumlah berapapun, baik itu banyak maupun sedikit; Dia mengetahui yang dirahasiakan maupun yang dinampakkan, tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya. وَلَآ أَدْنَىٰ مِن ذٰلِكَ وَلَآ أَكْثَرَ(Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak) Yakni dan tidak ada yang lebih sedikit dari itu, seperti satu atau dua orang; atau yang lebih banyak dari itu, seperti enam atau tujuh orang. إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ(melainkan Dia berada bersama mereka) Allah mengetahui apa yang mereka bicarakan, sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi dari-Nya. أَيْنَ مَا كَانُوا۟ ۖ( di manapun mereka berada) Yakni di tempat manapun. ثُمَّ يُنَبِّئُهُم(Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka) Yakni mengabarkan kepada mereka. بِمَا عَمِلُوا۟ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۚ( pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan) Yakni agar mereka mengetahui bahwa pembicaraan mereka itu tidaklah tersembunyi, dan agar orang yang mereka bicarakan dengan pembicaraan yang buruk dapat mengetahuinya sehingga menjadi olokan dan penjelekan bagi mereka serta menjadi hujjah atas mereka. (Zubdatut Tafsir)

7. Apakah engkau tidak tahu wahai Nabi, bahwa Allah Maha Tahu apa yang ada di langit dan bumi. Tidak ada yang samar bagi Allah. Tidak ada 3 orang yang berbisik atau berjalan kecuali Allah menjadi yang ke-4, dan tidak ada orang 5 kecuali Allah menjadi yang ke-6 dan juga bilangan paling sedikit atau paling banyak sekalipun. Tidak ada seseorang yang sendiri kecuali Allah menjadi yang ke-2. Allah Maha Tahu atas segala yang mereka katakan dan segala apapun yang terjadi padanya. Allah Maha Tahu dimanapun mereka berada, sifat Kemahatahuan Allah meliputi segala sesuatu. Allah tidak terbatas pada tempat. Pada hari kiamat Allah akan membuka segala amal mereka sejelas-jelasnya untuk menghinakan mereka. Itu sebagai bukti dari hujjah yang ada, dan penetapan atas balasan yang telah dijanjikan pada hari mereka. Sesungguhnya Allah Maha Tahu atas segala sesuatu (Tafsir al-Wajiz)

وَجَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ الْجِنَّ وَخَلَقَهُمْ ۖ وَخَرَقُوا لَهُ بَنِينَ وَبَنَاتٍ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يَصِفُونَ

wa ja'alụ lillāhi syurakā`al-jinna wa khalaqahum wa kharaqụ lahụ banīna wa banātim bigairi 'ilm, sub-ḥānahụ wa ta'ālā 'ammā yaṣifụn

Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan): "Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan", tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan.

Dan orang-orang musyrik menjadikan jin sebagai sekutu bagi Allah dalam penyembahan , terdorong keyakinan dari mereka bahwa jin-jin dapat memberikan manfaat atau menimpakan mudarat, padahal Allah lah yang menciptakan mereka dan semua yang mereka sembah dari sesuatu yang sebelumnya tidak ada. Dia sendiri yang menciptakan, maka sudah sepantasnya hanya Dia yang berhak disembah, tanpa sekutu bagiNya di dalamnya. Dan sungguh kaum musyrikin telah mengadakan kedustaan atas nama Allah ketika mereka menisbatkan anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan kepadaNya, lantaran kebodohan mereka terhadap sifat-sifat kesempurnaan yang wajib bagi Allah. Dia Maha suci lagi maha tinggi dari penisbatan kaum musyrikin kepadaNya yang berupa kedustaan dan kebohongan. (Tafsir al-Muyassar)

100. وَجَعَلُوا۟ لِلّٰهِ شُرَكَآءَ الْجِنَّ (Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah) Yakni mereka menjadikan jin sebagai sukutu-sukutu bagi Allah, sehingga mereka menyembah sekutu-sekutu tersebut dan mengagungkannya sebagaimana mereka menyembah dan mengagungkan Allah. وَخَلَقَهُمْ ۖ (padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu) Yakni mereka telah mengetahui bahwa Allah yang menciptakan jin. Atau maksudnya adalah Allah telah menciptakan apa yang mereka jadikan sebagai sekutu bagi Allah. وَخَرَقُوا۟ لَهُۥ بَنِينَ وَبَنٰتٍۭ( dan mereka membohong (dengan mengatakan): “Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan”) Yakni membual dan mengada-ada. Orang-orang musyrik mengatakan bahwa para malaikat adalah putri-putri Allah. Dan orang-orang Nasrani mengatakan bahwa Nabi Isa adalah anak Allah. بِغَيْرِ عِلْمٍ ۚ (tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan) Yakni berdasarkan kebodohan sesungguhnya. سُبْحٰنَهُۥ (Maha Suci Allah) Yakni penyucian bagi-Nya وَتَعٰلَىٰ (dan Maha Tinggi) Yakni Maha Tinggi dari perkataan bathil mereka dengan sifat yang mereka berikan kepada Allah. (Zubdatut Tafsir)

100. Dan sebagian orang-orang musyrik itu menjadikan jin sebagai sekutu Allah, lalu mereka menyembah dan mengagungkannya, sedangkan Allah adalah Dzat yang menciptakan mereka (jin), dan mereka (orang musyrik) mengetahui hal itu. Lalu bagaimana bisa makhluk menjadi sekutu Dzat yang menciptakannya? Mereka membuat-buat kebohongan dan membuatkan anak-anak laki-laki bagiNya seperti Uzair dan Isa, dan anak-anak perempuan seperti malaikat, ketika mereka beranggapan bahwa malaikat itu adalah anak-anak perempuan Allah, karena kebodohan mereka tentang Allah dan keagunganNya. Maha suci Allah, dan jauh dari apa yang digambarkan orang-orang itu, yaitu kebohongan dan kebathilan (Tafsir al-Wajiz)

وَمَا تَفَرَّقُوا إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۚ وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ ۚ وَإِنَّ الَّذِينَ أُورِثُوا الْكِتَابَ مِنْ بَعْدِهِمْ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مُرِيبٍ

wa mā tafarraqū illā mim ba'di mā jā`ahumul-'ilmu bagyam bainahum, walau lā kalimatun sabaqat mir rabbika ilā ajalim musammal laquḍiya bainahum, wa innallażīna ụriṡul-kitāba mim ba'dihim lafī syakkim min-hu murīb

Dan mereka (ahli kitab) tidak berpecah belah, kecuali setelah datang pada mereka ilmu pengetahuan, karena kedengkian di antara mereka. Kalau tidaklah karena sesuatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulunya (untuk menangguhkan azab) sampai kepada waktu yang ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka Al-Kitab (Taurat dan Injil) sesudah mereka, benar-benar berada dalam keraguan yang menggoncangkan tentang kitab itu.

Dan tidaklah bercerai-berai orang-orang yang menyekutukan Allah di dalam agama mereka dalam agama mereka, sehingga mereka menjadi kelompok-kelompok dan aliran-aliran, kecuali setelah datang ilmu kepada mereka dan hujjah telah tegas atas mereka, dan yang membuat mereka melakukan hal itu hanyalah pengingkaran dan pelanggaran. kalau bukan karena kalimat yang telah ada dari tuhanmu (wahai rasul) dengan menunda azab dari mereka ke waktu yang telah ditetapkan yaitu hari kiamat, niscaya telah ditetapkan diantara mereka untuk menyegerakan azab mereka atas orang-orang kafir dari mereka. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi taurat dan injil setelah orang-orang yang berselisih tentang kebenaran tersebut benar-benar dalam keraguan dari agama dan iman, terjatuh kedalam kebimbangan dan perselisihan yang tercela. (Tafsir al-Muyassar)

14. وَمَا تَفَرَّقُوٓا۟ إِلَّا مِنۢ بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ الْعِلْمُ (Dan mereka (ahli kitab) tidak berpecah belah, kecuali setelah datang pada mereka ilmu pengetahuan) Yakni tidaklah Ahli Kitab berpecah belah melainkan mereka telah mengetahui bahwa perpecahan merupakan sebuah kesesatan, namun mereka tetap berpecah belah karena kezaliman mereka demi mencari kedudukan dan karena fanatisme mereka yang berlebihan. وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِن رَّبِّكَ(Kalau tidaklah karena sesuatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulunya) Yaitu ketetapan Allah tentang pengakhiran siksaan bagi mereka. إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى(sampai kepada waktu yang ditentukan) Yakni sampai hari kiamat. لَّقُضِىَ بَيْنَهُمْ ۚ( pastilah mereka telah dibinasakan) Yakni tentu telah ditetapkan siksaan yang menimpa orang-orang kafir di dunia dan keselamatan bagi orang-orang beriman. وَإِنَّ الَّذِينَ أُورِثُوا۟ الْكِتٰبَ(Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka Al-Kitab) Dari orang-orang Yahudi dan Nasrani. مِنۢ بَعْدِهِمْ(sesudah mereka) Yakni setelah umat-umat sebelum mereka. لَفِى شَكٍّ مِّنْهُ(benar-benar berada dalam keraguan tentang kitab itu) Yakni tentang al-Qur’an atau tentang Muhammad. مُرِيبٍ(yang menggoncangkan) Yakni yang menjerumuskan ke dalam keraguan, oleh sebab itu mereka tidak beriman. Pendapat lain mengatakan maksud ayat ini adalah bahwa orang-orang musyrik Arab mewarisi al-Qur’an setelah mereka mewarisi kitab-kitab dari para Ahli Kitab, namun mereka dalam keraguan terhadap al-Qur’an. (Zubdatut Tafsir)

14. Para ahli agama itu tidak saling berselisih dalam hal agama, dimana ada sebagian yang mengesakan dan mengimani Tuhannya, ada juga sebagian lain yang ingkar, kecuali setelah mereka mengetahui agama haq yang dibawakan oleh para rasul. Jika saja sebelumnya tidak ada ketentuan Allah untuk menangguhkan dan mengakhirkan balasanNya (kepada mereka) sampai waktu yang ditentukan, sungguh ketentuan yang terjadi di antara mereka adalah kehancuran bagi orang-orang kafir dan pertolongan bagi orang-orang mukmin. Sesungguhnya orang-orang yang diserahi kitab (ahli kitab dari kaum Yahudi dan Nasrani) yang hidup di masa Nabi SAW itu berada dalam kebingungan tentang urusan dan kitab mereka, yang mana mereka tidak benar-benar mengimaninya dan tidak pula mengimani Al-Qur’an. Sungguh mereka benar-benar dalam keragu-raguan dan kebimbangan (Tafsir al-Wajiz)

Related: Ayat Tentang Rezeki Arab-Latin, Ayat Tentang Penciptaan Manusia Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Ayat Tentang Hijrah, Terjemahan Tafsir Ayat Tentang Toleransi, Isi Kandungan Sepuluh (10) Ayat Pertama Surat al-Kahfi, Makna Ayat Tentang Nikah

Category: Tafsir Topik

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!

Ayat Tentang Ilmu Ayat Alquran Tentang Ilmu Penhetahuan Ayat Al Quran Dan Terjemahan Ttg Ilmu Yg Berkah Lg Bermanfaat Tafsir Ayat Tentang Ilmu Pengetahuan Ayat Alquran Yang Berkaitan Dengan Ilmu Pengetahuan