Daftar Isi > Tafsir Topik > Tentang Sholat

Ayat Tentang Sholat

وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرْكَعُوا۟ مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ

Arab-Latin: wa aqīmuṣ-ṣalāta wa ātuz-zakāta warka'ụ ma'ar-rāki'īn

Artinya: Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'.

GRATIS! Dapatkan pahala jariyah dan buku Jalan Rezeki Berlimpah, klik di sini untuk detailnya

Tafsir Ayat Tentang Sholat

Terdokumentasikan berbagai penjabaran dari kalangan mufassir berkaitan kandungan ayat tentang sholat, sebagiannya seperti berikut:

Dan masuklah kalian ke dalam agama Islam dengan melaksanakan  shalat dengan tata cara yang benar sebagaimana dibawa oleh nabi dan rasul Allah Muhammad sholallohu ‘alaihi wasallam, dan tunaikanlah zakat  yang diwajibkan sesuai dengan tuntunan syariat, dan jadilah kalian bersama golongan orang-orang yang suka ruku’ dari umat-umat beliau Shallallahu Alaihi Wasallam (Tafsir al-Muyassar)

Tunaikanlah salat secara sempurna dengan melaksanakan rukun-rukunnya, wajib-wajibnya dan sunnah-sunnahnya. Bayarkanlah zakat harta yang telah Allah berikan kepada kalian. Dan tunduklah kalian kepada Allah bersama umat Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang tunduk kepada-Nya. (Tafsir al-Mukhtashar)

Tegakkanlah shalat yang diwajibkan atas orang-orang muslim, tuniakanlah zakat yang wajib (diberikan) kepada mereka yang berhak menerimanya, tunduklah kepada perintah-perintah Allah, shalatlah dengan berjamaah bersama orang-orang yang shalat dan sempurnakanlah ruku’ kalian bersama mereka karena orang-orang Yahudi tidak memiliki ruku’ di dalam shalat mereka (Tafsir al-Wajiz)

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ (Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat) Yakni Allah memerintahkan orang-orang Yahudi untuk memeluk islam kemudian menjalankan sholat sebagaimana yang dijelaskan oleh nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallamdan juga memerintahkan mereka untuk membayar zakat dan mengerjakan sholat dalam jama’ah. وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ (dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’) Karena dalam sholat orang Yahudi tidak terdapat ruku’. Dan dalam ayat ini terdapat petunjuk agar mengikuti sholat berjama’ah bersama kaum muslimin dan pergi ke masjid. Jumhur ulama meyatakan bahwa sholat berjamaah di masjid hukumnya sunnah mu’akkad karena dalam menjalankannya terdapat banyak maslahat dunia dan akhirat. (Zubdatut Tafsir)

وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ

Arab-Latin: wasta'īnụ biṣ-ṣabri waṣ-ṣalāh, wa innahā lakabīratun illā 'alal-khāsyi'īn

Artinya: Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu',

Dan mintalah pertolongan atas segala urusan kalian melalui  kesabaran dengan seluruh jenisnya dan juga shalat, sesungguhnya hal tersebut  amat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu. Yaitu orang  yang takut kepada Allah dan mengharapkan apa-apa yang ada di sisi-Nya, serta meyakini bahwa mereka benar-benar akan berjumpa dengan Tuhan mereka setelah  kematian, dan bahwasanya mereka akan kembali kepadanya pada hari kiamat untuk menghadapi perhitungan dan pembalasan amal perbuatan mereka. (Tafsir al-Muyassar)

Mintalah pertolongan dalam menghadapi segala situasi yang berkaitan dengan masalah agama dan dunia kalian dengan kesabaran dan salat yang dapat mendekatkan dan menghubungkan diri kalian dengan Allah. Maka Allah akan menolongmu dalam mengatasi setiap kesulitan yang menderamu. Sesungguhnya salat itu benar-benar sulit dan berat kecuali bagi orang-orang yang tunduk dan patuh kepada Rabb mereka. (Tafsir al-Mukhtashar)

Saling tolong-menolonglah kalian dengan bersabar dalam ketaatan dan menahan nafsu syahwat; dan melakukan shalat pada waktunya dengan khusyu’ karena dalam keduanya ada sesuatu yang dapat mengendalikan diri kalian, menahan ketidaknyamanan kalian, menghentikan kalian untuk berbuat buruk dan (mendorong) melakukan kebaikan. Shalat itu amat sangat berat kecuali bagi mereka yang menundukkan diri untuk mengagungkan Allah dan takut dengan siksaNya (Tafsir al-Wajiz)

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ (Jadikanlah sabar (sebagai penolongmu)) Yakni dengan menahan syahwat dan mengarahkannya kepada ketaatan. وَالصَّلَاةِ (dan shalat sebagai penolongmu) Yakni dengan menjalankan dengan penuh rasa cinta kepada Allah agar dapat membantumu dalam iman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ (Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat) Yakni sholat itu berat bagi orang yang tidak beriman kepada Allah dan menyombongkan diri dalam menjalankan ketaatan-Nya. إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِين (kecuali bagi orang-orang yang khusyu’) Yakni orang-orang yang merasa diri mereka kecil dihadapan kebesaran Allah dan merasa tentram dalam keadaan itu. (Zubdatut Tafsir)

حَٰفِظُوا۟ عَلَى ٱلصَّلَوَٰتِ وَٱلصَّلَوٰةِ ٱلْوُسْطَىٰ وَقُومُوا۟ لِلَّهِ قَٰنِتِينَ

Arab-Latin: ḥāfiẓụ 'alaṣ-ṣalawāti waṣ-ṣalātil-wusṭā wa qụmụ lillāhi qānitīn

Artinya: Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'.

Jagalah oleh kalian (wahai kaum muslimin) shalat lima waktu yang diwajibkan dengan cara rutin dalam menjalankannya pada waktu-waktunya dengan memenuhi syarat-syarat, rukun-rukun dan kewajiban-kewajibannya. Dan jagalah  shalat yang berada di tengah-tengah antara sholat-sholat itu itu yaitu sholat ashar. Dan dirikanlah shalat kalian dengan menaati Allah, khusyuk lagi tunduk menghinakan diri. (Tafsir al-Muyassar)

Jagalah salat-salat itu dengan cara menunaikannya secara sempurna sebagaimana perintah Allah. Dan jagalah salat yang berada di tengah-tengah salat-salat lainnya, yaitu salat Asar. Dan berdirilah untuk Allah di dalam salatmu dengan tunduk dan khusyuk. (Tafsir al-Mukhtashar)

Tetaplah mendirikan shalat, dan juga shalat Ashar, yaitu shalat wustha karena berada di bagian tengah shalat 5 waktu. Dan dirikanlah shalat dalam keadaan khusyu’. Mujahid berkata (Dalam hadits yang diriwayatkan Ath-Thabari): “Dahulu orang-orang berbicara dalam shalat, bahkan ada seorang lelaki yang menyuruh saudaranya untuk melakukan suatu keperluan. Lalu Allah menurunkan ayat {Wa quumuu lillahi qaanitiin}” (Tafsir al-Wajiz)

حٰفِظُوا۟ عَلَى الصَّلَوٰتِ (Peliharalah semua shalat(mu) ) Makna (المحافظة) yakni konsistensi dan penjagaan. وَالصَّلَوٰةِ الْوُسْطَىٰ (dan (peliharalah) shalat wusthaa) Yakni sholat Ashar, karena sebelum shalat ini ada dua shalat dan setelahnya ada dua shalat sehingga ia berada di tengah (wushtha). Dan Allah mengkhususkan penyebutan ayat ini sebagai pemuliaan baginya. وَقُومُوا۟ لِلَّـهِ (Berdirilah untuk Allah ) Yakni dalam shalat kalian. Allah memerintahakan mereka berdiri diatas kaki mereka dalam shalat dengan penuh ketenangan, dan ini pada shalat fardhu; adapun untuk shalat sunnah maka diperbolehkan dengan duduk dan apabila dalam keadaan safar maka boleh dilakukan diatas kendaraan dan semacamnya. قٰنِتِينَ (dengan khusyu’) Yakni dengan ketaatan dan kekhusyu’an. Dan pendapat lain mengatakan: yakni dengan diam dan tidak berbicara dengan orang lain. (Zubdatut Tafsir)

ٱتْلُ مَآ أُوحِىَ إِلَيْكَ مِنَ ٱلْكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ ٱللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Arab-Latin: utlu mā ụḥiya ilaika minal-kitābi wa aqimiṣ-ṣalāh, innaṣ-ṣalāta tan-hā 'anil-faḥsyā`i wal-mungkar, walażikrullāhi akbar, wallāhu ya'lamu mā taṣna'ụn

Artinya: Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Dan bacalah apa yang diturunkan kepadamu dari al-Qur’an ini dan amalkanlah kandungannya, serta laksanakanlah shalat dengan seluruh aturannya. Sesungguhnya menjaga shalat dengan baik akan menahan orang yang melakukannya dari terjerumus di dalam maksiat-maksiat dan perbuatan-perbuatan mungkar. Hal itu dikarenakan orang yang menegakannya, yang menyempurnakan rukun-rukun dan syarat-syaratnya, hatinya akan bercahaya, dan keimanan, ketakwaan dan kecintaannya terhadap kebaikan akan bertambah, dan (sebaliknya) keinginannya terhadap keburukan akan semakin berkurang atau hilang sama sekali. Dan sungguh mengingat Allah di dalam shalat dan di tempat lainnya lebih agung dan lebih utama dari segala sesuatu. Dan Allah mengetahui apa saja yang kalian perbuat, yang baik maupun yang buruk. Lalu Dia memberikan balasan kepada kalian atas perbuatan tersebut dengan balasan yang sempurna lagi penuh. (Tafsir al-Muyassar)

Bacakanlah -wahai Rasul- kepada manusia apa yang telah diwahyukan kepadamu oleh Allah dari Al-Qur`ān. Dan laksanakan salat dengan sempurna, sesungguhnya shalat yang dilaksanakan dengan tata cara yang sempurna akan mencegah pelakunya dari terjerumus ke dalam kemaksiatan dan kemungkaran, dikarenakan munculnya cahaya di dalam hati yang mencegahnya dari mendekati kemaksiatan dan menunjukinya kepada amal perbuatan yang saleh. Dan sungguh mengingat Allah itu lebih besar dan lebih agung dari segala sesuatu dan Allah itu Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan, tidak ada sesuatu pun dari amal perbuatan kalian yang luput dari-Nya, dan Dia akan membalas amal perbuatan tersebut, apabila baik dibalas dengan kebaikan, apabila buruk maka dibalas pula dengan keburukan. (Tafsir al-Mukhtashar)

Wahai Rasulallah, bacalah apa yang diwahyukan kepadamu berupa Al-Qur’an dengan merenung seraya berpikir tentang makna-maknanya dan dirikanlah shalat fardhu pada waktunya serta tetaplah menjaganya. Sesungguhnya shalat itu mencegah orang-orang mukmin dari setiap perbuatan buruk yang menyimpang dari syari’at. Dan sesungguhnya mengingat Allah, yaitu shalat merupakan ketaatan ter besar daripada segala ketaatan dan ibadah paling utama daripada setiap ibadah yang tidak mengandung dzikir, karena tidak ada yang paling sempurna kecuali orang yang mengingat Allah dan mendekatkan diri kepadaNya. Dan Allah mengetahui apa yang kalian perbuat dalam hidup kalian baik itu kebaikan atau keburukan dan membalas kalian atas hal itu. Al-Fakhsya’ adalah perbuatan buruk yang sudah keterlaluan seperti zina. Dan Al-Munkar adalah setiap sesuatu yang menyimpang dari syariat dan akal sehat seperti pembunuhan dan pengerusakan. (Tafsir al-Wajiz)

اتْلُ مَآ أُوحِىَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ (Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran)) Yakni bacalah al-Qur’an dengan menghayati ayat-ayatnya dan memperhatikan makna-maknanya. إِنَّ الصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ ۗ (Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar) Yakni tetaplah senantiasa menegakkan shalat sebagaimana diperintahkan. Makna (الفحشاء) adalah perbuatan yang buruk. Dan makna (المنكر) adalah sesuatu yang tidak dianjurkan dalam syariat. Adapun makna bahwa shalat mencegah perbuatan buruk dan mungkar yakni mengerjakan shalat merupakan sebab seseorang berhenti dari kemaksiatannya, sebab didalam shalat terkandung peringatan tentang pengawasan Allah dan terdapat penghayatan terhadap ayat-ayat-Nya. وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ ۗ( Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar) Yakni lebih besar dari segala sesuatu. Yakni mengingat Allah (berzikir) adalah ibadah yang paling utama karena inilah yang dapat mencegah seseorang dari perbuatan buruk dan mungkar, sebab berhenti dari perbuatan buruk dan mungkar tidak mungkin dilakukan kecuali oleh orang yang mengingat Allah (berzikir) dan merasa diawasi Allah. Dan zikir yang terkandung di dalam shalat adalah sebab utama yang menjadikan shalat lebih mulia dari ketaatan yang lain. وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ(Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan) Allah akan membalas kebaikan kalian dengan kebaikan dan membalas keburukan dengan keburukan. (Zubdatut Tafsir)

وَلِلَّهِ ٱلْمَشْرِقُ وَٱلْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا۟ فَثَمَّ وَجْهُ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

Arab-Latin: wa lillāhil-masyriqu wal-magribu fa ainamā tuwallụ fa ṡamma waj-hullāh, innallāha wāsi'un 'alīm

Artinya: Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Dan milik Allah lah arah terbitnya matahari dan tenggelamnya matahari dan apa yang ada diantara keduanya. Maka Dia lah pemilik bumi semuanya. Maka ke arah manapun kalian menghadap di dalam shalat berdasarkan perintah Allah kepada kalian,maka sesungguhnya kalian telah  mengharapkan wajah Allah. Kalian tidak keluar dari kerajaan dan ketaatan kepada Nya. Sesungguhnya Allah Maha luas rahmat Nya terhadap hamba-hamba Nya, maha mengetahui perbuatan-perbuatan mereka, tidak ada sesuatu pun yang luput dari Nya. (Tafsir al-Muyassar)

Kerajaan timur dan barat serta semua yang ada di antara keduanya adalah milik Allah. Dia dapat memerintahkan apa saja kepada hamba-hamba-Nya. Maka ke mana pun kalian menghadap sesungguhnya kalian sedang menghadap kepada Allah. Dia lah yang Maha Meliputi seluruh makhluk-Nya. Maka apabila Dia menyuruh kalian menghadap ke arah Baitul Maqdis atau Ka'bah, atau kalian keliru dalam menghadap kiblat, atau kalian kesulitan untuk menghadap kiblatو sesungguhnya tidak masalah bagi kalian. Karena semua arah mata angin itu adalah milik Allah. Sesungguhnya Allah Mahaluas, Dia mencakup seluruh makhluk-Nya dengan rahmat-Nya dan dengan kemudahan yang diberikan-Nya, dan Dia Maha Mengetahui niat dan perbuatan makhluk-Nya. (Tafsir al-Mukhtashar)

Allah-lah penguasa kerajaan timur dan barat, serta penguasa apapun yang ada di antara keduanya. Kemana arah kalian menghadap ketika sholat, di situlah Allah meridhoinya sebagai kiblat bagi kalian. Sesungguhnya Allah Maha Luas dalam mencurahkan rahmat kepada hamba-Nya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Menurut Imam At Thabbrani, ayat ini turun sebelum ada perintah untuk memindahkan kiblat sholat ke arah Ka’bah. Ayat ini di tujukan untuk membantah keyakinan para penyembah berhala pada zaman dulu yang menganggap bahwa ibadah itu tidak sah apabila tidak menghadap kepada suatu kiblat yang nyata (Tafsir al-Wajiz)

الْمَشْرِقُ (timur) Yakni tempat terbitnya matahari. وَالْمَغْرِبُ ۚ(dan barat) Yakni tempat ternggelamnya matahari. Yakni timur dan barat dan yang diantara adalah milik Allah. فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا(maka kemanapun kamu menghadap) Yakni kemanapun kalian menghadap maka disanalah wajah Allah, dan ini ketika kita tidak mengetahui arah kiblat. Adapun dalam sholat sunnah Rasulullah dulu sholat diatas kendaraannya menghadap arah yang melajunya kendaraan. إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui) Yakni ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. (Zubdatut Tafsir)

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا۟ يَأْتِ بِكُمُ ٱللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

Arab-Latin: wa likulliw wij-hatun huwa muwallīhā fastabiqul-khairāt, aina mā takụnụ ya`ti bikumullāhu jamī'ā, innallāha 'alā kulli syai`ing qadīr

Artinya: Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblat yang masing-masing darinya menghadap kepadanya dalam ibadah shalatnya, maka bersegeralah –wahai orang-orang yang beriman- untuk berlomba dalam mengerjakan amal amal sholeh yang disyariatkan Allah untuk kalian dalam Islam. Dan Allah akan menghimpun Kalian semua pada hari kiamat dari daerah manapun kalian berada. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Tafsir al-Muyassar)

Setiap umat mempunyai arah tertentu yang mereka jadikan sebagai kiblat, baik sifatnya kongkrit maupun abstrak. Salah satunya ialah perselisihan mereka tentang arah kiblat dan apa yang Allah syariatkan untuk mereka. Jadi, tidak ada masalah bila arah kiblat mereka bermacam-macam, jika hal itu berdasarkan perintah dan ketentuan Allah. Maka berlomba-lombalah kamu -wahai orang-orang beriman- untuk melakukan kebajikan yang diperintahkan kepadamu. Dan kelak pada hari kiamat Allah akan mengumpulkan kalian dari manapun kalian berasal untuk memberimu balasan yang setimpal dengan amal perbuatanmu. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Maka tidak ada sesuatupun yang dapat menghalangi-Nya untuk mengumpulkanmu dan memberikan balasan kepadamu. (Tafsir al-Mukhtashar)

Masing-masing kelompok dari berbagai pengikut agama itu memiliki kiblat yaitu arah yang mereka hadap ketika shalat, lalu mereka saling berlomba berbuat ketaatan, amal baik dan menghadap kiblat. Dimanapun tempat kalian di bumi, Allah akan tetap mengumpulkan kalian pada hari kiamat untuk dibalas. Sesungguhnya Allah itu Maha Kuasa untuk membangkitkan dan mengumpulkan kalian (Tafsir al-Wajiz)

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ (Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri)) Yakni setiap umat beragama memiliki arah (kiblat), baik itu kiblat yang benar maupun kiblat yang sesat. Atau yang dimaksud dengan ayat ini adalah setiap umat Muhammad memiliki kiblat untuk sholat, baik itu di mengarah kea rah timur, barat, selatan, atau utara. هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ (yang ia menghadap kepadanya) Yakni yang ia mernghadap ke arahnya. فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ (Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan) Yakni bersegeralah untuk menjalankan perintah-Nya seperti menghadap ke Baitul Haram dan menjalankan segala kebaikan, dan menjalankan sholat di awal waktunya. أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ (Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu) Yakni mengumpulkan kalian di hari kiamat untuk membalas perbuatan yang kalian lakukan. جَمِيعًا ۚ(seluruhnya) Yakni sholat kalian dari arah yang berbeda-beda akan tetapi seperti ke satu arah saja. (Zubdatut Tafsir)

۞ لَّيْسَ ٱلْبِرَّ أَن تُوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ ٱلْمَشْرِقِ وَٱلْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلْكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّۦنَ وَءَاتَى ٱلْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينَ وَٱبْنَ ٱلسَّبِيلِ وَٱلسَّآئِلِينَ وَفِى ٱلرِّقَابِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَٱلْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَٰهَدُوا۟ ۖ وَٱلصَّٰبِرِينَ فِى ٱلْبَأْسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلْبَأْسِ ۗ أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُتَّقُونَ

Arab-Latin: laisal-birra an tuwallụ wujụhakum qibalal-masyriqi wal-magribi wa lākinnal-birra man āmana billāhi wal-yaumil-ākhiri wal-malā`ikati wal-kitābi wan-nabiyyīn, wa ātal-māla 'alā ḥubbihī żawil-qurbā wal-yatāmā wal-masākīna wabnas-sabīli was-sā`ilīna wa fir-riqāb, wa aqāmaṣ-ṣalāta wa ātaz-zakāh, wal-mụfụna bi'ahdihim iżā 'āhadụ, waṣ-ṣābirīna fil-ba`sā`i waḍ-ḍarrā`i wa ḥīnal-ba`s, ulā`ikallażīna ṣadaqụ, wa ulā`ika humul-muttaqụn

Artinya: Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Bukanlah kebajikan di sisi Allah ta'ala itu dengan menghadap ke arah timur dan barat di dalam sholat, bila tidak berdasarkan perintah Allah dan syariat Nya. akan tetapi kebajikan yang sepenuhnya adalah perbuatan orang yang beriman kepada Allah dan mengimani Nya sebagai Tuhan yang berhak disembah tanpa menyekutukan sesuatu dengan Nya, dan beriman kepada hari kebangkitan dan pembalasan, dan kepada seluruh malaikat, dan kepada semua kitab-kitab yang diturunkan, dan beriman kepada seluruh Nabi tanpa membeda-bedakan, dan  memberikan hartanya secara sukarela (meskipun sangat besar kecintaannya pada harta tersebut) kepada kaum kerabat, anak-anak yatim yang membutuhkan bantuan yang telah ditinggal mati oleh ayah-ayah mereka ketika mereka belum mencapai usia baligh, dan kepada orang-orang miskin yang tidak memiliki sesuatu yang mencukupi dan menutupi kebutuhan mereka,dan kepada orang-orang musafir yang terlilit kebutuhan yang jauh dari keluarga dan hartanya, dan kepada mereka para peminta-minta yang terpaksa meminta-minta karena keterdesakan kebutuhan mereka, dan mengeluarkan hartanya dalam membebaskan budak dan tawanan, mendirikan shalat, dan membayar zakat yang wajib, dan orang-orang yang menepati janji janji, dan orang-orang yang bersabar dalam kondisi kemiskinan dan sakit mereka,dan  dalam peperangan yang berkecamuk keras. Maka orang-orang yang berkarakter demikian  itulah orang-orang yang benar dalam keimanan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang takut terhadap siksaan Allah sehingga mereka menjauhi perbuatan maksiat-maksiat kepada Nya. (Tafsir al-Muyassar)

Kebaikan yang diridai Allah bukanlah sekedar menghadap ke arah timur atau barat dan bersengketa tentang hal itu. Tetapi kebaikan yang sesungguhnya ialah mempercayai Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa, mempercayai adanya hari kiamat, mempercayai seluruh Malaikat, mempercayai semua kitab suci yang diturunkan oleh Allah, mempercayai semua Nabi tanpa membeda-bedakan antara mereka, memberikan harta -meskipun harta itu sangat disukai dan disayangi- kepada karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, orang asing yang kehabisan bekal di perjalanan yang jauh dari keluarga dan kampung halamannya, dan kepada orang yang sangat membutuhkan harta sehingga terpaksa harus meminta-minta kepada sesama manusia, menggunakan harta untuk memerdekakan budak atau membebaskan tawanan perang, mendirikan salat secara sempurna sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah , menunaikan zakat yang wajib, dan orang-orang yang menepati janjinya ketika berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam menghadapi kemiskinan, kesulitan hidup, menderita penyakit, dan menghadapi musuh di medan perang sehingga tidak melarikan diri, mereka yang memiliki ciri-ciri tersebut adalah orang-orang yang sungguh-sungguh di dalam keimanan dan amal perbuatan mereka. Mereka itulah orang-orang bertakwa yang melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. (Tafsir al-Mukhtashar)

Tidaklah kebaikan yang banyak itu ketika menghadap ke arah timur dan barat saja, melainkan mengimani 6 rukun iman dan mengerjakan pokok-pokok amal shalih. Yang dimaksud dengan kitab di sini adalah berbagai jenis kitab, yaitu kitab-kitab Allah, memberikan harta yang disenanginya kepada kerabatnya. Sesungguhnya memberi harta kepada mereka ketika fakir itu merupakan sedekah dan penyambung hubungan, memberikan harta kepada anak-anak yatim yang fakir (yang kehilangan bapak mereka di masa kecil), orang-orang miskin yang tidak memiliki harta yang cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka, musafir yang berhenti di tengah perjalanan dari negeri mereka, orang-orang yang meminta-minta: yaitu orang-orang yang meminta uang karena kebutuhan dan keterdesakan mereka, untuk membeli budak dan melepaskan tawanan, mendirikan shalat dengan rukun dan syaratnya, menunaikan zakat wajib untuk orang-orang yang berhak menerimanya disertai dengan sedekah sukarela, menepati janji-janji Allah dan manusia, memberikan penghormatan kepada orang-orang yang sabar atas penderitaan, kefakiran, sakit, dan kesulitan dengan kehilangan keluarga, harta dan anak. Mereka itu adalah orang-orang yang benar keimanannya dan bertakwa kepada Tuhan dengan mengerjakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, serta menjauhi neraka. Abdur Razaq meriwayatkan dari Qatadah yang berkata: “Orang-orang Yahudi shalat menghadap ke arah barat dan orang Nasrani shalat menghadap ke arah timur. Lalu turunlah ayat {Laisal birru}” (Tafsir al-Wajiz)

لَّيْسَ الْبِرَّ (Bukanlah suatu kebajikan) Ayat ini turun sebagai bantahan terhadap orang-orang Yahudi dan Nasrani ketika mereka berlarut-larut dalam percakapan masalah pemindahan kiblat Rasulullah menuju Ka’bah. قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ (menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat) Yakni arah yang berlainan. وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ (akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah) Yakni akan tetapi kebajikan adalah kebajikan yang dilakukan oleh orang yang beriman. Dan (البر) merupakan kata yang mencakup segala bentuk kebajikan, dan aku menafsirkan ayat ini dengan enam asas-asas iman dan asas-asas amal kebaikan. وَالْكِتٰبِ (dan kitab-kitab) Yang dimaksud dengan kitab disini adalah semua jenis kitab Allah. عَلَىٰ حُبِّهِۦ (yang dicintainya) Yakni padahal ia cinta terhadap harta tersebut, jadi dia menginfakkan hartanya meski dia mencintainya dan merasa ingin bakhil atasnya. ذَوِى الْقُرْبَىٰ (kepada kerabatnya) Yakni para kerabat, karena infak kepada mereka bernilai pahala sedekah dan silaturrahim jika mereka termasuk fakir. وَالْيَتٰمَىٰ (anak-anak yatim) Dan anak yatim yang fakir lebih berhak mendapat sedekah dari pada anak yatim yang tidak fakir karena mereka tidak mampu untuk mencari penghasilan. وَالْمَسٰكِينَ (orang-orang miskin) Orang miskin adalah orang yang bergantung pada apa yang ada dalam genggaman orang lain, karena ia tidak memiliki apapun. وَابْنَ السَّبِيلِ (musafir) Yakni musafir yang kehabisan bekal di daerah orang lain. وَالسَّآئِلِينَ (orang-orang yang meminta-minta) Yakni orang yang meminta-minta karena keadaan yang memaksa mereka. وَفِى الرِّقَابِ (hamba sahaya) Yang dimaksud adalah dengan membeli budak sahaya untuk dimerdekakan. Dan pendapat lain mengatakan: yakni membebaskan tawanan. وَءَاتَى الزَّكَوٰةَ (dan menunaikan zakat) Dalam ayat ini terdapat isyarat bahwa yang duluan kita keluarkan adalah sedekah dan bukan zakat. وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عٰهَدُوا۟ ۖ (dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji) Yakni perjanjian dengan Allah ataupun dengan manusia. الْبَأْسَآءِ (dalam kesempitan) Yakni kesulitan hidup dan kemiskinan. وَالضَّرَّآءِ (penderitaan) Yakni penyakit dan penuaan. وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ (dan dalam peperangan) Yakni saat peperangan berkecamuk. صَدَقُوا۟ ۖ (orang-orang yang benar (imannya) ) Yakni mereka adalah orang-orang yang benar-benar dan sungguh-sungguh dalam pengakuan mereka sebagai orang beriman. (Zubdatut Tafsir)

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَٰقَ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا ٱللَّهَ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَقُولُوا۟ لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِّنكُمْ وَأَنتُم مُّعْرِضُونَ

Arab-Latin: wa iż akhażnā mīṡāqa banī isrā`īla lā ta'budụna illallāha wa bil-wālidaini iḥsānaw wa żil-qurbā wal-yatāmā wal-masākīni wa qụlụ lin-nāsi ḥusnaw wa aqīmuṣ-ṣalāta wa ātuz-zakāh, ṡumma tawallaitum illā qalīlam mingkum wa antum mu'riḍụn

Artinya: Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.

Ingatkan wahai Bani Israil ketika kami mengambil janji yang dikukuhkan dari kalian, Agar kalian beribadah kepada Allah semata tidak ada sekutu baginya, hendaknya kalian berbuat baik kepada kedua orang tua, dan orang-orang dari kaum kerabat,dan sedekah kepada anak-anak yang bapak-bapak mereka meninggal dunia sebelum mereka berusia balig, dan kepada orang-orang yang membutuhkan yang tidak memiliki apa yang mencukupi kebutuhan mereka, dan hendaklah berkata kepada sekalian manusia dengan tutur kata yang terbaik disertai dengan melaksanakan sholat, membayar zakat. Tapi kemudian kalian berpaling dan melanggar perjanjian itu (kecuali sebagian kecil dari kalian yang terus diatas janji itu), sedang kalian berkelanjutan dalam keberpalingan itu. (Tafsir al-Muyassar)

Dan ingatlah –wahai Bani Israil- tentang perjanjian kuat yang Kami ambil dari kalian, bahwa kalian akan mengesakan Allah dan tidak menyembah tuhan lain bersama-Nya, kalian akan berbuat baik kepada kedua orang tua, sanak famili, anak-anak yatim dan orang-orang miskin yang membutuhkan, kalian akan mengucapkan kata-kata yang baik kepada manusia untuk menyuruh berbuat kebaikan dan melarang kemungkaran tanpa kekerasan dan tanpa tekanan, kalian akan melaksanakan salat secara sempurna sebagaimana perintah yang diberikan kepada kalian, dan akan membayar zakat dengan cara memberikannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya dengan suka rela. Namun setelah perjanjian itu kalian justru berpaling dan enggan menepatinya. (Tafsir al-Mukhtashar)

Wahai Rasul, ingatlah isi perjanjian yang diucapkan oleh Bani Israil: bahwa mereka tidak akan menyembah selain Allah, berbakti kepada orang tua baik denganinteraksi yang baik, tawadhu’, dan melaksanakan perintah mereka. Kemudian berbuat baik kepada tetangga, menyambung silaturrahmi serta memenuhi hak-hak mereka. Kemudian berbuat baik kepada anak-anak yatim-piatu yang telah kehilangan orang tua mereka sejak kecil, juga kepada para fakir miskin yang tidak dapat memenuhi kebutuhan mereka. Interaksi dengan sesama dengan interaksi yang baik dan terpuji. Melaksanakan sholat tepat pada waktunya serta menunaikan zakat. Namun, pada kenyataanya kalian mengingkari perjanjian ini, hanya sedikit yang menepatinya, sepearti Abdullah ibn Salam dan para sahabatnya. Adapun kalian ingkar terhadap perjanjian ini dengan penuh pengingkaran (Tafsir al-Wajiz)

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ (Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil ) Yakni perjanjian yang diambil Allah atas Bani Israil dalam kehidupan mereka yang disampaikan oleh para nabi. لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ (Janganlah kamu menyembah selain Allah) Yakni perjanjian untuk mentauhidkan Allah dalam ibadah. وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا (dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa) Yakni dengan bergaul dengan mereka dengan baik, bertawadlu di depan mereka, dan mematuhi perintah mereka. وَذِي الْقُرْبَىٰ (kaum kerabat) Yakni berbuat baik kepada kerabat dengan menjaga hubungan dengan mereka dan membantu memenuhi yang mereka butuhkan sesuai dengan kesanggupan. وَالْيَتَامَىٰ (anak-anak yatim) Istilah yatim untuk manusia adalah anak yang kehilangan bapaknya, sedangkan untuk hewan adalah yang kehilangan ibu/induknya. وَالْمَسَاكِينِ (dan orang-orang miskin) Miskin adalah orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhannya; dan menurut kebanyakan ahli bahasa dan sebagian ahli fikih, miskin lebih parah keadaannya daripada fakir, dan diriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwa fakir lebih parah daripada miskin. وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا (serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia) Yakni ucapkanlah ucapan yang baik, dan semua ucapan yang menurut syari’ah adalah baik maka ia termasuk dalam apa yang diperintahkan dalam ayat ini. وَآتُوا الزَّكَاةَ (dan tunaikanlah zakat) Yakni zakat yang biasa kalian (orang-orang Yahudi) keluarkan. Ibnu Athiyyah berkata: cara mereka mengeluarkan zakat adalah dengan meletakkan zakat tersebut, apabila zakat itu disambar oleh api maka berarti diterima oleh Allah dan apabila tidak maka berarti tidak diterima oleh Allah. ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ (Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu) Yakni melanggar perjanjian itu dengan tidak mengamalkan apa yang ada dalam perjanjian bahkan kalian tinggalkan itu semuanya. إِلَّا قَلِيلًا (kecuali sebahagian kecil daripada kamu) Dan diantara mereka adalah Abdullah bin Salam dan para sahabatnya yang beriman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. (Zubdatut Tafsir)

ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ

Arab-Latin: allażīna yu`minụna bil-gaibi wa yuqīmụnaṣ-ṣalāta wa mimmā razaqnāhum yunfiqụn

Artinya: (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

Mereka itu adalah orang-orang yang membenarkan perkara-perkara yang gaib yang tidak dapat ditangkap oleh panca indra dan akal mereka Semata,  karena hal itu tidak dapat diketahui kecuali dengan wahyu dari Allah kepada rasul-Nya. seperti iman kepada malaikat,surge,neraka dan yang lainnya dari apa-apa yang diberitakan oleh Allah atau diberitakan oleh Rosul-Nya sholallohu’alaihi wasallam. (Iman adalah satu kalimat yang mengandung arti iqrar kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rosulul-Nya, hari akhir dan qadar yang baik dan yang buruk. dan yang membuktikan benarnya ikrar tersebut adalah dengan ucapan dan amal dengan hati, lisan dan anggota tubuh) Dan mereka denga bukti kebenaran iman mereka terhadap yang gaib adalah dengan menjaga pelaksanaan salat pada waktu-waktunya  dengan pelaksanaan yang shahih sesuai dengan yang Allah syariatkan kepada nabi-Nya Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. dan dari sebagian harta yang Kami anugerahkan kepada mereka, mereka mengeluarkan zakat yang wajib maupun yang sunnah dari harta mereka. (Tafsir al-Muyassar)

(Orang-orang yang bertakwa itu adalah) orang-orang yang beriman kepada perkara gaib, yaitu segala sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh panca indera dan tersembunyi, yang diberitakan oleh Allah atau Rasulullah seperti hari Akhir. Dan orang-orang yang mendirikan salat, yakni menunaikannya sesuai ketentuan syariat yang meliputi syarat, rukun, wajib dan sunnahnya. Dan mereka adalah orang-orang yang gemar menginfakkan sebagian rezeki yang mereka terima dari Allah, baik yang sifatnya wajib seperti zakat, maupun yang tidak wajib seperti sedekah, demi mengharap pahala dari Allah. Mereka juga yang beriman kepada wahyu yang Allah turunkan kepadamu –wahai Nabi- dan wahyu yang Dia turunkan kepada para nabi -'alaihimussalām- sebelum kamu, tanpa membeda-bedakan di antara mereka. Dan mereka juga beriman secara tegas akan adanya akhirat beserta ganjaran dan hukuman yang ada di dalamnya. (Tafsir al-Mukhtashar)

Ciri-ciri orang yang bertakwa ada 6, yaitu membenarkan secara mutlak dan sempurna semua sesuatu yang ghaib, seperti malaikat, jin, hari kebangkitan, hari perhitungan, dan hal lain tentang kengerian hari kiamat; melaksanakan shalat secara sempurna dengan rukun dan syaratnya, khusyu’ di dalamnya karena Allah dan menjaganya sesuai waktunya; menafkahkan apa yang diberikan oleh Allah secara baik dan halal untuk zakat yang telah diwajibkan, untuk sedekah di jalan Allah, serta nafkah wajib untuk kerabat dan keluarga lainnya; (Tafsir al-Wajiz)

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ Makna iman secara bahasa adalah meyakini; sedangkan makna ghaib adalah semua yang dikabarkan oleh Rasulullah yang tidak bisa dicerna oleh akal seperti: tanda-tanda kiamat, azab kubur, hari kebangkitan, shirath, mizan, surga, dan neraka. Disebutkan dalam hadist yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dari Umar dari Nabi bahwa beliau bersabda: “iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk. “ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ Iqamah ash-sholah adalah mengerjakannya dengan memenuhi segala rukun-rukunnya, sunnah-sunnahnya, dan hai’ah-hai’ahnya dalam waktu yang telah ditetapkan. Menurut Ibnu Abbas dalam kalimat (ويقيمون الصلاة) yakni sholat wajib lima waktu. وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ Menurut Ibnu Ibnu abbas kata infaq disini ialah zakat yang dikeluarkan dari harta mereka; sedangkan menurut Ibnu Jarir maksud dari infaq adalah infaq dalam arti luas yang mencakup zakat dan sedekah tanpa membedakan infaq untuk kerabat atau yang lainnya, yang wajib maupun yang sunnah, dan inilah pendapat yang benar. (Zubdatut Tafsir)

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن مَّنَعَ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ أَن يُذْكَرَ فِيهَا ٱسْمُهُۥ وَسَعَىٰ فِى خَرَابِهَآ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَن يَدْخُلُوهَآ إِلَّا خَآئِفِينَ ۚ لَهُمْ فِى ٱلدُّنْيَا خِزْىٌ وَلَهُمْ فِى ٱلْءَاخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Arab-Latin: wa man aẓlamu mim mam mana'a masājidallāhi ay yużkara fīhasmuhụ wa sa'ā fī kharābihā, ulā`ika mā kāna lahum ay yadkhulụhā illā khā`ifīn, lahum fid-dun-yā khizyuw wa lahum fil-ākhirati 'ażābun 'aẓīm

Artinya: Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.

Tidak ada seorangpun yang lebih dzolim dari orang-orang yang mencegah manusia dari dzikir kepada Allah di dalam masjid-masjid dalam bentuk menegakkan shalat, membaca al-quran, dan amal-amal semacamnya, dan mereka bersungguh-sungguh untuk menghancurkan masjid-masjid itu dengan merobohkannya, menutup atau menghalangi kaum Mukminin darinya. Orang-orang zalim itu tidak sepatutnya bagi mereka untuk memasuki masjid-masjid kecuali dengan rasa takut dan cemas terhadap siksaan Allah. Dikarenakan perbuatan mereka itu mereka akan mendapatkan kehinaan dan terbongkarnya aib mereka di dunia, dan mereka akan mendapatkan siksaan yang keras di akhirat. (Tafsir al-Muyassar)

Tidak ada yang lebih zalim dari orang yang melarang disebutnya nama Allah di masjid-masjid-Nya; dia melarang salat, zikir dan membaca Al-Qur`ān di masjid. Dan dia berusaha keras untuk mengosongkan dan merusak masjid dengan cara merobohkan bangunannya atau melarang kegiatan ibadah di masjid. Orang-orang yang berusaha merobohkan masjid-masjid Allah itu tidak sepatutnya masuk ke dalam masjid kecuali dalam keadaan ketakutan dan hati yang gemetar, karena mereka menyimpan kekafiran dan menghalangi-halangi umat untuk memakmurkan masjid-masjid Allah. Mereka akan mendapatkan kehinaan dan kenistaan di dunia di tangan orang-orang mukmin. Dan di akhirat mereka akan mendapatkan azab yang berat karena menghalang-halangi manusia dari masjid-masjid Allah. (Tafsir al-Mukhtashar)

Tidak ada yang lebih dholim, dari pada mereka yang melarang orang masuk masjid untuk beribadah kepada Allah, lebih-lebih mereka juga berusaha merobohkannya. Merekalah kumpulan pendosa, tidak ada yang lebih patut bagi mereka kecuali mereka masuk masjid dengan penuh ketakutan atas azab Allah. Kesesatan dan kehinaan bagi mereka di dunia, dan azab yang pedih di neraka telah menanti mereka di akhirat. Ibnu Abbas berpendapat, bahwa ayat ini ditujukan untuk orang-orang musyrik Makkah yang melarang kaum Muslim untuk beribadah kepada Allah di Masjidil Haram. Mereka juga melarang Nabi Muhammad SAW sholat di depan Ka’bah. (Tafsir al-Wajiz)

وَمَنْ أَظْلَمُ (Dan siapakah yang lebih aniaya) Yakni tidak ada yang lebih zalim مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ(daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya) Yakni melarang orang yang datang ke masjid untuk melaksanakan sholat, membaca al-Qur’an, berzikir, atau menajarkan al-Qur’an. وَسَعَىٰ فِي خَرَابِهَا ۚ (dan berusaha untuk merobohkannya?) Yakni merusaha merobohkannya dan menghilangkan bangunannya, atau menghentikan kegiatan-kegiatannya seperti sholat dan ketaatan lainnya seperti belajar dan beriktikaf. مَا كَانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوهَا إِلَّا خَائِفِينَ ۚ (Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah)) Yakni seharusnya bereka memasuki masjid-masjid itu dengan penuh rasa takut kepada Allah karena itu adalah tempat ibadah mereka. Pada ayat ini terdapat petunjuk dari Allah untuk hamba-hambaNya agar melarang orang-orang kafir untuk memasuki masjid. Namun dalam ayat ini pula Allah memberi izin kita untuk memasukkan orang kafir ke masjid apabila telah mendapat izin dari kita dan masuk dengan penuh rasa takut. لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ(Mereka di dunia mendapat kehinaan) Yakni mereka yang merobohkan masjid-masjid dan melarang berzikir di dalamnya akan mendapat kehinaan dari Allah lewat tangan-tangan orang yang berjihad di jalan Allah. وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ(dan di akhirat mendapat siksa yang berat) Yakni siksa di nereka Jahannam. (Zubdatut Tafsir)

GRATIS! Dapatkan pahala jariyah dan buku Jalan Rezeki Berlimpah, klik di sini untuk detailnya

Itulah beberapa penjelasan dari berbagai mufassirin terkait kandungan dan arti ayat tentang sholat (arab, latin, artinya), moga-moga bermanfaat bagi ummat. Sokong usaha kami dengan mencantumkan tautan menuju halaman ini atau menuju halaman depan TafsirWeb.com.