Quran Surat At-Taubah Ayat 51

قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَىٰنَا ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ

Arab-Latin: Qul lay yuṣībanā illā mā kataballāhu lanā, huwa maulānā wa 'alallāhi falyatawakkalil-mu`minụn

Terjemah Arti: Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal".

Tafsir Quran Surat At-Taubah Ayat 51

Katakanlah (wahai nabi), kepada orang-orang yang enggan ikut dalam berjihad sebagai bentuk peringatan dan celaan terhadap mereka, ”tidak akan menimpa kami kecuali apa yang sudah Allah takdirkan pada kami dan Dia telah menulisnya dalam lauhil mahfudzh. Dia dalah penolong kami dalam menghadapi musuh-musuh kami. Dan hanya kepada Allah semata hendaknya bergantung orang-orang yang beriman kepadaNYa.”

📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

51. Katakanlah -wahai Rasul- kepada orang-orang munafik itu, "Kami tidak akan mengalami sesuatu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk kami. Karena Dia lah -Subḥānahu- Rabb kami dan tempat berlindung kami. Kami berserah diri kepada-Nya dalam semua urusan kami. Dan hanya kepada-Nya orang-orang mukmin berserah diri. Karena Dia lah Pelindung Mereka. Dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung.”

📚 Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)

51. Hai Rasulallah, katakanlah kepada orang-orang munafik: "Tidak akan menimpa kami kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagi kami. Dialah yang mengatur kami dan sebagai pelindung kami, kami menyerahkan segala urusan kami kepada-Nya, hanya kepada-Nyalah orang-orang beriman bertawakal, karena Dia akan mencukupkan mereka dan menjadi sebaik-baik tempat bertawakal."

📚 Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah

51. قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ اللهُ لَنَا (Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami)
Yakni ditetapkan di Lauh mahfudz. Allah telah memerintahkan kami untuk berperang maka kami laksanakan perintah-Nya.

هُوَ مَوْلَىٰنَا ۚ( Dialah Pelindung kami)
Yakni penolong kami dan penentu kesudahan yang baik bagi kami, serta yang menjadikan agama kami diatas agama-agama yang lain.

وَعَلَى اللهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ (dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”)
Bertawakkal kepada Allah yakni menyerahkan segala urusan kepada-Nya semata.

📚 Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

51. Wahai Nabi, katakanlah kepada mereka: “Tidak akan ada yang menimpa kami kecuali yang ditakdirkan Allah atas kami, dan kami meridhainya. Dialah penolong kami dan pengatur urusan-urusan kami, dan sebaiknya orang-orang mukmin menyerahkan urusan-urusanNya hanya kepada Allah bukan selainNya”

📚 Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

51. Allah berfirman membantah mereka, “Katakanlah, ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah di tetapkan oleh Allah bagi kami’.” Yakni, Dia menakdirkannya dan memberlakukannya di Lauhul Mahfuzh. “Dia-lah Pelindung kami”, yang mengurusi perkara kami, baik urusan agama maupun dunia, maka kita wajib ridha terhadap takdirNya, dan kita tidak memiliki sedikitpun hak dalam perkara kita. “dan hanya kepada Allah-lah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” Yakni, mereka bersandar kepadaNya dalam mendatangkan maslahat untuk mereka dan menolak mudarat dari mereka, serta mereka percaya kepadanya dalam meraih apa yang mereka harapkan, maka tidaklah merugi orang-orang yang bertawakal kepadaNya. Adapaun orang yang bertawakal kepada selainNya, maka dia akan terlantar dan tidak berhasil meraih apa yang diangan-angankannya.

📚 Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

Dalam Al Lauhul Mahfuzh.

Yakni Pengatur urusan kami, baik yang terkait dengan agama maupun dunia. Oleh karena itu, sikap kami adalah ridha dengan qadar-Nya, dan kami tidak berkuasa apa-apa.

Hanya kepada Alah kaum mukmin bersandar dalam menarik maslahat dan menghindarkan madharat serta mempercayakan kepada-Nya dalam mewujudkan apa yang mereka inginkan. Oleh karena itu, tidak akan kecewa orang-orang yang bertawakkal, sedangkan orang-orang yang tidak bertawakkal kepada-Nya, maka ia akan kecewa dan tidak memperoleh apa yang diharapkannya.

📚 Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Karena itu, beliau diperintah untuk menanggapi ucapan mereka. Katakanlah, wahai nabi Muhammad, kepada orang-orang munafik itu, kami tidak akan mengucapkan sebagaimana apa yang kalian ucapkan, sebab menurut keyakinan kami tidak akan menimpa kami, kebaikan maupun keburukan, kekalahan maupun kemenangan, melainkan apa yang telah ditetapkan Allah di lauh mahfudh bagi kami. Demikian ini, agar kami tidak merasa berbangga diri ketika berhasil dan tidak merasa sesak dada kami ketika tidak berhasil. (lihat pula surah al-a'adid/57: 22-23). Sebagai seorang mukmin, kami sadar bahwa Allah tidak mungkin menyengsarakan kami, sebab dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allahlah hendaknya orang-orang yang beriman dengan keimanan yang mantap bertawakkal setelah sebelumnya berusaha secara maksimal. Orang-orang munafik selalu menunggu-nunggu kehancuran dan kebinasaan orang-orang muslim. Karena itu, beliau diperintah untuk menantang mereka. Katakanlah, wahai nabi Muhammad, kepada orangorang munafik itu, meski kamu selalu berharap kebinasaan terhadap kami, maka sesungguhnya tidak ada yang kamu tunggu-tunggu itu bagi kami, kecuali kami akan memperoleh salah satu dari dua kebaikan yaitu menang dengan membawa kemulian atau mati syahid. Dan sebaliknya, kami justru menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan salah satu dari dua keburukan yaitu azab dari sisi-Nya, seperti yang pernah menimpa umat-umat terdahulu disebabkan keingkaran dan penentangan mereka terhadap kebenaran ilahi, atau azab melalui tangan kami dengan membunuhmu atau menawanmu. Karena itu, maka tunggulah, sesungguhnya kami menunggu pula bersamamu, apa yang akan terjadi pada diri kalian jika kalian tetap ingkar.

📚 Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI

Terkait: « | »

Kategori: 009. At-Taubah