Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Surat Al-Ma’un Ayat 2

فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ

Arab-Latin: Fa żālikallażī yadu''ul-yatīm

Terjemah Arti: Itulah orang yang menghardik anak yatim,

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

Dia adalah orang yang merhadik anak yatim, yaitu anak yang bapaknya wafat ketika ia masih kecil,dari haknya dengan keras karena hatinya memang keras.

Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

2. Yaitu orang yang menolak anak yatim dengan keras untuk memenuhi kebutuhannya.

Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh di bawah asuhan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)

2-3. Pendusta itu adalah orang yang menolak dan mencegah dengan keras anak yatim untuk menerima haknya, dengan kejam. Perlu diketahui bahwa bangsa Arab Jahiliyyah tidak memberi warisan kepada perempuan dan anak kecil, dan tidak mendorong dirinya, keluarganya dan orang lain untuk memberi makan orang yang membutuhkan (makan) karena kekikiran kan kerakusan mereka.

Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili

2-3. Dan sebagian dari sifat manusia yang mengingkari hari kebangkitan dan pembalasan, dimana ia juga menahan (harta) anak yatim dengan kejam, dengan menjauhinya dan (perlakuannya yang) kasar, serta menahan hak waris bagi mereka (anak yatim); Dimana pada waktu itu bangsa Arab tidak mewariskan kepada perempuan dan anak kecil. Mereka berkata : Sesungguhnya yang berhak dengan warisan adakah dia yang membawa senjata dan melindungi suku (kaum). Dan dari sebagian sifat manusia-manusia pendusta bahwasanya mereka tidak menganjurkan pada selain dirinya untuk memberikan makan orang-orang miskin; Karena sebab kasih sayang telah dicabut dalam hatinya, oleh sebab itu tidak selain dirinya berbuat itu dan tidak menyeru akan perbuatan seperti itu (memberi makan orang miskin, dll.), karena masih wajar jika hanya memberlakukan bagi dirinya, (tapi mereka mengajak orang lain untuk melakukan hal serupa).

An-Nafahat Al-Makkiyah / Muhammad bin Shalih asy-Syawi

1-2
Iman kepada hari akhir bukan sekedar keyakinan, tetapi ia akan membawa pemiliknya kepada kebaikan memberi makan untuk anak yatim dan miskin, seperti orang yang Allah katakan tentangnya : { وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا } "Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan". [ al-Insan : 8 ] lalu apa yang mereka harapkan ? { إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا , إِنَّا نَخَافُ مِنْ رَبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا } "Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih , Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan". [ al-Insan : 9-10 ].

Li Yaddabbaru Ayatih / Lajnah Ilmiah Markaz Tadabbur

2. “Itulah orang yang menghardik anak yatim,” yakni membentaknya dengan kasar dan keras, tidak mengasihinya karena kerasnya hatinya, dan karena ia tidak mengharapkan pahala, dan tidak takut akan siksa.

Tafsir as-Sa'di / Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di

Pelanggaran pertama yang menjadi ciri-ciri orang mendustakan agama adalah mereka berbuat buruk kepada anak yatim, memreka memperlakukan anak yatim dengan keras tanpa kasih sayang, padahal mereka adalah anak-anak yang lemah, mereka kehilangan ayah-ayah mereka, maka sebagai muslim harus merasa bertanggung jawab atas taqdir yang mereka terima, karena memuliakan anak yatim sangatlah tinggi kedudukannya, Rasulullah ﷺ bersabda : << عَنْ سَهْلِ بَْنِ سَعْدٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم : أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَ، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسطَى وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئاً >> "Dari Sahl bin Sa’ad Radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya. [ HR al-Bukhari no. 4998 dan 5659 ] , menyantuni anak yatim adalah suatu kemuliaan yang tinggi derajatnya disisi Allah - عز وجل - .

Tafsir Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan

Yakni yang mencegah haknya dengan keras, tidak punya rasa kasihan terhadapnya karena keras hatinya, dan karena ia tidak mengharap pahala dan tidak takut kepada siksa.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I


Jika engkau ingin tahu, maka para pendusta agama, hisab, dan hari pembalasan itulah orang yang menghardik anak yatim, menyakiti hatinya, dan berbuat zalim kepadanya dengan menahan haknya. Dia tidak lagi peduli terhadap anak yang sudah kehilangan tumpuan hidupnya itu. 3. Dan dia tidak mendorong orang lain untuk memberi makan orang miskin yang tidak mempunyai kecukupan untuk memenuhi keperluan hidupnya sehari-hari. Bila dia enggan mendorong orang lain untuk memberi makan dan memperhatikan kesejahteraan anak yatim, bagaimana mungkin dia, dengan kekikiran dan kecintaannya pada harta, mendorong dirinya sendiri untuk berbuat demikian'.

Tafsir Ringkas Kemenag RI


Related: Surat Al-Ma’un Ayat 3 Arab-Latin, Surat Al-Ma’un Ayat 4 Bahasa Indonesia, Terjemah Arti Surat Al-Ma’un Ayat 5, Terjemahan Tafsir Surat Al-Ma’un Ayat 6, Isi Kandungan Surat Al-Ma’un Ayat 7, Makna Surat Al-Kautsar Ayat 1

Category: Surat Al-Ma'un

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera sisa? Klik di sini sekarang!

Surat Al Maun Ayat 2 Terjemahan Al Maun Ayat 2 Tafsir Almaun 2 Al Maun Ayat 2_3 Arti Dan Maksut Dari Arti Surat Al Maun Ayat 2