Surat Al-Insyirah Ayat 1

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?,

Tafsir Al-Mukhtashar

Tujuan Surat;
Kesempurnaan anugrah yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam dengan dihilangkan darinya segala kekelisahan, beban dan kesulitan.
Tafsir;
1. Sungguh Allah telah melapangkan dadamu, maka dia telah mencintaimu dengan diturunkan wahyu kepadamu.

Tafsir Al-Muyassar

Bukankah kami telah melapangkan dadamu (wahai nabi) untuk menerima syariat syariat agama,dakwah kepada Allah,dan menghiasi diri dengan keluhuran akhlak,

Tafsir Juz Amma (Al-Fauzan)

{ أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ } Sungguh telah kami lapangkan dadamu wahai Muhammad, agar kamu dapat menerima wahyu ini dan mengimaninya, Allah ﷻ berfirman : { فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ } ( Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. ) [ Al-An'am : 125 ] orang-orang yang sengsara akan merasa sempit dengan dzikir kepada Allah, dan tidak akan mereima wahyu ini dengan lapang dada, berbeda dengan orang-orang beriman sesungguhnya dada mereka akan menjadi lapang dengan ayat-ayat Allah : { الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ } ( (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. ) [ Ar-Ra'd : 28 ].

Hati yang lapang dengan diturunkannta ayat-ayat Allah adalah bukti akan keimanan dalam diri seseorang, sedangkan hati yang sengsara dan sempit dengan ayat-ayat Allah menandakan tiadanya iman pada diri seseorang, Allah ﷻ berfirman : { أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِنْ رَبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ } ( Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. ) [ Az-Zumar : 22 ] , oleh karena itu hal yang pertama kali Nabi Musa minta kepada Tuhannya ketika dia diperintahkan untuk mendatangi Fir'aun dan bala tentaranya adalah kelapangan hati, { قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي , وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي , وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي , يَفْقَهُوا قَوْلِي , وَاجْعَلْ لِي وَزِيرًا مِنْ أَهْلِي , هَارُونَ أَخِي , اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي } ( Berkata Musa: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku , Dan mudahkanlah untukku urusanku , Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku , Supaya mereka mengerti perkataanku , Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku ) setiap insan butuh degan siapa pun yang dapat membantunya, kemudian Allah berkata : { قَالَ قَدْ أُوتِيتَ سُؤْلَكَ يَا مُوسَىٰ } [ Thaha : 25 - 36 ] .

Hal pertama yang diminta oleh Musa kepada tuhannya adalah kelapangan hati, agar ia mampu membawa amanah yang berat ini, dan Allah telah melapangkan hati Rasul-Nya Muhammad agar mampu menjalankan tugasnya sebagai seorang Rasul utusan Allah untuk menyebarkan risalah islam ini keseluruh penjuru dunia.

Tafsir Hidayatul Insan

Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman menyebutkan nikmat-Nya kepada Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam.

Yakni dengan kenabian dan lainnya. Menurut Syaikh As Sa’diy maksudnya adalah, “Bukankah Kami telah meluaskan dadamu untuk menerima syariat agama dan berdakwah kepada Allah, memiliki sifat berakhlak mulia, menghadap (hati) kepada akhirat dan memudahkan kebaikan, sehingga tidak menjadi sempit dan berat yang (keadaannya) tidak tunduk kepada kebaikan dan hampir tidak ditemukan kelapangan.”

Tafsir Kemenag

1-4. Wahai nabi, bukankah kami telah melapangkan dadamu' kami telah menjadikanmu seorang nabi yang menerima syariat agama, berakhlak mulia, berwawasan luas, santun, dan sabar dalam menghadapi kepahitan hidup. Dan kami pun telah menurunkan bebanmu darimu, yang memberatkan punggungmu' kami jadikan tugasmu yang sejatinya berat, seperti menyampaikan risalah dan mendakwahkan syariat, terasa ringan. Dan kami pun telah tinggikan sebutan namamu bagimu. Kami sebut namamu secara berurutan dengan nama-ku, seperti dalam syahadat, azan, tasyahud, dan sebagainya. Itu adalah kemu'liaan tersendiri yang tidak kami berikan kepada nabi-nabi yang lain

Referensi Tafsir

  • IN PROGRESS
  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • COMPLETED
  • Hidayatul Insan / Marwan Hadidi, M.Pd.I, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018