Surat Al-Fajr Ayat 20

وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.

Tafsir Al-Mukhtashar

20. Dan kalian mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan sehingga kalian enggan (bakhil) berinfaq di jalan Allah karena kalian tamak kepadanya.

Tafsir Al-Muyassar

Dan kalian mencintai harta secara berlebihan.

Tafsir Juz Amma (Al-Fauzan)

Mencintai sesuatu dengan berlebihan adalah tabiat manusia, apatahlagi kecintaan kepada harta, Allah berfirman : { وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ } ( Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta ) [ Al-'Adiyat : 8 ] cinta kepada harta adalah tabiat manusia, akan tetapi hal itu tidak boleh menjadi sebab dia mengambil harta itu dengan cara yang tidak benar, atau menghalanginya dari mengeluarkan harta hak orang miskin.

Naluri insan mencintai kekayaan adalah hal biasa dikalangan orang-orang awam, tetapi hal itu dapat membahayakan keimanan dan ketaqwaannya, adapun mencintainya dengan cinta yang biasa-biasa saja dan hal itu tidak menyebabkan dirinya mengambil harta dengan cara yang tidak benar, maka hal itu tidak menjadi masalah yang besar, begitu banyak dikalangan masyarakat pada umumnya, dikarenakan cintanya kepada harta secara berlebihan sehingga menyebabkan hilangnya rasa peduli kepada orang miskin dan anak yatim, maka perkara inilah yang dilarang oleh agama.

Tafsir Kemenag

20. Dan tidak hanya itu, kamu juga mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan. Kecintaan berlebih seseorang terhadap harta menjadikan motivasi hidupnya semata untuk mengumpul'kan harta, tidak peduli halal atau haram. Di sisi lain, dia akan menjadi kikir dan tidak mau peduli kepada sesama. Perilaku ini akan menjerumuskannya ke neraka. 21-24. Sekali-kali tidak! janganlah kamu berbuat demikian. Apabila bumi diguncangkan berturut-turut, memuntahkan isinya, hancur lebur, kemudian muncul bumi yang sama sekali baru, dan setelah itu datanglah tuhanmu dengan cara yang tidak diketahui hakikatnya sama sekali oleh manusia; dan malaikat menunggu perintah tuhan sambil berbaris-baris penuh kepatuhan. Dan pada hari itu diperlihatkan neraka jahanam kepada orang kafir agar mereka melihat dengan mata kepada sendiri apa yang dahulu mereka ingkari. Ketika semua itu terjadi, maka pada hari itu sadarlah manusia yang ingkar atas kealpaannya, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu. Kesempatan untuk bertobat sudah tiada. Kini tiba saatnya untuk menghitung dan mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Betapa besar penyesalan orang kafir pada hari itu. Dia berkata dengan penuh kesadaran, 'alangkah baiknya sekiranya di dunia dahulu aku beriman dan mengerjakan amal saleh untuk kenyamanan hidupku di akhirat ini. ' penyesalan itu sudah tidak berguna. Maka, berbahagialah kini orang yang membekali diri di dunia dengan iman dan amal saleh.

Referensi Tafsir

  • IN PROGRESS
  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • COMPLETED
  • Hidayatul Insan / Marwan Hadidi, M.Pd.I, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018