Surat Al-Fajr Ayat 4

Text Bahasa Arab dan Latin

وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

Dan malam bila berlalu.

Tafsir Al-Mukhtashar

4. Dan bersumpah dengan malam jika datang, berjalan dan berlalu, dan jawab dari sumpah ini adalah agar manusia tidak malampaui dalam amalannya.

Tafsir Al-Muyassar

Dan dengan malam bila ia hadir dengan kegelapannya,

Tafsir Hidayatul Insan

Dengan membawa kegelapannya kepada hamba-hamba-Nya, sehingga mereka dapat beristirahat sebagai rahmat Allah Ta’ala dan hikmah-Nya.

Jawab atau isi sumpahnya menurut penyusun tafsir Al Jalaalain adalah, bahwa kamu wahai orang-orang kafir akan diazab. Tampaknya, penyusun tafsir Al Jalaalain melihat beberapa ayat setelahnya yang menerangkan tentang kebinasaan orang-orang kafir. Menurut Syaikh As Sa’diy, bahwa yang dipakai sumpah dengan isi sumpahnya adalah adalah sama. Allah Subhaanahu wa Ta'aala bersumpah dengan fajar yang merupakan penutup malam dan permulaan siang karena pada pergantian malam dengan siang terdapat ayat-ayat yang menunjukkan sempurnanya kekuasaan Allah Ta’ala, dan bahwa Dia saja yang sendiri mengatur semua urusan, dimana tidak ada yang pantas ditujukan ibadah kecuali kepada-Nya. Di samping itu, pada waktu fajar terdapat shalat yang utama dan mulia sehingga sangat tepat jika Allah Subhaanahu wa Ta'aala bersumpah dengannya. Oleh karena itulah, setelahnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala bersumpah dengan malam yang sepuluh, yaitu malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan menurut pendapat yang shahih, atau malam sepuluh pertama bulan Dzulhijjah, karena malam-malam tersebut adalah malam yang mulia yang banyak dilakukan ibadah tidak seperti pada malam-malam yang lain. Selain itu, pada malam yang sepuluh akhir bulan Ramadhan terdapat Lailatulqadr yang lebih baik dari seribu bulan, sedangkan di siangnya terdapat puasa Ramadhan yang merupakan salah satu rukun Islam. Sedangkan pada siang hari dari sepuluh Dzulhijjah terdapat wuquf di ‘Arafah (9 Dzulhijjah), dimana pada hari itu Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengampuni hamba-hamba-Nya dengan ampunan yang membuat setan bersedih, bahkan setan tidak pernah terlihat lebih hina dan lebih rendah daripada hari ‘Arafah karena mereka melihat para malaikat dan rahmat turun dari Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada hamba-hamba-Nya, dan karena pada hari-hari itu terdapat amalan haji dan umrah. Dengan demikian, semua itu merupakan perkara yang agung dan pantas jika Allah Subhaanahu wa Ta'aala bersumpah dengannya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Malam 10 hari terakhir bulan Ramadhan lebih utama daripada malam 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, sedangkan siang hari 10 pertama bulan Dzulhijjah lebih utama dari siang hari sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Dengan perincian ini kesamaran akan hilang. Yang menunjukkan demikian adalah karena malam 10 terakhir bulan Ramadhan memiliki kelebihan dengan lailatul qadrnya, di mana hal itu terjadi di malam hari, sedangkan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah memiliki kelebihan di siang harinya, karena terdapat hari nahr, hari 'Arafah dan hari tarwiyah (8 Dzulhijjah)."

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبُّ إِلىَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ - يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ - قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ ؟ قَالَ "وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“Tidak ada hari di mana amal saleh pada hari itu lebih dicintai Allah ‘Azza wa Jalla daripada hari-hari ini –yakni sepuluh hari (pertama bulan Dzulhijjah)- para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidak juga jihad fii sabiilillah?” Beliau menjawab, “Tidak juga jihad fii sabiilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa-raga dan hartanya, kemudian tidak bersisa lagi.” (HR. Bukhari)

Tafsir Kemenag

1-4. Demi fajar, yaitu awal mula terangnya bumi setelah kegelapan malam sirna. Pada waktu ini manusia memulai aktivitasnya. Di balik kemunculan fajar itu pasti ada zat yang mahaperkasa. Demi malam yang sepuluh, yaitu sepuluh hari pertama bulan zulhijah. Mereka yang beramal saleh pada hari-hari tersebut akan mendapat pahala yang sangat agung. Demi yang genap dan yang ganjil dari semua hal. Bisa juga dipahami bahwa yang genap itu adalah makhluk Allah, sedangkan yang ganjil adalah Allah. Dia maha esa dan tanpa bandingan. Allah tidak membutuhkan apa dan siapa pun, sedang makhluk sangat bergantung pada yang lain. Demi malam apabila berlalu dan digantikan siang. 5. Adakah pada yang demikian itu terdapat sumpah yang dapat diterima bagi orang-orang yang berakal' bagi mereka sumpah-sumpah tersebut sangat menggugah. Mereka tergugah untuk memikirkannya secara mendalam karena sumpah itu menunjukkan kekuasaan Allah dan anugerah-Nya yang besar bagi manusia.

Referensi Tafsir

  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • Hidayatul Insan / Marwan bin Musa, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018