Surat Al-Ghasyiyah Ayat 26

ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

Kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.

Tafsir Al-Mukhtashar

26. Kemudian sungguh kewajiban Kamilah membuat perhitungan atas amalan yang mereka lakukan dan tidak ada seorangpun yang melakukannya.
Faidah :
1. Urgensi mensucikan jiwa dari penyait Nampak dan yang tersembunyi.
2. Dalil adanya Allah dengan adanya makhluk
3. Urgensi dakwah dan tidak ada yang mampu memberikan hidayah kecuali Allah.

Tafsir Al-Muyassar

Kemudian tanggungan Kami lah pembalasan atas apa yang mereka kerjakan.

Tafsir Juz Amma (Al-Fauzan)

Tidak ada kewajiban bagimu wahai Muhammad melainkan hanya menyampaikan nasehat dan peringatan dari Allah ﷻ , sedangkan pertanggung jawaban amal dan dosa akan kembali kepada Allah ﷻ, Allah ﷻ yang akan menghisab amalan hamba-Nya didunia, Dia akan meminta keterangan dari hamba-Nya yang taat dan yang berdusta, dan Dia ﷻ akan membalas amalan baik orang-orang bertaqwa dengan kebaikan pula, dan akan membalas keburukan dan kemasiatan yang diperbuat oleh para pelaku maksiat dengan keburukan pula, Allah ﷻ berfirman : { وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا } ( Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun”. ) [ Al-Kahfi : 49 ] tidak seorang pun akan disiksa dengan dosa orang lain, dan tidak pula seseorang akan mendapatkan surga dengan kebaikan orang lain, karena Allah ﷻ menginginkan kedudukan orang baik itu bertambah, dan tidak dengan orang-orang berdosa tanpa ada kebaikan yang mereka perbuat, Dia ﷻ memperlakukan orang-orang kafir dengan seadil-adilnya, dan memperlakukan orang-orang beriman dengan sangat istimewa. Dari keistimewaan surah ini adalah mencakup banyak hal yang berkaitan dengan nasehat-nasehat dan peringatan, surah ini juga menjelas perihal tempat kembali manusia di hari kiamat kelak .

Maka seharusnya setiap muslim mentadabburi surah ini dan surah-surah lainnya dalam Al-Qur'an, karena selurunya adalah perkataan Allah ﷻ, dan seluruhnya adalah pelajaran penting, Al-Qur'an juga membahas tentang hukum-hukum syari'at islam, juga mencakup berita-berita yang nyata, Al-Qur'an ini sluruhnya adalah hikmah, Al-Qur'an juga mengandung peringatan-peringatan dan nasehat, mengandung berita gembira untuk orang-orang beriman, serta ancaman bagi orang-orang kafir dan pelaku kesyirikan, inilah Al-Qur'an yang mulia, yang merupakan ucapan Tuhan seluruh alam, { لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ ۖ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ } ( Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. ) [ Fussilat : 42 ] , dan tidak satupun yang bisa mengubah isi kandungan Al-Qur'an, Allah ﷻ berfirman : { إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ } ( Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya ) [ Al-Hijr : 9 ] .

Dan ilmu pengetahuan modern sekalipun tidak akan bisa berdusta untuk menjatuhkan keajaiban-keajaiban yang ada pada Al-Qur'an, akan tetapi Al-Qur'an lah yang mampu mengalahkan semua itu, dengan Al-Qur'an semua pengetahuan modern akan diketahui kebenarannya, begitupun dengan akal sehat manusia tidak akan mampu membantah kebenaran yang terkandung dalam Al-Qur'an, bahkan akal sehat akan selalu sejalan dengan aturan yang dituliskan dalam Al-ur'an, sedangkan akal yang rusak tidak akan dipandang kebenarannya.

Fitrah manusia adalah sepakat dengan apapun yang dikandung oleh Al-Qur'an, dia akan selalu merasa nikmat dengan Al-Qur'an, keajaiban-keajaiban yang terkandung dalam Al-Qur'an adalah salah satu nikmat Allah ﷻ yang paling besar, dan Al-Qur'an seluruhnya adalah keajaiban. dan hanya Allah ﷻ lah pemilik semua pengetahuan.

Tafsir Juz Amma (Al-Utsaimin)




Tafsir Hidayatul Insan

Yakni Kami yang menghisab mereka atas apa yang mereka kerjakan baik atau buruk.

Tafsir Kemenag

Kemudian, sesungguhnya kamilah pula yang akan membuat perhitungan atas mereka. Kami akan memberi mereka balasan sesuai tingkat kedurhakaan mereka supaya mereka tahu bahwa kehidupan ini bukan untuk bermain-main, melainkan harus dijalani dengan serius dan bertanggung jawab. 1-4. Demi fajar, yaitu awal mula terangnya bumi setelah kegelapan malam sirna. Pada waktu ini manusia memulai aktivitasnya. Di balik kemunculan fajar itu pasti ada zat yang mahaperkasa. Demi malam yang sepuluh, yaitu sepuluh hari pertama bulan zulhijah. Mereka yang beramal saleh pada hari-hari tersebut akan mendapat pahala yang sangat agung. Demi yang genap dan yang ganjil dari semua hal. Bisa juga dipahami bahwa yang genap itu adalah makhluk Allah, sedangkan yang ganjil adalah Allah. Dia maha esa dan tanpa bandingan. Allah tidak membutuhkan apa dan siapa pun, sedang makhluk sangat bergantung pada yang lain. Demi malam apabila berlalu dan digantikan siang.

Referensi Tafsir

  • IN PROGRESS
  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • COMPLETED
  • Hidayatul Insan / Marwan Hadidi, M.Pd.I, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018