Surat Al-Muthaffifin Ayat 15

كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (rahmat) Tuhan mereka.

Tafsir Al-Mukhtashar

15. Benar, seshungguhnya mereka terhalang melihat Allah di hari kiamat.

Tafsir Al-Muyassar

Perkaranya tidak sebagaimana yang diucapkan oleh orang orang kafir, sebaliknya pada hari kiamat,mereka terhalang sehingga tidak bisa melihat tuhan mereka di surga.

Tafsir Juz Amma (Al-Fauzan)

Sungguh orang-orang beriman pada hari kiamat akan melihat Tuhan mereka dengan mata kepala mereka sendiri, mereka nyaman dengan melihat-Nya, sedangkan orang-orang kafir tidak akan bisa mendapankan nikmat yang sama, karena mereka enggan beriman kepada Allah ketika didunia, oleh karena itu mereka pun tertutup dari melihat Tuhan mereka dihari kiamat.

Orang-orang yang ketika didunia mereka beriman akan mendapat nikmat terbesar dari Tuhan mereka di hari kiamat, ketika masih didunia mereka tidak mampu melihat wujud Tuhan mereka secara langsung, tapi mereka tetap istiqomah pada keimanan mereka, semua makhluk yang ada di dunia tidak mampu dan tidak memiiki kekuatan untu melihat wujud Tuhan semesta alam secara lagsung, akan tetapi pada hari kiamat Allah menjadikan jasad-jasad mereka menjadi kuat, sehingga mereka pun mampu melihat Allah dengan kemuliaannya, Rasululah ﷺ bersabda : (( عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةَ الْبَدْرِ فَقَالَ إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا لَا تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ )) " dari Qais bin Abu Hazim telah menceritakan kepada kami Jarir, bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam menemui kami di malam purnama, lantas beliau bersabda: "Kalian akan melihat Tuhan kalian pada hari kiamat sebagaimana kalian melihat bulan ini dengan tidak kesulitan melihatnya."

Imam Syafi'i berkata : hadits ini merupakan dalil bahwa orang mukmin pasti akan melihat Tuhannya pada hari kiamat, karena jika hal itu tertup bagi orang-orang kafir maka sudah bisa dipastikan bahwa hal itu mungkin bagi orang-orang yang beriman kepada Allah, dan dalil-dalil tentang itu cukup banyak diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ , dan melihat Allah dalam wujudnya yang asli adalah merupakan nikmat yang terbesar bagi orang-orang mukmin, mereka akan bahagia dengan nikmat yang agung itu, seperti itulah balasan bagi mereka yang menyatakan keimanannya kepada Allah dan taat atas segala perintahnya, menjauh dari segala larangannya.


Tafsir Juz Amma (Al-Utsaimin)

كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ " Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan (berupa dosa) itu menutup hati mereka." Maknanya: benar-benar mereka terhalangi dari Rabb mereka, ini terjadi saat hari kiamat, mereka akan terhalangi dari memandang kepada Allah ‘Azza Wa Jalla, sebagaimana mereka pun telah terhalangi dari memandang syari’at, ayat-ayat-Nya, mereka memandang ayat-ayat-Nya itu seperti dongeng-dongeng terdahulu belaka.
Ahlussunnah waljama’ah menjadikan ayat ini sebagai dalil untuk ketetapan adanya melihat Allah ‘Azza Wa Jalla. Sisi pendalilannya jelas. Sesungguhnya tidaklah mereka terhalangi ketika dimurkai Allah melainkan Allah memberikan kemampuan orang-orang baik untuk melihat-Nya Ta’ala ketika mendapatkan leridhoan., jika mereka,orang-orang yang fajir terhalangi maka orang-orang baik tidak akan terhalangi. Jika saja keduanya terhalangi maka tidak ada faedah sama sekali dari pengkhususan terhalang ini bagi orang-orang fajir saja.
Adanya melihat Allah ‘Azza Wa Jalla ditetapkan berdasarkan dalil al-Quran, hadits mutawatir dan ijma’ sahabat dan aimmah, tidak ada masalah (perselisihan) pada hal ini, bahwa Allah Ta’ala akan dilihat dengan mata sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ (22) إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat.”(QS. AL-Qiyamah: 22-23)
Allah Ta'ala juga berfirman: لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” (QS. Yunus: 26) Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam manfsirkan tambahan dengan melihat wajah Allah Ta’ala(1)
Sebagaimana dalam firman Allah ta’ala juga: لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ “Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya.”(QS. Qaf: 35) Tambahan dalam ayat ini bermakna tambahan yang ada pada firman-Nya: لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.”
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ “Dia tidak dapat dijangkau oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu”(QS. Al-An’am: 103) Peniadaan jangkauan penglihatan di sini menunjukkan pada dasarnya adanya melihat Allah, oleh karenanya ayat ini dijadikan ulama salaf sebagai dalil penetap adanya penglihatan kepada Allah, sedang kholaf menjadikan dalil tidak adanya penglihatan kepada Allah, tidak diragukan lagi ayat ini adalah dalil yang mebantah mereka. Karena Allah di sini tidak meniadakan penglihatan, tetapi Allah maniadakan jangkauan, sedangkan peniadaan jangkauan pandangan menunjukkan pada dasarnya penglihatan itu ada.
Kesimpulannya: bahwa AL-Quran menunjukkan adanya rukyah (melihat) Allah ‘Azza waJalla secara hakiki dengan mata, begitu juga hadits hadits shahih menunjukkan demikian pula, yang mana Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عَيَانًا كَمَا تَرَوْنَ الشَّمْسَ صَحْوًا لَيْسَ دُوْنَهَا سَحَابٌ
“ Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian denagn mata sebagaimana kalian melihat matahari dengan jelas tanpa dihalangi awan ”(2)
Beliau juga bersabda:
إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ الْقَمَرَ لَيْلَةَ الْبَدْرِ لَا تَضَامُّوْنَ فِيْ رُؤْيَتِهِ
“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan di malam purnama, kalian tidak akan bedesakan dalam melihat-Nya” (3)
Para Sahabat radhiyallaahu ‘anhu, para pengikut mereka dengan kebaikan dari kalangan salaf telah mengimani hal tersebut, begitu juga para imam-imam umat ini. tetapi orang-orang yang akal dan hatinya tertupi kebenaran mereka mengingkarinya, mereka mengatakan: Sesungguhnya Allah tidak mungkin dilihat dengan mata, sedangkan yang dimaksud penglihatan dalam ayat-ayat adalah penglihatan dengan hati, yaitu dengan keyakinan. Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah pernyataan yang batil, menyelisihi al-Quran, hadits dan ijma’ salaf. Juga keyakinan tersebut akan ada pada selain mereka juga, sampai-sampai orang fajir pun di hari kiamat nanti akan melihat apa-apa yang dulu dijanjikan kepada mereka dengan sebenar-benarnya dan dengan keyakinan, di sini bukan saatnya untuk memperpanjang pembahasan penetapan penglihatan kepada Allah ‘Azza Wa Jalla dan mendiskusikan dalil-dalil kedua kubu ini, karena perkara ini –walillaahil hamdu- sudah amat jelas tidak perlu diulas secara panjang lebar.

(1) Dikeluarkan Muslim (181) dari hadits Shuhaib radhiyallaahu 'anhu
(2) Penggalan awal hadits ini dikeluarkan Bukhari (7435) dan sabdanya yang artinya "sebagaimana memandang matahari…" Muslim (183)
(3) Dikeluarkan Bukhari (554) dan Muslim (633) dari hadits Jarir Bin Abdullaah radhiyallaahu 'anhu

Tafsir Hidayatul Insan

Kata “Kalla” di ayat ini bisa diartikan “Tentu atau pasti”.

Tafsir Kemenag

Sekali-kali tidak! sesungguhnya mereka yang kafir dan berbuat maksiat pada hari pembalasan itu benar-benar terhalang dari rahmat tuhannya. Mereka tidak mendapatkan rahmat Allah dan tidak pula mampu melihat-Nya di akhirat nanti. 16. Setelah terhalang dari rahmat Allah, kemudian sesungguhnya mereka yang ingkar dan berbuat maksiat itu benar-benar masuk neraka yang penuh siksa mengerikan.

Referensi Tafsir

  • IN PROGRESS
  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • COMPLETED
  • Hidayatul Insan / Marwan Hadidi, M.Pd.I, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018