Surat Al-Muthaffifin Ayat 14

Text Bahasa Arab dan Latin

كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.

Tafsir Al-Muyassar

Perkaranya tidak sebagaimana yang mereka tuduhkan, sebaliknya al-qur’an adalah firman Allah dan wahyu NYA kepada nabi NYA. Yang membuat hati mereka terhalang untuk membenarkan adalah apa yang menutupinya akibat banyaknya dosa dosa yang mereka lakukan.

Tafsir Juz Amma (Al-Fauzan)

Benar, sesungguhnya apa yang mereka katakan tentang AL-Qur'an ini tidak sesuai dengan perkara yang sebenarnya, itu dikarenakan hati mereka telah tertutup, sehingga tidak sampai kepadanya cahaya Al-Qur'an, dan wahyu Allah itu tidak bermanfaat bagi mereka, hati mereka telah tetutup rapat, dosa-dosa telah bertumpuk di hati mereka sampai akhirnya hati itu buta dan tertutup tidak mampu menerima kebenaran, peringatan dan nasehat tidak berpengaruh bagi diri mereka yang bodoh itu.

Dalam sebuah hadits Nabi diterangkan bahwasanya jika anak Adam melakukan satu kemaksiatan, maka akan tertulis di hatinya satu titik hitam, jika ia bertaubat titik hitam itu akan terhapu, dan kalau ia belum betaubat dan terus melakukan kemaksiatan, maka titik hitam itu akan terus bertambah sampai menutupi seluruh bagian dari harinya.

{ كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ } Hati mereka telah tertutup disebabkan oleh dosa kemaksiatan yang telah mereka perbuat, Allah juga mengatakan dalam ayat lain tentang keadaan orang-orang kafir : { خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ } ( Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. ) [ Al-Baqarah : 7 ] semua itu disebabkan oleh kekafiran dan kemaksian mereka.

Tafsir Hidayatul Insan

Ibnu Katsir berkata, “Yakni perkaranya tidaklah seperti yang mereka sangka, dan tidak seperti yang mereka katakan, yaitu bahwa Al Qur’an adalah dongengan-dongengan orang-orang terdahulu, bahkan ia adalah firman Allah, wahyu-Nya, dan kitab yang diturunkan-Nya kepada Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan sesungguhnya yang menghalangi hati mereka dari beriman kepadanya adalah karena Ar Raan yang menutupi hati mereka karena banyaknya dosa dan kesalahan. Oleh karena itu, Allah berfirman, “apa yang mereka kerjakan.” Rain menimpa hati orang-orang kafir, ghaim menimpa hati orang-orang baik, sedangkan ghain menimpa hati orang-orang yang dekat (dengan Allah)”

Berupa kemaksiatan.

Sehingga hati mereka seperti berkarat. Syaikh As Sa’diy berkata, “Dalam beberapa ayat ini terdapat peringatan terhadap dosa, karena ia akan menutupi hati sedikit demi sedikit sampai hilang cahayanya dan mati ketajaman pandangannya sehingga hakikat menjadi terbalik atasnya, ia akan melihat kebatilan sebagai kebenaran dan kebenaran sebagai kebatilan, dan ini di antara hukuman terhadap dosa.”

Tirmidzi meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa Beliau bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ : كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka akan digoreskan satu titik hitam di hatinya. Apabila dia berhenti, beristighfar dan bertobat, maka akan mengkilap lagi hatinya, dan jika ia mengulangi lagi, maka akan ditambah lagi (titik itu) sampai menutupi hatinya. Itulah Ar Raan yang disebutkan Allah (dalam Al Qur’an),” yaitu firman-Nya, “Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih.” Syaikh Al Albani menghasankan hadits ini dalam Shahih At Tirmidzi (3334). Hadits ini menurut penyusun Tuhfatul Ahwadzi diriwayatkan pula oleh Ahmad, Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim, ia berkata, “Shahih sesuai syarat Muslim.”)

Penyusun Tuhfatul Ahwadzi berkata, “Asal kata ‘Raan’ dan ‘Rain’ adalah tutupan, ia seperti karat yang menimpa sesuatu yang mengkilap.” Ath Thiibiy berkata, “Ar Raan dan Ar Rain adalah sama seperti kata ‘Aab dan ‘Aib. Ayat tersebut adalah berkenaan dengan orang-orang kafir, akan tetapi orang-orang mukmin ketika melakukan dosa, maka seperti mereka dalam hal hitamnya hati dan bertambahnya hal itu dengan bertambahnya dosa.” Ibnul Malak berkata, “Ayat ini disebutkan berkenaan dengan orang-orang kafir, akan tetapi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkannya untuk menakut-nakuti orang-orang mukmin agar mereka berhati-hati dari terjatuh ke dalam banyak dosa agar hati mereka tidak menghitam sebagaimana menghitamnya hati orang-orang kafir. Oleh karena itu, dikatakan bahwa kemaksiatan-kemaksiatan adalah pengantar kekafiran.”

Tafsir Kemenag

Sekali-kali tidak demikian! Al-Qur'an adalah kalam dan wahyu Allah kepada nabi Muhammad. Bahkan apa yang mereka kerjakan itu, yaitu kekufuran dan maksiat, telah menutupi hati mereka sehingga tidak mampu membedakan antara yang hak dan batil. 15. Sekali-kali tidak! sesungguhnya mereka yang kafir dan berbuat maksiat pada hari pembalasan itu benar-benar terhalang dari rahmat tuhannya. Mereka tidak mendapatkan rahmat Allah dan tidak pula mampu melihat-Nya di akhirat nanti.

Referensi Tafsir

  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • Hidayatul Insan / Marwan bin Musa, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018