Surat Al-Muthaffifin Ayat 13

Text Bahasa Arab dan Latin

إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

Yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: "Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu"

Tafsir Al-Muyassar

Apabila ayat-ayat al-qur’an dibacakan kepadanya, dia berkata,”ini adalah kebatilan-kebatilan orang orang dulu.”

Tafsir Juz Amma (Al-Fauzan)

Jika dibacakan kepada mereka ayat-ayat Al-Qur'an dan wahyu yang diturunkan kepada Rasul-rasul Allah ﷻ yang disebutkan didalamnya tentang kebangkitan, hari perhitungan, dan hari pembalasan, mereka mengatakan bahwa ayat-ayat Al-Qur'an itu tidak ada kebenaran didalamnya, mereka menyamakan Al-Qur'a dengan buku dongeng yang ada sekarang ini, mereka menganggap ayat-ayat AL-Qur'an adalah kumpulan syair, buku sejarah, novel, dan sebagainya.

Begitulah sikap orang-orag kafir terhadap ayat-ayat Allah, mereka mengatakan Al-Qur'an ini bukan dari perkataan Allah, mereka menuduh Rasulullah ﷺ telah berbohong kepada ummatnya demi kepentingan dirinya, dan menurut pemahaman kelompok "jahmiyah" dan "mu'tazilah" bahwasanya Allah itu tidak berbicara, sehingga mereka menyebut Al_Qur'an ini perkataan Jibril atau perkataan Muhammad, mereka menyamakan Allah dengan berhala yang tidak mampu berbicara, oleh karena itu ketika Nabi Ibrahim berkata kepada bapaknya : { إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا } ( Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? ) [ Maryam : 42 ], mereka menyamakan Allah dengan berhala yang tidak dapat melihat, tidak dapat mendengar, tidak dapat berbicara, dan itulah yang disembah oleh orang-orang musyrik, kemudian ketika para menyembah berhala itu berkata kepada Ibrahim : siapakah yang menghancurkan patung-patung ini ? lalu Ibrahim menjawab : { قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَٰذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ } ( Ibrahim menjawab: “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara”. ) [ Al-Anbiya' :63 ] , akan tetapi mereka tidak dapat membuktikan kemampuan berhala-berhala itu dan inilah bukti bahwa Allah ﷻ berbicara, { ثُمَّ نُكِسُوا عَلَىٰ رُءُوسِهِمْ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا هَٰؤُلَاءِ يَنْطِقُونَ , قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ } ( Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): “Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara” , Ibrahim berkata: Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?” ) [ Al-Anbiya' : 65-67 ] .

Juga ketika bani israil menjadikan anak lembu yang dibuat oleh samiri dari emas sebagai sembahan, Samiri mengatakan kepada mereka : { هَٰذَا إِلَٰهُكُمْ وَإِلَٰهُ مُوسَىٰ } ( Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa ) [ Thaha : 88 ] , maka mereka pun menjadikan anak lembu itu sebagai sesembahan dan mempercayai apa ayng dikatakan oleh Samiri, lalu Allah kemudian berkata : { أَفَلَا يَرَوْنَ أَلَّا يَرْجِعُ إِلَيْهِمْ قَوْلًا وَلَا يَمْلِكُ لَهُمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا } ( Maka apakah mereka tidak memperhatikan bahwa patung anak lembu itu tidak dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak dapat memberi kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan? ) [ Thaha : 89 ], Allah juga mengatakan : { أَلَمْ يَرَوْا أَنَّهُ لَا يُكَلِّمُهُمْ وَلَا يَهْدِيهِمْ سَبِيلًا ۘ اتَّخَذُوهُ وَكَانُوا ظَالِمِينَ } ( Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zalim. ) [ Al-A'raf : 148 ].

{ أَسَاطِيرُ } Yaitu kata jamak dari "أُسْطُورَةٌ" adalah dongen atau mitos bohongan yang tertulis dalam naskah khusus, orang-orang musyrikin dan kafir tidak membedakan antara AL-Qur'an dan dongeng, atau cerita seribu satu malam, itulah kebodohan dan kesesatan mereka.

{ قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ } Mereka mengangggap bahwa AL-Qur'an ini tidak penting bagi kehidupan manusia, karena tidak ada kebenaran yang terkandung didalamnnya, sungguh kesesatan yang menyelimuti diri mereka.

Walaupun sebagian dari mereka ada yang percaya dengan Al-Qur'an, akan tapi mereka mengartikan dan memahami kandunganya sesuka mereka, dan tidak menempatkannya pada arti atau makna yang sebenarnya, mereka mengatakan tentang isi kandungan Al-Qur'an sesuai hawa mereka, jika mendapati ayat-ayat yang tidak sesuai dengan kesenangan dan hawa nafsu mereka maka mereka lebih mendahului hawa nafsu dalam mengartikan ayat-ayat tersebut, dan seperti itulah kebodohan dan kejahiliyaan orang-orang yang berfaham liberal.

Tafsir Hidayatul Insan

Yang menunjukkan kepada kebenaran dan menunjukkan benarnya apa yang dibawa para rasul.

Dengan sombong sambil mendustakan dan menentangnya.

Yakni cerita-cerita bohong orang-orang terdahulu. Berbeda dengan orang-orang yang adil dan sadar, yang maksudnya adalah mencari kebenaran, maka dia tidak akan mendustakan hari pembalasan, karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menegakkan dalil-dalilnya yang qath’i (pasti) dan bukti-buktinya yang menjadikan hal itu sebagai haqqul yaqin (kebenaran yang pasti) yang saking jelasnya seperti matahari di siang hari. Adapun orang yang ditutup hatinya oleh keburukan dan kemaksiatan yang dilakukannya, maka ia terhalangi dari melihat yang hak (benar). Oleh karena itu, ia dibalas dengannya, yakni ditutupi dari melihat Allah sebagaimana hatinya dihalangi dari ayat-ayat-Nya di dunia.

Tafsir Kemenag

Itulah orang yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat kami, yaitu Al-Qur'an yang berisi ajaran islam yang mulia, dia berkata sembari menertawakannya, 'itu adalah dongeng dan bualan orang-orang dahulu. '14. Sekali-kali tidak demikian! Al-Qur'an adalah kalam dan wahyu Allah kepada nabi Muhammad. Bahkan apa yang mereka kerjakan itu, yaitu kekufuran dan maksiat, telah menutupi hati mereka sehingga tidak mampu membedakan antara yang hak dan batil.

Referensi Tafsir

  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • Hidayatul Insan / Marwan bin Musa, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018