Surat Al-Muthaffifin Ayat 7

كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin.

Tafsir Al-Mukhtashar

7. Perkara ini tidak semudah yang mereka bayangkan bahwa mereka tidak akan dibangkitkan setelah kematian, dan sungguh catatan orang yang durhaka dari orang-orang kafir dan munafik berada pada tempat yang paling rendah di muka bumi.

Tafsir Al-Muyassar

Benar,tempat kembali orang orang durhaka adalah tempat yang sempit.

Tafsir Juz Amma (Al-Fauzan)

Benar, { إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ } kitab amalan orang-orang durhaka , { الْفُجَّارِ } yaitu orang-orang yang keluar dari ketaatan kepada Allah, yaitu mereka yang melakukan kemungkaran dan kefasikan serta kekafiran.

{ لَفِي سِجِّينٍ } kitab amalan mereka disimpan setelah mereka mati ditempat yang sangat sempit, dalam riwayat lain dikatakan : { سِجِّينٍ } yakni, salah satu nama dari nama-nama neraka.

Tafsir Juz Amma (Al-Utsaimin)

كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ “Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin.” كَلَّا [Kalla] dalam al-Quran datang dengan banyak makna disesuaikan dengan konteks ayat, terkadang ia sebagah kata sanggahan dan bantahan dan terkadang bermakna “benar-benar” bisa juga bermakna lainnya yang disesusiakan dengan konteksnya, karena kosa kata dalam bahasa arab tidak ada yang memiliki makna secara zatnya yang tidak mungkin bermakna lain, tetapi banyak sekali kosa kata dalam bahasa arab memiliki makna yang banyak yang dapat berbeda disesuaikan dengan konteks pembicaraannya.
Pada ayat ini Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman: كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ Maka bisa dimungkinkan bermakna “Benar-benar sungguh buku orang-orang fajir dalam sijjin, atau bisa juga bermakna bantahan terhadap pendustaan terhadap hari akhir. Yang terpenting Allah Ta’ala menjelaskan dalam ayat yang mulia ini bahwa buku catatan orang-orang yang fajir di dalam sijjin, sedangkan makna sijjid dijelaskan okeh para ulama: bahwa ia diambil dari kata السجن As-Sijnu yang berarti sempit. Jadi maknanya adalah tempat yang sempit yaitu neraka jahannam wal-‘iyaadzu billaah, sebagaimana Allah Tabaaraka Wa Ta’ala berfirman: وَإِذَا أُلْقُوا مِنْهَا مَكَانًا ضَيِّقًا مُقَرَّنِينَ دَعَوْا هُنَالِكَ ثُبُورًا (13) لَا تَدْعُوا الْيَوْمَ ثُبُورًا وَاحِدًا وَادْعُوا ثُبُورًا كَثِيرًا “Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan. (Akan dikatakan kepada mereka): "Jangan kamu sekalian mengharapkan satu kebinasaan, melainkan harapkanlah kebinasaan yang banyak.”(QS. Al-Furqan: 13-14). Dalam hadits Al-Barra Bin ‘Azib yang panjang yang terkenal dalam mengisahkan orang yang hampir meninggal dan yang terjadi setelah kematian, bahwa Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman:
اُكْتُبُوا كِتَابَ عَبْدِي فِي السِّجِّيْنَ فِيْ الْأَرْضِ السَّابِعَةِ السُّفْلَى
“ Tulislah ketentuan untuk hambaku –yang kafir- ke dalam sijjin di dalam lapisan bumi yang ke tujuh yang terdalam ”(1) maka Sijjin itu adalah bumi yang terdalam yang itulah tempat menetapnya api, kita berlindung kepada Allah darinya, kitab ini di sijjin.

(1) Dikeluarkan Ahmad (18063) dinyatakan shahih oleh al-Albaniy dalam shahihuljaami' (1676)

Tafsir Hidayatul Insan

Kata “Kalla” di ayat ini bisa diartikan “Tentu atau pasti”.

Seperti orang-orang kafir, orang-orang munafik dan orang-orang fasik.

Kitab yang mencatat perbuatan orang-orang yang durhaka seperti para setan, orang-orang kafir dan orang-orang munafik tersimpan di Sijjin. Ada yang berpendapat, bahwa Sijjin adalah sumur di neraka Jahannam, dan ada pula yang berpendapat bahwa Sijjin adalah tempat paling bawah di bumi ketujuh yang merupakan tempat kembali orang-orang yang durhaka. Menurut Ibnu Katsir, yang benar bahwa Sijjiin diambil dari kata sajn yang artinya sempit. Karena semua makhluk setiap kali ke bawah, maka tempatnya semakin sempit, sedangkan jika semakin ke atas, maka (tempatnya) semakin luas, demikian juga karena tempat kembali orang-orang durhaka adalah ke neraka Jahannam yang tempatnya berada di paling bawah atau rendah. Ayat ini menunjukkan bahwa neraka berada di bawah, sedangkan surga berada di atas.

Tafsir Kemenag

Allah menegur sekali lagi perilaku mereka, 'sekali-kali jangan begitu; jangan berbuat curang! sesungguhnya catatan perbuatan orang yang durhaka, berbuat jahat, melanggar aturan agama, dan merugikan orang lain dalam bentuk apa pun, benar-benar tersimpan dengan baik dalam sijjin. '8. Allah mengajukan pertanyaan untuk memberi kesan betapa besar dan serius persoalan ini, 'dan tahukah engkau apakah sijjin itu''.

Referensi Tafsir

  • IN PROGRESS
  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • COMPLETED
  • Hidayatul Insan / Marwan Hadidi, M.Pd.I, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018