Surat Al-Muthaffifin Ayat 6

يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?

Tafsir Al-Mukhtashar

6. Hari dimana semua orang berdiri menghadap Allah.

Tafsir Al-Muyassar

Hari yang mana manusia akan bangkit berdiri dihadapan Allah kemudian Allah menghitung amal yang sedikit dan yang banyak. Hari itu mereka semuanya tunduk kepada tuhan alam semesta.

Tafsir Juz Amma (Al-Fauzan)

Di hari yang agung itu semua manusia akan bangkit dari kubur mereka, dan dikala itulah mereka akan diutus ke padang mahsyar untuk disidang.

Dalam riwata lain dikatakan : { يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ } yakni semua manusia di padang mahsyar berdiri dihadapan Tuhannya selama lma puluh ribu tahun tanpa beralaskan kaki dan tidak pula berbusana apapun dan mata mereka semua terbelalak ketika matahari tepat berada diatas kepala mereka, sebagian dari mereka ada yang keringatnya menggelamkan seluruh tubuh mereka, ada juga yang keringatnya meneggelamkan kedua telingannya, keadaan manusia ketika berbeda-beda dan mengerikan.

Hari ketika manusia menghadap ( لِرَبِّ الْعَالَمِينَ ) Tuhan semesta alam, dan ( الْعَالَمِينَ ) kata jamak dari ( العالم ) yaitu seluruh makhluk disebut "العالم" alam , semua yang berwujud selain Allah ﷻ disebut "العالم" alam ( makhluk ).

Dan alam itu sendiri berbeda-beda : ada alam jin, alam manusia, alam burung-burung, alam binatang, alam tumbuh-tumbuhan, Allah menciptakan alam yang luas ini dengan penngelompokan yang berbeda-beda, Dialah Allah ﷻ yang mengatur segala keadaan di alam yang luas ini, Dia yang menciptakannya dan Dia pula yang akan menghancurkan dengan kuasa-Nya ﷻ , semua makhluk yang ada di alam ini Allah lah yang memberikannya makan, Dialah yang menjaganya,

Dialah Allah ﷻ "Rabb" semesta alam, ( ّالرَب ) makna "Rabb" disini adalah : Yang mendidik hamba-Nya dengan melimpahkan kepadanya nikmat yang banyak, Dialah "Rabb" yang mendidik akal dan fikiran hamba-Nya, serta mendidik Aqidah mereka dengan pemahaman yang benar, adapun makna lain dari "Rabb" adalah : Pemilik, Pencipta, Dan Allah lah pemilik dan pencipta alam semesta ini.

Tafsir Juz Amma (Al-Utsaimin)

يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ “(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam?
”Maknanya: Hari yang agung ini adalah يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ “(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam? Dialah Alla Tabaraka wa Ta’ala: Mereka akan bangkit dari kubur-kubur mereka dalam keadaan tidak beralas kaki baik sendal maupun khuff, telanjang tanpa baju, gamis, celana sarung dan kain penutup, tidak dalam keadaan telah dikhitan maknanya kulit ujung kemaluannya yang dikhitan akan kembali sediakala pada pemiliknya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ “Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya.”(QS. Al-Anbiya: 104) Allah akan mengembalikannya untuk menjelaskan kesempuarnaan kuasa-Nya Ta’ala. Bahwa Dia akan mengembalikan penciptaan sebagaimana mereka tercipta pertama kali, kulit kemaluan dikhitan ketika di dunia bertujuan agar membersihkan dari kotoran-kotoran, karena jika dibiarkan akan tersisa najis berupa air kencing, yang menghalangi kotoran. Tetapi ini di akhirat nanti tidak diperlukan lagi, karena penghuni surga kelak tidak akan kencing dan tidak akan buang kotoran, karena akhirat bukanlah negeri pembebanan tatapi di sana adalah negeri pembalasan, hanya saja Allah subhanahu wa ta’ala memberikan beban sebagai bentuk ujian sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ (42) خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ “Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera.”(QS. Al-Qolam: 42-43) Manusia saat itu dalam keadaan, tak beralas kaki, telanjang, tak dikhitan, sebagaian hadits menyebutkan tambahan: Buhman
Para ulama mengatakan: Al-Buhm maknanya adalah orang-orang yang mempunyai harta sama sekali, pada hari kiamat kelak, manusia tidak akan punya harta yang bisa dijadikan tebusan dari siksa di hari kiamat. Tidak akan ada anak yang meberikan balasan dari bapaknya sedikit pun begitu pun sebaliknya, tidak juga seorang istri, kabilah, semua orang akan mengatakan: Diriku diriku : لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ “Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.”(QS. Abasa: 37) Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar menolong kita dari kejadian-kejadian mengerikan hari kiamat dan memudahkan kita.
Allah Ta’ala berfirman: لِرَبِّ الْعَالَمِينَ “ Kepada Rabba semesta alam” Dialah Allah Jalla Wa ‘Ala, pada hari itu semua kerajaan akan hancur kecuali kerajaan Rabb semesta alam Jalla Wa ‘Ala, Allah Tala’ala berfirman: يَوْمَ هُمْ بَارِزُونَ لَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْهُمْ شَيْءٌ لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ (16) الْيَوْمَ تُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
“(yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur); tiada suatu pun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (Lalu Allah berfirman): Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?" epunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan. Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya.”(QS. Ghafir: 16-17)

Tafsir Hidayatul Insan

Dari kubur mereka.

Untuk dihisab dan diberikan pembalasan.

Tafsir Kemenag

Yaitu pada hari ketika semua orang bangkit dari kubur mereka untuk menghadap tuhan seluruh alam. Tuhan akan menghisab perilaku mereka. Pada saat itu tidak ada kekuasaan selain kuasa Allah. 7. Allah menegur sekali lagi perilaku mereka, 'sekali-kali jangan begitu; jangan berbuat curang! sesungguhnya catatan perbuatan orang yang durhaka, berbuat jahat, melanggar aturan agama, dan merugikan orang lain dalam bentuk apa pun, benar-benar tersimpan dengan baik dalam sijjin. '.

Referensi Tafsir

  • IN PROGRESS
  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • COMPLETED
  • Hidayatul Insan / Marwan Hadidi, M.Pd.I, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018