Surat Al-Muthaffifin Ayat 5

لِيَوْمٍ عَظِيمٍ

Arab-Latin: Liyaumin 'aẓīm

Artinya: Pada suatu hari yang besar,

« Al-Muthaffifin 4Al-Muthaffifin 6 »

Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

Hikmah Mendalam Berkaitan Dengan Surat Al-Muthaffifin Ayat 5

Paragraf di atas merupakan Surat Al-Muthaffifin Ayat 5 dengan text arab, latin dan terjemah artinya. Ada aneka ragam hikmah mendalam dari ayat ini. Terdokumentasi aneka ragam penjabaran dari para pakar tafsir terkait isi surat Al-Muthaffifin ayat 5, sebagiannya seperti di bawah ini:

📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

5-6. Pembangkitan mereka akan terjadi pada hari yang sangat menakutkan, Hari yang mana manusia akan bangkit berdiri dihadapan Allah kemudian Allah menghitung amal yang sedikit dan yang banyak. Hari itu mereka semuanya tunduk kepada tuhan alam semesta.


📚 Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram

5. Untuk mendapat perhitungan dan pembalasan pada Hari yang agung karena di dalamnya terdapat berbagai kesengsaraan dan huru hara.


📚 Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

5-6. Mereka akan dibangkitkan pada hari yang penuh dengan bencana dan hiruk pikuk yaitu hari kiamat. Hari dimana mereka dibangkitkan dari kubur, kemudian menghadap Allah untuk dihisab dan diberi balasan


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

📚 Tafsir Ash-Shaghir / Fayiz bin Sayyaf As-Sariih, dimuraja’ah oleh Syaikh Prof. Dr. Abdullah bin Abdul Aziz al-‘Awaji, professor tafsir Univ Islam Madinah

Pada suatu hari yang besar


📚 Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

Madaniyah
Ayat 1-6
“Kecelakaan besarlah,” adalah kata-kata azab dan siksaan, “bagi orang-orang yang curang.” Ini dijelaskan oleh Allah dengan FirmanNya kemudian, “(Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain,” yakni mengambil dari mereka sebagai timbal balik, mereka menginginkannya secara utuh, tidak kurang, “dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain,” yakni bila memberikan hak orang lain yang harus ditunaikan dengan takaran atau timbangan, “mereka mengurangi,” yakni menguranginya dengan cara mengurangi takaran atau dengan cara lainnya. Ini adalah pencurian harta orang lain dan tidak bersikap adil terhadap mereka. Karena ancaman ini ditunjukkan pada orang yang mengurangi takaran dan timbangan orang lain, maka orang yang mengambil harta orang lain secara paksa atau dengan cara mencuri, tentu lebih berhak mendapatkan ancaman ini dari orang-orang yang sekedar berbuat curang.
Ayat mulia ini menunjukkan bahwa orang sebagaimana berhak mendapatkan haknya dari orang lain, ia juga harus memberikan semua milik orang lain secara penuh, baik berupa harta maupun yang lain. Bahkan hujjah dan pernyataan juga termasuk dalam keumuman ayat ini. Biasanya, masing-masing dari dua orang yang berdebat berusaha mempertahankan hujjahnya, ia juga berkewajiban menjelaskan hujjah rivalnya yang tidak ia ketahui dan mempertimbangkan argumen-argumen rivalnya sebagaimana ia juga harus mempertimbangkan argumen-argumennya sendiri. Di sini dapat diketahui sikap obyektif atau fanatisme seseorang, kerendahan hati atau kesombongan, berakal atau bodoh. Semoga Allah berkenan menolong kita pada setiap kebaikan.
Selanjutnya Allah mengancam orang-orang yang berbuat curang serta merasa bangga atas kondisi mereka serta tetapnya mereka berada di atas kecurangan seraya berfirman, “Tidaklah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam?” yang mendorong mereka untuk berbuat curang adalah tidak beriman pada Hari Akhir, sebab bila mereka beriman pada Hari Akhir dan mereka mengetahui akan berdiri di hadapan Allah yang akan menghisab mereka atas amalan kecil dan besar, niscaya mereka menjauhkan diri mereka dari kecurangan dan bertaubat.


📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas) / Fathul Karim Mukhtashar Tafsir al-Qur'an al-'Adzhim, karya Syaikh Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin, professor fakultas al-Qur'an Univ Islam Madinah

Ayat 1-6
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata bahwa ketika Nabi SAW tiba di Madinah, orang-orang Madinah terkenal sebagai orang paling curang dalam takaran. Maka Allah SWT menurunkan firmanNya: (Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang (1)) Lalu mereka memperbaiki takaran setelah itu
Makna yang dimaksud dengan “At-tathfif” di sini adalah kecurangan dalam memakai takaran dan timbangan, yang terkadang ditambahi jika menagih orang lain, atau dikurangi jika dia membayar mereka. Oleh karena itu Allah SWT menjelaskan orang-orang yang curang yang Dia ancam dengan kerugian dan kebinsaan yaitu kecelakaan dengan firmanNya: ((yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain) yaitu manusia (mereka minta dipenuhi) yaitu mereka meminta supaya dipenuhi dan diberi tambahan (dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi (3)) yaitu merugikan orang lain dengan menguranginya. Hal yang paling baik hendaknya menjadikannya “kalu” dan “wazanu” dianggap sebagai fi'il muta'addi, maka, dhamir “hum” menduduki mahal “nashab”. Sebagian mereka menjadikannya sebagai taukid dari dhamir yang tidak disebutkan dalam firmanNya “kalu” dan “wazanu”, sedangkan maf'ulnya dibuang karena kalam itu sudah menunjukkan kepadanya. Keduanya mempunyai makna yang berdekatan.
Allah SWT memerintahkan untuk memenuhi takaran dan timbangan. Jadi Allah SWT berfirman: (Dan sempurnakanlah takaran apabila kalian menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya (35)) (Surah Al-Isra’) dan (Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya) (Surah Al-An'am: 152) serta (Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kalian mengurangi neraca itu (9)) (Surah Ar-Rahman) dan Allah SWT membinasakan kaum nabi Syu'aib dan menghancurkan mereka karena mereka curang terhadap orang lain dalam takaran dan timbangan.
Kemudian Allah SWT berfirman seraya memperingatkan mereka: (Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan (4) pada suatu hari yang besar (5)) yaitu, mereka sama sekali tidak takut kepada hari kebangkitan, yang di hari itu mereka akan dibangkitkan di hadapan Tuhan Yang Mengetahui semua rahasia dan isi hati pada hari yang mengerikan karena banyak hal yang mengejutkan dan sangat mengerikan. Barangsiapa yang merugi pada hari itu, maka dia dimasukkan ke dalam neraka yang panas?
Firman Allah SWT: ((yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam? (6)) yaitu mereka berdiri dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan tidak berkhitan di tempat pemberhentian yang sulit, sesak, dan menyengsarakan bagi orang yang berdosa, karena mereka diselimuti oleh murka Allah yang tidak ada suatu kekuatan atau indra pun yang mampu bertahan.
Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Nabi SAW bersabda,”di hari ketika manusia berdiri di hadapan Tuhan alam semesta, sehingga seseorang dari mereka tenggelam ke dalam keringatnya sampai sebatas pertengahan hidungnya”


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

📚 Tafsir Juz 'Amma / Syaikh Prof. Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan, anggota Lajnah Daaimah (Komite Fatwa Majelis Ulama KSA)

Untuk apa mereka dibangkit dari kubur mereka ?

{ لِيَوْمٍ عَظِيمٍ } Yaitu untuk menghadapi hari yang agung itu, hari kiamat yang penuh dengan kengerian dan peristiwa yang maha dahsyat.


📚 Tafsir Juz 'Amma / Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, ulama besar abad 14 H

Pada hari yang agung (besar), hari tersebut hari yang agung tidak diragukan lagi sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ “sesungguhnya keguncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar”(QS. Al-Hajj: 1) Agung pada panjang waktunya, pada kengeriannya, pada yang terjadi di dalamnya, pada setiap makna yang membawa kalimat keagungan. Bagai sebagian orang keagungan ini berat dan bagi sebagian lainnya terasa ringan, sebagaimana Allah berfirman: عَلَى الْكَافِرِينَ غَيْرُ يَسِيرٍ “bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah.”(Al-Mudatsir: 10) Allah Juga berfirman: يَقُولُ الْكَافِرُونَ هَذَا يَوْمٌ عَسِرٌ “Orang-orang kafir berkata: "Ini adalah hari yang berat” (QS. Al-Qomar: 8) Namun bagi orang mukmin –semoga Allah menjadikan kita dari mereka- ringan, seperti ringan dan mudahnya saat mendatangi sholat fardhu ke masjid, terlebih jika ia termasuk orang yang mendapatkan perlindungan besar, dan ia termasuk orang yang Allah beri naungan di saat tidak ada naungan kecuali naungan Allah, ini adalah hari besar namun bagi orang mukmin ini hari yang ringan, dan bagi orang kafir akan berat, Allah Ta’ala berfirman: وَكَانَ يَوْمًا عَلَى الْكَافِرِينَ عَسِيرًا “Dan adalah (hari itu), satu hari yang penuh kesukaran bagi orang-orang kafir.”(QS. Al-Furqan: 26)


📚 An-Nafahat Al-Makkiyah / Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi

Surat Al-Muthaffifin ayat 5: Allah mensifatkan bahwa hari kiamat itu hari yang besar dan mengerikan, dengan apa yang terjadi (peristiwanya), dari kejadian-kejadian yang penuh kepedihan.


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

📚 Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Yaitu hari Kiamat. Dengan demikian, yang membuat mereka berani melakukan kecurangan tersebut adalah karena tidak beriman kepada hari Akhir. Kalau sekiranya mereka beriman kepada hari Akhir dan mengetahui bahwa mereka akan berdiri di hadapan Allah untuk dihisab-Nya amal mereka besar atau kecil, tentu mereka tidak akan melakukannya dan akan bertobat darinya. Inilah di antara hikmah, mengapa Allah Subhaanahu wa Ta'aala sering menyebutkan hari Akhir dalam Al Qur’an, yaitu karena beriman kepada hari akhir memiliki pengaruh yang kuat dalam memperbaiki keadaan seseorang sehingga ia akan mengisi hari-harinya dengan amal saleh, ia pun akan lebih semangat untuk mengerjakan ketaatan itu sambil berharap akan diberikan pahala di hari itu, demikian juga akan membuatnya semakin takut ketika mengisi hidupnya dengan kemaksiatan apalagi sampai merasa tenteram dengannya. Beriman kepada hari akhir juga membantu seseorang untuk tidak berlebihan terhadap dunia dan tidak menjadikannya sebagai tujuan hidupnya. Di antara hikmahnya juga adalah menghibur seorang mukmin yang kurang mendapatkan kesenangan dunia, karena di hadapannya ada kesenangan yang lebih baik dan lebih kekal.


📚 Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI / Surat Al-Muthaffifin Ayat 5

4-5. Allah mengecam mereka, 'mengapa mereka berbuat curang' tidaklah mereka itu mengira bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, yaitu hari kebangkitan yang penuh kejadian mengerikan dan menegangkan''6. Yaitu pada hari ketika semua orang bangkit dari kubur mereka untuk menghadap tuhan seluruh alam. Tuhan akan menghisab perilaku mereka. Pada saat itu tidak ada kekuasaan selain kuasa Allah.


Mau pahala jariyah & rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang!

Itulah bermacam penjelasan dari berbagai ahli ilmu terkait isi dan arti surat Al-Muthaffifin ayat 5 (arab-latin dan artinya), moga-moga membawa faidah bagi ummat. Sokonglah syi'ar kami dengan memberi tautan menuju halaman ini atau menuju halaman depan TafsirWeb.com.

Link Banyak Dicari

Baca banyak konten yang banyak dicari, seperti surat/ayat: Ali ‘Imran 139, Tentang Al-Quran, Al-Baqarah 45, At-Thalaq, Al-Qamar 49, Al-Ma’idah 8. Juga Ali ‘Imran 97, Ad-Dukhan, Al-Baqarah 43, Al-Isra 25, Al-Hadid 20, Al-Jin.

  1. Ali ‘Imran 139
  2. Tentang Al-Quran
  3. Al-Baqarah 45
  4. At-Thalaq
  5. Al-Qamar 49
  6. Al-Ma’idah 8
  7. Ali ‘Imran 97
  8. Ad-Dukhan
  9. Al-Baqarah 43
  10. Al-Isra 25
  11. Al-Hadid 20
  12. Al-Jin

Pencarian: ...

Bantu Kami

Setiap bulan TafsirWeb melayani 1.000.000+ kaum muslimin yang ingin membaca al-Quran dan tafsirnya secara gratis. Tentu semuanya membutuhkan biaya tersendiri.

Tolong bantu kami meneruskan layanan ini dengan membeli buku digital Jalan Rezeki Berlimpah yang ditulis oleh team TafsirWeb (format PDF, 100 halaman).

Dapatkan panduan dari al-Qur'an dan as-sunnah untuk meraih rezeki berkah berlimpah, dapatkan pahala membantu keberlangsungan kami, Insya Allah.