Surat Al-Muthaffifin Ayat 4

Text Bahasa Arab dan Latin

أَلَا يَظُنُّ أُولَٰئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan,

Tafsir Al-Muyassar

Apakah orang-orang yang berbuat curang itu tidak yakin bahwa Allah akan membangkitkan mereka dan menghisab amal perbuatan mereka?

Tafsir Juz Amma (Al-Fauzan)

Tidak mereka yang berbuat curang itu mengira bahwa mereka akan dibangkitan kembali setelah mereka mati, dibangkitkan kembali pada hari pembalasan dan perhitungan amalan, dan mereka akan melihat apa yang telah mereka kerjakan didunia.

Dalam riwayat lain dikatakan : bahwa makna ( ّيَظُن ) disini adalah meyakini, sebagaimana yang dituliskan dalam ayat lain : { الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ } ( (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. ) [ Al Baqarah : 46 ]

{ أَلَا يَظُنُّ } yakni : apakah mereka tidak meyakini dan mempercayai bahwasanya akan datang waktunya manusia dibangkitkan kembali dari kuburnya kemudian mereka dibawah kesuatu tempat dimana semua manusia berkumpul ditempat itu untuk dihisab amalan mereka, kemudian setelah itu mereka akan mendapat balasan ata ganjaran dari amalan-amalan yang mereka kerjakan didunia, akan tetapi orang-orang kafir dan musyrikin tidak meyakini adanya peristiwa ini, mereka hanya mengira bahwa apa yang telah mereka lakukan akan pergi begitu saja, setelah mereka mengambil harta orang lain lalu kemudian perkara itu selesai, mereka telah berbuat zholim dan mengira bahwa kezholiman mereka tidak akan dipertanggung jawakan.

Tapi sesungguhnya hari kiamat itu benar-benar akan terjadi, dan setiap perbuatan akan ada balasannya, pada hari itu juga Allah akan mengumpulkan secara khusus mereka yang terzholimi dan akan dikembalikan hak-hak mereka dari para pelaku kezholiman itu, lalu apakah hak mereka dikembalikan seperti yang diambil dari mereka didunia.. ? tidak.. akan tetapi hak-hak mereka dikembalikan dengan dipindahkannya kebaikan-kebaikan dari para pelaku kezholiman itu.

Pengadilan pada hari kiamat tidak dengan dirham ataupun dinar, melainkan dengan amalan ; baik itu amalan kebaikan atau keburukan, maka mereka yang telah berbuat zholim akan diambil kebaikan-kebaikan mereka dan diberikan kepada orang ia zholimi didunia, dan jika kebiakan mereka telah habis maka mereka akan binasa dalam neraka jahnnam.

Para pelaku kezholiman akan rugi dan bangkrut pada hari itu sebagaimana mereka telah merugikan orang lain ketika didunia, maka menjadi pelajaran dan peringatan bagi mereka yang terlibat dalam tranasaksi jual beli.

Tafsir Hidayatul Insan

Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengancam kembali orang-orang yang berlaku curang itu, dan mengapa mereka masih saja melakukan kecurangan.

Tafsir Kemenag

4-5. Allah mengecam mereka, 'mengapa mereka berbuat curang' tidaklah mereka itu mengira bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, yaitu hari kebangkitan yang penuh kejadian mengerikan dan menegangkan''4-5

Referensi Tafsir

  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • Hidayatul Insan / Marwan bin Musa, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018