Surat At-Takwir Ayat 24

Text Bahasa Arab dan Latin

وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِينٍ

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

Dan dia (Muhammad) bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib.

Tafsir Al-Muyassar

Muhammad tidak kikir dalam menyampaikan wahyu.

Tafsir Juz Amma (Al-Fauzan)

{ وَمَا هُوَ } Dan tidaklah dia ( Muhammad ) { عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِينٍ } pantas dicurigai atas apa yang ia sampaikan tentang hal-hal ghaib ( Wahyu ) karena dia adalah orang yang jujur lagi baik, dan menurut riwayat lain { بِضَنِينٍ } berarti kikir, yakni tidklah Muhammad ﷺ itu seorang yang kikir dalam menyampaikan risalah yang Allah wahyukan kepadanya, Muhammad bukanlah orang yang pantas dicurigai kebohongannya dan bukan pula orang kikir dalam menyampaikan risalah islam, akan tetapi dia adalah Rasul yang mulia yang kejujurannya tidak pantas diragukan.

Lalu bagaimana mungkin mereka mencerca apa yang tertulis dalam Al-Qur'an, bukankah Al Qur'an itu dibawakan oleh Rasul yang mulia dan jujur yang Allah pun percaya akan kedudukan dirinya, ِdan Al Qur'an ini selalu dalam perindungan Allah dan tiada satupun yang dapat mengganggunya dan merusaknya, Allah berfirman : { وَمَا تَنَزَّلَتْ بِهِ الشَّيَاطِينُ , وَمَا يَنْبَغِي لَهُمْ وَمَا يَسْتَطِيعُونَ , إِنَّهُمْ عَنِ السَّمْعِ لَمَعْزُولُونَ } ( Dan Al Quran itu bukanlah dibawa turun oleh syaitan-syaitan , Dan tidaklah patut mereka membawa turun Al Quran itu, dan merekapun tidak akan kuasa. , Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan daripada mendengar Al Quran itu. ) [ As Syu'ara' : 210-213 ] Wahyu itu diturunkan oleh Allah melalui perantaraan Malaikat, Mereka dipercaya untuk membawa wahyu Allah kebumi, dan sekali-kali setan tidak akan mampu menganggunya, Allah berfirman : { هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَىٰ مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ , تَنَزَّلُ عَلَىٰ كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ } ( Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan-syaitan itu turun ? , Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, ) [ As Syu'ara' : 221-222 ] dan setan-setan itu tidak mungkin turun kepada para Nabi, mereka ( orang-orang kafir quraisy ) mengatakan bahwa Al Qur'an itu diturunkan melalui para syaiton, akan tetapi perkatan mereka itu hanyalah dusta dan merupaka sebuah penghinaan, melainkan merekalah yang kepadanya syaiton-syaito itu turun, sedangkan yang turun kepada para Nbi dan Rasul dengan membawa wahyu Allah yaitu para Malaikat yang mulia.

Tafsir Hidayatul Insan

Bisa maksudnya, bahwa Beliau bukanlah orang yang tertuduh menambah, mengurangi atau menyembunyikan sebagian wahyu Allah, bahkan Beliau adalah manusia yang paling amanah, Beliau menyampaikan risalah Tuhannya dengan sempurna tanpa mengurangi atau menambah. Beliau juga tidak bakhil sehingga menyembunyikan sebagian wahyu Allah, bahkan Beliau tidaklah wafat kecuali setelah berhasil mendidik umat yang sebelumnya jahil menjadi umat yang berilmu yang menjadi rujukan oleh generasi yang datang setelahnya dalam ilmu dan pemahaman, mereka yang telah dididiknya menjadi guru, sedangkan generasi setelahnya merupakan murid-murid mereka.

Tafsir Kemenag

Dan dia bukanlah orang yang kikir untuk menerangkan ihwal perkara yang gaib, seperti Allah, malaikat, dan hari kiamat. Nabi dengan senang hati memberi penjelasan demi kemaslahatan banyak orang. Hal ini berbeda dari para dukun yang hanya mau membeberkan hal yang rahasia jika diberi imbalan. 25. Dan Al-Qur'an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk. Ada perbedaan nyata antara Al-Qur'an dan perkataan setan. Al-qur'an mengajarkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan, sedangkan setan mengajak kepada kebatilan, kemaksiatan, dan kemungkaran.

Referensi Tafsir

  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • Hidayatul Insan / Marwan bin Musa, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018