Surat At-Takwir Ayat 1

Text Bahasa Arab dan Latin

إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

Apabila matahari digulung,

Tafsir Al-Muyassar

Apabila matahari digulung dan cahayanya lenyap.

Tafsir Juz Amma (Al-Fauzan)

Pada surah ini ( التكوير ), dan surah setelahnya ( الانفطار ) dan surah ( النشقاق ), ketiga surah ini menggambarkan bagaimana keadaan dan apa saja yang terjadi ketika kiamat itu terjadi yang menampakkan berebagai kengerian yang hebat.

Oleh karena itu berkata sebagian ulama salaf : Barangsiapa yang ingin melihat peristiwa hari kiamat yang seakan-akan dia melihatnya dengan nyata, maka hendaknya ia membaca surah ( التكوير ) dan surah ( الانفطار ).

Allah berfirman : { إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ } Apabila matahari itu digulung, seperti seseorang menggulung kain sorban, maka cahaya akan sirna dan kemudian dilemparkan. dan sebagian ulama menafsirkan : apabila matahari itu cahaya di hentikan, dan sebagian lainnya menafsirkan : apabila matahari itu dilemparkan dan dihempaskan.

Dan jika penafsiran yang berbeda diatas dikumpulkan maka makanya yang tepat adalah : Matahari itu digulung kemudian cahaya sirna kemudian dilemparkan dan dihempaskan.

Tafsir Hidayatul Insan

Maksud ayat ini dan setelahnya adalah, apabila terjadi peristiwa-peristiwa yang menegangkan ini, yaitu pada hari Kiamat, maka manusia akan terbedakan, masing-masing mengetahui amal yang telah dilakukannya selama di dunia, baik atau buruk.

Yakni digabung dan dilipat serta diredupkan cahayanya. Demikian pula bulan, ia akan diredupkan cahayanya, kemudian keduanya (matahari dan bulan) dijatuhkan ke dalam neraka.

Tafsir Kemenag

1-7. Allah mengawali surah ini dengan menyebutkan dua belas peristiwa besar yang akan terjadi pada hari kiama ' disebutkan dari ayat 1 s. D. 13. Apabila matahari yang demikian besar digulung dengan mudah seperti halnya serban, hingga cahayanya memudar dan redup. Dan apabila bintang-bintang yang begitu banyak dan menghiasi cakrawala berjatuhan, tidak berada di garis edarnya lagi akibat hilangnya gaya tarikmenarik antar-benda langit. Dan apabila gunung-gunung yang demikian tegar dan kukuh dihancurkan hingga luluh lantak menjadi pasir, kemudian diempaskan oleh angin dahsyat dengan mudahnya seperti gumpalan kapas raksasa yang beterbangan. Dan apabila unta-unta yang bunting dan menjadi harta yang dibanggakan ditinggalkan begitu saja dan tidak lagi dipedulikan dan diurus oleh pemiliknya. Hal ini mengisyaratkan betapa besar kebingungan yang meliputi manusia saat kiamat tiba. Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan untuk diberi balasan bila berbuat aniaya kepada sesamanya. Binatang liar yang saling memusuhi saat itu bisa dikumpulkan menjadi satu dalam suasanya yang sangat menegangkan. Dan apabila lautan dipanaskan dan dijadikan meluap. Air laut memanas akibat munculnya kobaran api mahadahsyat dari dasarnya. Dan apabila roh-roh dipertemukan dengan tubuh sehingga manusia hidup kembali dalam suasana yang sama sekali berbeda dari kehidupan dunia. Manusia saat itu bergabung dengan manusia lain yang senasib; penaat bersama penaat, begitupun sebaliknya

Referensi Tafsir

  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • Hidayatul Insan / Marwan bin Musa, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018