Surat ‘Abasa Ayat 21

Text Bahasa Arab dan Latin

ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur,

Tafsir Al-Muyassar

Kemudian Allah mematikannya dan menjadikan baginya satu tempat yang ia dikubur di dalamnya

Tafsir Juz Amma (Al-Fauzan)

Ketika ajalnya telah tiba, siapakah yang mewafatkannya ? Dialah Allah ﷻ, dan tiada satupun dari makhluk-Nya yang mampu menghapus kehidupan dari seseorang melainkan hanya Allah ﷻ lah yang berkuasa atas itu.

Boleh saja kamu mengatakan : dia dibunuh, maka apakah yang membunuhnya dia pula yang mewafatkannya ?

Maka yang kita katakan adalah : Dia mematikannya dengan izin Allah, dan dia membunuhnya dengan ketetapan-Nya pula, Allah yang berkuasa atas dirinya, sebab-sebab kematian sesorang banyak akan tetapi yang menentukan wafatnya seseorang hanya satu, Dialah Allah ﷻ .

Allah telah menetapkan bahwa dia akan terbunuh, atau dengan ketetapan Allah seseorang dapat terjatuh kedalam sumur, Dia pula yang menakdirkan sesorang tertabrak oleh mobil, sesmua kejadian tersebut adalah berjalan sesuai ketetapan Allah sang pencipta dengan cara apapun itu.

Atau seseorang melakukan bunuh diri, lalu apakah dengan itu dia telah mewafatkan dirinya ? maka sebaiknya yang kita katakan adalah : Allah yang telah mentapkan atau mentakdirkan dia akan membunuh dirinya.

Dan setelah manusia itu dimatikan lalu apakah dia juga dibiarkan atau dibuang bersama dengan bangkai dari binatang-binatang yang mati ? tidak, {ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ } Melainkan jasad manusia yang telah wafat dengan perintah Allah agar dikuburkan diliang lahat yang tertutup, agar jasad itu terlindungi ataupun terjaga, itulah perhatian Allah kepada manusia .

Maka kubur adalah merupakan salah satu nikmat dari Allah kepada umat manusia, berbeda dengan bangkai binatang keabanyakannya dibuang begitu saja sampai membusuk.

Allah memerintahkan agar mayat manusia dikuburkan didalam tanah, bahkan terhadap orang kafir pun Allah memerintahkan hal yang sama, karena mereka juga manusia, berebeda halnya dengan binatang.

Ketika Abu thalib ( Paman Rasulullah ) meninggal, dan meninggal diatas kekufuran, tiada satupun dari orang-orang kafir yang mengambil alih pengurusan jasadnya untuk dimakamkan, maka Rasulullah pun memerintahkan Ali bin Abi Thalib yang merupakan putra dari Abi Thalib untuk mengburkannya, karena jika seseorang meninggal tetaplah ada padanya kehormatan sekalipun dia kafir, maka sebaiknya mayat-mayat mereka tidak ditinggalkan begitu saja, itulah rahmat Allah kepada hambanya.

Tafsir Hidayatul Insan

Allah Subhaanahu wa Ta'aala memuliakannya dengan menguburkannya dan tidak menjadikannya seperti makhluk yang lain yang jasadnya tidak dikubur.

Tafsir Kemenag

Kemudian setelah manusia menuntaskan hidupnya di dunia, dia mematikannya dengan mencabut rohnya dan menguburkannya untuk menjalani kehidupan baru di alam barzakh. Manusia tidak bisa menolak kematian; sebagaiamana dia diciptakan dari tanah, dia akan kembali ke tanah. 22. Setelah manusia berada di alam barzakh sekian lama, kemudian jika dia menghendaki, dia akan membangkitkannya kembali di hari kebangkitan untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di dunia.

Referensi Tafsir

  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • Hidayatul Insan / Marwan bin Musa, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018