Surat An-Nazi’at Ayat 24

فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

(Seraya) berkata: "Akulah tuhanmu yang paling tinggi".

Tafsir Al-Muyassar

Dia berkata,”aku adalah tuhan kalian yang tidak ada tuhan di atasnya.”

Tafsir Juz Amma (Al-Fauzan)

Dia pun berkata : "Akulah tuhanmu yang paling tinggi dan tiada lagi Tuhan diatasku".

Tafsir Juz Amma (Al-Utsaimin)

فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى “(Seraya) berkata: "Akulah tuhanmu yang paling tinggi” Maknanya: Tidak ada yang lebih tinggi dariku, karena اَلْأَعْلَى [al-A’laa] dalam kaedah bahasa arab adalah isim tafdhil (kata yang menunjukkan paling tinggi) dari اَلْعُلُوُّ [al-‘Uluw] “tinggi” lihatlah bagaimana laki-laki ini sombong dan mengaku-ngaku sesuatu yang bukan haknya pada ucapannya: أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى “” Ia berbangga-bangga dengan sungai dan kerajaan yang luas, ia berkata pada bangsanya:
يَا قَوْمِ أَلَيْسَ لِي مُلْكُ مِصْرَ وَهَذِهِ الْأَنْهَارُ تَجْرِي مِنْ تَحْتِي أَفَلَا تُبْصِرُونَ (51) أَمْ أَنَا خَيْرٌ مِنْ هَذَا الَّذِي هُوَ مَهِينٌ وَلَا يَكَادُ يُبِينُ
“Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat (nya) Bukankah aku lebih baik dari orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?? ” (QS. Az-Zukhruf: 51-52). Maka apa yang terjadi setelah itu?! Allah ‘Azza Wa Jalla menenggelamkannya dengan air sungai yang ia bangga-banggakan itu, dan Allah wariskan kerajaan mesir untuk Bani Israil yang dulu ia lemahkan.

Tafsir Hidayatul Insan

Maksudnya, tidak ada tuhan di atasku. Lalu kaumnya menaatinya dan mengakui kebatilannya itu karena pengaruhnya.

Tafsir Kemenag

Fir'aun berkata dengan sombong dan angkuh, 'akulah tuhanmu yang paling tinggi. Hanya aku yang berhak kamu taati, bukan tuhan nabi musa. Akulah yang paling berkuasa di negeri mesir ini. ' 25. Pertandingan melawan para pesihir akhirnya dihelat dan memunculkan nabi musa sebagai pemenang. Mereka lantas beriman kepada nabi musa. Merasa terancam, fir'aun mengejar nabi musa dan pengikutnya hingga pinggir laut merah. Maka Allah menghukumnya dengan azab di akhirat dengan siksaan yang pedih dan siksaan di dunia dengan menenggelamkannya di laut merah bersama para prajuritnya.

Referensi Tafsir

  • IN PROGRESS
  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • COMPLETED
  • Hidayatul Insan / Marwan Hadidi, M.Pd.I, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018