Surat An-Naba Ayat 39

Text Bahasa Arab dan Latin

ذَٰلِكَ الْيَوْمُ الْحَقُّ ۖ فَمَنْ شَاءَ اتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِ مَآبًا

Arti/Makna/Terjemah Indonesia

Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.

Tafsir Al-Muyassar

Itu adalah haq yang tidak ada keraguan bahwa ia pasti terjadi. Maka barangsiapa ingin selamat dari ketakutan ketakutannya,hendaknya dia mengambil jalan untuk menuju kepada tuhannya dengan melakukan amal shalih.

Tafsir Juz Amma (Al-Fauzan)

Itulah hari yang telah disebutkan tanda-tandanya yang tidak diragukan akan kejadiannya, dan hari itu pasti terjadi, dan setiap kalian harus melewati peristiwa yang akan terjadi pada hari itu .

Dan barangsiapa yang berkehendak di dunia ini maka sesungguhnya ia menjadikan hari kiamat ini sebagai persiapan untuk menghadapinya dengan melakukan segala amal kebaikan, dan itu sangat mungkin dilakukan selama hamba ini masih berada dalam kehidupan dunia.

Dan setiap insan memiliki kebebasan keinginan dan pilihan , barangsiapa yang berkeinginan mempersiapkan dirinya untuk menghadapi hari kiamat , maka sesungguhnya ia mampu ; yaitu dengan melakukan amalan-amalan kebaikan, tapi jikalau sebaliknya maka cukuplah baginya melakukan segala amalan keburukan dan kemaksiatan, dan sesungguhnya dia pasti akan menerima hasil dari apa yang telah ia lakukan di dunia pada hari kimata nanti.

{ مَآبًا } yaitu tempat kembali yang baik, dan tempat kembali yang layak, mempersiapkan dirinya untuk mendapatkannya dengan amala-amalan kebaikan , dan menjauhi segala kemaksiatan.

{ مَآبًا } tempat kembali , yang setiap manusia akan kembali kepada tuhannya, dia akan menerima balasan atau ganjaran dari apa yang telah ia perbuat, maka tiada lagi alasan untuk tidak melakukan segala perintah Allah , dengan turunnya Ayat ini seakan-akan kita telah menyaksikan secara nyata kejadian yang akan ada pada hari kiamat, karena ini adalah ayat Allah , tiada keraguan yang ada padanya , itulah firman Allah yang dengannya kalian diberi kesempatan menentukan pilihan dan keinginan, serta memberikan kalian kekuatan untuk melakukan amal kebaikan.

Tafsir Hidayatul Insan

Bisa juga diartikan hari yang hak, dimana pada hari itu kebatilan tidak akan laku dan kedustaan tidak akan bermanfaat.

Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberikan targhib dan tarhib; memberikan kabar gembira dan peringatan, maka Dia berfirman, “Maka barang siapa yang menghendaki, niscaya dia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.”

Yakni kembali kepada Allah dengan menaati-Nya agar selamat dari azab dan mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi-Nya. Ayat ini dibatasi dengan ayat yang lain, yaitu firman Allah Ta’ala, “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (Terj. At Takwir: 29) yakni, kita memang mempunyai pilihan untuk melakukan sesuatu tanpa ada yang memaksa, akan tetapi pilihan dan kehendak kita mengikuti kehendak Allah, jika Dia menghendaki maka akan terjadi dan jika Dia tidak menghendaki, maka tidak akan terjadi. Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan demikian, adalah agar manusia tidak bersandar kepada dirinya dan kehendaknya, bahkan hendaknya ia mengetahui bahwa hal itu terkait dengan kehendak Allah sehingga ia pun meminta kepada Allah hidayah-Nya kepada apa yang dicintai-Nya dan diridhai-Nya.

Tafsir Kemenag

Itulah hari yang pasti terjadi sesuai janji Allah. Allah pasti menepati janji-Nya. Maka, barang siapa menghendaki agar mendapat keridaan Allah di akhirat nanti, niscaya dia harus senantiasa menempuh jalan kembali kepada tuhannya dengan selalu berbuat baik. 40. Wahai manusia, sesungguhnya kami telah memperingatkan kepadamu azab di akhirat yang waktunya sungguh sangat dekat dan segera tiba, yaitu pada hari ketika manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya, oleh dirinya sendiri, dan orang kafir berkata dengan penuh penyesalan, 'alangkah baiknya seandainya dahulu aku jadi tanah, bukan menjadi manusia yang mendapat taklif agama, niscaya aku tidak dihadapkan pada pertanggungjawaban atas perbuatanku sebagaimana yang aku hadapi hari ini. ".

Referensi Tafsir

  • al-Aisar / Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mufassir Masjid Nabawi - Madinah, wafat 1439 H
  • al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Lid Diraasatil Qur'aniyyah - Riyadh, terbit 1435 H
  • al-Muyassar / Dr. Shalih Alu Syaikh et al., Menteri Agama KSA, diangkat 1420 H
  • as-Sa'di / 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir kontemporer, wafat 1376 H
  • Fathul Qadir / Asy-Syaukani, wafat 1250 H, diringkas Dr. M. Sulaiman al-Asyqar
  • Ibnu Katsir / Ibnu Katsir, wafat 774 H, diringkas Shafiyurrahman al-Mubarakfuri et al.
  • Juz 'Amma / Prof. Dr. Shalih Fauzan, anggota Komite Fatwa KSA, diangkat 1412 H
  • Juz 'Amma / Dr. Abdul Malik bin Muhammad bin 'Abdurrahman al-Qaasim
  • Juz 'Amma / M. Shalih al-Utsaimin, anggota Dewan Ulama Senior KSA, wafat 1421 H
  • Hidayatul Insan / Marwan bin Musa, Mudarris Ibnu Hajar Boarding School - Jakarta
  • Kemenag / Kementrian Agama Republik Indonesia, diakses tahun 2018