Ayat 5 (Lima)

Di antara hal yang sering dibaca oleh masyarakat di Indonesia adalah ayat lima (5), yaitu kumpulan lima ayat yang disebutkan memiliki khasiat tertentu jika dibaca dengan jumlah tertentu atau dengan cara tertentu.

Entah dari mana sumber penjelasan bahwa ayat-ayat tersebut memiliki khasiat tertentu, sejauh yang kami tahu selama ini tidak ada dalil yang shahih tentang hal tersebut. Karenanya, jika tidak ada dalil yang shahih tentu tidak layak untuk kita amalkan karena bisa jadi termasuk bid’ah yakni membuat-buat tatacara ibadah tertentu yang tidak dijelaskan di dalam agama Islam atau dikenal sebagai bid’ah. Karenanya kami sarankan untuk tidak mengamalkan hal tersebut.

Adapun jika ingin mengetahui tafsir atau isi kandungan penjelasan dari ayat-ayat tersebut, maka silakan saja. Berikut penjelasannya:

أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلْمَلَإِ مِنۢ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ مِنۢ بَعْدِ مُوسَىٰٓ إِذْ قَالُوا۟ لِنَبِىٍّ لَّهُمُ ٱبْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُّقَٰتِلْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۖ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِن كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ أَلَّا تُقَٰتِلُوا۟ ۖ قَالُوا۟ وَمَا لَنَآ أَلَّا نُقَٰتِلَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِن دِيَٰرِنَا وَأَبْنَآئِنَا ۖ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ ٱلْقِتَالُ تَوَلَّوْا۟ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِٱلظَّٰلِمِينَ

Arab-Latin: a lam tara ilal-mala`i mim banī isrā`īla mim ba'di mụsā, iż qālụ linabiyyil lahumub'aṡ lanā malikan-nuqātil fī sabīlillāh, qāla hal 'asaitum ing kutiba 'alaikumul-qitālu allā tuqātilụ, qālụ wa mā lanā allā nuqātila fī sabīlillāhi wa qad ukhrijnā min diyārinā wa abnā`inā, fa lammā kutiba 'alaihimul-qitālu tawallau illā qalīlam min-hum, wallāhu 'alīmum biẓ-ẓālimīn

Terjemah Arti: Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: "Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah". Nabi mereka menjawab: "Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang". Mereka menjawab: "Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?". Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim.

Tafsir Ayat 5 (Lima)

Dapatkan pahala berdakwah dan gratis buku Rahasia Rezeki Berlimpah, klik di sini untuk caranya

Didapati pelbagai penjabaran dari para ulama tafsir mengenai isi ayat 5 (lima), di antaranya seperti termaktub:

Tidakkah kamu tahu (wahai Rasul) kisah tentang para bangsawan tokoh dari Bani Israil setelah masa Musa? ketika mereka meminta kepada nabi mereka agar mengangkat seorang raja yang memimpin mereka, mereka bersatu di bawah komandonya, dan mereka memerangi musuh musuh mereka bersamanya di jalan Allah. Nabi mereka berkata kepada mereka “apakah perkara ini hanya seperti dugaan kuatku yaitu apabila kalian telah diwajibkan untuk berperang dijalan Allah kalian tidak akan lagi berperang? Sesungguhnya aku menduga dengan kuat adanya sifat pengecut pada diri kalian dan kaburnya kalian dari peperangan.” Mereka itu menjawab dengan nada pengingkaran terhadap dugaan kuat nabi mereka itu, “apa gerangan penghalang yang menghambat kami untuk berperang dijalan Allah padahal kami sungguh-sungguh telah diusir oleh musuh-musuh kami dari rumah-rumah kami, dan kami dijauhkan dari anak-anak kami dengan telah dibunuh dan ditawan.” Lalu tatkala Allah mewajibkan mereka untuk berperang bersama raja yang telah dipilih Nya bagi mereka, mereka ternyata menjadi orang-orang pengecut dan lari dari peperangan kecuali sebagian kecil dari mereka yang tetap bertahan dengan karunia dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang berbuat kezaliman lagi melanggar janji-janji mereka. (Tafsir al-Muyassar)

Tidakkah engkau mengetahui -wahai Nabi- perihal para pembesar Bani Israil setelah zaman Musa -'alaihissalām- tatkala mereka berkata kepada Nabi mereka, “Berilah kami seorang raja agar kami dapat berperang bersamanya di jalan Allah.” Lalu Nabi mereka berkata, “Jangan-jangan jika Allah mewajibkan kalian berperang, maka kalian tidak mau berperang di jalan Allah.” Mereka membantah anggapan Nabi mereka itu dengan mengatakan, “Apa alasan kami untuk tidak berperang di jalan Allah sedangkan kami punya alasan kuat untuk berperang. Musuh telah mengusir kami dari tanah air kami dan menawan anak-anak kami. Jadi, kami akan berperang untuk mengambil kembali tanah air kami dan membebaskan anak-anak kami yang mereka tawan.” Kemudian tatkala Allah mewajibkan mereka berperang, mereka justru berpaling kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim dan berpaling dari perintah-Nya, dan melanggar janji-Nya, dan akan memberi mereka balasan yang setimpal. (Tafsir al-Mukhtashar)

Apakah belum sampai kepadamu kisah para bangsawan dari Bani Israil yang hidup setelah wafatnya Musa, ketika mereka berkata kepada nabi mereka yaitu Shamuel: “Tentukan atau pilihkanlah raja atau pimpinan yang bisa memimpin kami untuk berperang bersamanya mengalahkan orang zalim di jalan Allah” Nabi mereka pada zaman itu berkata: “Barangkali sifat pengecut dan lemah akan menguasai kalian jika peperangan itu diwajibkan atas kalian” Mereka berkata: “Apa yang membuat kami tidak berperang, dan bagaimana bisa kami tidak berani untuk berperang di jalan Allah, padahal kami sudah diusir dari rumah kami dan dilarang bertemu anak-anak kami karena mereka diambil untuk dijadikan tawanan atau bahkan dibunuh?” Lalu ketika diwajibkan atas mereka perintah perang, mereka berpaling dari jihad kecuali hanya sedikit orang yang tetap menepati janji. Dan Allah itu Maha mengetahui orang yang mengingkari janji dan menzalimi diri sendiri lalu mengingkari janji (Tafsir al-Wajiz)

أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلَإِ مِنۢ بَنِىٓ إِسْرٰٓءِيلَ (Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil) ( الملأ) yakni pembesar-pembesar kaum. Allah menyebutkan kisah mereka sebagai penyemangat untuk berperang setelah kisah sebelumnya. Dahulu orang-orang yang kejam mengusai bani Israil dan keadaan Bani Israil pada waktu itu sangat jauh dari kerajaan dan kekuasaan, dan umat-umat lain berkuasa atas negeri mereka. مِنۢ بَعْدِ مُوسَىٰٓ (sesudah Nabi Musa) Yakni setelah masa Nabi Musa. لِنَبِىٍّ لَّهُمُ (kepada seorang Nabi mereka) Ada pendapat mengatakan bahwa dia adalah Nabi Samuel. ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا ( “Angkatlah untuk kami seorang raja) Agar kami bisa menyerahkan urusan kami padanya dan berbuat sesuai dengan pendapatnya. نُّقٰتِلْ (supaya kami berperang) Yakni berperang bersamanya. فَلَمَّا كُتِبَ (Maka tatkala perang itu diwajibkan) Yakni wajib atas mereka. تَوَلَّوْا۟ (merekapun berpaling) Disebabkan goyahnya niat mereka dan lemahnya kemauan mereka. (Zubdatut Tafsir)

لَّقَدْ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوْلَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَآءُ ۘ سَنَكْتُبُ مَا قَالُوا۟ وَقَتْلَهُمُ ٱلْأَنۢبِيَآءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَنَقُولُ ذُوقُوا۟ عَذَابَ ٱلْحَرِيقِ

laqad sami'allāhu qaulallażīna qālū innallāha faqīruw wa naḥnu agniyā`, sanaktubu mā qālụ wa qatlahumul-ambiyā`a bigairi ḥaqqiw wa naqụlu żụqụ 'ażābal-ḥarīq

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan orang-orang yang mengatakan: "Sesunguhnya Allah miskin dan kami kaya". Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka): "Rasakanlah olehmu azab yang mem bakar".

sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan orang-orang yahudi yang mengatakan, ”sesungguhnya Allah itu membutuhkan kami, meminta dari kami untuk meminjamkan harta benda kepadaNYA, sedang kami orang-orang kaya.” Kami akan mencatat perkataan yang mereka ucapkan itu dan kami juga akan mencatat bahwa sesungguhnya mereka itu rela dengan pembunuhan yang dilakukan nenek moyang mereka terhadap nabi-nabi Allah secara zhalim dan penuh permusuhan. Dan Kami akan menyiksa mereka karena perbuatan tersebut di akhirat kelak. Dan kami akan berkata kepada mereka disaat mereka sudah berada di dalam neraka, ”Rasakanlah siksaan neraka yang membakar.” (Tafsir al-Muyassar)

Sungguh Allah telah mendengar ucapan orang-orang Yahudi tatkala mereka berkata, “Sesungguhnya Allah itu miskin, karena Dia meminta pinjaman (hutang) kepada kita. Sedangkan kita adalah orang-orang kaya dengan harta benda yang kita punya.” Kami akan mencatat ucapan kebohongan mereka yang sangat keji atas nama Rabb dan perbuatan yang tidak dibenarkan berupa pembunuhan terhadap nabi-nabi mereka. Dan Kami akan berfirman kepada mereka semua, “Rasakanlah azab yang membakar di Neraka.” (Tafsir al-Mukhtashar)

Sungguh Allah mendengar perkataan orang-orang Yahudi yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu fakir, dan kamilah yang kaya.” Kami akan mencatat perkataan ini di dalam catatan amal mereka supaya Kami bisa membalas mereka atas perkataan tersebut. Kami juga akan mencatat tindakan pembunuhan mereka terhadap para nabi dengan penuh kezaliman dan kesengajaan. Pengumpulan dua hal ini adalah sebagai pemberian perhatian atas tindakan keji (mereka). Di neraka, Kami akan berkata kepada mereka: “Rasakanlah azab neraka Jahanam yang menyala-nyala dan menyakitkan” Al-Hariq adalah api yang menyala-nyala. Ayat ini turun untuk orang Yahudi yang bernama Finhash yang berkata kepada Abu Bakar: “Kami tidak butuh kepada Allah. Bagi Kami Dia itu miskin. Kami tidak akan tunduk kepadaNya sebagaimana Dia merendah kepada Kami. Sesungguhnya Kami adalah orang-orang kaya. Jika saja Dia kaya, maka tidak akan meminta pinjaman kepada kami sebagaimana yang dianggapkan oleh sahabat kalian.” Hal itu terjadi ketika ayat {Man dzallai Yuqridhullaha ardhan hasanan fayudha’ifuhu lahu Adh’aafan katsiraah} [surah Al-Baqarah ayat 245] (Tafsir al-Wajiz)

لَّقَدْ سَمِعَ اللهُ قَوْلَ الَّذِينَ قَالُوٓا۟ إِنَّ اللهَ فَقِيرٌ (Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan orang-orang yang mengatakan: “Sesunguhnya Allah miskin) Segolongan orang Yahudi mengatakan perkataan ini sebagai bentuk kesombongan mereka karena mereka memiliki kekayaan yang banyak dan kebodohan mereka tentang qadar Allah. Dan pendapat lain mengatakan mereka mengatakan tersebut karena ingin menunjukkan jika memang yang dikatakan Rasulullah itu benar bahwa Allah meminta pinjaman kepada kami berarti Allah miskin, hal ini mereka katakan untuk memberi keraguan tentang agama Islam. Ibnu Abbas berkata: orang-orang Yahudi mendatangi Rasulullah ketika Allah menurunkan ayat (من ذا الذي يقرض الله قرضا حسنا) “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik”. Lalu mereka berkata: Hai Muhammad apakah Tuhanmu itu miskin sampai meminta hamba-Nya pinjaman?. Maka Allah menurunkan ayat: سَنَكْتُبُ مَا قَالُوا۟ (Kami akan mencatat perkataan mereka itu) Yakni Kami akan menulisnya dicatatan amal yang ada pada malaikat, kemudian Kami akan menyimpannya lalu membalas atasnya. وَقَتْلَهُمُ الْأَنۢبِيَآءَ (dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi) Yakni juga menulis perbuatan mereka membunuh para Nabi. Allah menyandingkan perkataan mereka dengan pembunuhan para nabi yang mereka lakukan sebagai peringatan akan besarnya dosa dan buruknya perkataan tersebut. وَنَقُولُ (dan Kami akan mengatakan) Yakni membalas mereka dengan perkataan ini, yakni mengatakan kepada mereka bahwa mereka akan memasuki neraka. Makna (الحريق) adalah salah satu dari neraka yang menyala-nyala. Sebat turunnya ayat ini adalah bahwa seorang Yahudi bernama Fanhas berkata kepada Abu Bakar: kami tidak membutuhkan Allah dan Allah-lah yang membutuhkan kami, kami tidak tunduk kepada-Nya tapi Allah tunduk kepada kami, kami kaya tanpa-Nya dan seandainya Dia memang kaya pasti tidak meminta kepada kami pinjaman sebagaimana yang dikatakan sahabatmu (Muhammad) itu. Maka ayat ini turun. (Zubdatut Tafsir)

أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّوٓا۟ أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ ٱلْقِتَالُ إِذَا فَرِيقٌ مِّنْهُمْ يَخْشَوْنَ ٱلنَّاسَ كَخَشْيَةِ ٱللَّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً ۚ وَقَالُوا۟ رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا ٱلْقِتَالَ لَوْلَآ أَخَّرْتَنَآ إِلَىٰٓ أَجَلٍ قَرِيبٍ ۗ قُلْ مَتَٰعُ ٱلدُّنْيَا قَلِيلٌ وَٱلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ ٱتَّقَىٰ وَلَا تُظْلَمُونَ فَتِيلًا

a lam tara ilallażīna qīla lahum kuffū aidiyakum wa aqīmuṣ-ṣalāta wa ātuz-zakāh, fa lammā kutiba 'alaihimul-qitālu iżā farīqum min-hum yakhsyaunan-nāsa kakhasy-yatillāhi au asyadda khasy-yah, wa qālụ rabbanā lima katabta 'alainal-qitāl, lau lā akhkhartanā ilā ajaling qarīb, qul matā'ud-dun-yā qalīl, wal-ākhiratu khairul limanittaqā, wa lā tuẓlamụna fatīlā

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: "Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!" Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: "Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?" Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.

tidakkah kamu (wahai rasul) mengetahui perihal orang-orang yang dikatakan kepda mereka sebelum adanya izin berjihad,”tahanlah tangan-tangan kalian dari memerangi musuh-musuh kalian dari kalangan musyrikin, dan kewajiban kalian adalah mengerjakan kewajiban yang Allah wajibkan bagi kalian, berupa shalat dan membayar zakt,” maka ketika Dia mewajibakan mereka untuk berperang tiba-tiba ada segolongan dari mereka yang berubah keadaannya.Mereka malah menjadi takut terhadap manusia dan gentar menghadapi mereka,seperti ketakutan mereka kepada Allah,atau bahkan lebih kuat. Dan mereka mengumumkan persaan yang merasuki mereka berupa rasa takut yang amat besar,lalu mereka mengatakan,”Wahai tuhan kami mengapa,Engkau mewajibkan kami berperang?tidakkah engkau menangguhkan kami sampai beberapa saat lagi?” dikarenakan hasrat besar terhadap mereka sangat besar dari mereka terhadap kesenangan yang ada di kehidupan dunia. katakanlah olehmu (wahai rasul), ”Kesenangan di dunia itu sedikit,sedang kehidupan akhirat dan segala kenikmatan yang ada di dalamnya lebih agung dan lebih abadi bagi orang yang bertakwa lalu mengerjakan amal yang diperintahkan kepadanya dan menjauhi perkara yang dia larang untuk melakukannya. Tuhanmu tidaklah menzhalimi sesorang sedikitpun, meskipun sekecil benang yang ada di belahan biji kurma. (Tafsir al-Muyassar)

Tidakkah kamu -wahai Rasul- melihat perilaku sebagian sahabatmu yang meminta agar mereka diperintahkan berjihad, lalu disampaikan kepada mereka, “Tahanlah tanganmu dari perang, dirikanlah salat, dan tunaikanlah zakat.” Hal itu terjadi sebelum ada perintah berjihad. Kemudian setelah mereka hijrah ke Madinah dan Islam telah memiliki pertahanan yang kuat, lalu diwajibkan berperang, ternyata mereka merasa berat, sehingga sebagian dari mereka merasa takut kepada manusia sebagaimana mereka takut kepada Allah atau bahkan lebih takut lagi. Dan mereka berkata, “Ya Rabb kami, mengapa Engkau mewajibkan kami berperang? Mengapa tidak Engkau tunda sejenak sampai kami bisa menikmati (kesenangan) dunia?” Katakanlah -wahai Rasul- kepada mereka, “Kesenangan dunia itu, seberapa pun banyaknya adalah sedikit dan sementara. Sedangkan Akhirat lebih baik bagi orang yang bertakwa kepada Allah -Ta'ālā-. Karena kenikmatan Akhirat itu abadi dan amal saleh mereka tidak akan dikurangi sedikit pun, walau sebesar serat yang ada di biji kurma”. (Tafsir al-Mukhtashar)

Wahai Nabiyullah, apakah kamu tidak melihat sebagian sahabat mukmin yang dikatakan kepada mereka di Mekah: “Tahanlah tangan kalian untuk memerangi orang-orang musyrik, tunaikanlah shalat fardhu, dan berikanlah zakat kepada orang yang berhak menerimanya.” Namun ketika diwajibkan bagi mereka di Madinah untuk melakukan jihad yang terus mereka cari, sebagian mereka takut memerangi orang musyrik layaknya ketakutan mereka terhadap azab Allah. atau bahkan lebih takut terhadap azabNya, bukan karena canggung melainkan takut mati dan takut terhadap kengerian perang. Mereka berkata: “Kenapa engkau mewajibkan peperangan atas kami? Kenapa tidak engkau tangguhkan waktu kami, sehingga bisa menikmati kehidupan kami di kesempatan yang lainnya?!” Katakan kepada mereka wahai Nabi: “Kenikmatan dunia itu sangat cepat hilang, dan pahala akhirat itu lebih baik bagi kalian daripada kenikmatan yang sedikit di dunia bagi orang yang bertakwa kepada Allah dan menghendaki keabadian dan pahala yang terus menerus di antara kalian. Dan kalian tidak akan dizalimi (tidak akan dikurangi) sedikitpun pahalanya bahkan seukuran fatil yaitu sabut yang ada di biji kurma” Ayat ini turun untuk sebagian sahabat. Mereka mendapatkan banyak penderitaan dari orang-orang musyrik, lalu berkata: “Wahai Rasulullah, apakah engkau memberi ijin kami untuk memerangi mereka?” Lalu Rasulullah bersabda kepada mereka: “Tahanlah tangan kalian untuk menyakiti mereka, sesungguhnya aku belum diperintahkan untuk memerangi mereka” lalu ketika Allah memerintahkan untuk memerangi orang-orang musyrik setelah hijrah, sebagian mereka membenci hal itu dan saling membubarkan diri. Lalu Allah menurunkan ayat ini. (Tafsir al-Wajiz)

كُفُّوٓا۟ أَيْدِيَكُمْ (Tahanlah tanganmu (dari berperang)) Mereka adalah sebagian dari para sahabat, mereka diperintahkan untuk meninggalkan perang di Makkah lalu mereka menghadap Rasulullah dan berkata: “ Wahai Nabi Allah, dulu kami adalah orang-orang yang kuat dan mulia ketika kami masih termasuk orang-orang musyrik, lalu ketika kami beriman kami menjadi orang-orang yang tertindas”. Rasulullah menjawab: “namun aku diperintahkan untuk memaafkan (orang-orang yang memerangi kita), maka janganlah kalian perangi mereka. فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ (Setelah diwajibkan kepada mereka berperang) Yakni ketika di Madinah. Mereka malah enggan untuk pergi berperang, bukan karena mereka ragu terhadap agama Islam, namun mereka takut dari kematian dan lari dari dahsyatnya kematian. Pendapat lain mengatakan yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah orang-orang munafik yang masuk Islam sebelum diwajibkannya perang, dan ketika perang itu diwajibkan mereka malah membencinya. يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً ۚ (mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya) Yakni sebagian dari mereka takut kepada manusia seperti halnya ketakutan mereka kepada Allah, bahkan sebagian lainnya ketakutan mereka kepada manusia lebih besar daripada kepada Allah. لَوْلَآ أَخَّرْتَنَآ إِلَىٰٓ أَجَلٍ قَرِيبٍ ۗ (Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?) Yakni tidakkah engkau memberi kami kesempatan sedikit lagi kami bisa menikmati hidup ini. Ayat ini mirip dengan ayat lain yang terdapat pada surat Muhammad: 20 yang berarti: “Dan orang-orang yang beriman berkata: “Mengapa tiada diturunkan suatu surat?” Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan kecelakaanlah bagi mereka”. قُلْ مَتٰعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ (Katakanlah: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar) Yakni cepat sekali lenyap dan tidak kekal bagi pemiliknya, sedangakan balasan akhirat lebih baik bagi kalian daripada kesenangan yang sejenak ini. وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقَىٰ( dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa) Yakni orang-orang bertakwa diantara kalian, yang berharap balasan yang kekal. وَلَا تُظْلَمُونَ فَتِيلًا(dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun) Yakni walau dengan kezaliman sedikitpun. Makna (الفتيل) yakni benang tipis yang ada di belahan biji kurma. (Zubdatut Tafsir)

وَيَسْتَفْتُونَكَ فِى ٱلنِّسَآءِ ۖ قُلِ ٱللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِيهِنَّ وَمَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ فِى ٱلْكِتَٰبِ فِى يَتَٰمَى ٱلنِّسَآءِ ٱلَّٰتِى لَا تُؤْتُونَهُنَّ مَا كُتِبَ لَهُنَّ وَتَرْغَبُونَ أَن تَنكِحُوهُنَّ وَٱلْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ ٱلْوِلْدَٰنِ وَأَن تَقُومُوا۟ لِلْيَتَٰمَىٰ بِٱلْقِسْطِ ۚ وَمَا تَفْعَلُوا۟ مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِهِۦ عَلِيمًا

wa yastaftụnaka fin-nisā`, qulillāhu yuftīkum fīhinna wa mā yutlā 'alaikum fil-kitābi fī yatāman-nisā`illātī lā tu`tụnahunna mā kutiba lahunna wa targabụna an tangkiḥụhunna wal-mustaḍ'afīna minal-wildāni wa an taqụmụ lil-yatāmā bil-qisṭ, wa mā taf'alụ min khairin fa innallāha kāna bihī 'alīmā

Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah: "Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al Quran (juga memfatwakan) tentang para wanita yatim yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa yang ditetapkan untuk mereka, sedang kamu ingin mengawini mereka dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya.

Orang-orang meminta kepadamu (wahai nabi), untuk menjelaskan perkara yang sulit dipahami oleh mereka terkait persoalan-persoalan wanita dan hukum tentang mereka. Katakanlah Allah telah menerangkan kepada kalian hal-hal tentang mereka dan apa-apa yang dibacakan kepada kalian di dalam al-qur’an tentang wanita-wanita yatim yang kalian tidak memberikan kepada mereka apa yang telah Allah wajibkan bagi mereka berupa maskawin, bagian warisan dan hak-hak lainnya, sedang kalian ingin menikahi mereka, atau kalian tidak suka untuk menikahi mereka, dan Dia menjelaskan kepada kalian perkara tentang orang-orang yang lemah dari kalangan anak-anak dan kewajiban untuk mengurus anak-anak yatim -yaitu;anak-anak yang ditinggal mati oleh bapak mereka dan belum mencapai umur baligh- dengan adil dan meninggalkan segala bentuk kecurangan terhadap mereka dalam hak-hak mereka. Dan kebaiakan apa saja yang kalian perbuat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya,tidak ada yang tersembunyi bagiNya sesuatu dari kebaikan itu dan perkara lainnya.” (Tafsir al-Muyassar)

Mereka bertanya kepada kalian -wahai Rasul- tentang hak dan kewajiban kaum wanita. Katakanlah, “Allah akan memberikan penjelasan kepada kalian tentang masalah yang kalian tanyakan. Dan Dia juga akan menjelaskan kepada kalian perihal apa yang dibacakan kepada kalian di dalam Al-Qur`ān tentang wanita-wanita yatim yang berada di bawah perwalian kalian, dan kalian tidak mau memberikan hak mereka, baik berupa mas kawin maupun hak waris yang telah Allah tetapkan untuk mereka, sedangkan kalian tidak berhasrat untuk menikahi mereka, dan kalian terus menghalang-halangi mereka untuk menikah karena mengharapkan harta mereka. Dan Allah juga menjelaskan kepada kalian perihal kewajiban kalian terhadap anak-anak kecil yang tidak berdaya, seperti pemberian hak mereka dari harta warisan, dan hak untuk tidak dizalimi dan dikuasai harta bendanya. Allah pun menjelaskan tentang kewajiban kalian untuk memperlakukan anak-anak yatim secara adil dengan mengedepankan kepentingan dunia dan Akhirat mereka. Dan kebaikan apa saja yang kalian lakukan untuk anak-anak yatim dan lainnya, sesungguhnya Allah mengetahuinya dan akan memberi kalian balasan yang setimpal. (Tafsir al-Mukhtashar)

127 Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita, tentang kewajiban dan hak para wanita. Katakanlah: “Allah memberi penjelasan kepadamu tentang sebagian kondisi mereka.” Yaitu tiga ayat yang setelah ini. Dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al Quran yaitu awal surat Annisa : wa in khiftum alla tuqsithu.. (3) tentang para wanita yatim yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa yang ditetapkan untuk mereka, dan engkau menikahi mereka karena kecantikan mereka, sedang kamu ingin mengawini mereka karena ingin hartanya, maka jangan lakukan itu kecuali engkau memberikan hak mereka secara sempurna dan jangan kalian larang untuk menikah. Dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. Pada masa Jahiliyyah mereka wanita dan anak-anak tidak diberi hak waris, hanya yang dewasa saja yang mendapat waris. Dan Allah menyuruh kamu supaya kamu mengurus anak-anak yatim dengan mencukupi kebutuhan lahir batin mereka secara adil dalam hal waris dan mengembangkan harta. Dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan untuk mereka berupa pemuliaan dan perbuatan baik, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya, Allah Maha memberi balasan atas itu. Hadis riwayat Muslim dari Aisyah radliyallahu anha dalam menjelaskan bab meminta fatwa dan menjawabnya, sebagaimana dijelaskan dalam tafsir ayat di sini. (Tafsir al-Wajiz)

وَيَسْتَفْتُونَكَ فِى النِّسَآءِ ۖ قُلِ اللهُ يُفْتِيكُمْ (Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu) Yakni Allah menjelaskan kepada kalian hukum yang kalian tanyakan. وَمَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ فِى الْكِتٰبِ (dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al Quran) Yakni al-qur’an yang diturunkan di awal surat an-Nisa’ yang berbunyi: وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا۟ فِى الْيَتٰمَىٰ فَانكِحُوا مَا طَابَ لكم "Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita yang kalian senangi”. Ayat ini turun dalam urusan yang membahas tentang para wanita yatim yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa yang ditetapkan untuk mereka. فِى يَتٰمَى النِّسَآءِ الّٰتِى لَا تُؤْتُونَهُنَّ مَا كُتِبَ لَهُنَّ(tentang para wanita yatim yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa yang ditetapkan untuk mereka) Yakni apa yang diwajibkan atas kalian untuk mereka berupa mahar dan lainnya. وَتَرْغَبُونَ أَن تَنكِحُوهُنَّ(sedang kamu ingin mengawini mereka) Yakni sedangkan kalian ingin menikahi mereka karena kecantikannya, maka janganlah kalian lakukan hal itu kecuali dengan memberikan mahar mereka dengan sempurna sebagaimana yang kalian berikan kepada wanita-wanita lain. وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْوِلْدٰنِ (dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah) Yakni al-qur’an yang diturunkan kepadamu dalam urusan para wanita yatim dan juga urusan anak-anak yang masih dipandang lemah dalam firman-Nya: يُوصِيكُمُ اللهُ فِىٓ أَوْلٰدِكُمْ "Allah mensyari’atkan bagimu tentang anak-anakmu" Orang-orang pada masa jahiliyah tidak memberi warisan kepada para wanita dan anak-anak yang masih kecil sebagaimana telah dijelaskan, namun mereka hanya mewarisi orang-orang yang mampu berperang dan mengurusi urusan-urusan orang dewasa. وَأَن تَقُومُوا۟ لِلْيَتٰمَىٰ بِالْقِسْطِ ۚ (supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil) Dan penjelasannya telah disebutkan di awal surat tentang wasiat dalam harta anak-anak yatim. وَمَا تَفْعَلُوا۟ مِنْ خَيْرٍ (Dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan) Yakni dalam memberikan hak-hak orang-orang yang disebutkan dalam ayat ini. فَإِنَّ اللهَ كَانَ بِهِۦ عَلِيمًا(maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya) Dan akan membalas perbuatan kalian sesuai kebaikan atau keburukan. (Zubdatut Tafsir)

قُلْ مَن رَّبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ قُلِ ٱللَّهُ ۚ قُلْ أَفَٱتَّخَذْتُم مِّن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءَ لَا يَمْلِكُونَ لِأَنفُسِهِمْ نَفْعًا وَلَا ضَرًّا ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلْأَعْمَىٰ وَٱلْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِى ٱلظُّلُمَٰتُ وَٱلنُّورُ ۗ أَمْ جَعَلُوا۟ لِلَّهِ شُرَكَآءَ خَلَقُوا۟ كَخَلْقِهِۦ فَتَشَٰبَهَ ٱلْخَلْقُ عَلَيْهِمْ ۚ قُلِ ٱللَّهُ خَٰلِقُ كُلِّ شَىْءٍ وَهُوَ ٱلْوَٰحِدُ ٱلْقَهَّٰرُ

qul mar rabbus-samāwāti wal-arḍ, qulillāh, qul a fattakhażtum min dụnihī auliyā`a lā yamlikụna li`anfusihim naf'aw wa lā ḍarrā, qul hal yastawil-a'mā wal-baṣīru am hal tastawiẓ-ẓulumātu wan-nụr, am ja'alụ lillāhi syurakā`a khalaqụ kakhalqihī fa tasyābahal-khalqu 'alaihim, qulillāhu khāliqu kulli syai`iw wa huwal-wāḥidul-qahhār

Katakanlah: "Siapakah Tuhan langit dan bumi?" Jawabnya: "Allah". Katakanlah: "Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?". Katakanlah: "Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?" Katakanlah: "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa".

Katakanlah (wahai rasul), kepada kaum musyrikin, ”siapakah pencipta langit dan bumi dan pengaturnya?” Maka katakanlah, ”Allah dialah pencipta lagi pengatur keduanya, dan kalian mengakuinya.” Kemudian katakanlah kepada mereka untuk membungkam hujjah mereka, ”apakah kalian menjadikan selain Allah sebagi sesembahan-sesembahan bagi kalian, padahal mereka tidak berkuasa memberikan manfaat bagi diri sendiri dan membahayakannya, apalagi mendatangkan manfaat atau menimpakan mudarat terhadap diri kalian, dan kalian tinggalkan beribadah kepada Dzat yang menguasainya?” katakanlah (wahai rasul), kepada mereka, ”apakah menurut kalian sama antara orang kafir yang seperti orang buta dengan orang mukmin yang menyerupai orang yang dapat melihat? atau apakah sama menurut kalian antara kekafiran yang menyerupai kegelapan-kegelapan dan keimanan yang serupa dengan cahaya? ataukah sesungguhnya pembela-pembela mereka yang mereka jadikan sebagai sekutu-sekutu bagi Allah dapat menciptakan seperti ciptaan Allah, sehingga menjadi samar perbedaan antara hasil ciptaan sekutu-sekutu itu dan ciptaan Allah, lalu mereka meyakini sekutu-sekutu Allah tersebut berhak untuk di sembah?” katakanlah kepada mereka (wahai rasul), ”Allah pencipta segala sesuatu dari tidak ada sebelumnya. Dialah semata yang berhak diibadahi. Dialah yang maha Esa lagi Mahaperkasa yang berhak dipertuhankan dan disembah, bukan berhala-berhala dan patung-patung yang tidak dapat menimpakan mudarat dan mendatangkan manfaat. (Tafsir al-Muyassar)

Katakanlah -wahai Rasul- kepada orang-orang kafir yang menyembah bersama Allah selain-Nya, siapakah Pencipta langit dan bumi dan mengatur urusan keduanya? Katakanlah -wahai Rasul-, Allah yang menciptakan dan mengatur urusan keduanya. Kalian mengakui hal itu. Katakanlah kepada mereka -wahai Rasul-, apakah kalian mengangkat untuk diri kalian sesembahan yang lemah selain Allah, tidak kuasa mendatangkan manfaat dan tidak pula menghilangkan mudarat dari diri mereka, jadi mana mungkin mereka mampu melakukan itu untuk selain mereka? Katakanlah kepada mereka -wahai Rasul-, apakah sama orang kafir yang buta penglihatannya dengan orang mukmin yang melihat lagi mendapat petunjuk? Apakah sama kekufuran yang merupakan kegelapan dengan iman yang merupakan cahaya? Apakah mereka mengangkat sekutu-sekutu bagi Allah -Subḥānahu- dalam penciptaan yang menciptakan seperti yang Allah ciptakan, sehingga mereka tidak bisa membedakan antara ciptaan Allah dengan ciptaan sekutu-sekutu mereka? Katakanlah kepada mereka -wahai Rasul- hanya Allah semata Pencipta segala sesuatu, tidak ada sekutu bagi Allah dalam penciptaan, Dia lah Pemilik tunggal hak ulūhiyyah yang berhak untuk disembah semata, Allah Mahakuat. (Tafsir al-Mukhtashar)

Wahai Nabi, katakanlah kepada orang-orang musyrik kaummu: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi, dan mengatur urusan-urusannya?” dan jika mereka tidak bisa menjawab, maka memang mereka tidak memiliki jawaban, kecuali kamu ucapkan: “Allah adalah Dzat yang Maha Pencipta” Katakanlah kepada mereka: “Lalu bagaimana bisa kalian mengambil berhala sebagai tuhan yang kalian sembah selain Dia, yang mana tidak bisa memberi manfaat bagi kalian dan melindungi kalian dari keburukan, dan kalian tinggalkan Dzat yang Merajai langit dan bumi?” Katakanlah kepada mereka: “Apakah sama antara orang kafir yang tidak tahu apa-apa dengan orang mukmin yang berpengetahuan, dan apakah sama kegelapan kekufuran dan keimanan? Itu tidak sama,” Apakah orang-orang musyrik itu membuat sekutu-sekutu bagi Allah yang bisa menciptakan sesuatu sebagaimana Allah menciptakan, sehingga layak untuk disembah layaknya Allah? Tidak mungkin mereka bisa membedakan dua ciptaan. Katakanlah kepada mereka: “Hanya Allahlah yang Maha Menciptakan setiap sesuatu. Dialah satu-satunya yang Tuhan yang berada di atas segala sesuatu” (Tafsir al-Wajiz)

قُلْ مَن رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ (Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?”) Allah memerintahkan Rasul-Nya agar bertanya kepada orang-orang kafir. قُلِ اللهُ ۚ( Jawabnya: “Allah”) Dia menjawab sendiri pertanyaan itu dengan jawaban “Allah”. Seakan-akan dia menghikayatkan jawaban mereka dan apa yang mereka percayai. قُلْ أَفَاتَّخَذْتُم مِّن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءَ(Katakanlah: “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah) Yakni, lalu mengapa kalian menjadikan pelindung-pelindung yang lemah selain Allah bagi diri kalian. لَا يَمْلِكُونَ لِأَنفُسِهِمْ نَفْعًا (padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan bagi diri mereka sendiri) Tidak dapat memberi manfaat bagi diri mereka dengan pelindung-pelindung tersebut. وَلَا ضَرًّا ۚ (dan tidak (pula) kemudharatan) Kemudharatan yang dapat mereka timpakan kepada orang lain, atau menghindarkan mudharat itu dari diri mereka. قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الْأَعْمَىٰ( Katakanlah: “Adakah sama orang buta) Yakni buta dalam agama mereka, yakni orang yang kafir. وَالْبَصِيرُ(dan yang dapat melihat) Yakni orang yang beriman dan mengesakan Allah. Orang pertama tidak mengetahui kewajibannya sebagai hamba, sedangkan orang kedua mengetahui hal tersebut. أَمْ هَلْ تَسْتَوِى الظُّلُمٰتُ وَالنُّورُ ۗ( atau samakah gelap gulita dan terang benderang) Yakni antara kekafiran dan keimanan. فَتَشٰبَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ ۚ (sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka) Mereka mensekutukan Allah dengan patung-patung dan lainnya, padahal sekutu-sekutu itu tidak dapat menciptakan apapun, lalu bagaimana mereka tidak dapat membedakan antara keduanya? (Zubdatut Tafsir)

Dapatkan pahala berdakwah dan gratis buku Rahasia Rezeki Berlimpah, klik di sini untuk detailnya

Itulah berbagai penjabaran dari para ahli ilmu berkaitan makna ayat 5 (lima), semoga membawa manfaat bagi kita. Bantu kemajuan kami dengan memberi backlink ke halaman ini atau ke halaman depan TafsirWeb.com.

Terkait: « | »

Kategori: Tafsir Topik

Artikel: Topik, Serial, Doa Dzikir, Lain-lain, Updates