Ayat 5 (Lima)

Di antara hal yang sering dibaca oleh masyarakat di Indonesia adalah ayat lima (5), yaitu kumpulan lima ayat yang disebutkan memiliki khasiat tertentu jika dibaca dengan jumlah tertentu atau dengan cara tertentu.

Entah dari mana sumber penjelasan bahwa ayat-ayat tersebut memiliki khasiat tertentu, sejauh yang kami tahu selama ini tidak ada dalil yang shahih tentang hal tersebut. Karenanya, jika tidak ada dalil yang shahih tentu tidak layak untuk kita amalkan karena bisa jadi termasuk bid’ah yakni membuat-buat tatacara ibadah tertentu yang tidak dijelaskan di dalam agama Islam atau dikenal sebagai bid’ah. Karenanya kami sarankan untuk tidak mengamalkan hal tersebut.

Adapun jika ingin mengetahui tafsir atau isi kandungan penjelasan dari ayat-ayat tersebut, maka silakan saja. Berikut penjelasannya:

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلْمَلَإِ مِنۢ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ مِنۢ بَعْدِ مُوسَىٰٓ إِذْ قَالُوا۟ لِنَبِىٍّ لَّهُمُ ٱبْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُّقَٰتِلْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۖ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِن كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ أَلَّا تُقَٰتِلُوا۟ ۖ قَالُوا۟ وَمَا لَنَآ أَلَّا نُقَٰتِلَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِن دِيَٰرِنَا وَأَبْنَآئِنَا ۖ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ ٱلْقِتَالُ تَوَلَّوْا۟ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِٱلظَّٰلِمِينَ

Arab-Latin: a lam tara ilal-mala`i mim banī isrā`īla mim ba'di mụsā, iż qālụ linabiyyil lahumub'aṡ lanā malikan-nuqātil fī sabīlillāh, qāla hal 'asaitum ing kutiba 'alaikumul-qitālu allā tuqātilụ, qālụ wa mā lanā allā nuqātila fī sabīlillāhi wa qad ukhrijnā min diyārinā wa abnā`inā, fa lammā kutiba 'alaihimul-qitālu tawallau illā qalīlam min-hum, wallāhu 'alīmum biẓ-ẓālimīn

Terjemah Arti: Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: "Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah". Nabi mereka menjawab: "Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang". Mereka menjawab: "Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?". Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim.

Tafsir Ayat 5 (Lima)

Tidakkah kamu tahu (wahai Rasul) kisah tentang para bangsawan tokoh dari Bani Israil setelah masa Musa? ketika mereka meminta kepada nabi mereka agar mengangkat seorang raja yang memimpin mereka, mereka bersatu di bawah komandonya, dan mereka memerangi musuh musuh mereka bersamanya di jalan Allah. Nabi mereka berkata kepada mereka “apakah perkara ini hanya seperti dugaan kuatku yaitu apabila kalian telah diwajibkan untuk berperang dijalan Allah kalian tidak akan lagi berperang? Sesungguhnya aku menduga dengan kuat adanya sifat pengecut pada diri kalian dan kaburnya kalian dari peperangan.” Mereka itu menjawab dengan nada pengingkaran terhadap dugaan kuat nabi mereka itu, “apa gerangan penghalang yang menghambat kami untuk berperang dijalan Allah padahal kami sungguh-sungguh telah diusir oleh musuh-musuh kami dari rumah-rumah kami, dan kami dijauhkan dari anak-anak kami dengan telah dibunuh dan ditawan.” Lalu tatkala Allah mewajibkan mereka untuk berperang bersama raja yang telah dipilih Nya bagi mereka, mereka ternyata menjadi orang-orang pengecut dan lari dari peperangan kecuali sebagian kecil dari mereka yang tetap bertahan dengan karunia dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang berbuat kezaliman lagi melanggar janji-janji mereka. (Tafsir al-Muyassar)

Tidakkah engkau mengetahui -wahai Nabi- perihal para pembesar Bani Israil setelah zaman Musa -'alaihissalām- tatkala mereka berkata kepada Nabi mereka, “Berilah kami seorang raja agar kami dapat berperang bersamanya di jalan Allah.” Lalu Nabi mereka berkata, “Jangan-jangan jika Allah mewajibkan kalian berperang, maka kalian tidak mau berperang di jalan Allah.” Mereka membantah anggapan Nabi mereka itu dengan mengatakan, “Apa alasan kami untuk tidak berperang di jalan Allah sedangkan kami punya alasan kuat untuk berperang. Musuh telah mengusir kami dari tanah air kami dan menawan anak-anak kami. Jadi, kami akan berperang untuk mengambil kembali tanah air kami dan membebaskan anak-anak kami yang mereka tawan.” Kemudian tatkala Allah mewajibkan mereka berperang, mereka justru berpaling kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim dan berpaling dari perintah-Nya, dan melanggar janji-Nya, dan akan memberi mereka balasan yang setimpal. (Tafsir al-Mukhtashar)

Apakah belum sampai kepadamu kisah para bangsawan dari Bani Israil yang hidup setelah wafatnya Musa, ketika mereka berkata kepada nabi mereka yaitu Shamuel: “Tentukan atau pilihkanlah raja atau pimpinan yang bisa memimpin kami untuk berperang bersamanya mengalahkan orang zalim di jalan Allah” Nabi mereka pada zaman itu berkata: “Barangkali sifat pengecut dan lemah akan menguasai kalian jika peperangan itu diwajibkan atas kalian” Mereka berkata: “Apa yang membuat kami tidak berperang, dan bagaimana bisa kami tidak berani untuk berperang di jalan Allah, padahal kami sudah diusir dari rumah kami dan dilarang bertemu anak-anak kami karena mereka diambil untuk dijadikan tawanan atau bahkan dibunuh?” Lalu ketika diwajibkan atas mereka perintah perang, mereka berpaling dari jihad kecuali hanya sedikit orang yang tetap menepati janji. Dan Allah itu Maha mengetahui orang yang mengingkari janji dan menzalimi diri sendiri lalu mengingkari janji (Tafsir al-Wajiz)

أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلَإِ مِنۢ بَنِىٓ إِسْرٰٓءِيلَ (Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil) ( الملأ) yakni pembesar-pembesar kaum. Allah menyebutkan kisah mereka sebagai penyemangat untuk berperang setelah kisah sebelumnya. Dahulu orang-orang yang kejam mengusai bani Israil dan keadaan Bani Israil pada waktu itu sangat jauh dari kerajaan dan kekuasaan, dan umat-umat lain berkuasa atas negeri mereka. مِنۢ بَعْدِ مُوسَىٰٓ (sesudah Nabi Musa) Yakni setelah masa Nabi Musa. لِنَبِىٍّ لَّهُمُ (kepada seorang Nabi mereka) Ada pendapat mengatakan bahwa dia adalah Nabi Samuel. ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا ( “Angkatlah untuk kami seorang raja) Agar kami bisa menyerahkan urusan kami padanya dan berbuat sesuai dengan pendapatnya. نُّقٰتِلْ (supaya kami berperang) Yakni berperang bersamanya. فَلَمَّا كُتِبَ (Maka tatkala perang itu diwajibkan) Yakni wajib atas mereka. تَوَلَّوْا۟ (merekapun berpaling) Disebabkan goyahnya niat mereka dan lemahnya kemauan mereka. (Zubdatut Tafsir)